Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 114


__ADS_3

Kedua netra Widya membola kala mendengar ucapan sang


kekasih. Widya tak mampu menjawab apa-apa, ia hanya terus menggelengkan


kepalanya dengan pelan, tidak.


Kembali Widya menatap sang ibu yang kini sedang


mengulas sebuah senyuman, senyuman seolah ia menyetujui ucapan Agung itu. Dan


Widya terus menggelengkan kepalanya, ia tak mau bukan karena tak ingin menuruti


sang ibu, namun Widya enggan melakukannya jika ini adalah keinginnan terakhir


sang ibu.


“Bu, Ibu pasti sehat lagi Bu,” lirih Widya yang masih


berharap penuh dengan kesembuhan sang ibu.


Widya hendak kembali berucap, namun sang ayah


menghentikan, Fadli menyentuh bahu sang anak, hingga Widya urung berucap.


“Wid, kata dokter ibu sudah tidak bisa lagi,” ucap


Fadli dengan tatapannya yang sendu, jika ditanya siapa yang paling menderita


disaat seperti ini, tentu Fadli orangnya.


Harus menyaksikan keadaan sang istri yang tengah


sekarat, bahkan dokter sudah memintanya untuk ihklas.


Fadli sudah tak bisa menangis, semuanya ia tahan


ditenggorokan hingga terasa sangat sakit, tercekak dan tersiksa.


Fadli hanya ingin, membahagiakan sang istri siakhir


hidupnya, Fadli tahu, Ana ingin melihat Widya menikah sebelum ia meninggal.


“Menikahlah nak, turuti keinginan ibumu,” jelas


Fadli, lirih dan Widya menutup wajahnya dengan satu tangan, ia menangis namun


masih berusaha agar tangis itu tidak pecah.


“Iya Pak,” jawab Widya patuh.


Mendnegar itu, Gaung menghembuskan nafasnya lega. Ia


mengira Widya akan tetap berkjeras diri dan akhinya kelak menyesal jika sampai


tak menuruti keinginan ibunya itu.


Mengetahui jika Widya sudah setuju, Agung segera


berbegas keluar dari ruangan itu. Menemui pak penghulu yang akan menikahkannya


kelak, namun Agung mmeinta untuk dinikahkan sekarang secara siri, lalu kelak


akan menikah lagi secara negara, karena semua dokumen-dokumen pun sudah selesai


semua. Buku nikah mereka bahkan sudah masuk antrian untuk dicetak.


Pak penghulu itu langsung menyetujui ide Agung, kala


mendengar alasan dibalik dimajukannya ijab kabul ini.


Ia bahkan meminta untuk segera dibawa ke rumah


sakit. Bahkan istri pak penghulu itupun ikut ingin menjadi saksi, istri


penghulu itu membawa sebuah hijab panjang berwarna putih, yang kelak bisa


digunakan oleh Widya.


Tepat sehabis magrib, Agung dan Widya menggelar


pernikahan mereka di rumah sakit, dihadapan sang ibu yang sudah terbaring


lemah.


SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA WIDYA PUTRI BINTI


MUHAMMAD FADLI DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI.


Sah?

__ADS_1


SAH!


ALHAMDULILAH.  Ucap beberapa orang yang berda di ruang rawat Ana kala itu.


Dan tangis Widya jatuh juga, hari bahagianya yang


terasa begitu sendu.


Agung mencium kening Widya dengan sayang setelah


Widya lebih dulu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.


“Semuanya akan baik-baik saja, percayalah,” ucap


Agung dengan tatapannya yang dalam, Agung hanya menggunakan peci berwarna hitam


dan Widya menggunakan hijab berwarna putih,.  Bahkan baju mereka masih sama seperti saat bertemu Kiran dan Aslan siang


tadi.


Widya mengangguk, suka cita ini ia rasakan


sekaligus.


Hingga tiba saatnya, ketika Agung dan Widya meminta


restu pada kedua orang tua mereka masing-masing, kedua orang tua Agung pun


buru-buru datang kesini ketika Agung mengabari.


“Ibu bersyukur Wid, ibu sangat bersyukur bisa


menyaksikanmu menikah,” ucap Ana lirih, dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Widya tak mampu berucap apapun, hanya isak tangisnya


yang keluar sebagai jawaban.


****


Kiran, sedari tadi mencoba menghubungi Agung dan


Widya namun tidak pernah bisa. Kedua sahabatnya itu kompak tidak menanggapi


semua pesan dan panggilannya.


Bahkan sampai magrib terlewat, semua pesannya masih


perasaan yang membuatnya gelisah meski tak tahu apa penyebabnya.


“Mas, perasaanku kok tidak enak ya? Dari tadi siang,


Agung dan Mbak Widya tidak membari kabar, bahkan semua pesanku mereka abaikan


semuanya,” jelas Kiran, duduk disebelah sang suami, sama-sama duduk disisi


ranjang setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah.


“Mungkin mereka sedang sibuk, ibu Ana kan baru masuk


rumah sakit, pasti banyak yang sedang mereka urus,” jawab Aslan mencoba


menenangkan, meskipun sebenarnya ia sama saja cemas seperti Kiran.


Aslan pun sedari tadi mencoba menghubungi Agung,


namun sama, panggilannya tidak pernah mendapart jawaban.


Mendengar  jawaban sang suami, Kiran hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.


Hatinya masih belum merasa lega.


Hingga saat jam sembilan malam, Kiran mencpoba


kembali menghubungi kedua sahabatnya itu.


Dan kedua netra Kiran membola, kala panggilannya


pada Agung mendapatkan jawaban.


“Alhamdulilah, ya Allah Gung, daritadi aku hubungi


kamu tadi tidak pernah kamu jawab, apa yang terjadi? Ibu Ana baik-baik saja


kan?” cerca Kiran langsung, bahkan ia dan Agung sama-sama belum mengucapkan


salam.


Agung tak langsung menjawab., memberi jeda sejenak.

__ADS_1


“Gung?” panggil Kiran lagi.


“Ibu Ana sudah meninggal Ran, besok pagi akan


dikebumikan,” jelas Agung dengan suaranya yang tersengar lirih, nampak sekali


jika sahabatnya itu sedang bersedih,


Kiran bergeming, tak mampu menjawab apa-apa.


Aslan yang ikut mendengar panggilan itupun segera


mengambil ponsel sang istri dan mengambil alih.


“Innalilahiwainailahirojiun, sabar Mas, insya Allah,


besok pagi kami akan kesana,” jawab Aslan kemudian.


Lalu tak berselang lama panggilan itu terputus,.


Agung juga mengatakan pada Aslan jika ia dan Widya sudah menikah, memenuhi


keinginan terakhir ibu Ana.


Kiran menangis, merasa sedih, apalagi saat ini


hatinya begitu sensitif hingga ia sediripun kesulitan untuk mengatur emosi.


“Besok pagi kita ke rumah mbak Widya ya?” ajak Aslan


dan Kiran menganggukkan kepalanya. Kiran tak mampu berkata-kata lagi, hanya


mampu menghembuskan napasnya dengan pelan.


****


Agung, memeluk sang istri erat. Tangis widya makin


pecah saat dokter menutup seluruh tubuh sang ibu menggunakan kain putih.


“Istigfar sayang, istigfar,” ucap Agung lirih,


berbicara tepat ditelinga sang istri.


Kakak beradik Widya semuanya sudah berkumpul di rumah


sakit, dan saat semuanya sudah berkumpul itulah, lalu ibu Ana berpulang ke


rahmatullah.


Saat ini, mereka semua bersiap untuk pulang ke


rumah, sekaligus membawa jenazah sang ibu.


Tepat jam 10 malam, mereka semua sampai di rumah


Widya. Para tetangga yang sudah mendengar kabar itu pun berbondong-bondong


datang dan mengucapkan bela sungkawanya, tak peduli meski malam semakin larut,


mereka masih setia berada di sana. Hingga saat tengah malam. Suasana mulai


sepi. Hanya terdengar suara surat Yasin yang dikumandangkan oleh kakak Widya di


samping jasad sang ibu.


Sementara Widya sudah terduduk dengan tenaga yang


nyaris habis.


“Minumlah,” ucap Agung seraya memberi segelas air


putih pada sang istri, Widya hanya menerima uluran gelas itu, namun begitu


enggan untuk meneguknya.


Hingga Agung  akhirnya kembali mengambil gelas itu dan langsung meminumkannya pada


sang istri.


“Istigfar sayang, kita semua kelak juga akan


kembali,” jelas Agung, tapi kata-kata itu malah membuat Widya kembali menangis.


Widya sudah ihklas, hanya saja ia masih merasa


sedih.


Yang bisa Widya lakukan kini hanyalah memeluk tubuh

__ADS_1


sang suami erat, mencari kekuatan.


__ADS_2