Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 92


__ADS_3

Jam pulang kantor, Kiran pulang paling akhir. Bukan karena


ada rapat dadakan ataupun mengerjakan laporan bulanan. Melainkan menunggu


suaminya datang untuk menjemput.


Kiran menunggu di meja kerjanya, hanya tinggal


beberapa office boy yang tinggal disini.


“Mbak Kiran mau minum kopi?” tawar OB itu yang


melihat Kiran menunggu seorang diri.


“Tidak usah pak,” jawab Kiran singkat. Tanpa banyak


pertanyaan lagi, OB itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Lagi, Kiran memeriksa ponselnya, harusnya 10 menit


yang lalu Aslan sudah sampai disini, namun hingga kini suaminya itu tidak


datang-datang. Kiran merasa cemas, bahkan saat hendak menghubungi nomor Aslan


pun, nomor itu berada di luar jangkauan.


“Ya Allah, mas Aslan kemana sih? Semoga mas Aslan


baik-baik saja ya Allah,” gumamnya dengan cemas.


Kiran lalu memutuskan untuk menunggu suaminya di


depan saja, duduk di kursi tunggu yang ada di depan showroom ini.


Tak lama kemudian, ia melihat mobil Aslan datang,


warna dan plat yang begitu ia hapal.


Tanpa menunggu Aslan untuk turun, Kiran langsung


saja berlari menghampiri mobil suaminya itu,. Aslan hanya membuka kaca mobilnya


melihat Kiran yang berlari dengan tergesa.


Lalu langsung saja membuka pintu disebelahnya.


Namun mata Kiran membola saat melihat, sebuket bunga


mawar merah tergeletak diatas kursi tempat duduknya.


“Mas?” tanya Kiran butuh penjelasan.


“Maaf aku telat, ingin memberikanmu sedikit kejutan,”


jawab Aslan jujur.


Kiran tersipu, lalu ia mengambil bunga itu dan


segera masuk ke dalam mobil, dengan hati yang berdebar.


“Cantik,” puji Kiran seraya menatapi bunga mawar


itu, menciuminya berulang.


“Cantik, sama seperti kamu.”


“Aaaa.” Kiran meleleh, lalu mengikis jarak dan mencium


bibir sang suami dengan mesra. Saat hendak melepas ciuman itu, Aslan malah menahannya,


memperdalam ciuman mereka hingga terdengar suara decapan.


Cukup lama keduanya berpaut, hingga napas keduanya


terengah kala melepas ciuman itu.


“Mas ih, nakal,” keluh Kiran, karena didalam mobil


dan berada diparkiran tempatnya bekerja, Aslan mencumbunya dengan begitu mesra.


Bahkan kancing bajunya pun sepat dibuka oleh Aslan, hingga membuat isinya


menyembul keluar.


“Maaf sayang, khilaf,” jawab Aslan terkekeh, lalu ia


bertanggung jawab untuk merapikan kembali penampilan sang istri.


Hal romantis seperti inilah yang ingin Aslan rasa


saat ia mengantar dan menjemput istrinya bekerja.


“Apa itu?” tanya Aslan pada plastik kecil berwarna

__ADS_1


putih yang Kiran bawa di tangan kirinya/


“Obat Mas, aku masuk angin, tadi muntah-muntah,


untung ada mbak Widya yang anter aku berobat,” jawab Kiran jujur, namun


mendengar itu Aslan memasang wajah tak suka.


“Kenapa tidak memberi tahuku?”


“Cuma masuk angin sayang, bukan hal penting,” jawab


Kiran, takut-takut.


“Kan Mas Aslan yang buat aku masuk angin, tadi pagi


aku mandi sampe 2 kali,” lirih Kiran dengan memasang wajah memelas, agar Aslan


tidak jadi memarahinya karena tidak mengabarinya.


Aslan menghela napas, membenarkan ucapan sang istri.


“Maaf ya sayang,” ucap Aslan kemudian, lalu menarik


Kiran untuk mssuk ke dalam dekapannya.


“Nanti di rumah, ku balur pakai minyak kayu putih


ya?”


Kiran mengangguk, lalu menciumi dada suaminya itu


dengan sayang. Mencium aroma khas Aslan saat pulang kerja seperti ini,


menenangkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan seperti janjinya, sampai di rumah saat mereka


sudah sama-sama mandi, Aslan segera membalur punggung serta perut sang istri


menggunakan minyak kayu putih.


Dengan perlahan, Aslan mulai menggerakkan kedua


tangnnya yang sudah penuh dengan minyak itu.


Kiran tengkurap, membiarkan punggunggnya yang


“Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya Aslan saat ia


sudah selesai membalur punngung itu, punggung yang telihat menggida baginya.


Kiran mengangguk, lalu merubah tidurnya jadi


berbaring.


Menutup dadanya menggunakan kedua tangan, meski tak


tertutup sempurna. Karena bagian hitam kecil itu masih nampak dimata sang


suami.


“Perut,” pinta Kiran dan Aslan menurut. Kembali membalur


tubuh sang istri menggunakan minyak kayu putih itu.


“Sudah, pakailah bajumu,” titah Aslan, ia meletakkan


minyak kayu putih diatas nakas dan hendak berlalu dari sana. Jika lama-lama


berada disini, ia takut tak bisa menahan diri. Namun ia pun tak sampai hati


jika meminta haknya disaat Kiran sedang sakit.


Namun langkah Aslan terhenti, saat Kiran menahan


lengannya.


Aslan menoleh, menatap mata sang istri yang mulai


sayu. Sama halnya seperti Aslan, Kiran pun kini menginginkanya. Mendapatkan sentuhan


lembut dari Aslan membuat ia meremang.


Kiran menarik tubuh Aslan hingga suaminya itu


kembali duduk disisi ranjang, tanpa babibu lagi, Kiran segera duduk dipangkuan


suaminya itu, menggantungkan kedua tangannya dileher Aslan dan mulai menyatukan


bibir mereka.

__ADS_1


Hingga lambat laun, yang dibawah sana pun ikut


menyatu pula, masih dalam posisi yang sama. Kiran bergerak dengan pelan,


menikmati semua getar yang ia rasa. Sementara Aslan terus menyesapi kedua pucuk


itu secara bergantian.


Aslan makin menekan pinggul sang istri untuk lebih


dalam ketika pelepasan itu mereka raih bersama-sama.


Dan tak lama setelah itu, ketukan pintu terdengar.


Tok tok tok!


“Ran, buka pintunya sayang, Umi bawakan teh jahe,”


teriak Yuli diluar sana.


Kedua mata Kiran langsung membola, bahkan intinya dan


sang suami masih menyatu dengan begitu basah.


“Iya Umi, sebentar lagi keluar, aku masih membalur


tubuh Kiran,” Aslan yang menjawab.


Yuli cukup tahu, jika kini mungkin Kiran sedang


tidak menutup tubuhnya.


“Iya, umi tunggu di ruang tengah,”


“Iya umi,” sahut Aslan lagi.


Kiran bernapas lega, lalu memeluk tubuh suaminya


erat.


“Ini mau dilepas tidak,” tawar Aslan seraya kembali


menggerakkan pinggul sang istri hingga membuat Kiran mendesis.


“Sekali lagi yuk, sambil mandi air hangat,” goda


Kiran dan dengan semangat Aslan langsung menggendong tubuh sang istri untuk


masuk kedalam kamar mandi. Jika tadi mereka mandi sendiri-sendiri, sekarang


mereka mandi berdua, dengan tubuh yang menyatu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Kiran membawa mobil sendiri saat


berangkat kerja. Kiran mengatakan jika nanti saat pulang kerja ia dan Widya


akan berbelanja. Karena itulah, Aslan pun mengizinkan.


Dengan syarat, apapun yeng terjadi pada istrinya itu


ia segera diberi kabar, entah itu masalah penting ataupun tidak penting.


“Iya sayaang,” jawab Kiran menurut, dengan nada


bicaranya yang mendayu-dayu.


“Ya sudah, hati-hati bawa mobilnya,” ucap Aslan.


Lalu mereka berpisah di halaman rumah itu. Berjalan beriringan


saat berada di dalam kompleks saja, dan berpisah saat sudah memasuki jalan


raya.


Drt drt drt


Ponsel Kiran yang berada didalam tas bergetar, takut


jika itu adalah telepon dari sang suami yang ingin menyampaikan hal penting,


akhirnya Kiran memelankan laju kendaraan mobilnya dan mulai mengambil ponsel


itu.


Ternyata yang menghubungi bukanlah Aslan, melainkan


mbak Tika, kakak iparnya yang kini berada di negeri Jiran, Malaysia.


Tanpa mengulur waktu, Kiran segera menjawab


panggilan itu.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Mbak.”


__ADS_2