
Kedua netra Widya membola kala mendengar ucapan sang
kekasih. Widya tak mampu menjawab apa-apa, ia hanya terus menggelengkan
kepalanya dengan pelan, tidak.
Kembali Widya menatap sang ibu yang kini sedang
mengulas sebuah senyuman, senyuman seolah ia menyetujui ucapan Agung itu. Dan
Widya terus menggelengkan kepalanya, ia tak mau bukan karena tak ingin menuruti
sang ibu, namun Widya enggan melakukannya jika ini adalah keinginnan terakhir
sang ibu.
“Bu, Ibu pasti sehat lagi Bu,” lirih Widya yang masih
berharap penuh dengan kesembuhan sang ibu.
Widya hendak kembali berucap, namun sang ayah
menghentikan, Fadli menyentuh bahu sang anak, hingga Widya urung berucap.
“Wid, kata dokter ibu sudah tidak bisa lagi,” ucap
Fadli dengan tatapannya yang sendu, jika ditanya siapa yang paling menderita
disaat seperti ini, tentu Fadli orangnya.
Harus menyaksikan keadaan sang istri yang tengah
sekarat, bahkan dokter sudah memintanya untuk ihklas.
Fadli sudah tak bisa menangis, semuanya ia tahan
ditenggorokan hingga terasa sangat sakit, tercekak dan tersiksa.
Fadli hanya ingin, membahagiakan sang istri siakhir
hidupnya, Fadli tahu, Ana ingin melihat Widya menikah sebelum ia meninggal.
“Menikahlah nak, turuti keinginan ibumu,” jelas
Fadli, lirih dan Widya menutup wajahnya dengan satu tangan, ia menangis namun
masih berusaha agar tangis itu tidak pecah.
“Iya Pak,” jawab Widya patuh.
Mendnegar itu, Gaung menghembuskan nafasnya lega. Ia
mengira Widya akan tetap berkjeras diri dan akhinya kelak menyesal jika sampai
tak menuruti keinginan ibunya itu.
Mengetahui jika Widya sudah setuju, Agung segera
berbegas keluar dari ruangan itu. Menemui pak penghulu yang akan menikahkannya
kelak, namun Agung mmeinta untuk dinikahkan sekarang secara siri, lalu kelak
akan menikah lagi secara negara, karena semua dokumen-dokumen pun sudah selesai
semua. Buku nikah mereka bahkan sudah masuk antrian untuk dicetak.
Pak penghulu itu langsung menyetujui ide Agung, kala
mendengar alasan dibalik dimajukannya ijab kabul ini.
Ia bahkan meminta untuk segera dibawa ke rumah
sakit. Bahkan istri pak penghulu itupun ikut ingin menjadi saksi, istri
penghulu itu membawa sebuah hijab panjang berwarna putih, yang kelak bisa
digunakan oleh Widya.
Tepat sehabis magrib, Agung dan Widya menggelar
pernikahan mereka di rumah sakit, dihadapan sang ibu yang sudah terbaring
lemah.
SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA WIDYA PUTRI BINTI
MUHAMMAD FADLI DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI.
Sah?
__ADS_1
SAH!
ALHAMDULILAH. Ucap beberapa orang yang berda di ruang rawat Ana kala itu.
Dan tangis Widya jatuh juga, hari bahagianya yang
terasa begitu sendu.
Agung mencium kening Widya dengan sayang setelah
Widya lebih dulu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
“Semuanya akan baik-baik saja, percayalah,” ucap
Agung dengan tatapannya yang dalam, Agung hanya menggunakan peci berwarna hitam
dan Widya menggunakan hijab berwarna putih,. Bahkan baju mereka masih sama seperti saat bertemu Kiran dan Aslan siang
tadi.
Widya mengangguk, suka cita ini ia rasakan
sekaligus.
Hingga tiba saatnya, ketika Agung dan Widya meminta
restu pada kedua orang tua mereka masing-masing, kedua orang tua Agung pun
buru-buru datang kesini ketika Agung mengabari.
“Ibu bersyukur Wid, ibu sangat bersyukur bisa
menyaksikanmu menikah,” ucap Ana lirih, dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Widya tak mampu berucap apapun, hanya isak tangisnya
yang keluar sebagai jawaban.
****
Kiran, sedari tadi mencoba menghubungi Agung dan
Widya namun tidak pernah bisa. Kedua sahabatnya itu kompak tidak menanggapi
semua pesan dan panggilannya.
Bahkan sampai magrib terlewat, semua pesannya masih
perasaan yang membuatnya gelisah meski tak tahu apa penyebabnya.
“Mas, perasaanku kok tidak enak ya? Dari tadi siang,
Agung dan Mbak Widya tidak membari kabar, bahkan semua pesanku mereka abaikan
semuanya,” jelas Kiran, duduk disebelah sang suami, sama-sama duduk disisi
ranjang setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah.
“Mungkin mereka sedang sibuk, ibu Ana kan baru masuk
rumah sakit, pasti banyak yang sedang mereka urus,” jawab Aslan mencoba
menenangkan, meskipun sebenarnya ia sama saja cemas seperti Kiran.
Aslan pun sedari tadi mencoba menghubungi Agung,
namun sama, panggilannya tidak pernah mendapart jawaban.
Mendengar jawaban sang suami, Kiran hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.
Hatinya masih belum merasa lega.
Hingga saat jam sembilan malam, Kiran mencpoba
kembali menghubungi kedua sahabatnya itu.
Dan kedua netra Kiran membola, kala panggilannya
pada Agung mendapatkan jawaban.
“Alhamdulilah, ya Allah Gung, daritadi aku hubungi
kamu tadi tidak pernah kamu jawab, apa yang terjadi? Ibu Ana baik-baik saja
kan?” cerca Kiran langsung, bahkan ia dan Agung sama-sama belum mengucapkan
salam.
Agung tak langsung menjawab., memberi jeda sejenak.
__ADS_1
“Gung?” panggil Kiran lagi.
“Ibu Ana sudah meninggal Ran, besok pagi akan
dikebumikan,” jelas Agung dengan suaranya yang tersengar lirih, nampak sekali
jika sahabatnya itu sedang bersedih,
Kiran bergeming, tak mampu menjawab apa-apa.
Aslan yang ikut mendengar panggilan itupun segera
mengambil ponsel sang istri dan mengambil alih.
“Innalilahiwainailahirojiun, sabar Mas, insya Allah,
besok pagi kami akan kesana,” jawab Aslan kemudian.
Lalu tak berselang lama panggilan itu terputus,.
Agung juga mengatakan pada Aslan jika ia dan Widya sudah menikah, memenuhi
keinginan terakhir ibu Ana.
Kiran menangis, merasa sedih, apalagi saat ini
hatinya begitu sensitif hingga ia sediripun kesulitan untuk mengatur emosi.
“Besok pagi kita ke rumah mbak Widya ya?” ajak Aslan
dan Kiran menganggukkan kepalanya. Kiran tak mampu berkata-kata lagi, hanya
mampu menghembuskan napasnya dengan pelan.
****
Agung, memeluk sang istri erat. Tangis widya makin
pecah saat dokter menutup seluruh tubuh sang ibu menggunakan kain putih.
“Istigfar sayang, istigfar,” ucap Agung lirih,
berbicara tepat ditelinga sang istri.
Kakak beradik Widya semuanya sudah berkumpul di rumah
sakit, dan saat semuanya sudah berkumpul itulah, lalu ibu Ana berpulang ke
rahmatullah.
Saat ini, mereka semua bersiap untuk pulang ke
rumah, sekaligus membawa jenazah sang ibu.
Tepat jam 10 malam, mereka semua sampai di rumah
Widya. Para tetangga yang sudah mendengar kabar itu pun berbondong-bondong
datang dan mengucapkan bela sungkawanya, tak peduli meski malam semakin larut,
mereka masih setia berada di sana. Hingga saat tengah malam. Suasana mulai
sepi. Hanya terdengar suara surat Yasin yang dikumandangkan oleh kakak Widya di
samping jasad sang ibu.
Sementara Widya sudah terduduk dengan tenaga yang
nyaris habis.
“Minumlah,” ucap Agung seraya memberi segelas air
putih pada sang istri, Widya hanya menerima uluran gelas itu, namun begitu
enggan untuk meneguknya.
Hingga Agung akhirnya kembali mengambil gelas itu dan langsung meminumkannya pada
sang istri.
“Istigfar sayang, kita semua kelak juga akan
kembali,” jelas Agung, tapi kata-kata itu malah membuat Widya kembali menangis.
Widya sudah ihklas, hanya saja ia masih merasa
sedih.
Yang bisa Widya lakukan kini hanyalah memeluk tubuh
__ADS_1
sang suami erat, mencari kekuatan.