
Pagi ini, Alana kembali bangun lebih awal. Ia bahkan lebih dulu mendatangi rumah Altar untuk pergi ke sekolah bersama-sama.
Menunggu Altar yang sedang sarapan di teras rumah calon suaminya itu.
Bibir Alana terus tersenyum, pagi ini di matanya cuaca sangat cerah. Secerah hatinya saat ini.
"Al," panggil Altar yang baru keluar dari rumah, membuka pintu dan langsung melihat Alana yang memunggunginya.
Dipanggil, Alana pun langsung berbalik, dan menatap Altar dengan senyum lebar.
"Hari ini naik mobil saja ya, sepertinya akan hujan," ucap Altar. Sedari tadi subuh, angin mulai berhembus semilir, dan pagi ini langit nampak mendung.
"Apa iya akan hujan? sepertinya tidak," elak Alana, yang ingin mereka tetap menggunakan motor. Ingin memeluk erat Altar dari belakang.
Jika pakai mobil, dia tidak akan bisa melakukan itu.
"Iya, aku yakin hujan. Tunggu dulu, aku ambil mobilnya," final Altar, lalu segera berlalu menuju garasi rumah itu.
Keluar dengan menggunakan mobil hitam milik sang ayah.
Alana, mencebik. Namun mau tidak mau, ia tetap menurut. Yang penting, tetap pergi ke sekolah bersama Altar.
Duduk di kursi samping kemudi dan langsung menutup pintu. Seketika Alana tersentak, saat tiba-tiba Altar berada persis dihadapannya.
Remaja tampan ini memasangkan sabuk pengaman untuk Alana, hingga terdengar bunyi Klik yang begitu jelas.
Alana, menelan Saliva nya dengan susah payah, kala wajah Altar hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
Tak kuasa melakukan apapun, Alana hanya mampu mengepalkan tangannya kuat, dan mengigit bibir bawahnya sendiri.
Dengan kedua pipi yang sudah merah merona, wajahnya terasa panas.
"Kenapa?" tanya Altar, heran. Saat melihat Alana yang nampak tegang dan membatu.
Tidak merasa bersalah sedikitpun, Altar kembali ke kursinya dan mulai memelajukan mobil.
Alana tak menjawab, hanya menghembuskan napasnya lega.
Hingga saat mereka memasuki jalan raya. Gerimis mulai turun, seperti dugaan Altar.
"Untung kita pakai mobil kan?" tanya Altar, memecah keheningan yang dibuat oleh Alana.
Gadis cantik yang masih gugup itu, hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Oh iya Al, bagaimana jika kita nanti belajar sama-sama, kan sebentar lagi ujian naik kelas," ucap Alana setelag cukup lama diam, kini mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Sama Sisil juga?"
"Bisa jadi," jawab Alana cepat, ia lalu menoleh kearah Altar dan dilihatnya sang calon suami yang nampak berpikir.
"Aku tidak mau jika belajar di luar, jika mau kita bisa belajar bersama-sama di rumahku," jawab Altar, setelah cukup lama berpikir.
Altar, memang tak ingin jauh dari sang ibu. Sebisa mungkin ia akan selalu mengawasi ibunya itu. Memastikan secara langsung bahwa ibunya baik-baik saja.
Mendengar ucapan Altar, Alana jadi teringat satu hal. Alana pun sebenarnya bertanya-tanya kenapa Altar selalu ingin berada di rumah.
Padahal remaja seusia mereka akan lebih suka jika berkumpul dengan teman-teman, belajar bersama di perpustakaan, lalu setelahnya makan ayam goreng tepung di cafe terdekat.
"Baiklah, kita akan belajar di rumahmu, kalau Sisil terserah dia mau ikut atau tidak," jawab Alana.
Dan setelahnya, iapun kembali bertanya tentang penasarannya. "Akhir-akhir ini kamu selalu pulang cepat, memangnya ada apa?" tanya Alana lagi, ia masih setia duduk menghadap Altar yang kembali mengemudi, lampu rambu lalu lintas sudah berubah jadi hijau.
Altar tak langsung menjawab, ia melirik sekilas Alana dan kembali fokus mengemudi.
"Nanti aku akan memberitahumu, sekarang biarkan aku menyetir dengan tenang," ucap Altar, hingga membuat Alana mencebik.
Altar memang selalu saja seperti itu, sesuka hatinya bertindak, kadang acuh dan sangat dingin. Kadang begitu hangat dan sangat dewasa.
Malah terasa kehilangan jika pria ini tidak ada disampingnya.
Sampai di parkiran sekolah, gerimis masih turun. Bibir Alana pun masih mencebik seperti beberapa saat lalu.
"Buka pintunya, aku mau turun," ucap Alana, karena pintu itu masih dikunci oleh Altar.
Alana sempat mencoba untuk membukanya, namun gagal.
"Lihat aku dulu," jawab Altar, ia sungguh tak tenang jika melihat Alana pergi dengan bibir yang cemberut seperti itu.
Sedangkan ia sendiri tak tahu apa salahnya.
"Kenapa tiba-tiba wajahmu jadi masam begini?" tanya Altar langsung, ia bahkan mencubit salah satu pipi Alana.
"Tidak apa-apa, aku mau turun," jawab Alana, ia sedikit menunduk, menghindari tatapan Altar.
"Peluk aku dulu, baru turun," pinta Altar, mereka jika hanya pelukan lah yang bisa mendamaikan mereka.
Diminta seperti itu, Alana malah semakin mencebik. Harusnya jika ingin peluk ya peluk saja, jangan meminta lebih dulu.
__ADS_1
Dan seperti Altar bisa membaca pikirannya, tiba-tiba Altar menarik tubuhnya dan memeluknya erat.
"Mulai sekarang, sebelum kita berpisah peluk aku dulu," ucap Altar, setelah mendekap sang calon istri erat.
Alana tersenyum, ia membalas pelukan itu secara perlahan. Mulai menyukai jika mereka membawa mobil.
"Jawab!" titah Altar karena Alana hanya diam.
"Iya Al," jawab Alana cepat.
"Kenapa rasanya aku tidak suka ketika mendengar mu memanggil namaku," sanggah Altar, ia melerai pelukannya dan menatap lekat kedua netra Alana.
"Jika sedang berdua seperti ini, panggil aku Mas," titah Altar dan Alana langsung mengulum senyum.
Terdengar lucu, apalagi jika dihitung-hitung, sebenarnya Alana lebih tua beberapa bulan dibanding Altar.
"Coba panggil aku Mas." Altar kembali memerintah, dengan wajah yang serius tidak mau ditolak.
"Iya Mas," jawab Alana pula, lalu mengulum senyum, merasa malu.
Dan entah ada setan apa, tiba-tiba Altar ingin sekali mencium bibir Alana itu.
Namun sekuat tenaga ia tahan.
Tak ingin terlalu jauh dan berakhir khilaf, cukup berhenti di pelukan.
"Ayo turun," ajak Altar dan Alana mengangguk.
Keduanya turun dari dalam mobil, lalu sedikit berlari menuju gedung sekolah terdekat.
Beberapa gerimia menempel di rambut panjang Alana dan Altar segera menghilangkannya menggunakan kedua tangan.
Alana yang melihat rambut Altar sedikit basah pun melalukan hal yang sama.
Menggunakan kedua tangannya, menghilangkan basah di rambut sang calon suami.
Keduanya terkekeh, ketika menyadari mereka sama-sama peduli.
Altar mengantarkan Alana ke kelasnya, baru ia berjalan menuju kelasnya sendiri.
Tak hanya Alana, Altar pun merasakan hatinya semakin membaik kala hubungannya dengan Alana pun baik seperti ini.
Altar tahu, jika ia mulai tertarik dan menyukai Alana sebagai seorang wanita. Bukan hanya menganggap Alana sebagai sahabat dan teman kecil.
__ADS_1