Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 101


__ADS_3

Sampai showroom.


Kiran langsung berjalan menuju meja kerjanya. Ia bahkan tak peduli, saat ada bawahannya yang menyapa saat berpapasan dipintu masuk.


Wajah Kiran terus kaku, seolah ada yang sedang ia pikirkan. Bahkan bukan hanya hari ini, sejak kemarin Kiran selelau memperlihatkan raut wajah itu.


Kemarin Agung sudah menanyakan pada sahabatnya itu apa ada sesuatu yang terjadi. Tapi Kiran menjawab tidak ada yang terjadi, semuanya baik-baik saja.


"Ran," panggil Agung, namun tetap bergeming. Sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ran!" panggil Agung lagi sedikit membentak, hingga Kiran menoleh dan menatapnya dengan marah.


"Apasih! brisik!" kesal Kiran, lengkap dengan wajahnya yang garang. Tapi Agung tidak takut sedikitpun.


"Apa ada masalah? cerita padaku," jawab Agung, memasang wajah serius. Ia bahkan memutar kursinya hingga menghadap langsung ke arah Kiran.


Yang ditanya tidak langsung menjawab, malah kembali membuang wajah dan menatap layar komputernya yang sudah menyala.


"Kamu sedang bertengkar dengan Aslan?"


"Tidak."


"Terus?"


Hening.


"Heis! mending ngomong sama dispenser," kesal Agung, ia lalu bangkit lalu menuju pantri kantor dan membuat segelas kopi hangat.


Berbicara dengan Kiran malah membuat ia geram sendiri.


Agung pergi dan Kiran tidak peduli sedikitpun, ia masih memikirkan suaminya yang harus repot bekerja di dua tempat.


Ada niatan Kiran untuk berhenti bekerja di showroom dan mengambil alih toko baju sang mertua. Namun Kiran sedikit ragu, takut jika Abi tidak mempercayainya.


Terlebih itu adalah usaha keluarga, mungkin Abi memang ingin Aslan lah yang meneruskan usaha itu.


Pelan, Kiran membuang napasnya lalu bersandar pada kursi.


Nanti saat pulang kerja, ia akan coba untuk menemui suaminya di toko baju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat jam istirahat siang.


Aslan, memutuskan untuk tidur sejenak di sofa ruang kerjanya.

__ADS_1


Pras yang melihat itu jujur saja, ia merasa iba. Pras tahu tentang kesibukan Aslan yang kini semakin bertambah itu.


Tepat jam 2 siang, Aslan terbangun. Bukannya merasa lebih baik, kepalanya malah jadi sedikit pusing.


Tiba-tiba pintunya diketuk, Pras masuk sambil membawa air putih hangat untuk atassnnya itu.


"Silahkan diminum Pak, anda tadi juga belum makan siang," ucap Pras mengingatkan, Aslan lalu melihat kotak bekal sang istri yang masih tertata rapi diatas meja kerjanya.


"Terima kasih ya Pras," sahut Aslan kemudian.


Saat Aslan membuka ponselnya pun sudah banyak pesan masuk dari sang istri, yang isinya mengingatkan ia untuk makan siang.


Seulas senyum terukir dibibir Aslan, saat Pras kembali keluar dari ruangannya, ia segara menelpon Kiran.


Tak butuh waktu lama, panggilannya langsung mendapatkan jawaban.


Lalu saling bertular salam dan juga rindu.


"Kenapa baru makan sekarang?" keluh Kiran, ia benci sekali jika suaminya itu terlalu abai seperti ini. Tidak perhatian pada tubuhnya sendiri.


"Aku tadi ketiduran sayang, terbangun gara-gara ponselku terus saja bergetar, banyak pesan masuk dari wanita cantik," goda Aslan. Suka sekali dia selalu seperti ini, membicarakan istrinya sendiri dengan istrinya.


Kiran mencebik.


"Nanti ke toko baju lagi?"


"Hana itu sudah menikah belum sih Mas?" tanya Kiran kemudian, sedari awal mulai memegang Toko, Aslan sering sekali menyebut-nyebut nama Hana. Kepala toko disana.


"Belum sayang, masih single," jawab Aslan, ia sedikit mengulum senyumnya, berharap Kiran akan cemburu.


"Umurnya berapa?" tanya Kiran lagi, menuntut. Aslan tahu, istrinya ini sensitif sekali dengan umur. Karena Kiran lebih tua 2 tahun dari Aslan.


"Berapa ya? aku tidak tahu, mungkin 27 atau 28," jawab Aslan menerka-nerka, karena ia sungguh tidak tahu saat ini Hana umur berapa.


"Masih muda ya, cantik mana denganku?" tanya Kiran lagi dengan nada yang lebih menuntut.


"Tentu saja cantik istriku," balas Aslan langsung.


"Bohong!" sahut Kiran tidak terima dan Aslan terkekeh.


Akan panjang urusannya jika pembicaraan ini dilanjutkan. Akhirnya Aslan buru-buru mengalihkan pembicaraan, mengatakan bahwa ia sudah menghubungi mas Fahmi perihal rumah itu dan mas Fahmi setuju, jika Agung yang menempati, tanpa ada uang sewa.


Selesai Aslan makan siang, selesai pula teleponnya dengan sang istri. Dan ia kembali sibuk bekerja.


Saat pulang kantor, Aslan pun langsung menuju toko bajunya.

__ADS_1


Toko yang semakin banyak dikunjungi orang saat jam sore begini.


"Suruh Hana ke ruanganku," titah Aslan pada karyawan yang menjaga meja kasir.


Karyawan itu menjawab dengan patuh, lalu bergagas mencari Hana dan memintanya untuk datang ke ruang sang Boss.


Tok tok tok


Hana mengtuk pintu ruang kerja Aslan, lengkap pula dengan membawa leptop dan flasdiks di tangannya.


Saat terdengar Aslan memerintahkannya untuk masuk, Hana segera membuka pintu itu. Masuk kesana dan duduk dihadapan Aslan.


"Bagaimana? apa sudah selesai?" tanya Aslan langsung.


"Maaf Pak, belum, tapi jika Bapak ingin memeriksanya, saya sudah bawa filenya," jawab Hana apa adanya.


Lalu Aslan meminta flashdisk Hana dan segera membukanya di komputer. Hana pun menghidupkan pula leptopnya.


Jadi apa yang ditunjukkan Aslan salah, Hana langsung menandai dileptopnya.


"Kamu lulusan manajemen ya?" tanya Aslan dan Hana mengangguk seraya tersenyum tipis.


Pekerjaan Hana lumayan rapi, dan ia mudah memahami apa yang Aslan jelaskan. Hingga pekerjaan mereka tidak menemukan kesulitan.


"Bagus, selesaikan laporan ini, lalu print dan besok letakkan langsung di meja saya."


"Baik Pak," jawab Hana patuh.


Hana terus tersenyum, merasa usahanya menambah jam kerja untuk membuat laporan ini tidak sia-sia.


Bahkan Bosnya pun tak sungkan untuk memuji pekerjaannya yang bagus. Cap Bos dingin dan sombong yang Hana buat selama ini seketika luntur begitu saja.


Ternyata Aslan adalah Bos yang hangat dan sangat ramah.


Saat keluar dari ruangan itupun, Hana masih terus mengukir senyumnya. Hingga ia berjangkit kaget, saat tanpa sengaja menabrak tubuh seorang wanita, tepat saat ia berbalik keluar dari ruangan Aslan itu.


"Astahfirulahaazim," gumam kedua wanita itu kaget.


Hana dan Kiran sama-sama mengucapkan kata maaf, bahkan Kiran mengambilkan Flasdisk Hana yang teejatuh diatas lantai.


Kiran bisa melihat dengan jelas, jika wanita dihadapannya ini adalah Hana. Tertulis di tanda pengenal yang Hana pakai.


Ternyata, Hana adalah gadis muda dan cantik dimata Kiran.


"Maaf, mbak siapa ya? ada perlu apa masuk kesini?" tanya Hana, sopan.

__ADS_1


Disini, hanya khusus karyawan yang boleh masuk. Bahkan bukan pula tempat toliet untuk pengunjung.


"Saya Kiran, istrinya Aslan, ini ruangannya kan?" jawab Kiran sekaligus bertanya, entah kenapa ia ingin sekali Hana tahu jika ia adalah istri pemilik toko ini.


__ADS_2