
Keesokan harinya, Kiran, Aslan, Agung dan Widya
berencana makan siang bersama. Membuat janji bertemu, di salah satu cafe yang
letaknya ditengah-tengah tempat kerja mereka bertiga.
Saat itu, Kiran datang lebih dulu, lalu disusul oleh
Agung dan Widya dan yang terakhir datang adalah Aslan.
Mereka berempat duduk disalah satu kursi yang berada
ditengah-tengah cafe itu, cafe yang nampak lebih ramai karena tepat berada di
jam istirahat makan siang.
Meski terakhir datang, namun Kiran sudah memesankan
makanan untuk sang suami. Jadi tanpa menunggu, Aslan sudah bisa langsung ikut
makan.
Agung duduk disebelah Aslan dan Widya duduk
disebelah Kiran, mereka saling berhadapan.
“Gimana persiapannya Mas? Lancar?” tanya Aslan pada
Agung, membicarakan tentang hari pernikahan Agung dan Widya yang semakin dekat.
“Alhamdulilah Lan lancar, Cuma kok rasanya waktu
berputar lebih lamaa,” jawab Agung seraya menggoda sang calon istri.
Widya tersipu malu, sementara Kiran bergidik jijik.
“Sabar Mas, sebentar lagi kok,” sahut Asl;an yang
juga ikut tersenyum, merasa lucu.
“Seminggu habis nikahan, aku dan widya langsung
pindah ke rumah Kiran,” ucap Agung dengan suaranya yang mulai serius.
“Iya Mas, kemarin juga rumah itu sudah dibersihkan,
siap untuk kembali ditempati,” jawab Aslan, beberapa hari lalu, Aslan memang
sudah membayar orang untuk membersihkan rumah itu, bahkan memeriksa semua
saluran listrik dan juga air.
“Alhamdulilah, aku jadi enak Lan,” kelakar Agung
lagi.
“Tapi apa iya kami tidak perlu membayar uang sewa
Lan?” tanya Widya pula, jujur saja, ia merasa tak enak hati, jika bukan karena
Agung yang memaksa, sebenarnya Widya enggan untuk tinggal jika gratis, takut
jika nanti malah mereka menjadi beban.
“Iya Mbak, seperti itulah pesan mas Fahmi. Mas Fahmi
hanya meminta untuk rumah itu dirawat dan dijaga sebaik mungkin, rumah itu adalah
peninggalan kedua orang tua Kiran dan mas Fahmi,” jelas Aslan apa adanya, yang
tak ingin ada yang ditutup-tutupi diantar mereka.
Agung mengangguk, mengerti, dan Widya pun melakukan
hal yang sama. Pada saat itu juga, Agung dan Widya mengucapkan kata terima
kasihnya.
Disaat semua orang sibuk berbincang, Kiran sibuk
sendiri menikmati makan siangnya, ia bahkan berulang kali mengambil lalapan
yang ada di piring sang suami. Juga menambah sambal untuk menikmati ayam bakar
pesanannya.
Melihat Kiran yang makan dengan lahap seperti itu,
kini Widya tahu kenapa Kiran nampak lebih berisi.
__ADS_1
“Pelan-pelan Ran, kalau kurang pesan lagi, jangan
takut rugi, aku yang teraktir siang ini,” ucap Agung, saking gemasnya melihat
Kiran makan, ia ingin sekali menyumpal mulut sahabatanya itu dengan semua
lalapan yang ada diatas meja.
Namun sekuat tenaga ia tahan, bisa dihajar Aslan
jika ia nekad melakukan itu.
“Bener ya aku pesen lagi?” selidik Kiran dan Agung
mengangguk.
“Perutmu tidak sakit?” tanya Aslan perhatian, ia
bahkan menghapus sisa sambal yang tertinggal di sudut bibir sang istri. Jika tidak
didepan umum seperti ini, sebenarnya Aslan ingin sekali menghapus sambal itu
menggunakan bibirnya. Lalu menyesapnya dalam, hingga saling membelit.
Apalagi ketika teringat akan percintaan panas mereka
diatas sofa semalam.
Namun sekuat tenaga Aslan tahan. Cukup dengan ibu
jarinya saja ia menghapus sambal itu.
“Nggak sakit kok Mas, malah rasanya enak banget,”
jujur Kiran, maklum bawaan bayi.
Siang itu, Kiran benar-benar habis dua porsi ayam
bakar.
Drt drt drt
Ponsel Widya diatas meja bergetar, dilihatnya ada pnggilan masuk dari sang ayah.
Tanpa menunda, Widya langsung menjawab panggilan
Mengisyartatkan jika panggilan telepon itu mengabarkan berita yang kurang baik.
“Baik Yah, Wid kesana sekarang,” jawab Widya lalu
memutusa sambungan telepon itu.
“Mas, ibu masuk rumah sakit, kita kesana sekarang
ya?” cemas Widya berucap pada sang kekasih. Kedua netra Agung langsung membola
dan ia segara bangkit dari duduknya.
“Lan aku duluan ya?” pamit Agung dan Aslan
mengangguk, ia dan Kiran pun mendengar saat Widya mengatakan jika ibunya kini
masuk ke rumah skait. Kiran pun merasa cemas pula.
Kiran dan Aslan terus memperhatikan kepergian dua
sahabatnya itu, hingga benar-benar tak terlihat dari pandangan mereka.
“Kenapa ya Mas?” tanya Kiran dan Aslan pun tak tahu
apa jawabannya.
“Kita doakan saja semuanya baik-baik saja, kita
doakan semua penyakit ibu Ana diangkat oleh Allah,” jawab Aslan dan Kiran
mengamini. Ibu Ana adalah ibu Widya, dan ayahnya bernama Fadli.
Tak berapa lama kemudian, Aslan dan Kiran pun
meninggalkan cafe itu juga. Kiran pulang ke rumah, sementar Aslan kembali ke
kantornya.
****
Di dalam mobil menuju rumah sakit, widya terus
merasa cemas. Ia bahkan berulang kali melihat keadaan jalanan yang macet,
__ADS_1
merasa gelisah sendiri ingin segera sampai di rumah sakit.
“Sayang, tenanglah,” ucap Agung, ia bahkan
menggenggam salah satu tangan sang kekasih yang terasa sangat dingin.
“Dari semalam ibu memang tidak enak badan Mas, tapi
aku tidak menyangka jika harus sampai dibawa ke rumah sakit,” jawab Widya
dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Kita doakan ibu ya, semoga semuanya baik-baik saja,
kamu jangan cemas seperti itu, kasihan ibu jika melihat wajah gelisahmu,” jelas
Agung lagi, mencoba menenangkan.
Dan Widya hanya mampu bergeming, dalam hatinya ia
terus berdoa agar keadaan sang ibu kembali pulih. Sehat seperti sedia kala
hingga bisa menyaksikannya menikah kelak.
20 menit kemudian, Agung dan Widya sampai di rumah
sakit dimana sang ibu dirawat, langkah keduanya tergesa, menuju kamar Ana
dirawat.
Pintu kamar itu nampak tak terkunci rapat, Widya dan
Agung segera masuk kesana tanpa mengucapkan salam.
“Bu,” panggil Widya lirih, apalagi saat melihat sang
ibu yang sudah terbaring lemah, pernafasannya dibantu dengan oksigen dan ia
mendapatkan suntikan infus.
Seketika itu juga, air mata Widya luruh, sementara
air mata sang ayah sudah mengering.
Tangan Ana bergerak, meminta sang anak untuk mendekat.
Dan Widya pun langsung bergegas menghampiri,
digenggamnya erat tangan sang ibu, tangan yang terasa begitu hangat.
“Wid disini Bu,” ucap Widya dengan derai air mata,
suaranya serak menahan sesak.
Ana sedikit mengulas senyum, namun sekujur tubuhnya
terasa amat sangat sakit.
Widya mendekat, kala melihat sang ibu yang berucap
namun seperti berbisik.
“Wid, ibu ingin melihatmu menikah Nak,” ucap Ana
dengan suaranya yang serupa hembusan angin, sangat pelan.
Kedua netra Widya membola, kenapa ucapan sang ibu
seperti sebuah keinginan terakhir. Widya menggeleng, Tidak! Jeritnya didalam
hati.
“Iya Bu, ibu pasti akan lihat Wid menikah dengan mas
Agung, ibu pasti sembuh,” jelas Widya, dengan menghapus air matanya sendiri.
Dan Ana menggelengkan kepalanya.
Agung dan Fadli pun mengerti keinginan Ana itu, ia
ingin melihat Widya menikah saat ini juga.
Agung, menggerakkan tangannya menyentuh bahu sang
kekasih, hingga Widya menoleh kearahnya,.
“Ayo kita menikah sekarang,” ajak Agung dengan
suaranya yang lantang.
__ADS_1