
Keesokan harinya, Widya dan Agung benar-benar pindah ke rumah Fahmi, mereka hanya membawa 3 koper berisi baju dan barang-barang penting.
Tak banyak memang, karena semua perabotan rumah tangga sudah lengkap tersedia disana.
Semalam pun Agung sudah menelpon Fahmi, mengatakan perihal kepindahan mereka ke rumah itu. Fahmi sangat bahagia, kini rumah itu akan dihuni, bukan orang lain melainkan Agung yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.
Fahmi bersyukur, rumah itu akan kembali hidup, akan kembali dihuni oleh sebuah keluarga. Karena sebenarnya, Fahmi merasa bersalah kala memutuskan untuk tinggal di Malaysia kala itu.
Namun yakin jika semuanya sudah ditentuka oleh Allah, akhirnya ia mengambil keputusan itu.
Dan kini, Kiran sudah menyambut kedatangan kedua sahabatnya itu, berdiri tepat didepan gerbang rumahnya sendiri, menunggu mobil Agung dan Widya nampak.
Dan butuh waktu lama, yang ditunggu-tunggu datang juga. Senyum Kiran terkembang, ia bahkan langsung berlari dan menuju gerbang rumah yang akan ditempati oleh Agung.
"Mbak Wid!" pekik Kiran ketika Widya turun lebih dulu, sementara Agung masih setia dikursi kemudi.
Sesaat, Kiran dan Widya saling peluk, seperti teletubies, dan pelukan itu terlepas kala terdengar suara teriakan Agung.
"Buka gerbangnyaa!" pekik Agung kesal, bukan apa-apa, kini ia masih terparkir dipinggir jalan, akan mengganggu jika ada mobil yang akan lewat.
Kiran dan Widya terkekeh, lalu sama-sama mendorong gerbang rumah itu, hingga terbuka lebar.
Dan mobil Agung masuk ke halaman rumah itu.
Lalu turun dan menghampiri sang istri juga sahabatnya.
"Ini kunci rumah ini," ucap Kiran, seraya menyerahkan 3 kunci rumah ini, semuanya ia serahkan kepada Agung, tanpa menyimpan satupun untuk dirinya.
Kiran benar-benar menghargai privasi kedua sahabatnya ini, bahkan tak ingin merasa, jika mereka disini menumpang. Kiran ingin mereka menganggap rumah ini seperti rumah mereka sendiri, yang akan selalu merawat dan menjaganya dengan baik.
"Kalau lagi ribut, jangan banting-banting perabot ya," ucap Kiran bercanda, saat mereka semua sudah mulai masuk ke dalam rumah. Namun Agung malah langsung saja menatapnya tajam.
"Pengantin baru itu didoain yang bagus-bagus, ini malah langsung ribut," ketus Agung.
__ADS_1
"Maksudku kan ribut yang lain, uh ah ih uh gitu," canda Kiran dengan terkekeh, dan Agung langsung tersenyum lebar, sementara Widya mencebik, jadi malu sendiri.
Agung dan Kiran ternyata sama saja, mesum. Wajar sedari SMA hingga kini mereka masih berteman, pikir Widya sambil menganggukkan kepalanya pelan. Membenarkan pikirannya sendiri.
"Ya sudah, aku akan pulang, kata umi aku tidak boleh lama-lama disini, harus kasih waktu untuk kalian berdua," jelas Kiran jujur.
"Memang harus seperti ini, kamu disini malah menganggu," timpal Agung apa adanya, memang inilah yang ia rasakan. Gara-gara ada Kiran ia tidak bisa bermesraan bersama sang istri.
Menikmati tinggal berdua sebagai pengantin baru.
Kiran mencebik, lalu berpamitan pada Widya untuk pulang. Keluar dari rumah itu dengan bibir yang mengerucut.
Selepas kepergian Kiran, Agung langsung memeluk tubuh sang istri dari arah belakang, mendaratkan dagunya diatas pundak sang istri.
"Nyaman kan rumahnya?" tanya Agung, ia menoleh menatap sang istri.
Dan saat Widya menoleh kearah sang suami, Agung langsung mencium pipinya.
Hal sederhana, namun berhasil membuat kedua pipi Widya merona.
Keduanya lalu memutuskan untuk memilih kamar yang akan mereka tempati. Mereka sepakat, untuk menggunakan kamar yang ditempati Fahmi dulu untuk mereka tempati. Karena kamar itu memanglah kamar yang paling besar di rumah ini.
Widya dan Agung lalu mengambil koper mereka di mobil dan mulai berbenah.
"Sayang, kita pesan makanan saja ya, kamu mau makan apa?" tanya Agung, melihat sang istri yang dengan telaten merapikan baju mereka berdua.
Menggantungkannya dihanger lalu dimasukkan ke dalam lemari.
"Apa ya? terserah sayang saja," jawab Widya, bingung.
"Aku mau pesan ayam bakar, kamu mau?"
Widya menggeleng.
__ADS_1
"Lalu," tanya Agung lagi.
"Terserah Mas," jawab Widya lagi, ketika ditanya entah kenapa dia jadi bingung sendiri.
"Bakso?"
Widya masih menggeleng.
"Mie Ayam?"
Widya menggeleng lagi.
"Apa dong sayang? jangam buat aku bingung."
"Ya sudah, samakan saja dengan punya Mas."
Agung mengangguk, tanpa banyak tanya lagi ia langsung memesan makanan itu, duo porsi, untuk diantar ke rumah ini.
"Aku ke dapur dulu ya Mas, mau lihat ada apa?" tanya Widya setelah ia selesai merapikan baju-baju itu.
"Nanti saja, saat makanannya sudah datang. Aku juga sudah memesan air meniral kok," jelas Agung, menahan kepergian sang istri.
Dan Widya mengangguk, patuh. Lalu memilih duduk di sofa kamar itu, menyusul sang suami yang sedang duduk disana pula, merapikan beberapa dokumen penting milik mereka.
"Kamu lelah?" tanya Agung setelah istrinya duduk sempurna, Widya menggeleng dan memeluk lengan suaminya erat, sekaligus bersandar.
"Mas, kapan mau buat dedek bayinya, aku kan ingin segera memiliki bayi," ucap Widya terang-terangan, ia memberanikan diri bertanya seperti itu, karena terus merasa bersalah didalam hati.
Terlebih kala mengingat, kemarin mereka sempat gagal untuk menyatu.
"Nanti sayang, makan dulu, karena setelah itu aku tidak akan melepaskanmu lagi," terang Agung hingga membuat Widya tak mampu berkata-kata.
Ia hanya menggigit bibir bawahnya, gugup.
__ADS_1
Hingga terdengar suara bell rumah itu berbunyi, tanda pesanan makanan mereka sudah datang.