
Setelah ciuman itu terlepas, napas keduanya
terengah. Menyisahkan bibir yang sama-sama basah dan merah.
Akiran tersenyum, apalagi saat bibirnya yang basah
itu dibersihgkan oleh sang suami menggunakan ibu jarinya.
“Aku suka Kiran yang seperti ini, bukan yang
menyebalkan,” ucap Aslan kemudian, dan Kiran hanya mencebik.
Keduanya lalu sepakat untuk turun, mulai masuk ke
dalam rumah sakit dan menemui dokter kandungan Kiran, dokter Susan.
Sampai disana, Kiran langsung melakukan tes urine,
menggunakan testpack untuk melihat apakah saat ini ia benar-benar hamil atau
tidak. Karena seingat Kiran, bulan lalu pun ia masih mendapatkan menstruasi.
Selesai menggunakan testpack itu, Susan langsung
mengambilnya dari tangan Kiran, sedangkan Kiran sendiri pun begitu takut untuk
melihat hasilnya.
“Bagaimana Dok?” tanya Aslan saat melihat dokter
Susan yang malah tersenyum-senyum sendiri.
“Selamat ya, Kiran hamil,” jelas Susan langsung
dengan senyumnya yang semakin lebar.
Mendengar itu, kedua netra Aslan dan Kiran langsung
membola, seolah tidak percaya. Usaha yang mereka lakukan membuahkan hasil,
bahkan secepat ini.
“Apa dok? Istri saya Hamil?” tanya Aslan lagi,
memastikan dan Susan mengangguk dengan mantap.
“Dua garis merah, warnanya pudar karena kita ambil
tesnya sore hari, tes menggunakan testpack lebih baik dilakukan saat pagi ya,
kencing pertama setelah tidur.” Jelas Susan lagi, seraya menunjukkan testpack
Kiran tadi yang kini mulai menunjukkan dua garis merah, yang nampak merah muda.
“Alhamdulilah,” ucap Aslan penuh syukur, sedangkan
Kiran sudah menangis haru., sangat haru hingga ia tak bisa mnegungkapkannya
dengan kata-kata.
Bahkan ia tak memberi respon apapun saat suaminya
langsung memeluk tubuhnya erat, bahkan berulang kali Aslan menciumi pucuk
kepala Kiran dengan sayang.
Susan, memberikan beberapa obat yang harus Kiran
konsumsi selama masa kehamilan. Susan juga mengatakan, untuk mereka kembali
sebulan lagi, agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Usia kehamilan Kiran
terbilang sangat muda, sekitar 2-3 minggu. Karena Kiran pun mendadak lupa,
kapan terakhir ia datang bulan.
Dengan tersenyum, sepasang suami istri ini keluar
dari dalam ruangan dokter kandungan itu. Aslan bahkan terus memeluk bahu
istrinya, tak ingin jauh.
“Mas, aku hamil,” ucap Kiran, yang tiba-tiba air
matanya kembali mengalir.
Melihat itu, Aslan lalu menghentikan langkahnya dan
menahan tubuh sang istri pula, ia menarik tubuh Kiran agar menatap kearahnya.
__ADS_1
Aslan mengangguk, “Iya sayang, Aydan akan segera
memiliki seorang adik. Ini adalah kabar bahagia untuk keluarga kita, kamu
jangan menangis lagi ya?” pinta Aslan, seraya menghapus air mata dikedua pipi
istrinya itu.
Bukannya mereda, tangis Kiran malah semakin deras.
“Mas, aku hamil.” Ucap Kiran lagi, mendadak hatinya
begitu kalut, entah kenapa ia ingin terus mengucapkan kata itu, mengatakan
kepada Aslan jika saat ini ia sedang hamil.
“Mas, aku hamil.”
Aslan, lalu memeluk tubuh istrinya erat. Di koridor
rumah sakit itu, Aslan memeluk tubuh Kiran erat. Bahkan tampa segan, Aslan pun
menciumi pucuk kepala sang istri.
Sekelebat ucapan Agung tadi, membuat Aslan tersadar
akan satu hal. Kiran, masih teringat akan kenangan buruknya saat hamil Aydan
dulu kala. Saat ia tak bisa mengatakan kepada Aslan bahwa saat itu ia sedang
hamil. Tak bisa berbagi keluh, saat ia merasakan beban hamil muda. Semua ia
tanggung sendiri.
Dan dikehamilan keduanya ini, Kiran menumpahkan
semua rasa itu.
Maafkan aku Ran. Ucap Aslan didalam hati.
Diam-diam, Aslan pun meneteskan air matanya.
Hingga saat mersakan tubuh suaminya bergertar, Kiran
membalas pelukan itu, lalu melerainya dengan perlahan.
“Kenapa Mas menangis?” tanya Kiran, sesenggukan,
“Karena kamu menangis,” jawab Aslan jujur.
Dan mendengar itu, Kiran mengukir senyumnya. Meski
diantara air mata.
Senyum, yang membuat Aslan ikut tersenyum pula.
Lagi, Aslan menghapus air mata dikedua pipi Kiran, lalu mencium mata itu dengan
begitu sayang..
“Ibu Aydan, kita pulang ya?” ajak Aslan dan Kiran
mengangguk setuju.
****
Sampai di rumah.
Yuli , sudah menyambut dengan antusias, sudah sedari
tadi pagi ia menyimpan rasa keingin tahuannya tentang kondisi sang menantu.
Benarkah Kiran hamil atau tidak.
Hingga saat kedua anaknya itu pulang, Yuli tak ingin
menunda untuk bertanya.
“Bagaimana? Apa Kiran hamil?” tanya Yuli langsung,
saat Aslan dan Yuli baru tiba di ruang tengah.
Aslan dan Kiran saling pandang, lalu kompak
menganggukkan kepala.
“Masya Allah,” ucap Yuli, tiba-tiba air matanya
mengalir, ia bahkan sampai menutup mulutnya sendiri agar tangis itu tidak
__ADS_1
pecah. Tangis yang membuat tenggorokannya terasa tercekak.
“Ran, maafkan Umi Nak, maafkan Umi,” ucap Yuli, kala
teringat saat Kiran hamil Aydan dulu kala.
Kiran pun langsung memeluk ibu mertuanya itu dengan
erat, entahlah, air mata Kiran mudah sekali keluar saat hamil anak keduanya
ini. Bahkan kini, lagi-lagi Kiran menangis.
“Sudah-sudah, ini kan kabar bahagia, kenapa ibu dan
Kiran terus saja menangis,” ucap Aslan, ia bahkan melerai pelukan sang itri
dengan ibu kandungnya sendiri, memisahkan kedua wanita ini yang sedang kalut
dalam ingatan masa lalu.
“Umi bahagia sekali Lan, Ya Allah, Alhamduililah,”
Jelas Yuli sesenggukan.
Desi yang juga berada disana dan ikut mendengarpun
mengucapkan syukur didalam hatinya.
“Umi pasti akan merawatmu Nak,” ucap Yuli pada sang
menantu, Kiran mengangguk, lalu menghapus air matanya sendiri.
Selesai tangis-menangis di ruang tengah itu, Aslan
segera membawa sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka. Jika lebih lama
lagi berada disana, Aslan yakin, Kiran akan kembali menangis.
“Sayang, sebaiknya kamu segera mandi, biar lebih
seger,” jelas Aslan, ia bahkan membantu Kiran untuk melepaskan hijab sang istri.
“Mas tidka mandi?”
“Ya mandi, kan gantian,” jawab Aslan apa adanya,
biasanya mereka juga mandi selalu bergantian. Mandi bersama hanya saat setelah
melakukan hubungan badan.
Mendengar itu, Kiran menunduk, dengan wajahnya yang
murung.
“Kenapa?” tanya Aslan bingung, kini Kiran
benar-benar susah ditebak, Aslan sampai merasa takut jika ia salah bersikap dan
berucap.
Ditanya seperti itu, Kiran malah tak menjawab
apapun, ia hanya menggelelng pelan.
Berpikir Lan, berpikir. Ucap Asaln didalam hatinya.
Hingga ia mendapatkan sebuah ide yang mungkin bisa membuat istrinya kembali
ceria.
“Pergilah dulu ke kamar mandi, nanti aku akan
menyusul.”
Mendengar itu, Kiran langsung mengangkat wajahnya, ia
bahkan langsung tersenyum dengan dengan senyum yang entah. Kedua matanya berbinar,
mengisyaratkan kebahagiaan. Sumpah demi apapun, Aslan saat ini ingin tergelak
melihat perubahan raut wajah sang istri, namun susah payah ia tahan.
Tak ingin membuat istrinya kembali murung.
“Bener ya?” tuntut Kiran.
“Iya,” jawab Aslan singkat.
Dan tanpa babibu lagi, Kiran langsung bergegas ke
__ADS_1
kamar mandi lebih dulu, membiarkan pintu itu terbuka dan menunggu kedatangan
sang suami disana.