Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 186 - Guru Privat


__ADS_3

Mata kuliah telah berakhir.


Setelah dosen keluar, Aydan pun mengemasi tumpukan buku yang menjadi panduannya belajar.


Sebagian masuk ke dalam tas, sebagian lagi ia apit dengan kedua tangan.


Terlihat cupu, namun katampanan Aydan tak bisa ditutupi dengan buku-buku itu.


"Sob, cabut duluan yah." Ucap salah satu teman akrab Aydan sambil melambaikan tangan menuju pintu kelas.


Lelaki tampan itu tersenyum ramah, dan mengangguk mempersilahkan.


Hari ini, waktu belajarnya selesai dengan sempurna. Aydan bangkit dari kursi berniat untuk secepatnya pulang.


Namun niatan itu terhenti. Saat kedua gadis yang memiliki wajah yang serupa, menjegal jalannya.


Hingga membuat Aydan sedikit terkejut.


Mereka berdua berdiri tepat di depan kursi Aydan. Saling menutup akses lelaki itu untuk keluar.


Aydan menatap Anja dan Jani dengan tatapan menyelidik. Ia membenarkan letak tas yang ia sampirkan di salah satu bahunya. "Ada apa?" Tanya Aydan dengan kening berlipat-lipat.


Memandang Anja dan Jani bergantian. Sungguh ingin tahu, apa maksud gadis kembar ini menghentikan langkahnya.


Ditanya seperti itu, keduanya malah saling senggol menyenggol. Tidak ada yang berani mengatakan niat mereka sebenarnya.


Hingga kesenjangan waktu diantara mereka tercipta, hampir lima menit, ketiga orang tersebut benar-benar tidak ada yang bersuara.


Dan akhirnya kesabaran Aydan menipis.


"Kalau kalian hanya diam seperti ini, aku akan pergi." Tegas Aydan, ia tidak mau buang-buang waktu, karena waktu baginya sangat berharga. Dan belajar adalah waktu terbaik dalam hidupnya.


Selain itu, ia tidak tertarik dengan apapun. Apalagi soal cinta-cintaan? Hah, rasanya ia masih terlalu jauh untuk memikirkan itu.


Melihat Anja dan Jani hanya bergeming, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk pergi, ia mengangkat dan hendak melangkah.

__ADS_1


Namun, seperti di permainkan, kedua gadis itu berteriak. "Tunggu, tunggu!" Anja dan Jani kompak memegangi kedua lengan Aydan, kanan dan kiri. Tidak mau kesempatan emas ini pergi begitu saja.


Lagi, lelaki itu mengernyit bingung dengan sikap kembar ini. Ada apa sih? Apa yang sebenarnya ingin mereka bicarakan?


"Emmm... Aydan, jadi begini." Jani mulai memberanikan diri untuk buka suara.


Tetapi Aydan tidak peduli itu, yang justru fokus dengan kedua tangannya, sama-sama dipegang erat seperti tidak akan pernah dilepaskan.


"Aku sama Anja itu..." Ucapan Jani terjeda, begitu tahu kalau mata Aydan menatap tajam kedua tangan mereka.


Perlahan, Jani melepaskan tangannya dari lengan kiri Aydan, lalu menabok Anja yang belum sadar akan situasi.


Plak!


"Aw!" Keluh Anja, merasakan tabokan itu begitu keras, hingga membekas bekas kemerahan. "Apa sih?" Ketusnya.


Jani melirik horor saudara kembarnya itu, lalu menunjuk Aydan dengan ekor matanya. Seketika Anja mengerti dengan kode Jani.


"Aydan maafin kita, kita berdua udah lancang. Tapi please jangan dulu pergi, dengerin kita dulu yah." Jani memohon dengan mimik wajah memelas.


Begitu pun dengan Anja, mendengar adiknya itu berbicara ia juga jadi ikutan. "Iya Aydan, kita mau minta tolong sama kamu."


Keduanya kembali saling melirik, sudah tahu Anja pasti tidak akan mengalah, akhirnya Jani lagi yang menjelaskan tujuan mereka.


Yaitu menjadikan Aydan sebagai guru privat. Mengajari mereka setiap seminggu sekali. Bahkan Jani menawarkan harga, berapa kira-kira upah yang harus mereka bayar.


"Kita berdua bener-bener minta tolong sama kamu Aydan. Cuma kamu yang kita percaya buat jadi guru privat kita."


"Aku tidak bisa!" Balas Aydan cepat, bahkan nyaris tanpa berpikir, ia merasa ilmunya masih sangat sedikit untuk mengajari dua gadis itu.


Bahkan ia masih tergolong menjadi mahasiswa baru. Mana mungkin sekarang ia beralih profesi menjadi guru. Tidak, ia tidak mau. Meskipun Jani mengatakan dirinya akan dibayar.


"Aydan please!" Anja mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Berharap lelaki itu mau menerima permintaan mereka.


"Aku tidak bisa. Kalian tahu sendiri, aku juga masih menjadi mahasiswa bahkan sekelas dengan kalian. Aku yakin, asal kalian sungguh-sungguh dan belajar dengan giat, kalian pasti bisa mencapai nilai yang ingin kalian dapat." Jelas Aydan panjang lebar. Karena ia selalu percaya pada pedoman yang ia pegang teguh, bahwa usaha keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.

__ADS_1


"Tapi kita juga butuh kamu Aydan. Kita butuh guru privat yang bisa menjelaskan lebih detail tentang pelajaran ataupun yang nggak kita ngerti." Jani belum menyerah, ia masih terus berusaha meyakinkan Aydan, bahwa mereka benar-benar butuh sosok seperti dirinya.


Anja hanya manggut-manggut, membenarkan.


"Kalian bisa panggil guru privat lain, tapi bukan aku orangnya." Lelaki itu memandang ke arah Anja dan Jani bergantian, lalu berniat kembali melangkah.


Grep!


Lalu bugh! Jani menarik dan mendudukkan Aydan kembali di kursinya. Lelaki itu terperangah, merasa tak percaya.


Gadis ini benar-benar! Tenaganya kuat sekali.


Jani menarik nafas, lalu membuangnya secara perlahan sebelum kembali berbicara. "Aydan please sekali ini aja, kamu bantuin kita. Kita punya niat baik lho buat memperbaiki nilai, supaya Ayah dan ibu kita bangga. Setidaknya kasih kita kesempatan sampe semester ini habis. Kalo emang kamu udah merasa nggak bisa, okey. Kamu boleh berhenti." Jelas Jani memberikan ruang yang lebih luas lagi untuk lelaki tersebut, kali ini ia benar-benar sudah pasrah, kalau dengan cara ini Aydan tetap menolak.


Tamatlah sudah riwayatnya. Peribahasa sambil menyelam minum air sepertinya tidak bisa terlaksana.


Aydan, lelaki itu mencoba berpikir. Ia memijit pelipisnya yang sedikit terasa pusing.


Setelah mendengar penjelasan Jani yang terasa lebih meyakinkan, otaknya seperti mendapat pencerahan.


Lagi pula apa salahnya berbagi ilmu? Belum lagi, ia teringat dengan pesan sang ayah untuk dekat dengan gadis kembar yang bernama Anja dan Jani. Makin terbuka lah hati Aydan untuk menerima penawaran ini.


"Baiklah, kalau begitu aku setuju. Aku menerima permintaan kalian untuk menjadi guru privat." Ujar Aydan seraya menghembuskan nafas.


Mendengar itu, Anja dan Jani saling pandang. Dengan senyum mengembang mereka kompak berteriak. "Beneran???"


Dan Aydan hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


Seperti mendapat jacpot besar, Anja dan Jani sontak berteriak kegirangan, mereka saling memeluk satu sama lain, karena akhirnya tujuan mereka tercapai.


Yeyeyeye dapet guru ganteng, batin keduanya, kompak.


"Sekarang, apa aku sudah boleh pulang?" Tanya Aydan, menghentikan tingkah kedua gadis itu yang sedang merasa sangat senang.


Anja dan Jani mengangguk bersamaan. "Tapi ingat ya, nanti sore les privatnya langsung kita mulai, kita berdua tunggu di perpustakaan kampus." Jani mengingatkan, sebelum lelaki itu benar-benar melangkah untuk pulang.

__ADS_1


"Hemmm."


"Oke, dah Aydan." Kali Anja yang kegenitan. Ia melambai-lambaikan tangan seiring tubuh tegap itu keluar dari ruangan.


__ADS_2