Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 98


__ADS_3

“Buka!” teriak Kiran menuntut, masih dengan bibir yang selalu tersenyum.


Sudah cukup merasa puas menggoda sang istri. Aslan akhirnya membuka semua kaca mobilnya, mengeluarkan wajahnya dengan penuh. Lalu tanpa aba-aba Kiran langsung menangkup wajah suaminya itu dan mencium bibirnya sekilas.


“Tuh lihat sayang, Kiran bucin, ditempat rame sempet-sempetnya cium Aslan,” ucap Agung dengan gaya ingin muntah, Widya yang juga melihat adegan itu malah makin merasa malu. Jadi panas dingin sendiri.


“Mas tidak ingin turun?” tanya Kiran kemudian pada suami yang begitu dicintainya ini.


Pelan, Aslan menggeleng, “Tidak sayang, Pras sudah menungguku di rumah," tolak Aslan apa adanya, ia meminta Pras untuk menunggu, mengatakan bahwa ia akan menemui Kiran sebentar.


Kiran mengangguk, meski dengan bibir yang


mengerucut.


“Masuklah ke dalam mobil,” titah Aslan, dan


mendengar itu, Kiran langsung tersenyum sumringah. Ia bahkan langsung berjalan dengan


cepat menuju pintu disebelah sana, membukanya dan segara masuk lalu duduk.


“Nah nah nah, si Kiran malah masuk, asudah, keluar dari sana pasti lipstiknya berantakan,” ucap Agung lagi, dan Widya langsung


memukul lengan kekasihnya itu cukup kuat.


“Mas ih! Mikirnya kesitu terus,” keluh Widya dengan mencebik.


“Kesitu kemana?” goda Agung, melihat tingkah malu-malu Widya ia makin bersemangat untuk menggoda.


Dan Widya, hanya mnjawabnya dengan pukulan bertubi dilengan Agung.


Agung terkekeh, lalu menahan tangan itu dan


menggenggamnya erat, bahkan menautkan jemari keduanya.


Hingga perasaan nyaman dan hangat langsung masuk ke relung hati mereka berdua.


Sementara di dalam mobil Pajero berwarna hitam itu, suara decapan terdengar begitu jelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Aslan, Pras menunggu cukup lama sang atasan, yang katanya akan kembali cepat namun hingga kini tak pulang-pulang. Ia bahkan


sampai banyak menghabiskan waktu bersama Aydan dan Desi di ruang tengah. Siang


ini, Iwan dan Yuli pergi ke toko baju mereka.


Bahkan, kopi Pras yang sudah disediakan oleh salah satu ART sudah habis tak tersisa.


“Saya tambah ya Pak kopinya,” tawar Desi


sungguh-sungguh.


“jangan kopi Mbak, air putih saja,” jawab Pras

__ADS_1


sesuai kebutuhannya saat ini, air putih lebih terasa segar.


“Baik Pak,” jawab Desi, ia lalu menggendong Aydan untuk dibawanya ke dapur pula mengambil air putih untuk Pras. Namun belum sempat


melangkah, Pras segera menghentikan langkah Desi itu.


“Tunggu Mbak, Aydan biar disini saja, saya bisa kok jaganya,” ucap Pras.


Meskipun merasa tak enak hati, tapi Desi pun


menuruti perintah Pras itu. Bagaimanapun Desi juga tahu, jika Pras adalah sekretaris majikannya, bahkan Pras dan Aslan juga berteman dengan baik.


Setelah kembali menurunkan Aydan, Desi segera pergi ke dapur.


“Assalamualaikum,” ucap Aslan yang ternyata sudah masuk ke dalam rumah, ia melihat Pras, Desi dan juga Aydan disana. Lalu Desi


pergi meninggalkan Pras dan Aydan berdua.


“Walaikumsalam,” jawab Pras seraya menoleh kebelakang, dari suaranya saja ia tahu jika itu adalah yang tuannya, Aslan. Dan benar saja


seperti dugaannya, dilihatnya Aslan datang dan langsung mengambil Aydan yang


sedang duduk di kursi khusus bayi.


“Maaf ya Pras, aku lama,” ucap Aslan kemudian.


Awalnya ia memang hanya ingin sebentar saja untuk menemui istrinya itu, tapi apa


mau dikata, jika nyatanya itu tak kesampaian, ternyata ia butuh waktu yang cukup


Pras menganggukkan kepalanya kecil. Ia cukup paham dengan atasannya itu, betapa Aslan mencintai Kiran. Sejak awal ia sudah yakin,


jika tidak mungkin Aslan akan sebentar saja untuk bertemu Kiran.


Desi datang kesana dengan membawa segelas air putih penuh untuk Pras, tak ia duga jika Aslan ternyata sudah pulang.


“Des, kamu pegang Aydan saja, nanti minta Bude untuk antarkan minuman dan makanan ringan ke ruang kerja saya,” titah Aslan pada Desi.


“Baik Pak,” jawab Desi patuh, lalu ia mengambil


Aydan dari gendongan sang tuan dan membawanya ke dalam dekapan.


Lalu kebelakang lagi, meninggalkan begitu saja


segelas air putih yang ia bawa diatas meja.


Dan setelah itu, Aslan dan Pras segera naik ke


lantai dua rumah ini, menuju ruang kerja Aslan.


Dan saat Desi kembali kesana, gelas yang ia bawa tadi sudah nampak kosong.


"Siapa yang minum? apa pak Pras?" gumam Desi pelan, tubuhnya bergoyang pelan, menimang Aydan yang hendak tidur siang.

__ADS_1


Tahu gelas yang ia bawa sudah tak terisi, Desi perlahan tersenyum kecil. Senang jika usahanya dihargai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Showroom.


Agung dan Widya kembali lebih dulu ke kantor,


sementara Kiran datang kembali lebih lama dari kedua orang itu, meski ia lebih


dulu menyudahi makan siang.


Belajar dari pengalaman, sebelum turun dari dalam mobil Aslan tadi Kiran sudah lebih dulu memperhatikan penampilannya, bahkan


sedikit menambah pewarna bibir pula.


Agung yang melihatnya, hanya berdecih.


Dan sungguh, Kiran tidak memperdulikan itu.


Kiran justru sibuk sendiri dengan ponselnya,


mengirim pesan pada sang kakak ipar, Tika. Meski pesannya itu hanya terkirim, namun tak dibaca-baca. Kiran hanya ingin memastikan bahwa saat mbak Tika sampai di Malaysia nanti, kakak iparnya itu segera memberinya kabar.


“Mas Fahmi sudah kembali ke Malaysia lagi Ran?”


tanya Agung yang penasaran, sebenarnya kemarin ia berniat untuk menemui kakak


sahabatnya itu, tapi apa daya, ia sibuk mengurus beberapa keperluan untuk rencana pernikahnnya.


"Iya," jawab Kiran singkat, kedua matanya pun masih fokus pada layar ponselnya.


Namun saat mengingat tentang rumahnya yang akan disewakan, ia segera menatap kearah Agung. Sehabis shalat subuh tadi, Aslan menceritakan semua kepada Kiran tentang Fahmi yang berniat menyewakan rumah itu.


Fahmi tak mematok harga, Fahmi hanya ingin rumah dihuni, ada yang merawat dan menjaganya.


Dan menurut Kiran, Agung lah yang cocok menempati rumah itu.


"Eh Gung, katanya kemarin kamu mau cari rumah buat disewa, sewa rumah mas Fahmi saja, Tidak usah bayar juga tidak apa-apa," ucap Kiran dengan antusias.


Mendengar itu, kedua netra Agung langsung membola, apalagi saat mendengar kata-kata Tidak Usah Bayar Tidak Apa-Apa.


"Rumahmu dulu?" tanya Agung dengan wajah yang berbinar, saat ini Agung masih belum mampu membeli rumah, namun ia masih menabung. Tapi setelah menikah, Agung ingin ia dan Widya tinggal berpisah dengan kedua orang tuanya masing-masing.


Karena itulah, kini ia sedang mencari rumah yang akan disewa.


"Iya, disebelah rumah mas Aslan itu," terang Kiran lagi.


Dan Agung langsung mengangguk mantap.


"Nanti aku akan bicarakan dengan Widya dulu," timpal Agung lagi.


"Oke," jawab Kiran singkat.

__ADS_1


Selesai pembicaraan itu, mereka berdua kembali bekerja. Sekedar mengawasi anak buah masing-masing yang sedang melayani konsumen. Memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai dengan semestinya.


__ADS_2