Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 107


__ADS_3

Setelah ciuman itu terlepas, napas keduanya


terengah. Menyisahkan bibir yang sama-sama basah dan merah.


Akiran tersenyum, apalagi saat bibirnya yang basah


itu dibersihgkan oleh sang suami menggunakan ibu jarinya.


“Aku suka Kiran yang seperti ini, bukan yang


menyebalkan,” ucap Aslan kemudian, dan Kiran hanya mencebik.


Keduanya lalu sepakat untuk turun, mulai masuk ke


dalam rumah sakit dan menemui dokter kandungan Kiran, dokter Susan.


Sampai disana, Kiran langsung melakukan tes urine,


menggunakan testpack untuk melihat apakah saat ini ia benar-benar hamil atau


tidak. Karena seingat Kiran, bulan lalu pun ia masih mendapatkan menstruasi.


Selesai menggunakan testpack itu, Susan langsung


mengambilnya dari tangan Kiran, sedangkan Kiran sendiri pun begitu takut untuk


melihat hasilnya.


“Bagaimana Dok?” tanya Aslan saat melihat dokter


Susan yang malah tersenyum-senyum sendiri.


“Selamat ya, Kiran hamil,” jelas Susan langsung


dengan senyumnya yang semakin lebar.


Mendengar itu, kedua netra Aslan dan Kiran langsung


membola, seolah tidak percaya. Usaha yang mereka lakukan membuahkan hasil,


bahkan secepat ini.


“Apa dok? Istri saya Hamil?” tanya Aslan lagi,


memastikan dan Susan mengangguk dengan mantap.


“Dua garis merah, warnanya pudar karena kita ambil


tesnya sore hari, tes menggunakan testpack lebih baik dilakukan saat pagi ya,


kencing pertama setelah tidur.” Jelas Susan lagi, seraya menunjukkan testpack


Kiran tadi yang kini mulai menunjukkan dua garis merah, yang nampak merah muda.


“Alhamdulilah,” ucap Aslan penuh syukur, sedangkan


Kiran sudah menangis haru., sangat haru hingga ia tak bisa mnegungkapkannya


dengan kata-kata.


Bahkan ia tak memberi respon apapun saat suaminya


langsung memeluk tubuhnya erat, bahkan berulang kali Aslan menciumi pucuk


kepala Kiran dengan sayang.


Susan, memberikan beberapa obat yang harus Kiran


konsumsi selama masa kehamilan. Susan juga mengatakan, untuk mereka kembali


sebulan lagi, agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Usia kehamilan Kiran


terbilang sangat muda, sekitar 2-3 minggu. Karena Kiran pun mendadak lupa,


kapan terakhir ia datang bulan.


Dengan tersenyum, sepasang suami istri ini keluar


dari dalam ruangan dokter kandungan itu. Aslan bahkan terus memeluk bahu


istrinya, tak ingin jauh.


“Mas, aku hamil,” ucap Kiran, yang tiba-tiba air


matanya kembali mengalir.


Melihat itu, Aslan lalu menghentikan langkahnya dan


menahan tubuh sang istri pula, ia menarik tubuh Kiran agar menatap kearahnya.

__ADS_1


Aslan mengangguk, “Iya sayang, Aydan akan segera


memiliki seorang adik. Ini adalah kabar bahagia untuk keluarga kita, kamu


jangan menangis lagi ya?” pinta Aslan, seraya menghapus air mata dikedua pipi


istrinya itu.


Bukannya mereda, tangis Kiran malah semakin deras.


“Mas, aku hamil.” Ucap Kiran lagi, mendadak hatinya


begitu kalut, entah kenapa ia ingin terus mengucapkan kata itu, mengatakan


kepada Aslan jika saat ini ia sedang hamil.


“Mas, aku hamil.”


Aslan, lalu memeluk tubuh istrinya erat. Di koridor


rumah sakit itu, Aslan memeluk tubuh Kiran erat. Bahkan tampa segan, Aslan pun


menciumi pucuk kepala sang istri.


Sekelebat ucapan Agung tadi, membuat Aslan tersadar


akan satu hal. Kiran, masih teringat akan kenangan buruknya saat hamil Aydan


dulu kala. Saat ia tak bisa mengatakan kepada Aslan bahwa saat itu ia sedang


hamil. Tak bisa berbagi keluh, saat ia merasakan beban hamil muda. Semua ia


tanggung sendiri.


Dan dikehamilan keduanya ini, Kiran menumpahkan


semua rasa itu.


Maafkan aku Ran. Ucap Aslan didalam hati.


Diam-diam, Aslan pun meneteskan air matanya.


Hingga saat mersakan tubuh suaminya bergertar, Kiran


membalas pelukan itu, lalu melerainya dengan perlahan.


“Kenapa Mas menangis?” tanya Kiran, sesenggukan,


“Karena kamu menangis,” jawab Aslan jujur.


Dan mendengar itu, Kiran mengukir senyumnya. Meski


diantara air mata.


Senyum, yang membuat Aslan ikut tersenyum pula.


Lagi, Aslan menghapus air mata dikedua pipi Kiran, lalu mencium mata itu dengan


begitu sayang..


“Ibu Aydan, kita pulang ya?” ajak Aslan dan Kiran


mengangguk setuju.


****


Sampai di rumah.


Yuli , sudah menyambut dengan antusias, sudah sedari


tadi pagi ia menyimpan rasa keingin tahuannya tentang kondisi sang menantu.


Benarkah Kiran hamil atau tidak.


Hingga saat kedua anaknya itu pulang, Yuli tak ingin


menunda untuk bertanya.


“Bagaimana? Apa Kiran hamil?” tanya Yuli langsung,


saat Aslan dan Yuli baru tiba di ruang tengah.


Aslan dan Kiran saling pandang, lalu kompak


menganggukkan kepala.


“Masya Allah,” ucap Yuli, tiba-tiba air matanya


mengalir, ia bahkan sampai menutup mulutnya sendiri agar tangis itu tidak

__ADS_1


pecah. Tangis yang membuat tenggorokannya terasa tercekak.


“Ran, maafkan Umi Nak, maafkan Umi,” ucap Yuli, kala


teringat saat Kiran hamil Aydan dulu kala.


Kiran pun langsung memeluk ibu mertuanya itu dengan


erat, entahlah, air mata Kiran mudah sekali keluar saat hamil anak keduanya


ini. Bahkan kini, lagi-lagi Kiran menangis.


“Sudah-sudah, ini kan kabar bahagia, kenapa ibu dan


Kiran terus saja menangis,” ucap Aslan, ia bahkan melerai pelukan sang itri


dengan ibu kandungnya sendiri, memisahkan kedua wanita ini yang sedang kalut


dalam ingatan masa lalu.


“Umi bahagia sekali Lan, Ya Allah, Alhamduililah,”


Jelas Yuli sesenggukan.


Desi yang juga berada disana dan ikut mendengarpun


mengucapkan syukur didalam hatinya.


“Umi pasti akan merawatmu Nak,” ucap Yuli pada sang


menantu, Kiran mengangguk, lalu menghapus air matanya sendiri.


Selesai tangis-menangis di ruang tengah itu, Aslan


segera membawa sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka. Jika lebih lama


lagi berada disana, Aslan yakin, Kiran akan kembali menangis.


“Sayang, sebaiknya kamu segera mandi, biar lebih


seger,” jelas Aslan, ia bahkan membantu Kiran untuk melepaskan hijab sang istri.


“Mas tidka mandi?”


“Ya mandi, kan gantian,” jawab Aslan apa adanya,


biasanya mereka juga mandi selalu bergantian. Mandi bersama hanya saat setelah


melakukan hubungan badan.


Mendengar itu, Kiran menunduk, dengan wajahnya yang


murung.


“Kenapa?” tanya Aslan bingung, kini Kiran


benar-benar susah ditebak, Aslan sampai merasa takut jika ia salah bersikap dan


berucap.


Ditanya seperti itu, Kiran malah tak menjawab


apapun, ia hanya menggelelng pelan.


Berpikir Lan, berpikir. Ucap Asaln didalam hatinya.


Hingga ia mendapatkan sebuah ide yang mungkin bisa membuat istrinya kembali


ceria.


“Pergilah dulu ke kamar mandi, nanti aku akan


menyusul.”


Mendengar itu, Kiran langsung mengangkat wajahnya, ia


bahkan langsung tersenyum dengan dengan senyum yang entah. Kedua matanya berbinar,


mengisyaratkan kebahagiaan. Sumpah demi apapun, Aslan saat ini ingin tergelak


melihat perubahan raut wajah sang istri, namun susah payah ia tahan.


Tak ingin membuat istrinya kembali murung.


“Bener ya?” tuntut Kiran.


“Iya,” jawab Aslan singkat.


Dan tanpa babibu lagi, Kiran langsung bergegas ke

__ADS_1


kamar mandi lebih dulu, membiarkan pintu itu terbuka dan menunggu kedatangan


sang suami disana.


__ADS_2