Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 148 - Tatapan Marah


__ADS_3

“Kenapa berhenti?” tanya Alana, saat tiba-tiba motor Altar berhenti di salah satu cafe. Rupanya ada teman-teman Altar di dalam sana, terlihat saat Alana mencoba melihat ke arah cafe itu.


Suga bahkan melambai ke arah mereka, terlihat jelas dari dinding kaca cafe itu.


“Kenapa kesini? Aku tidak mau bertemu dengan teman-temanmu. Antar aku pulang dulu, setelah itu terserah mu mau kemana.” Oceh Alana, ia bahkan tidak turun dari atas motor itu seraya memegang helmnya kuat-kuat, tak ingin Altar melepaskannya.


Tak langsung menjawab, Altar memilih untuk menghembuskan napasnya berat, mencoba menghilangkan beban yang tiba-tiba datang ketika mendengar Alana mengeluh seperti ini.


“Turunlah, aku janji hanya sebentar,” ucap Altar, mencoba bernegosiasi.


Mana tahu dia jika tante Kiran akan memintanya untuk mengantar Alana ke toko baju, sementara ia sebenarnya sudah lebih dulu memiliki janji dengan teman-temannya.


“Tidak mau, tidak mau, tidak mau,” rengek Alana dengan wajahnya yang kesal.


“turunlah, nanti akan aku beri uang 100 ribu,” ucap Altar akhirnya hingga membuat Alana bergeming, sedang berpikir.


100 ribu rupiah adalah uang kesukaannya, dan begitu sayang untuk dilewatkan begitu saja.


“Bayar dulu, baru aku mau turun,” tawar Alana pula, ia bahkan mengulurkan tangan kanannya, meminta Altar untuk membayar di muka.


“Ambil sendiri di dompetku,” titah Altar hingga membuat Alana mengeryit bingung.


“Mana dompetmu?”


“Di kantong.”


“Hi!! Dasar jorok, aku tidak mau! Ambil sendiri!” kesal Alana, mengira jika dompet Altar itu ada di kantong celana depan, dan jika ia yang mengambilnya sendiri, kemungkinan besar akan salah alamat, lalu menyentuh yang lainnya.


Mendengar kekesalan Alana itu, Altar malah terkekeh.


“Dasar Pikiran kotor!” ejek Altar pula, seraya mengangkat tubuhnya dengan kedua kaki menapak tanah, menahan motor mereka. Lalu mengambil dompetnya sendiri di kantong belakang. Dan menyerahkannya langsung pada Alana.


Tanpa Babibu, Alana langsung mengambil uang 150 ribu dari dalam dompet itu. Sengaja melebihkan 50, untuk mengerjai Altar.


“Berapa yang kamu ambil?” tanya Altar saat dompetnya sudah kembali ke tangannya sendiri.


“Sesuai kesepakatan,” jawab Alana senang, ia bahkan langsung turun dari atas motor dan berdiri tepat disebelah sang calon suami. Membiarkan calon suaminya itu melepaskan helmnya.


“Jangan jadi pencuri.” Ucap Altar, dengan menatap curiga.


Dan Alana hanya mengedikkan bahunya, seraya mundur selangkah saat Altar mulai turun juga dari atas motornya.

__ADS_1


Mereka berdua jalan beriringan mulai masuk ke dalam cafe.


“Wih curang, Altar bawa-bawa Alana,” ucap Raffi, saat altar dan alana sudah sampai di meja mereka, bahkan Altar pun menarik satu kursi kosong untuk tempat duduk Alana, lalu ikut duduk pula disebelahnya.


“Udah nggak usah dibahas, jadi siapa yang mau pergi?” jawab Altar langsung, entah membicarakan tentang apa, Alana hanya bisa mendengarkan saja, tak kuasa untuk bertanya lebih.


“Biar aku dan Billar saja,” jawab Suga kemudian.


Dan makin membuat Alana bingung sendiri.


Altar dan kelima temannya biasa memberikan santunan langsung pada salah salah satu keluarga tidak mampu yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Tiap satu bulan sekali mereka secara bergantian memberikan bantuan itu.


Mereka rutin melakukan ini semenjak tanpa sengaja, Suga dan Ahmad menabrak salah satu anak jalanan di sana, hingga menyebabkan kematian. Sebenarnya kecelakaan itu bukanlah salah Suga, dan pihak keluarga anak jalanan itupun sudah bersedia berdamai.


Namun karena rasa bersalah yang sangat besar, Suga dan Ahmad rutin memberikan santunan. Dan ketiga temannya yang lain pun ikut membantu pula.


Jika dihitung sejak kecelakaan itu, kini sudah berjalan selama 2 tahun.


“Aku Cuma ada 200 ribu,” ucap Altar, seraya mengeluarkan uang di dompetnya. Menyisahkan uang 20 ribu di sana.


Kemudian disusul pula dengan teman-temannya yang lain, hingga terkumpul uang sebanyak 1 juta 400 ribu.


“Aku juga mau langsung pulang, nih!” ucap Altar pula. Seraya melirik sang gadis disampingnya.


Yang dilirik memilih tak peduli, karena ia pun memang ingin segera pulang.


Akhirnya, Altar  dan alana, juga Suga dan Billar pergi lebih dulu. Menyisahkan Raffi, Ahmad dan Rizky di cafe sana.


“Kalian kumpulin uang buat apa?” tanya Alana sesaat setelah mereka sampai di parkiran motor mereka. Sumpah demi apapun, Alana sangat penasaran. Awalnya ia ingin tidak peduli, namun akhirnya ia bertanya juga.


“Sudah tahu aku tidak akan menjawab kenapa masih bertanya,” balas Altar dengan mengulum senyum, ia bahkan dengan santainya memasang helm di kepala Alana tak peduli dengan wajah gadis ini yang nampak kesal.


Altar, memang selalu senang menggoda Alana seperti ini. Melihat wajah Alana saat kesal, terlihat sangat manis dan menggemaskan di mata Altar.


“Kamu selalu saja seperti itu, tiap aku bertanya serius, selalu menanggapi dengan main-main,” jawab Alana lagi, ketus.


Ia bahkan langsung naik ke atas motor dengan kasar. Altar, memang selalu saja seperti itu. Membuat Alana merasa selalu ada jarak diantara mereka. Dan Alana lebih merasa kesal lagi, saat Altar tidak peduli dengan marahnya


itu.


Tanpa menjawab apapun dan Altar langsung saja kembali memelajukan motornya.

__ADS_1


Saat ini juga, Alana ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya.


Ia tidak akan sanggup jika harus hidup dengan pria seperti Altar!


“Aku tidak mau!” pekik Alana, di atas motor itu. Hingga membuat semua penghuni jalanan menoleh kearahnya.


Termasuk Altar, yang meliriknya dari kaca spion.


“Apa yang kamu lakukan? Jangan sembarangan berteriak di jalan raya seperti ini. Orang akan mengira aku berbuat jahat padamu,” ucap Altar, dengan tatapannya yang dingin.


Melihat itu, Alana malah ingin menangis. Ia benci sekali dengan Altar. Sangat benci.


Sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah mau menikah dengan Altar, titik! Kesal Alana di dalam hati,.


Ia bahkan langsung menatap ke sembarang arah dan menghindari tatapan Altar itu.


Melipat kedua tangannya didepan dada dan tak peduli meski ia harus jatuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu, semenjak hari minggu kala itu, Alana benar-benar menghindari Altar. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun, ketika pergi dan pulang sekolah bersama dengan pria menyebalkan itu.


Alana bahkan tidak peduli dengan perjodohan mereka, yang jelas, nanti ia sendiri yang akan menolak pernikahan itu.


Yang menjadi fokus Alana kini hanya satu, menghadapi ujian kenaikan kelas 3.


“Al, kamu ingin pergi ke perpustakaan denganku?” tanya Nathan yang tiba-tiba berdiri disebelah meja Alana, ketika jam istirahat baru saja berjalan beberapa menit.


“Aku akan pergi bersama Sisil, jika mau ikut terserah mu,” jawab Alana apa adanya.


Dan mendengar itu, Nathan cukup merasa senang.


Karena biasanya, Alana akan langsung menolaknya pada inti. Namun kini, alana masih memberinya pilihan, terserah mu.


Dan akhirnya, Alana, Sisil dan Nathan pergi bersama ke perpustakaan sekolah.


Jalan ketiga siswa teladan itu tak lepas dari pengamatan Altar dan teman-temannya di ujung koridor kelas sana, tepatnya didepan kelas 2E.


“Wah, ada yang cari gara-gara nih, harus diapain itu bocah kaca mata,” ucap Rizky, dengan menyebut Nathan sebagai bocah kaca mata.


Altar hanya terdiam, menatap dengan tatapan marah.

__ADS_1


__ADS_2