Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 36


__ADS_3

Perlahan, Aslan masuk dan duduk dikursi sebelah ranjang. Ditatapnya lekat wajah sang istri yang sebagiannya lebam.


"Ran," panggilnya lirih, berharap panggilannya itu akan mendapat sahutan.


Tapi sayang, harapannya terlalu besar hingga begitu sulit untuk digapai.


Saat ini sudah jam 10 malam, tapi Aslan tak mengantuk barang sedikitpun. Matanya terus terjaga, menunggu setidaknya sedikit saja pergerakan dari sang istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di luar ruangan, Fahmi meminta Tika untuk pulang. Raka dan Rian pasti menunggu kepulangan sang ibu.


"Pulanglah, aku akan berjaga disini bersama Aslan," ucap Fahmi karena Tika menolak untuk pulang, katanya ia akan meminta Bude Nur untuk menjaga anak-anak.


"Karena ada Aslan lah aku jadi tidak ingin pulang," jawab Tika dengan suara yang nyaris habis, sedari tadi ia terus saja menangis.


Fahmi tersenyum kecil, lalu membawa sang istri masuk ke dalam dekapannya.


"Tenanglah, aku tidak akan berdebat lagi dengannya."


"Janji?" tanya Tika cepat dan Fahmi mengangguk seraya menjawab IYA.


"Aslan pasti lebih berduka Mas dibanding kita, bayangkan jika Kiran itu adalah aku, bagaimana perasaan Mas? begitulah perasaan Aslan sekarang."


"Iya sayang, iya, maafkan aku ya?" bujuk Fahmi, beruntunglah ia memiliki istri seperti Tika yang selalu bisa meredam amarahnya. Bahkan Tika sangat menyayangi Kiran layaknya seorang adik kandung.


Setelah sepakat, akhirnya Tika pulang sendiri membawa mobil sang suami. Sementara Fahmi tinggal disana, menunggu di luar ruangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 12 malam, ponsel Aslan di dalam saku celananya terus bergetar. Ia sempat tak sadar dengan getaran itu karena terlalu sibuk menatapi wajah sang istri.


Hingga saat ponsel itu berhenti bergetar batulah kesasaran Aslan kembali.


Dengan perlahan, ia mengambil ponselnya dan sedikit menjauh dari sang istri. Ia tak mau mengganggu Kiran barang sedikitpun.


Dilihatnya ada beberapa panggilan tidak terjawab dari istri pertamanya, Maya.


Bahkan bukan hanya panggilan, ada juga beberapa pesan masuk disana.


Maya:


Mas, kenapa belum pulang?


Maya:


Mas, aku menunggumu. Bukankah mbak Kiran belum boleh dijenguk? sebaiknya Mas pulang dulu. Lagipula besok Mas harus pergi ke surabaya kan?


Maya:

__ADS_1


Mas?


Dari semua pesan itu, hanya 1 hal yang masuk ke otaknya yang gamang, tentang kepergianya ke Surabaya. Sebagai kepala cabang ia diwajibkan untuk menghadiri acara ini.


Ya Allah, bagaimana ini? Batin Aslan bingung bercampur cemas sekaligus, rasanya tak kuasa untuk meninggalkan Kiran disaat seperti ini.


Dengan pikiran yang kalut itu akhirnya tanpa sadar Aslan mengabaikan pesan Maya, ia memilih keluar untuk menemui sang kakak ipar.


Saat membuka pintu, dilihatnya Fahmi yang masih terjaga, duduk di kursi tunggu seorang diri.


"Mas," sapa Aslan seraya ikut duduk disana.


Fahmi hanya menoleh tanpa kata-kata.


"Maafkan aku Mas, tapi besok aku harus pergi. Tolong jaga Kiran," ucap Aslan, memulai pembicaraan.


"Iya, pergilah, tidak usah merasa tidak enak hati seperti itu. Aku akan menjaga adikku tanpa kamu minta," jawab Fahmi sesuai isi kepalanya.


Tahu jika Maya, Yuli dan Iwan tidak menerima Kiran membuat Fahmi ingin mengambil tanggung jawab itu lagi. Rasanya hanya didekatnya lah Kiran aman.


"Aku pergi 2 hari Mas, ke Surabaya, jika bisa aku akan pulang lebih cepat,"


"Hem," jawab Fahmi singkat.


Keduanya kembali terdiam, sebenarnya Fahmi tahu bertapa sibuknya Aslan dalam bekerja. Tapi entah kenapa, setelah kekecewaanya pada Maya, kini pun ia merasa tak sepenuhnya percaya pada Aslan.


Inginnya berdebat terus jika mulutnya terbuka, karena itulah ia memilih diam. Memilih menjawab semua ucapan Aslan dengan singkat.


Kembali duduk di kursi samping tempat tidur.


"Ran, kamu belum mau bangun sayang?" tanya Aslan seolah Kiran bisa mendengar dan menjawab.


Ia menggenggam tangan sang istri yang terkulai lemah, tangan yang terasa begitu hangat.


"Ran, besok aku pergi ya? saat bangun nanti dan kamu tidak melihat aku ada disini jangan berpikir yang macam-macam ..."


"Jangan berpikir aku tidak peduli padamu, apalagi sampai berpikir aku tidak mencintaimu lagi ..."


"Jika kamu berpikir seperti itu, aku akan menghukummu."


Aslan mencium tangan sang istri dengan sayang, lalu tangan lainnya mengelus wajah Kiran lembut.


"Enak ya jadi kamu? wajah lebam seperti ini masih saja terlihat cantik," ucap Aslan mencoba tersenyum.


"Kenapa tidak memberitahuku jika disini sudah ada anak kita?" tanya Aslan seraya memegang lembut perut Kiran.


"Aku akan menghukummu tentang itu nanti," jelasnya seraya menghapus air mata yang entah keluar sejak kapan.


"Ran ..." panggilnya dengan segenap cinta, namun tetap membuat Kiran bergeming.

__ADS_1


Waktu terus berjalan dengan terus seperti itu, Kiran yang hanya teridam dan Aslan selalu bicara.


Hingga adzan subuh berkumandang, Aslan masih betah terjaga.


"Sayang, aku pergi dulu ya, akan aku usahakan agar bisa segera pulang. Saat aku kembali nanti, aku ingin kamu menungguku," ucap Aslan.


Ia bangkit dan mencium kening sang istri cukup lama, seolah menyalurkam semua rasa rindu dan cintanya sekaligus.


Setelah itu Aslan benar-benar pergi, pulang ke rumah sejenak untuk mengambil beberapa berkas dan berangkat ke Surabaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah utama.


Aslan masuk dengan tergesa, ia tak mendapati siapapun di rumah itu, akhirnya ia hanya terus berjalan ke ruang kerja.


Yang ada dipikirannya kini adalah segara pergi dan nanti bisa segera kembali.


Ceklek! Pintu ruang kerja Aslan dibuka.


Aslan yang sedang sibuk menata berkas pun langsung menoleh. Dilihatnya Maya datang.


Astagfirulahalazim. Batin Aslan beristigfar, sibuk dengan Kiran membuatnya melupakan sang istri pertama.


"May," sapa Aslan, tangannya berhenti bergerak dan ia memperhatian Maya yang berjalan mendekat.


Maya berdiri diseberang meja.


"Mas, kenapa semalam tidak menghubungiku, ku pikir Mas akan pulang. Aku menunggu semalaman," jelas Maya lirih, wajahnya sendu mengisyaratkan kekecewaan.


Melihat itu Aslan merasa bersalah, apalagi saat dilihatnya Maya yang terus mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Maaf sayang, aku salah. Semalam aku begitu mencemaskan Kiran sampai melupakan kamu." jelas Aslan jujur dan Maya mencelos.


Sebegitu pentingnya kah mbak Kiran? batin Maya.


"Aku harus segera pergi, aku titip Kiran padamu ya? jika dia sadar nanti dan aku belum kembali, katakan padanya aku ke Surabaya. Aku akan segera pulang," jelas Aslan saat ia sudah mendekat dan berdiri dihadapan sang istri.


Ia lalu menunduk dan mencium sekilas perut Maya.


"Ayah pergi dulu ya Nak," pamitnya seraya mengelus sayang.


Maya tersenyum, kehangatan seperti inilah yang ia inginkan. Tanpa membaginya pada siapapun.


"Mas semalam tidak tidur?" tanya Maya saat dilihatnya wajah sang suami yang begitu lelah.


"Tidur, aku bergantian dengan mas Fahmi," jawab Aslan bohong dan Maya hanya mengangguk.


Setelah itu Aslan pergi, meninggalkan Maya yang masih berdiri di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, dulu memang aku yang memintamu untuk menikah dengan mbak Kiran. Dan sekarang pun aku yang akan membuatmu berpisah dengannya," gumam Maya pelan, setelah dilihatnya sang suami keluar dan menutup pintu.


"Ini semua demi keluarga kita agar kembali utuh." timpalnya lagi seraya mengelus perutnya secara berulang.


__ADS_2