Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 130 - Persahabatan Yang Saling Menguntungkan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Saatnya Kiran dan semua temannya pergi baby moon. Tak ingin mengambil tempat yang jauh, mereka memutuskan untuk baby moon hanya di Jakarta saja.


Pergi ke pulau Ayer Resort & Cottages Jakarta, pilihan mereka.


Menikmati cottage terapung dipinggiran pantai.


Tepat saat jam istirahat makan siang, mereka semua sampai di sana. Langsung diantar oleh tour guide untuk menempati masing-masing cottage pesanan mereka.


Aydan begitu antusias, saat melihat banyak air disekelilingnya. Takut Kiran kualahan mengurus sang jabang bayi, akhirnya Yuli memerintahkan Desi untuk ikut bersama mereka.


Jika Desi tidak diajak, maka kalian tidak boleh pergi. Begitulah pesan Yuli tadi pagi. Hingga akhirnya Aslan menyetujui keinginan ibunya itu.


"Pak, sini, biar Aydannya saya kasih susu dulu," pinta Desi, saat ini Aydan memang berada dalam gendongan sang ayah.


Mengingat jika saat ini memang jam Aydan minum susu dan tidur, Aslan pun segera menyerahkan anaknya itu pada sang baby suster.


Bersama Aydan, Desi kembali ke cottagenya sendiri. Beristirahat bersama Aydan di sana.


Kiran, setelah membereskan barang-barang mereka dia keluar. Menatap lautan yang membentang luas dihadapannya.


"Ran!" pekik Dinda diujung sana.


Mendengar suaranya dipanggil, Kiran pun menoleh, melihat Dinda yang sedang melambai.


Kirab tersenyum, ikut melambai juga merasa antusias dengan baby moon mereka.


Hingga pergerakan tangan Kiran terhenti, saat merasakan pelukan sang suami dari arah belakang.


"Susah peluknya ya sayang," ucap Aslan, karena terhalang perut sang istri yang semakin membesar.


Kiran berbalik, menatap dengan terkekeh suaminya itu.


"Gimana dong, padahal aku maunya dipeluk-peluk," jawab Kiran menggoda.


Dan tanpa banyak aba-aba lagi, Aslan lalu menarik istrinya untuk kembali masuk ke dalam cottage.


Merebahkan sang istri di atas ranjang yang banyak tirai. Tirai-tirai itu terayun mengikuti arah angin yang masuk.

__ADS_1


Aslan, tak langsung menyerang sang istri. Ia menatap lekat kedua netra Kiran yang berada dibawah kungkungannya.


"Aku mencintaimu Ran," ucap Aslan dengan suara berat, bahkan napas hangatnya begitu terasa menyapu wajah sang istri.


Kiran tak langsung menjawab, ia lebih dulu melepas kancing baju teratas milik sang suami.


"Aku lebih mencintai kamu Mas," balas Kiran, ia sedikit membuka bibirnya saat sang suami mulai mengikis jarak. Menyatukan bibir mereka dengan begitu lembut.


Dan siang hari itu, mereka menyatu diantara deru suara angin pantai. Desaahan dan lenguhan keduanya menyatu, menciptakan suara yang begitu memabukkan. Aslan terus bergerak perlahan, tak ingin membuat istrinya merasa tak nyaman. Hingga entah dimenit ke berapa, akhirnya gunung itu meletus juga, mengeluarkan lavanya. Meninggalkan denyut diantara kedua inti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai beristirahat, ketiga pasang suami istri ini memutuskan untuk keluar dari dalam cottage.


Bermain air dipinggiran pantai, menemani Aydan dan juga Akbar yang tengah asik bermain pasir.


Bahkan Widya dan Dinda pun ikut pula duduk di pasir itu, membuat istana pasir.


"Punya mama jelek ya sayang, bagus punya ibu Wid," ledek Widya pada istana pasir buatan Dinda.


"Punyamu kurang padat sayang," timpal Alfath lagi, berkata jujur pada istrinya itu.


"Makanya Mas yang buat dong, sini main sama Akbar, aku kan nggak bisa," kesal Dinda, padahal ia hanya ingin main pasir bersama sang suami, tapi kenapa malah jadinya marah-marah begini.


Dan benar saja, tindakan Alfath itu langsung mengembalikan senyum Dinda yang sempat hilang.


Agung dan Aslan melihatnya hanya saling pandang, lalu mengulum senyumnya agar tidak pecah jadi tawa.


"Sayang, di sana ada yang jual jagung bakar, kamu mau?" tawar Aslan pada istrinya itu.


Namun ternyata yang menginginkan semua orang.


Alhasil, Aslan dan Agung pergi berdua untuk membeli beberapa jagung bakar dan minuman air kelapa.


Tak jauh dari tempat mereka berkumpul tadi.


Cukup lama Kiran menunggu, namun sang suami dan sahabatnya itu tak kunjung-kunjung kembali. Ia sampai geram sendiri, padahal mulutnya sudah tida sabar mencicipi jagung bakar yang terasa manis.


"Kok lama banget ya Mbak, mas Aslan sama Agung pergi," rengek Kiran, ia bahkan sampai bangkit dari kursinya dan berdiri seraya melongok mencari keberadaan sang suami.

__ADS_1


Dilihatnya, Aslan dan Agung sedang asik berbincang. Menunggu pesanan mereka. Bahkan tanpa sungkan Agung mengizinkan beberapa wanita mendahului mereka.


"Pesanannya kan banyak, mungkin lama Ran," jawab Widya, yang masih asik bermain pasir dengan Akbar, Aydan, Desi, Dinda dan Alfath.


"Bukannya lama karena pesanan banyak mbak, tapi sengaja di lama-lamain, tuh!" tunjuk Kiran pada suami dan sahabatnya itu.


Menunjuk dengan bibir yang mengerucut, seketika perhatian semua orang tertuju kesana.


Melihat Agung dan Aslan yang berada diantara banyak wanita.


Melihat itu Alfath mengulum senyumnya, menahan agar tidak tergelak.


Alhamdulilah, aku tidak ikut mereka. Batin Alfath penuh syukur.


Tiga wanita ini memang aneh, pikir alfath. Namanya di pantai dan tempat umum, wajar saja jika berkerumun dengan banyak orang, tak terkecuali para wanita yang menggunakan bikini seperti itu.


Dan saat Aslan dan Agung kembali, mereka disambut dengan wajah masam para istri.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya aslan heran, bahkan Kiran sampai tak peduli dengan makanan yang dia bawa.


Agung berpikir keras, kala melihat wajah istrinya yang nyaris sama seperti Kiran. Terlihat garang dan penuh amarah.


Sampai akhirnya Agung mengingat sesuatu yang membuat kedua wanita ini marah-marah begini.


"Sayang, kamu lihat tidak, tadi saat aku dan Aslan membeli jagung, ada segerombolan wanita yang menghampiri kami. Ya ampun, mereka bau sekali, keringat itu uweek! buat aku pengin muntah. Jangan-jangan, ini bawaan bayi kita, ayahnya tidak bisa berdekatan dengan wanita lain selain ibunya," ucap Agung, membujuk sekaligus merayu.


Dan ternyata, usahanya itu membuahkan hasil. Widya, telah kembali tersenyum.


"Benarkah?" tanya Widya dan Agung langsung mengangguk dengan cepat.


Aman, batin Agung lega.


Menyisahkan Aslan yang gusar sendirian.


"Sayang, makan sini duduk, aku tiup kan jagung bakarnya, tadi aku minta dibuat pedas sekali, seperti kesukaanmu," jelas Aslan, mencoba merayu sang istri dengan makanan kesukaannya, makanan pedas.


"Beneran pedas?"


"Iyaa, sini," ajak Aslan langsung dengan senyum yang mulai terkembang.

__ADS_1


Para pria banyak mengucap syukur, kala baby moon mereka tidak ada drama istri marah-marah. Karena ketiga pria itu sudah banyak belajar dari pengalaman. Juga Alfath yang terus mendapatkan bimbingan dari Aslan dan juga Agung.


Kalau kata Agung, persahabatan yang saling menguntungkan.


__ADS_2