Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 6 - Berlinang Air Mata


__ADS_3

Senyum yang sedari tadi terukir di keluarga Aslan perlahan menghilang. Mendapat penolakan dari Fahmi benar-benar membuat mereka kecewa. Apalagi Fahmi dikenal sebagai orang yang keras kepala, akan sangat sulit untuk membujuknya.


"Nak Fahmi, saya sadar, lamaran kami memang terkesan mendadak. Tapi percayalah, kami serius ingin meminang Kiran untuk Aslan. Tanpa ada tujuan apapaun, bahkan jika tidak ada anak juga dipernikahan Aslan dan Kiran kami tidak akan memisahkan mereka," ucap Iwan memelas.


Pria paruh baya ini sadar betul jika perkara kehadiran seorang anak dalam rumah tangga adalah kehendaknya sang pencipta. Tapi meski begitu, manusia tetap diharuskan untuk berusaha. Dan inilah usaha mereka, dengan cara menikahi Kiran.


Iwan terus berucap, menceritakan tentang sudut pandangnya atas pernikahan kedua Aslan, sementara Fahmi hanya terdiam, mencerna tiap kata-kata yang Iwan ucapkan.


Sedikit ruang dihatinya menyetujui, namun belum terlalu yakin, Fahmi lalu melihat ke arah Kiran. Dilihatnya sang adik yang menggeleng pelan dengan wajah pernuh permohonan. Fahmi tahu, Kiran menolak pernikahan yang tidak masuk akal ini.


"Baiklah, kalau begitu beri kami waktu. Beri kami waktu untuk menimbang mana baiknya. Jika buru-buru seperti ini saya takut itu adalah keputusan yang salah." Jawab Fahmi setelah cukup lama terdiam.


Mendengar itu, Tika menghela napasnya kecewa. Sementara keluarga Aslan kembali bernapas lega, setidaknya Fahmi tidak langsung menolak mereka.


Adzan dzuhur berkumandang, keluarga Aslan lalu pamit untuk pulang.


Kini tinggalah Fahmi, Tika dan Kiran di ruang tamu ini.


Ruangan yang mendadak jadi dingin karena ketiganya sama-sama terdiam.


Tak berapa lama, Nur pulang membawa Raka dan Rian.


Ya Allah, ada apa lagi ini? kenapa suasananya jadi mencekam sekali? Batin Nur ketika sudah masuk ke dalam rumah.


Tahu jika majikannya sedang ada masalah, Nur mengajak kedua anak ini untuk masuk ke rumah. Makan siang lalu beristirahat di kamar.


"Masuklah, aku masih muak melihat wajahmu," ucap Fahmi memecah keheningan, sadar kata-kata itu ditujukan untuknya. Kiran beranjak dan meninggalkan ruang tamu.


Tapi ia tak benar-benar pergi, Kiran berdiri di diding pembatas. Ingin tahu apa yang akan dibicaran oleh kakaknya.


"Katakan, kenapa kamu menyetujui lamaran tak masuk akal itu?" tanya Fahmi dingin tanpa melihat sang istri.


Lagi-lagi Tika menghela napasnya, sedikit kecewa saat sang suami tak memahami maksud baiknya.


Tika mendekat, ia memegang lengan suaminya itu erat.


"Mas, kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin," desis Tika lembut, ia tak ingin masalah ini malah merusak hubungannya dengan Fahmi.

__ADS_1


"Katakan." jawab Fahmi singkat.


Tika tak langsung menjawab, ia ingin menyusun kata-kata agar suaminya itu mengerti.


"Mas, kamu tahu kan, Kiran sangat mencintai Alfath. Bahkan setelah laki-laki itu menikah dia masih saja menemuinya." ucap Tika pelan.


Sementara Kiran meremat kedua tangannya yang penuh dengan keringat dingin.


"Anggaplah Kiran berusaha keras untuk melupakan Alfath, menurut Mas, berapa lama waktu yang Kiran butuhkan? apakah 1 tahun? apa 2 tahun?"


Fahmi terdiam dan Kiran masih setia mendengarkan.


"Kiran sudah tidak muda lagi, Mas. Harusnya kini dia sudah menikah dan mugkin bisa memiliki 2 anak seperti kita ...."


"Mungkin sekarang Kiran bisa berkata dia baik-baik saja, tidak butuh suami atau bahkan tidak butuh anak. Tapi saat kita sudah tidak ada nanti, pada siapa Kiran berlabuh. Bersandar di usia tuanya." Tika mendadak menangis, jujur, ia sudah sangat menyayangi Kiran. Tika tak ingin, hanya karena Alfath, sang adik menghabiskan hidupnya hanya seorang diri. Menyaksikan mantan kekasihnya itu bahagia bersama dengan orang lain.


Itu akan sangat menyedihkan, perasaan kosong dan sepi. Karena tak bisa dipungkiri, tiap hati pasti menginginkan sentuhan kasih sayang yang didapat dari pasangan.


Mata Fahmi berembun, sama halnya dengan Kiran yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Bukankah kamu mengenal Aslan sejak kecil? Bukankah kamu pernah berkata jika sebenarnya kamu menginginkan Aslan untuk menjadi adik iparmu?" tanya Tika dengan sesenggukan.


"Jadi tolong Mas, izinkan Kiran. Karena hanya dengan izinmu Kiran akan menikah. Biarlah ini menjadi keterpaksaan untuk Kiran sekarang, tapi lambat laun aku yakin ia akan menerimanya."


Hening, Lidah Fahmi kelu untuk menjawab pertanyaan sang istri.


Lain halnya dengan Kiran, gadis itu tak bisa lagi menahan air matanya agar tak mengalir. Hatinya sesak, tahu, selanjutnya takdir akan membawanya kemana.


Pernikahan dengan Aslan, menyandang istri kedua.


Kiran menggigit bibir bawahnya kuat hingga tercekat. Perlahan, ia benar-benar melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Menutupnya rapat-rapat dan menangis sejadi-jadinya.


Hanya satu pertanyaan, namun terus saja berkeliaran tak menemukan jawaban, Kenapa?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hingga malam menjelang, Kiran tak juga keluar dari dalam kamar.


Tika dan Nur berulang kali mengetuk kamar itu, namun tetap saja tak mendapat jawaban. Akhirnya Fahmi memberikan titah, tidak usah pedulikan anak itu, jika dia lapar dia akan keluar, katanya dengan dingin.


Drt drt drt.


Ponsel Kiran diatas meja rias bergetar, sang pemilik yang sedang duduk dilantai hanya menoleh, enggan untuk melihat ponsel itu.


Drt drt drt.


Drt drt drt.


Drt drt drt.


Jengah, akhirnya dengan malas Kiran menghampiri ponselnya, ada panggilan masuk dari Alfath.


Seperti tak ada masalah apapun, Kiran langsung mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, Mas." jawab Kiran lirih, suaranya nyaris habis karena sedari tadi menangis.


"Walaikumsalam." Jawab Alfath dengan berbisik-bisik.


Kiran tersenyum getir, sangat memahami situasi yang mereka jalani saat ini.


"Ada apa? jika Mas takut Dinda tahu sebaiknya jangan hubungi aku." desis Kiran.


"Mengertilah sayang, ini bukan inginku. Tapi aku mohon jangan dipertanyakan lagi. Sudah jelas aku mencintaimu, apa itu belum cukup?" ucap Alfath menekan, sumpah ia tak ingin kehilangan Kiran. Tapi kiran selalu saja meragukan bahkan kini selalu menghindarinya. Egonya terpancing, tak bisa mengendalikan amarah.


Lagi-lagi Kiran hanya mampu tersenyum, meratapi nasibnya yang teramat sangat malang.


Wanita simpanan.


Merasa lelah, tanpa menjawab ataupun mengucapkan selamat tinggal. Kiran langsung memutus sambungan telepon itu.


Ia bahkan menonaktifkan ponselnya, tak ingin Alfath kembali menghubungi.


"Baiklah, mari kita hancurkan hubungan kita sehancur-hancurnya Mas." gumam Kiran dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


"Aku sudah mati rasa, bukan hal buruk bagiku untuk hadir diantara Aslan dan Maya."


Tak bisa ditahan, air mata bening itu kembali mengalir dengan derasnya.


__ADS_2