Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 77


__ADS_3

Satu jam berada di basement hotel itu , akhirnya Aslan dan Kiran memutuskan untuk pulang. Siang itu Aslan mengantarkan istrinya pulang lebih dulu, tapi ia harus kembali lagi ke kantor. Sore hari, masih harus ada breafing yang dihadirinya.


Bahkan Aslan tak singgah sejenak, sampai Kiran turun dari mobilnya, ia langsung melaju lagi.


Dengan bibir yang terus mengukir senyum, Kiran mulai memasuki rumah. Masih jelas tergambar tentang percintaannya dengan sang suami di dalam mobil tadi.


Saat ia menutup mulutya menahan desah. Saat ia memeluk suaminya erat ketika pelepasan itu mereka raih bersama.


Gila memang, karena melakukan penyatuan ditempat umum. Namun entah kenapa, seolah itu makin memperkuat cinta mereka.


Sampai di dalam rumah, hal pertama yang dilakukan Kiran adalah memompa Asi lalu menyimpannya di lemari pedingin.


Tok tok tok


“Ran, ini Umi,” teriak Yuli dari luar pintu kamar Kiran.


Kiran yang baru saja selesai mandi segera membuka pintu itu setelah memakai hijab langsungannya.


“Masuk Umi,” ucap Kiran setelah pintu itu terbuka lebar.


"Katanya kamu pulang bawa mobil, kok di garasi tidak ada mobil baru,” selidik Yuli seraya masuk ke kamar sang menantu.


“semuanya baik-baik saja kan?” tanyanya lagi setelah duduk disofa kamar itu.


Kiran mengangguk, “Iya Umi, nanti sore mobinya dianter Agung kesini,” jelas Kiran sambil mengigit bibir bawahnya.


Sesaat ia gugup, merasa takut jika Yuli bertanya lebih tentang alasannya kenapa.


“Oh, Umi Kira ada apa-apa, alhamdulilah kalau semuanya baik-baik saja,” jawab Yuli lega, ia hanya cemas ada sesuatu hal yang  terjadi pada menantunya itu. Selesai memastikan semuanya baik-baik saja, Yuli segera kelur kamar.


Sama, Kiran pun ikut keluar pula,  menemui sang anak baby Aydan.


Siang itu, Aydan masih diberi susu oleh Desi, dan Kiran langsung menggantikannya. Kiran menggendog sang anak mengunakan gendongan bayi, lalu membawanya ke taman belakang sambil memberikan Asi melalui botol.


Ditatapinyalah wajah sang anak yang nampak tenang, dengan lahapnya Aydan menghisap dot susu itu.


Sesaat, hati Kiran jadi sendu. Memikirkan hari-hari besok saat ia mulai bekerja.


“Ay, besok ibu mulai kerja ya Nak? Boleh kan?” tanya Kiran seolah Aydan bisa menjawab. Tapi bayi mungil itu tak peduli sedikitpun, ia terus menyusu dengan lahapnya. Apalagi berada didekapan sang ibu, makin membuatnya merasa nyaman.


“Nanti saat Aydan sudah bisa berjalan, Ay ikut ibu kerja juga, ya?”


“Ibu sayang sekali padamu Nak, ibu bekerja bukan berarti ibu mengabaikanmu sayang, percayalah.” Jelas Kiran lagi seraya mengelus sebelah pipi kiri Aydan yang sudah nampak lebih menggembul.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan, Kiran mulai menimang anaknya. Ia bahkan menyanyikan beberapa lagu sebagai pengantar tidur sang anak.


Hingga tak lama kemudian, Aydan melepaskan dot susu itu. Tanda jika ia sudah kenyang dan kini


terlelap.


Kiran tersenyum, “anak pintar,”


gumamnya pelan, tak ingin mengganggu tidur sang anak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1 tahun kemudian.


Semuanya  berjalan sesuai dengan rencana mereka, Aslan dan Kiran bekerja dan anak mereka dalam pengasuhan Yuli dan Desi. Kiran juga menepati janjinya untuk tetap memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan.


Namun satu yang menggangu ketenangan Kiran ditempat kerjanya sana. Ia selalu saja menjadi bahan gosip karena berteman dengan Agung.


Awalnya Kiran rak peduli, namun lambat laun ia merasa geram juga. Tahu tak bisa menyumpal semua mulut orang, akhirnya Kiran meminta bantuan sang suami untuk menasehati sahabatnya itu, menikahlah, menikahlh, seperti itu.


Dan kini, saat malam minggu. Aslan dan Kiran mengundang Agung untuk makan malam di rumah mereka.


Selesai makan malam, mereka semua duduk diteras rumah, berbincang ringan sambil menikmati suasana malam.


“Kalian belum ada rencana tambah momongan?” tanya Agung pada Aslan, yang kini sudah menjadi


sahabatnya pula selain Kiran.


“Mas Agung belum ada rencana nikah?” balas Aslan langsung.


Sesaat Agung dan Aslan saling tatap, lalu keduanya terkekeh.


“Belum ada yang cocok Lan,” jawab Agung apa adanya.


“Apa Mas Agung benar-benar mencintai Kiran?” tanya Aslan memastikan dan Agung langsung bergidik ngerti.


Amit-amit jabang bayi, batin Agung bergidik. Hanya membayangkannya saja ia sudah tidak sanggup, jika ia menikah dengan Kiran pasti Agung akan berakhir jadi suami takut istri, begitulah yang ada dibenaknya.


“Nggak lah Lan, kalau aku suka sama kiran, Kiran sudah ku nikahi sejak di Malaysia dulu,” jawab Agung dan Aslan mengangguk setuju.


Saat itu memang saat yang tepat untuk orang merebut Kiran dari sisi aslan, tapi agung tak melakukannya.


“Apa perlu aku bantu Mas?  Melalui Ta’aruf. Di majelis yang aku ikuti banyak juga orang-orang yang melakukan ta’aruf itu. Jadi kita memberikan

__ADS_1


kriteria yang kita mau, nanti jika sudah ada yang pas, baru akan ditemukan,” Jelas Aslan gamblang.


Aslan memang selalu pengikuti pengajian rutin setiap sebulan sekali, sejak dulu saat ia masih lajang, bahkan sejak masih menikah dengan Maya dan sekarang Kiran pun juga mulai mengiktinya.


Tak hanya memperdalam ilmu agama, dalam majelis itu juga memperbanyak saudara.


Mendengar tawaran Aslan, hati Agung sedikit tergugh. Apalagi saat mendengar bahwa ia bisa mengajukan kriteria istri impiannya.


“Tapi kan aku bukan anggota majelismu itu Lan,” jawab Agung minder.


Dan mendengar itu, Aslan tersenyum kecil.


“Dalam majelis tidak ada namanya anggota lama dan anggota baru, semuanya sama, dihari itu kita


berangkat maka hari itulah kita menambah amal.”


“Kok bisa, Kiran dapat suami sesempurna kamu ya Lan, tak hanya tampan tapi juga taat ibadah padahal dulu kan Kiran, woo bajunya_”


PLAK!


Satu pukuran keras Kiran daratkan di pundak Agung.


“Aduh! Nyut-nyutan Ran!” keluh Agung seraya mengelus dengan cepat bekas pukulan yang terasa panas itu.


Tenaga Kiran memang tidak diragukan lagi, Hulk versi perempuan.


“Sembaranan kalau ngomong, bajuku dulu memang terbuka, tapi hatiku tertutup rapat dari hinanya dunia,” balas Kiran sombong seraya menghampri sang suami dan ikut duduk disebelahnya.


Melihat itu, Aslan terkekeh, bahkan membiarkan saat sang istri bergelayut manja di salah satu lengannya.


“Ya kan sayang?” tanya Kiran dengan sangat lembut  pada Aslan, mencari pembelaan.


Dan Aslan mengangguk, seraya mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.


Dan melihat it, Agung ingin muntah.


“Baiklah, kapan majelis berikutnya akan dilaksanakan, aku akan ikut.” Putus Agung.


“Jangan ikut-ikut saja, sebelum ikut, siapkan dirimu dulu, kan niatnya mau cari jodoh, jadi pinter- pinterlah cari muka. Mulai dandan yang rapi, mulai benerin bacaan al-qurannya. Perempuan kalau liat pria tampan terus bcaan al-qurannya bagus, lngsung klepek-klepek,” jelas Kiran.


Agung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan Aslan lagi-lagi terkekeh.


“Minggu ke tiga setiap bulannya Mas, 1 minggu lagi," jawab Aslan.

__ADS_1


__ADS_2