Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 133 - Hari Duka


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Keceriaan di rumah Aslan semakin bertambah setiap harinya.


Bahkan Widya pun jadi lebih sering kesini, melihat


secara langsung bagaimana caranya merawat bayi yang baru lahir.


Iwan dan Yuli pun punya rutinitas baru, setiap bagi kakek nenek ini selalu berjemur dengan kedua cucunya, Aydan dan juga Alana.


Meski duduk di kursi roda, namun tak menyurutkan


semangat Iwan barang sedikitpun. Malah seolah-olah, Iwan sedang memanfaatkan waktunya sebaik mungkin dengan kedua cucunya itu.


Sama seperti pagi ini, Yuli pun dan Iwan pun


berencana untuk kembali berjemur bersama.  Merasakan hangatnya matahari pagi yang juga bagus untuk kesehatan mereka.


“Abi, bangun,” panggil Yuli pada suaminya itu. Sehabis shalat subuh tadi, Iwan pamit untuk kembali tidur dan berpesan untuk


membangunkannya jika sudah jam setengah 7, jam dimana jadwal mereka untuk


menghabiskan waku dengan kedua cucunya.


“Abi,” panggil Yuli lagi, karena tidak ada sahutan


dari sang suami, bahkan suaminya itu tetap bergeming, tak memperlihatkan sedikitpun pergerakan.


Yuli duduk disisi ranjang, melihat sang suami yang


tengah memunggunginya.


“Abi,” panggil Yuli sekali lagi, seraya menarik


tubuh suaminya itu agar menghadap ke arahnya.


Dan betapa terkejutnya Yuli, kala melihat wajah sang suami yang nampak pucat. Seketika sekujur tubuhnya merinding, membayangkan hal


yang paling ia takutkan.


“Mas!” panggil Yuli dengan suaranya yang meninggi. Namun Iwan, tetap bergeming.


Kedua netra Yuli langsung berembun tanpa aba-aba. Salah satu tangannya bergerak menyentuh wajah suaminya itu, yang terasa begitu


dingin, seketika, air mata Yuli luruh begitu saja.


Ia tidak bodoh, suaminya telah berpulang ke


rahmatullah.


Diantara tangisnya itu, Yuli sangat ingat


tentang  pembicaraan mereka semalam.


Iwan, memeluknya erat sebelum terlelap. Mengatakan kepada Yuli, untuk tetap


hidup dengan sehat. Menghabiskan waktu dengan kedua anak dan kedua cucunya.


Bahkan berulang kali Iwan mengucapkan kata cinta, seperti saat masa muda mereka dulu.


“Kamu jahat Mas,” lirih Yuli dengan suaranya yang


tercekak, tenggorokannya serasa tercekik, begitu sakit. Belum lagi dadanya yang terasa sesak, merasakan hatinya yang hancur lebur.


Suaminya, telah meninggal.


Kiran, yang tengah turun kelantai satu mencari-cari dimana keberadaan kedua mertuanya.

__ADS_1


Biasanya  di jam seperti ini Umi dan Abi sudah sibuk memanggil-manggil dirinya untuk


memberikan Aydan dan Alana pada pengasuhan mereka berdua.


Namun hingga jam 7 lewat, kedua mertuanya itu tak menampakkan batang hidungnya.


“Mbak Desi, Umi mana?” tanya Kiran, saat Desi


melintasi dirinya.


“Tidak tahu Bu, sepertinya di kamar, tadi katanya mau panggil pak Iwan, tapi mungkin pak Iwan sedang tak enak badan, makanya


tidak keluar,” jawab Desi seraya menerka-nerka.


Dan Kiran mengangguk setuju.


Ia hendak melangkah kembali ke lantai 2, namun entah kenapa langkahnya terasa begitu berat. Dalam hatinya terus berbisik, memintanya


untuk melangkah ke kamar sang mertua.


Bahkan mendadak, hatinya merasa cemas. Meski tak tahu apa penyebab kecemasan itu.


Tak ingin kalang kabut, akhirnya Kiran kembali


berbalik. Dan kini melangkahkan kakinya menuju kamar Umi dan Abi.


Dilihatnya, pintu itu tak terkunci rapat, dan


semakin dekat, ia mendengar isak tangis sang ibu mertua.


Cemas, Kiran pun langsung membuka pintu itu dengan kasar, lalu melihat Yuli yang tengah tersimpuh disisi ranjang. Menangis, seraya


menatap nanar Abi.


Deg!


gejolak yang entah tiba-tiba mendatangi hatinya. “Umi,” panggil Kiran lirih


seraya mendekat.


Merasa dipanggil, Yuli pun menoleh dan melihat sang menantu datang menghampiri.


“Ran,” jawab Yuli lirih, kedua mata dan wajahnya


sudah basah oleh air mata.


Dan Kiran pun tertegun, kala melihat sang Abi yang sudah nampak begitu pucat, dengan mulut yang sedikit menganga.


“Abi Ran,” lirih Yuli lagi, tak kuasa membendung


rasa sakit.


Memberanikan diri, Kiran mendekati sang ayah lalu memeriksa denyut nadi dan hembusan napasnya. Namun ternyata, kedua hal itu sudah


tak dimiliki oleh Iwan.


“innalilahiwainailahirojiun.” Gumam Kiran pelan, dan membuat tangis pilu Yuli semakin pecah.


Tangis yang hingga terdengar hingga keluar kamar sana.


Para pelayan yang mendengarnya pun segera bergegas berlari, ikut masuk ke dalam kamar itu.


Lalu meneteskan air matanya pula.


Aslan, yang sudah bersiap untuk berangkat kerja


menghentikan langkahnya diujung tangga, saat mendengar banyak suara isak tangis

__ADS_1


dari dalam kamar ibu dan ayahnya.


Semakin dekat ia menuju kamar itu, semakin cepat pula ia melangkahkan kakinya.


Dan bertapa terkejutnya dia, kala melihat sang ayah yang  sudah tak bernyawa.


Aslan lalu memeluk sang ibu erat, meminta uminya itu untuk ikhlas dan sabar. Aslan bahkan tak meneteskan setetes air mata pun kala menenangkan ibunya.


Yuli tak menjawab apapun, hanya memeluk sang anak erat.


Kemarin, Iwan memanggil Aslan untuk menemui dirinya, berbicara berdua dengan anak satu-satunya itu dipinggir kolam ikannya.


Lan, sekarang kamu yang akan menggantikan Abi. Menjadi pemimpin dan pelindung keluarga ini.


Ucap Iwan kala itu, Aslan hanya menganggukkan


kepalanya, tak berpikir jika itu adalah pesan terakhir yang ayahnya berikan.


Menjelang sore, Iwan dikebumikan. Fahmi, Tika dan kedua anaknya pun datang kesini, untuk ikut mengantarkan Iwan menuju liang


lahat. Sesosok pria paruh baya yang sudah mereka anggap seperti orang tua


mereka sendiri.


Kala itu, Aslan, Fahmi dan Agung masuk ke dalam


liang lahat itu, menguburkan Iwan secara langsung.


Sementara Yuli, memeluk Tika erat.


Kiran dan Widya, tidak diizinkan untuk ikut.


“Sabar ya Ran,” ucap Widya, seraya mengelus pundak sang sahabat, Kiran, masih saja menangisi abinya itu.


Padahal kini, ia tengah menggendong Alana. Sementara Desi membantu Asni dan Idah untuk membereskan rumah, sedari tadi rumah ramai


dengan para pelayat.


“Aku tidak menyangka Mbak, Abi pergi secepat ini. Bahkan beberapa hari lalu, Abi masih bercanda padaku, memintaku untuk kembali hamil


dan memiliki banyak anak,” ucap Kiran diantara isak tangisnya.


“Abi senang saat mendengar rumah ini riuh dengan suara anak-anak,” timpal Kiran lagi, seraya membayangkan kebersamaan terakhirnya dengan sang ayah mertua.


Kiran sungguh tak menyangka, jika itu adalah pesan terakhir Iwan.


“Berarti kamu harus memenuhi keinginan Abi itu. Setelah Alana 6 bulan, langsung saja program lagi,” ucap Widya, dengan tersenyum, mencoba mencairkan suasana yang haru ini. Ingin Kiran kembali ceria, walau bagaimanapun, kini Kiran adalah seorang ibu menyusui, yang harus menjaga suasana hati.


“Hih! Mbak Wid, yang kemarin aja sakitnya masih terasa,” rengek Kiran, ia tak menangis lagi, namun kedua matanya masih sangat


basah.


“Ibu!” panggil Aydan dari seberang sana.


Kiran menoleh dan melihat anaknya itu berlari


menghampiri dirinya.


Dan widya, langsung memangku anak sahabatnya itu.


“Ibu, kenapa semua orang menangis?” tanya Aydan langsung, saat sudah duduk dipangkuan ibu keduanya. Karena Aydan memanggil


Agung ayah 2, maka Widya pun jadi Ibu 2.


Mendengar pertanyaan itu, sontak Kiran dan Widya saling pandang. Bahkan Kiran langsung menghapus air matanya hingga habis.


“Tidak kok, tidak ada yang menangis,” jawab Kiran kemudian.

__ADS_1


__ADS_2