Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 89


__ADS_3

"Tidak masuk dulu Mas?" tawar Aslan saat mereka sudah sampai diteras rumah Aslan. Ia turun dan Agung pun ikut turun untuk pindah ke kursi kemudi.


"Tidak usah Lan, sampaikan saja salamku pada Abi dan Umi," jawab Agung, apalagi saat ini hujan mulai kembali mengguyur kota Jakarta.


Aslan mengangguk, lalu mengatakan untuk hati-hati saat Agung kembali membawa mobil itu melaju untuk pulang.


Selepas kepergian Agung itu, Aslan segera masuk ke dalam rumahnya. Aslan membawa kunci candangan rumah ini, hingga ia tidak perlu repot untuk menekan bell dan juga menunggu pintu dibuka.


"Asslamualaikum Abi," ucap Aslan saat dilihatnya ada sang ayah di ruang tengah, duduk sambil memangku Aydan menonton televisi. Disana hanya ada Iwan dan Aydan saja, tak nampak yang lainnya. Istri dan juga ibunya.


Aslan hendak mengambil Aydan dipangkuan sang ayah, namun dengam cepat Iwan menepisnya.


"Mandi dulu, baru sentuh Aydan," titah Iwan tegas.


Entah kenapa, ia merasa kini sang ayah pun sudah mirip seperti ibunya, yang terlalu over ptotektif pada Aydan.


Melihat wajah tak ramah sang ayah, akhirnya Aslan hanya bisa menurut. Akhirnya ia tak dapat menggendong Aydan, apalagi menciumi kedua pipi anaknya itu. Akhirnya, Aslan langsung menuju kamarnya.


Sampai disana, ternyata sang istri baru saja selesai melaksanakam shalat isya. Ya, karena hujan akhirnya ia tak bisa pulang tepat waktu. Sampai dirumah ternyata sudah isya, bukan magrib lagi.


"Alhamdulilah, kamu sudah pulang Mas," ucap Kiran saat melihat suaminya itu memasuki kamar, lalu berjalan mendekat kearah dirinya.


"Maaf ya sayang, aku pulang telat," mohon Aslan, ia langsung menarik pinggang sang istri dan medekapnya erat.


Kiran mengangguk, menahan dada suaminya agar tidak semakin dekat.


"Mandi dulu baru peluk-peluk," jawab Kiran, tapi Aslan tak fokus pada ucapan istrinya itu. Melainkan pada leher jenjang sang istri yang nampak jelas, rambut panjangnya diikat tinggi menyerupai ekor kuda.


"Mas! mandi dulu," keluh Kiran karena Aslam hanya terdiam, seraya menatapinya.


"Mandi pakai air hangat, aku akan kedapur dan membuatkan teh jahe," timpal Kiran lagi.

__ADS_1


Aslan yang sudah tersadar dari lamunanya hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya, seolah menjadi anak yang penurut.


Setelah Aslan masuk kedalam kamar mandi, Kiran keluar menuju dapur. Membuat teh jahe untuk suaminya itu. Jahe yang sudah dibakar dan dibersihkan tadi, tinggal ia tuang dalam gelas dan disiram air panas, lalu menambahkannya sedikit gula.


"Ran, Umi juga minta dong, untuk Abi," ucap Desi yang tiba-tiba masuk ke dapur pula.


"Iya Umi," jawab Kiran lalu kembali mengambil gelas kosong dan membuat 1 lagi teh jahe. Cuaca malam ini begitu dingin, musim hujan masih terus mengguyur kota Jakarta.


"Jadi Agung akan menikah dengan manajer kalian? siapa namanya? Widya?" tanya Yuli bertubi, setelah mengambil beberapa buah anggur di lemari pendingin, ia berdiri disebelah Kiran.


"Iya Umi, Kiran juga tidak menyangka, jika akhirnya mereka memutuskan untuk menikah," jawab Kiran jujur, ia menoleh sejenak pada sang mertua, lalu kembali fokus pada gelasnya, mengaduk-aduk.


"Itulah Jodoh Ran, sama seperti kamu dan Aslan, dari kecil kalian hidup bertetangga, tapi harus menunggu waktu 34 tahun untuk kalian bisa menikah. Kalau boleh meminta, harusnya kalian menikah sejak lulus kuliah, ya?" tawar Yuli dengan terkekeh.


Kiran pun tersenyum pula ketika membayangkan itu.


Perihal waktu yang tepat, hanya tuhanlah yang tahu.


"Ini Umi, sudah," ucap Kiran seraya menggeser teh jahe untuk Abi ke arah Yuli.


Mereka berdua sama-sama keluar dari dapur, namun dengan tujuan yang berbeda. Yuli ke ruang tengah dimana Iwan dan Aydan berada, sementara Kiran menuju kamarnya.


Sampai di kamar, ternyata Aslan sudah selesai mandi, bahkan sudah mengganti bajunya, dan kini suaminya itu sedang melaksanakan shalat isya.


Kiran, meletakkan teh itu di meja sofa yang berada di kamar. Lalu memilih duduk disana menunggu sang suami.


Kiran tersenyum, saat melihat Aslan sedang khusuk shalat seperti itu. Ada geleyar aneh yang masuk ke dalah hatinya, seolah cinta itu kembali berdebar.


Dulu, suami idaman Kiran bukanlah pria seperti Aslan, namun kini Aslan sudah melebihi ekspektasinya sendiri. Berada didekat Aslan, Kiran malah selalu merasa kurang, ingin terus belajar agar menyamai suaminya itu.


Dilihatnya, Aslan mulai mengucapkan dua salam. Kiran bangkit, mendatangi sang suami dan ikut duduk bersimpuh disebelahnya.

__ADS_1


Aslan menoleh, tanpa babibu ia langsung menyesap bibir manis yang istri, menariknya hingga Kiran pun ikut tertarik pula.


Saat napas Kiran tersenggal, barulah Aslan melepaskan ciuman itu. Menatap kedua pipi sang istri yang sudah merona, dengan bibir yang basah pula.


"Mas, ih!" keluh Kiran seraya memukul dada sang suami, pelan. Ia sedikit menunduk, merasa malu dengan serangan tiba-tiba Aslan.


Jika ia yang memulai lebih dulu, rasanya ia begitu berani. Tapi saat Aslan yang tiba-tiba menyerangnya seperti ini, Kiran tidak siap. Jantungnya bahkan jadi berdetak lebih cepat.


Aslan tersenyum, mengangkat dagu sang istri lalu menghapus sisa salivanya dipinggiran bibir Kiran.


"Baru setengah hari tidak bertemu, aku rindu," goda Aslan dan makin membuat Kiran panas dingin, apalagi saat melihat tatapan dalam sang suami.


"Baru sekali Mas pergi sama Agung, pulang-pulang jadi tukang gombal," balas Kiran, ia bahkan memukul dada suaminya lagi.


Lalu bangkit lebih dulu dan menarik Aslan untuk mengikuti langkahnya. Berjalan menuju sofa dan duduk disana.


"Ini, diminum dulu, biar badannya hangat," ucap Kiran, seraya mengambil teh jahe itu dan memberikannya pada sang suami.


Tanpa banyak perdebatan, Aslan segera menyeduh teh jahe itu. Dan seketika tubuhnya menghangat.


"Terima kasih sayang," ucap Aslan, Kiran pun segera mengambil gelas itu dan kembali menaruhnya diatas meja, gelas yang kini isinya tingga setengah.


"Besok, aku akan mengantarmu ke tempat kerja," ucap Aslan kemudian, dan Kiran mengerutkan dahinya, heran.


"Kenapa?" tanya Kiran seolah tidak percaya, kantor mereka berada diarah yang berlawanan, karena itulah selama ini mereka memilih untuk menggunakan mobil sendiri-sendiri.


"Tidak apa-apa, hanya ingin saja, sesekali mengantar dan menjemput istriku," balas Aslan, tulus. Memang itulah yang ia rasakan, rasanya menghabiskan waktu bersama Kiran adalah hal yang begitu ia inginkan.


Kiran tersenyum, lalu mengikis jarak dan memeluk tubuh suaminya erat.


Setiap hari, Aslan selalu membuatnya tak bisa berkata-kata seperti ini, setiap hari Aslan selalu membuat Kiran semakin cinta, bahkan semakin merasa dicintai.

__ADS_1


"Terima kasih Mas, tapi jangan ngeluh ya kalau besok kamu datang ke kantornya telat," jawab Kiran didalam dekapan suaminya itu.


Aslan tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.


__ADS_2