Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 113


__ADS_3

Keesokan harinya, Kiran, Aslan, Agung dan Widya


berencana makan siang bersama. Membuat janji bertemu, di salah satu cafe yang


letaknya ditengah-tengah tempat kerja mereka bertiga.


Saat itu, Kiran datang lebih dulu, lalu disusul oleh


Agung dan Widya dan yang terakhir datang adalah Aslan.


Mereka berempat duduk disalah satu kursi yang berada


ditengah-tengah cafe itu, cafe yang nampak lebih ramai karena tepat berada di


jam istirahat makan siang.


Meski terakhir datang, namun Kiran sudah memesankan


makanan untuk sang suami. Jadi tanpa menunggu, Aslan sudah bisa langsung ikut


makan.


Agung duduk disebelah Aslan dan Widya duduk


disebelah Kiran, mereka saling berhadapan.


“Gimana persiapannya Mas? Lancar?” tanya Aslan pada


Agung, membicarakan tentang hari pernikahan Agung dan Widya yang semakin dekat.


“Alhamdulilah Lan lancar, Cuma kok rasanya waktu


berputar lebih lamaa,” jawab Agung seraya menggoda sang calon istri.


Widya tersipu malu, sementara Kiran bergidik jijik.


“Sabar Mas, sebentar lagi kok,” sahut Asl;an yang


juga ikut tersenyum, merasa lucu.


“Seminggu habis nikahan, aku dan widya langsung


pindah ke rumah Kiran,” ucap Agung dengan suaranya yang mulai serius.


“Iya Mas, kemarin juga rumah itu sudah dibersihkan,


siap untuk kembali ditempati,” jawab Aslan, beberapa hari lalu, Aslan memang


sudah membayar orang untuk membersihkan rumah itu, bahkan memeriksa semua


saluran listrik dan juga air.


“Alhamdulilah, aku jadi enak Lan,” kelakar Agung


lagi.


“Tapi apa iya kami tidak perlu membayar uang sewa


Lan?” tanya Widya pula, jujur saja, ia merasa tak enak hati, jika bukan karena


Agung yang memaksa, sebenarnya Widya enggan untuk tinggal jika gratis, takut


jika nanti malah mereka menjadi beban.


“Iya Mbak, seperti itulah pesan mas Fahmi. Mas Fahmi


hanya meminta untuk rumah itu dirawat dan dijaga sebaik mungkin, rumah itu adalah


peninggalan kedua orang tua Kiran dan mas Fahmi,” jelas Aslan apa adanya, yang


tak ingin ada yang ditutup-tutupi diantar mereka.


Agung mengangguk, mengerti, dan Widya pun melakukan


hal yang sama. Pada saat itu juga, Agung dan Widya mengucapkan kata terima


kasihnya.


Disaat semua orang sibuk berbincang, Kiran sibuk


sendiri menikmati makan siangnya, ia bahkan berulang kali mengambil lalapan


yang ada di piring sang suami. Juga menambah sambal untuk menikmati ayam bakar


pesanannya.


Melihat Kiran yang makan dengan lahap seperti itu,


kini Widya tahu kenapa Kiran nampak lebih berisi.

__ADS_1


“Pelan-pelan Ran, kalau kurang pesan lagi, jangan


takut rugi, aku yang teraktir siang ini,” ucap Agung, saking gemasnya melihat


Kiran makan, ia ingin sekali menyumpal mulut sahabatanya itu dengan semua


lalapan yang ada diatas meja.


Namun sekuat tenaga ia tahan, bisa dihajar Aslan


jika ia nekad melakukan itu.


“Bener ya aku pesen lagi?” selidik Kiran dan Agung


mengangguk.


“Perutmu tidak sakit?” tanya Aslan perhatian, ia


bahkan menghapus sisa sambal yang tertinggal di sudut bibir sang istri. Jika tidak


didepan umum seperti ini, sebenarnya Aslan ingin sekali menghapus sambal itu


menggunakan bibirnya. Lalu menyesapnya dalam, hingga saling membelit.


Apalagi ketika teringat akan percintaan panas mereka


diatas sofa semalam.


Namun sekuat tenaga Aslan tahan. Cukup dengan ibu


jarinya saja ia menghapus sambal itu.


“Nggak sakit kok Mas, malah rasanya enak banget,”


jujur Kiran, maklum bawaan bayi.


Siang itu, Kiran benar-benar habis dua porsi ayam


bakar.


Drt drt drt


Ponsel Widya diatas meja bergetar,  dilihatnya ada pnggilan masuk dari sang ayah.


Tanpa menunda, Widya langsung menjawab panggilan


Mengisyartatkan jika panggilan telepon itu mengabarkan berita yang kurang baik.


“Baik Yah, Wid kesana sekarang,” jawab Widya lalu


memutusa sambungan telepon itu.


“Mas, ibu masuk rumah sakit, kita kesana sekarang


ya?” cemas Widya berucap pada sang kekasih. Kedua netra Agung langsung membola


dan ia segara bangkit dari duduknya.


“Lan aku duluan ya?” pamit Agung dan Aslan


mengangguk, ia dan Kiran pun mendengar saat Widya mengatakan jika ibunya kini


masuk ke rumah skait. Kiran pun merasa cemas pula.


Kiran dan Aslan terus memperhatikan kepergian dua


sahabatnya itu, hingga benar-benar tak terlihat dari pandangan mereka.


“Kenapa ya Mas?” tanya Kiran dan Aslan pun tak tahu


apa jawabannya.


“Kita doakan saja semuanya baik-baik saja, kita


doakan semua penyakit ibu Ana diangkat oleh Allah,” jawab Aslan dan Kiran


mengamini. Ibu Ana adalah ibu Widya, dan ayahnya bernama Fadli.


Tak berapa lama kemudian, Aslan dan Kiran pun


meninggalkan cafe itu juga. Kiran pulang ke rumah, sementar Aslan kembali ke


kantornya.


****


Di dalam mobil menuju rumah sakit, widya terus


merasa cemas. Ia bahkan berulang kali melihat keadaan jalanan yang macet,

__ADS_1


merasa gelisah sendiri ingin segera sampai di rumah sakit.


“Sayang, tenanglah,” ucap Agung, ia bahkan


menggenggam salah satu tangan sang kekasih yang terasa sangat dingin.


“Dari semalam ibu memang tidak enak badan Mas, tapi


aku tidak menyangka jika harus sampai dibawa ke rumah sakit,” jawab Widya


dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


“Kita doakan ibu ya, semoga semuanya baik-baik saja,


kamu jangan cemas seperti itu, kasihan ibu jika melihat wajah gelisahmu,” jelas


Agung lagi, mencoba menenangkan.


Dan Widya hanya mampu bergeming, dalam hatinya ia


terus berdoa agar keadaan sang ibu kembali pulih. Sehat seperti sedia kala


hingga bisa menyaksikannya menikah kelak.


20 menit kemudian, Agung dan Widya sampai di rumah


sakit dimana sang ibu dirawat, langkah keduanya tergesa, menuju kamar Ana


dirawat.


Pintu kamar itu nampak tak terkunci rapat, Widya dan


Agung segera masuk kesana tanpa mengucapkan salam.


“Bu,” panggil Widya lirih, apalagi saat melihat sang


ibu yang sudah terbaring lemah, pernafasannya dibantu dengan oksigen dan ia


mendapatkan suntikan infus.


Seketika itu juga, air mata Widya luruh, sementara


air mata sang ayah sudah mengering.


Tangan Ana bergerak, meminta sang anak untuk mendekat.


Dan Widya pun langsung bergegas menghampiri,


digenggamnya erat tangan sang ibu, tangan yang terasa begitu hangat.


“Wid disini Bu,” ucap Widya dengan derai air mata,


suaranya serak menahan sesak.


Ana sedikit mengulas senyum, namun sekujur tubuhnya


terasa amat sangat sakit.


Widya mendekat, kala melihat sang ibu yang berucap


namun seperti berbisik.


“Wid, ibu ingin melihatmu menikah Nak,” ucap Ana


dengan suaranya yang serupa hembusan angin, sangat pelan.


Kedua netra Widya membola, kenapa ucapan sang ibu


seperti sebuah keinginan terakhir. Widya menggeleng, Tidak! Jeritnya didalam


hati.


“Iya Bu, ibu pasti akan lihat Wid menikah dengan mas


Agung, ibu pasti sembuh,” jelas Widya, dengan menghapus air matanya sendiri.


Dan Ana menggelengkan kepalanya.


Agung dan Fadli pun mengerti keinginan Ana itu, ia


ingin melihat Widya menikah saat ini juga.


Agung, menggerakkan tangannya menyentuh bahu sang


kekasih, hingga Widya menoleh kearahnya,.


“Ayo kita menikah sekarang,” ajak Agung dengan


suaranya yang lantang.

__ADS_1


__ADS_2