Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 46


__ADS_3

Jam 1 siang tepat, Agung sampai di Malaysia. Berdiri di depan pintu apartemen Kiran dengan membawa satu tas ransel yang terlihat begitu penuh.


2 kali, ia menekan bell apartemen itu. Cukup lama tidak terbuka, jika seperti ini ia yakin jika kini hanya Kiran ssorang yang ada di rumah.


Klik!


Pintu apartemen terbuka, dan benar seperti dugaannya, Kiran yang membuka pintu itu.


Seketika, Agung langsung tersenyum lebar, jika sudah bertemu Kiran, ia akan berlagak jadi pria paling bahagia didunia ini.


"Buka pintu saja lama sekali, lain kali harus lebih cepat," ucap Agung seolah menggerutu, lalu mengambil kursi roda Kiran dan mendorongnya masuk ke dalam.


"Mbak Tika kemana?" tanya Agung saat sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Ke minimarket di bawah, ku pikir tadi kamu mbak Tika," jawab Kiran sambil memperhatikan Agung yang sibuk membuka tas ranselnya.


"Aku bawa makanan kesukaanmu," jelas Agung sambil mengeluarkan beberapa tuperwear yang terkemas dengan rapi.


Melihat dan mendengar itu, senyum Kiran langsung terkembang dengan lebar.


"Terima kasih Ayah," ucap Kiran dan Agung bergidik ngeri.


"Aku memang melakukan ini untuk anakku, jadi kamu jangan kepedean," sanggah Agung cepat dan Kiran tidak peduli.


"Tunggu, aku akan ambil piring," ucap Agung seraya bangkit dan berlalu ke dapur.


Pria ini sudah begitu menghapal apartemen Fahmi, tiap kali kesini, ia selalu menginap disini.


Setelah Agung pergi, Kiran langsung mencicipi semua makanan itu menggunakan tangan kosong. Makanan yang begitu dirindukan oleh lidahnya.


"Hem, enak ya sayang," riang Kiran sambil mengelus perutnya sendiri, berbicara dengan sang anak yang masih berada di dalam kandungan.


Agung yang melihat itu dari kejauhan malah jadi teringat dengan Aslan.


Tidak! Agung menggeleng pelan.


Bukankah Kiran sudah bahagia? lalu untuk apa kembali mengungkit tentang Aslan. Pikirnya, lalu yakin.


Kembali, ia berjalan menghampiri Kiran


Plak!


Sengaja, Agung menepuk tangan Kiran yang sedang asik jawil-jawil makanan.


"Jorok," kesal Agung lalu memgambil tissue diatas meja dan menghapus noda ditangan Kiran.


"Kalau kamu seperti ini terus, lama-lama aku bisa jatuh cinta padamu Gung," ledek Kiran.


"Najis," jawab Agung cepat, meski begitu, ia masih terus membersihkam jari-jari Kiran.


Mendengar itu, Kiran terkekeh.


"Makan sedikit-sedikit yang ini ya, ini pedas," jelas Agung dan Kiran menurut.


"Berhenti diet, sekarang anak kita butuh banyak nutrisi, jangan takut gendut," jelas Agung lagi dan Kiran hanya mengulum senyum.

__ADS_1


Sesaat, ia berharap yang duduk dihadapannya ini bukanlah Agung, melainkan Aslan.


Sesaat, ia berharap yang memberikannya perhatian seperti ini bukanlah Agung, melainkan Aslan.


Pelan, Kiran menggelang.


Aku dan mas Aslan sudah bercerai, untuk apa aku masih mengharapkannya. Kini, mas Aslan dan Maya pasti sudah hidup bahagia. Batinnya lalu tersenyum kecut.


Meski rasanya sangat sakit, tapi ia mencoba tegar. Dulu ia pernah merasakan sakit hati seperti ini, dan dengan berjalannya waktu, rasa sakit itu pergi dengan sendiri.


Hanya itulah yang kini selalu diyakini Kiran.


Menyerahkan semuanya pada waktu dan kuasa Allah.


Tapi ada satu yang berbeda, jika dulu Alfath pergi tanpa meninggalkan bekas apapun. Tapi kini lain, Aslan pergi meninggalkan sebuah keajaiban, anak.


Karena itulah, Kiran lebih sulit untuk melupakan. Atau bahkan, selamanya ia tidak akan pernah bisa lupa.


"Jangan melamun, buka mulutmu," titah agung dan Kiran menurut.


Siang itu, Kiran makan di suapi Agung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jakarta.


Di dalam mobil yang masih melaju, pikiran Aslan bercabang kemana-mana.


Masih mengganjal, tentang kepergian Agung ke Malaysia pagi ini.


"Apa Kiran di Malaysia?" gumamnya seraya berhenti di lampu merah.


Drr drt drt


Ponselnya diatas dashboard bergetar, dilihatnya ada satu pesan masuk dari Umi, sang ibu Yuli.


Umi:


Lan. hari ini pulang ke rumah Umi ya? umi sangat merindukanmu Nak.


Tulis Yuli dalam pesan itu.


Tidak langsung membalas, Aslan malah kembali meletakkan ponsel itu disana.


Tiap kali melihat sang ibu, Aslan kembali diselimuti rasa bersalah. Rasanya tak bisa membayangkan, bagaimana keadaan Kiran saat dituduh mengandung anak dari orang lain oleh sang ibu. Bahkan disaat ia baru saja kehilangan bayinya.


Pelan, Aslan menggeleng.


Maaf Umi, aku tidak akan pulang sebelum menemukan Kiran, lirihnya di dalam hati.


Lalu kembali menekan gas dan menjalankan mobil.


20 menit perjalanan, akhirnya ia sampai di rumah. Rumah yang dulu sempat ditinggali oleh Kiran.


Tanpa mengulur waktu, Aslan langsung masuk. Menyusuri rumah yang begitu terasa dingin dan kosong.

__ADS_1


Ia hanya tinggal seorang diri di rumah ini.


Sampai di kamar, rasa sepi itu kembali melanda.


Ia duduk di sofa kamar itu dan memperhatikan sekeliling. Mengingat kembali kenangannya bersama sang istri, yang perlahan-lahan menjadi semu dan hilang.


Akhirnya, Aslan hanya mampu tersenyum getir.


Satu-satunya pengobat rindu adalah memandangi foto kecil hasil USG anaknya dengan Kiran yang sudah diletakkannya di dalam dompet.


"Nak, katakan pada ibumu, ayah menunggu," ucapnya pada sang anak yang berbentuk kertas.


"Ayo kita telepon ibu," ajaknya lalu mengambil ponselnya sendiri.


Menggulir log panggilan dari waktu ke waktu, mencari kapan saja ia dan Kiran pernah saling bertukar panggilan telepon.


Namun, tangannya berhenti menggulir saat melihat ada panggilan telepon dari nomor tanpa nama di tanggal 21 september. Tanggal sebelum sang istri pergi.


Sejenak, ia berharap itu adalah panggilan dari Kiran.


Namun, Aslan kembali ragu.


Tidak mungkin. Pikirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Drt drt drt


Drt drt drt


"Ran, ponselmu ada telepon!" teriak Agung dari ruang tengah, Kiran sedang berada di dapur bersama Tika.


"Angkat saja Gung, nunggu aku kesitu keburu mati!" jawab Kiran dengan berteriak pula.


Mendengar itu, Agung terkekeh. Lalu menggeser tanda hijau diponsel sang sahabat.


"Assalamualaikum? halo?" jawab Agung, namun tidak ada jawaban.


"Halo? hai? ini siapa?" tanya Agung lagi tapi tetap tidak ada sahutan.


Dijauhkannya ponsel itu dan dilihatnya layar yang menyala, panggilan itu masih terhubung. Namun tak ada suara.


"Salah sambung terus tidak sengaja kepencet mungkin," tebak Agung lalu memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu.


"Siapa?" tanya Kiran yang baru datang.


"Tidak tahu, nomor baru, tapi sepertinya salah sambung," jelas Agung seraya memberikan ponsel ditangannya pada sang pemilik.


Tanpa menunda, Kiran langsung memeriksa nomor itu.


Dan seketika itu juga, jantungnya seperti berhenti berdetak.


Nomor yang begitu di hapal olehnya, kini menghubunginya tanpa ada angin dan hujan.


Gamang, Kiran hanya menatap nomor itu tanpa kata.

__ADS_1


"Siapa? kamu kenal nomornya?" tanya Agung, tapi mendadak Kiran tuli, tidak mendengar ucapan Agung, tidak merasa jika Agung kini menatapnya dengan lekat.


Tatapannya kosong, menatap dalam pada layar ponselnya yang masih menyala.


__ADS_2