
tak ada yang bisa Aslan lakukan selain menarik Altar dan memeluknya erat. Ia pun tak kuasa melihat tangis pilu Altar, bahkan tanpa sadar, air matanya pun ikut mengalir dengan sendirinya.
“Istigfar Al,” ucap Aslan dengan suara beratnya, tenggorokannya pun tercekak terasa sangat sakit.
“Iya kan Yah? Ibu Wid sakit kan?” tanya Altar sekali lagi, ia masih menangis tersedu di dalam dekapan ayah Aslan.
Dan Aslan pun terus mengelus punggung anaknya itu agar bersabar.
Cukup lama,hingga akhirnya tangis Altar mereda. Saat melihat Altar sudah mulai tenang, Aslan pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Aslan terpaksa mengkhianati janjinya pada semua sahabat. Aslan sudah tak punya pilihan lain selain mengatakan kebenaran ini.
Altar sudah tahu dan akan lebih menyakitkan bagi Altar jika sampai ia kembali membohonginya.
“Perihal kematian dan kehidupan, itu semua sudah ketentuan Allah Al. Bahkan tanpa ada sakit pun semua orang bisa meninggal. Bahkan mungkin ayah akan meninggal lebih dulu dibanding ibu Wid, kita tidak ada yang tau,” jelas Aslan setelah ia bercerita panjang lebar tentang penyakit Widya.
“Maafkan kami, karena kami menutupi ini semua darimu. Ibu Wid hanya ingin, semasa hidupnya ia tidak melihatmu menangisi dia,”
Lagi, air mata Altar kembali menangis. Namun tak sampai membuatnya terisak, air mata itu mengalir dengan sendirinya.
“Aku harus bagaimana Yah? “ tanya Altar, bingung. Jika sang ibu tidak ingin ia tahu tentang penyakitnya, maka Altar akan menuruti itu,. Selamanya ia akan terus berpura-pura untuk tidak tahu apa-apa.
Tapi Altar pun ingin melakukan apapun agar ibunya bisa merasa bahagia disisa-sisa hidupnya.
“Kamu ingin tahu apa yang begitu diinginkan ibu Wid saat ini?” tanya Aslan, ia terus menatap Altar lekat, merasa iba.
“Apa yah? Apa yang ibu inginkan dariku? Aku akan melakukannya, apapun itu akan aku lakukan.” Jawab Altar menggebu.
Dan tak langsung menjawab, Aslan menarik dan menghembuskan napasnya lebih dulu.
“Ibu Wid, hanya ingin melihatmu dan Alana menikah. Kami semua memang ingin kalian menikah diusia muda. Kamu tahu kan alasannya?”
Altar mengangguk, ayah dan ibunya memang sudah berulang kali mengatakan jika mereka ingin Altar menikah di usia muda, kedua orang tuanya tidak ingin Altar seperti mereka yang menikah di usia terlalu tua.
Takut akan terulang seperti ini, disaat sang anak masih sekolah, mereka sudah begitu tua. Hingga tak bisa menyaksikan anak-anaknya menikah dan memiliki keturunan.
__ADS_1
“Apa ayah mengizinkan jika aku dan Alana menikah sekarang?” tanya altar, diantara pikirannya yang gamang.
Menikah bukanlah perkara mudah, dan Altar menyadari itu. Namun apa yang bisa ia lakukan sekarang, rasanya jika sang ibu ingin ia membelah gunung pun akan Altar lakukan.
Pelan, Aslan menganggukkan kepalanya.
“Tidak ada yang salah dengan nikah muda, apalagi saat ini kalian masih memiliki kedua orang tua yang akan selalu membimbing kalian,” terang Aslan, ia bahkan mengelus salah satu pundak Altar dengan sayang.
“Bagaimana dengan Alana Yah, apa dia mau?” apa kita perlu memberi tahunya tentang sakit ibu Wid?” tanya Altar bertubi, hanya pada Aslan lah ia bisa bertanya semua ini, tidak ia pendam sendiri.
Dan kini, aslan menggelengkan kepalanya pelan.
“jangan beritahu alana, Alana itu sama seperti ibu Kiran, dia tidak akan sanggup untuk menutupi kesedihannya didepan ibu Wid, Alana pasti malah akan terus menangis dan membuat ibu Wid bersedih.”
Mendengar itu, Altar menganggukkan kepalanya, setuju. Alasan itu jugalah kenapa hingga kini ia tidak bercerita dengan Alana tentang sakit ibu Wid.
“Lalu bagaimana caranya agar Alana mau menikah denganku sekarang yah? Aku sangat tahu, dia tidak ingin menikah muda, setidaknya dia akan menikah saat sudah lulus kuliah.”
“Ayah akan membantumu untuk membujuk Alana, tapi selebihnya, kamu yakinkan sendiri Alana ya, ayah tahu, Alana sudah memiliki perasan padamu Nak,” balas Aslan, ia juga sedikit mengukir senyumnya, tak ingin Altar terus berlinang kesedihan.
Mendapatkan restu dari Aslan, membuat Altar semakin yakin pada keputusannya itu, untuk menikah muda.
Jam 9 malam, Aslan dan Altar kembali pulang.
Alana dan Kiran sudah menunggui kedua pria itu di teras rumah. Mereka sama-sama penasaran, kemana perginya Aslan dan Altar tadi, cukup lama, mereka pergi selama satu jam lebih.
“kalian darimana?” tanya Kiran ketus, apalagi saat melihat wajah sembab Altar, semakin membuatnya menatap curiga.
Berpikir suaminya sudah memarahi Altar di suatu tempat.
Aslan tak langsung menjawab, ia malah mendekat dan memeluk pinggang istrinya erat,
“Altar minta di temeni nonton film Bu,”
“Kenapa nggak minta temenin aku?” kini Alana yang buka suara, sama seperti sang ibu, ia menatap tajam pada kedua pria berbeda usia itu.
__ADS_1
“Film khusus laki-laki Al, tadi aku nangis, Kalau pergi denganmu, aku pasti malu,” Altar akhirnya buka suara, mencari Alasan yang kira-kira bisa diterima oleh kedua wanita ini.
“Al, kamu langsung pulang ya nak, ayah dan ibu masuk dulu,” ucap Aslan, pamit pada sang anak laki-laki, lalu mengedipkan sebelah matanya, memberi isyarat. Isyarat, bahwa Altar sudah bisa melakukan misi yang mereka sepakati, untuk mendekati Alana agar gadis ini mau menikah dengannya.
Kecil, Altar menganggukkan kepalanya.
Lalu memperhatikan sang ayah dan ibu masuk ke dalam rumah, meninggalkan ia dan Alana di teras rumah itu.
“Benar, kamu sama ayah abis nonton?” tanya Alana lagi, curiga.
Dan Altar menganggukkan kepalanya, seraya mendekat dan mengikis jarak.
“Jangan deket-deket, mau peluk ya?” tanya Alana, ia bahkan langsung mundur satu langkah dan menyilang kan kedua tangannya didepan dada.
“Aku masih kesal tentang tadi, jangan peluk-peluk,” ketus Alana, bukannya takut, Altar malah merasa gemas sendiri.
“Aku kan mau pulang Al, makanya mau peluk dulu,” jawab Altar, jujur dan apa adanya.
Mendengar itu Alana mencebik, lalu membatu saat Altar berhasil memeluknya erat, diam-diam, Alana pun menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Terdengar jelas olehnya, detak jantung Altar yang tak biasa.
Terdengar berdebar, sama seperti debar jantungnya sendiri.
Menyadari itu, diam-diam Alana pun mengukir senyum tipis.
Angin malam itu semilir begitu dingin bagi keduanya, dan Altar memeluk Alana semakin erat. Ingin menyalurkan perasaan tulusnya pada sang calon istri.
Bukan hanya tentang ibunya, namun kini ia pun memang yakin jika ia sudah mencintai Alana.
Karena nyatanya, hanya dengan memeluk seperti ini, Altar sudah bisa merasakan ketenangan.
“Al, apa boleh remaja seperti kita mengucapkan kata cinta?” tanya Altar, ia masih setia memeluk tubuh Alana erat.
Mendengar itu, Alana mengerutkan dahinya. Merasa aneh.
“Boleh saja, tapi hanya akan terdengar seperti omong kosong,” jawab Alana, lalu terkekeh. Dan anehnya, Altar pun menyetujui jawaban Alana itu.
__ADS_1
“Baiklah, dengarkan omong kosong ku, aku mencintaimu Al,” balas Altar, hingga membuat Alana membeku.