
Jam pulang kantor, Kiran pulang paling akhir. Bukan karena
ada rapat dadakan ataupun mengerjakan laporan bulanan. Melainkan menunggu
suaminya datang untuk menjemput.
Kiran menunggu di meja kerjanya, hanya tinggal
beberapa office boy yang tinggal disini.
“Mbak Kiran mau minum kopi?” tawar OB itu yang
melihat Kiran menunggu seorang diri.
“Tidak usah pak,” jawab Kiran singkat. Tanpa banyak
pertanyaan lagi, OB itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Lagi, Kiran memeriksa ponselnya, harusnya 10 menit
yang lalu Aslan sudah sampai disini, namun hingga kini suaminya itu tidak
datang-datang. Kiran merasa cemas, bahkan saat hendak menghubungi nomor Aslan
pun, nomor itu berada di luar jangkauan.
“Ya Allah, mas Aslan kemana sih? Semoga mas Aslan
baik-baik saja ya Allah,” gumamnya dengan cemas.
Kiran lalu memutuskan untuk menunggu suaminya di
depan saja, duduk di kursi tunggu yang ada di depan showroom ini.
Tak lama kemudian, ia melihat mobil Aslan datang,
warna dan plat yang begitu ia hapal.
Tanpa menunggu Aslan untuk turun, Kiran langsung
saja berlari menghampiri mobil suaminya itu,. Aslan hanya membuka kaca mobilnya
melihat Kiran yang berlari dengan tergesa.
Lalu langsung saja membuka pintu disebelahnya.
Namun mata Kiran membola saat melihat, sebuket bunga
mawar merah tergeletak diatas kursi tempat duduknya.
“Mas?” tanya Kiran butuh penjelasan.
“Maaf aku telat, ingin memberikanmu sedikit kejutan,”
jawab Aslan jujur.
Kiran tersipu, lalu ia mengambil bunga itu dan
segera masuk ke dalam mobil, dengan hati yang berdebar.
“Cantik,” puji Kiran seraya menatapi bunga mawar
itu, menciuminya berulang.
“Cantik, sama seperti kamu.”
“Aaaa.” Kiran meleleh, lalu mengikis jarak dan mencium
bibir sang suami dengan mesra. Saat hendak melepas ciuman itu, Aslan malah menahannya,
memperdalam ciuman mereka hingga terdengar suara decapan.
Cukup lama keduanya berpaut, hingga napas keduanya
terengah kala melepas ciuman itu.
“Mas ih, nakal,” keluh Kiran, karena didalam mobil
dan berada diparkiran tempatnya bekerja, Aslan mencumbunya dengan begitu mesra.
Bahkan kancing bajunya pun sepat dibuka oleh Aslan, hingga membuat isinya
menyembul keluar.
“Maaf sayang, khilaf,” jawab Aslan terkekeh, lalu ia
bertanggung jawab untuk merapikan kembali penampilan sang istri.
Hal romantis seperti inilah yang ingin Aslan rasa
saat ia mengantar dan menjemput istrinya bekerja.
“Apa itu?” tanya Aslan pada plastik kecil berwarna
__ADS_1
putih yang Kiran bawa di tangan kirinya/
“Obat Mas, aku masuk angin, tadi muntah-muntah,
untung ada mbak Widya yang anter aku berobat,” jawab Kiran jujur, namun
mendengar itu Aslan memasang wajah tak suka.
“Kenapa tidak memberi tahuku?”
“Cuma masuk angin sayang, bukan hal penting,” jawab
Kiran, takut-takut.
“Kan Mas Aslan yang buat aku masuk angin, tadi pagi
aku mandi sampe 2 kali,” lirih Kiran dengan memasang wajah memelas, agar Aslan
tidak jadi memarahinya karena tidak mengabarinya.
Aslan menghela napas, membenarkan ucapan sang istri.
“Maaf ya sayang,” ucap Aslan kemudian, lalu menarik
Kiran untuk mssuk ke dalam dekapannya.
“Nanti di rumah, ku balur pakai minyak kayu putih
ya?”
Kiran mengangguk, lalu menciumi dada suaminya itu
dengan sayang. Mencium aroma khas Aslan saat pulang kerja seperti ini,
menenangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan seperti janjinya, sampai di rumah saat mereka
sudah sama-sama mandi, Aslan segera membalur punggung serta perut sang istri
menggunakan minyak kayu putih.
Dengan perlahan, Aslan mulai menggerakkan kedua
tangnnya yang sudah penuh dengan minyak itu.
Kiran tengkurap, membiarkan punggunggnya yang
“Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya Aslan saat ia
sudah selesai membalur punngung itu, punggung yang telihat menggida baginya.
Kiran mengangguk, lalu merubah tidurnya jadi
berbaring.
Menutup dadanya menggunakan kedua tangan, meski tak
tertutup sempurna. Karena bagian hitam kecil itu masih nampak dimata sang
suami.
“Perut,” pinta Kiran dan Aslan menurut. Kembali membalur
tubuh sang istri menggunakan minyak kayu putih itu.
“Sudah, pakailah bajumu,” titah Aslan, ia meletakkan
minyak kayu putih diatas nakas dan hendak berlalu dari sana. Jika lama-lama
berada disini, ia takut tak bisa menahan diri. Namun ia pun tak sampai hati
jika meminta haknya disaat Kiran sedang sakit.
Namun langkah Aslan terhenti, saat Kiran menahan
lengannya.
Aslan menoleh, menatap mata sang istri yang mulai
sayu. Sama halnya seperti Aslan, Kiran pun kini menginginkanya. Mendapatkan sentuhan
lembut dari Aslan membuat ia meremang.
Kiran menarik tubuh Aslan hingga suaminya itu
kembali duduk disisi ranjang, tanpa babibu lagi, Kiran segera duduk dipangkuan
suaminya itu, menggantungkan kedua tangannya dileher Aslan dan mulai menyatukan
bibir mereka.
__ADS_1
Hingga lambat laun, yang dibawah sana pun ikut
menyatu pula, masih dalam posisi yang sama. Kiran bergerak dengan pelan,
menikmati semua getar yang ia rasa. Sementara Aslan terus menyesapi kedua pucuk
itu secara bergantian.
Aslan makin menekan pinggul sang istri untuk lebih
dalam ketika pelepasan itu mereka raih bersama-sama.
Dan tak lama setelah itu, ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok!
“Ran, buka pintunya sayang, Umi bawakan teh jahe,”
teriak Yuli diluar sana.
Kedua mata Kiran langsung membola, bahkan intinya dan
sang suami masih menyatu dengan begitu basah.
“Iya Umi, sebentar lagi keluar, aku masih membalur
tubuh Kiran,” Aslan yang menjawab.
Yuli cukup tahu, jika kini mungkin Kiran sedang
tidak menutup tubuhnya.
“Iya, umi tunggu di ruang tengah,”
“Iya umi,” sahut Aslan lagi.
Kiran bernapas lega, lalu memeluk tubuh suaminya
erat.
“Ini mau dilepas tidak,” tawar Aslan seraya kembali
menggerakkan pinggul sang istri hingga membuat Kiran mendesis.
“Sekali lagi yuk, sambil mandi air hangat,” goda
Kiran dan dengan semangat Aslan langsung menggendong tubuh sang istri untuk
masuk kedalam kamar mandi. Jika tadi mereka mandi sendiri-sendiri, sekarang
mereka mandi berdua, dengan tubuh yang menyatu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Kiran membawa mobil sendiri saat
berangkat kerja. Kiran mengatakan jika nanti saat pulang kerja ia dan Widya
akan berbelanja. Karena itulah, Aslan pun mengizinkan.
Dengan syarat, apapun yeng terjadi pada istrinya itu
ia segera diberi kabar, entah itu masalah penting ataupun tidak penting.
“Iya sayaang,” jawab Kiran menurut, dengan nada
bicaranya yang mendayu-dayu.
“Ya sudah, hati-hati bawa mobilnya,” ucap Aslan.
Lalu mereka berpisah di halaman rumah itu. Berjalan beriringan
saat berada di dalam kompleks saja, dan berpisah saat sudah memasuki jalan
raya.
Drt drt drt
Ponsel Kiran yang berada didalam tas bergetar, takut
jika itu adalah telepon dari sang suami yang ingin menyampaikan hal penting,
akhirnya Kiran memelankan laju kendaraan mobilnya dan mulai mengambil ponsel
itu.
Ternyata yang menghubungi bukanlah Aslan, melainkan
mbak Tika, kakak iparnya yang kini berada di negeri Jiran, Malaysia.
Tanpa mengulur waktu, Kiran segera menjawab
panggilan itu.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Mbak.”