Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 141 - Ide Cemerlang


__ADS_3

Pagi ini, Alana dan Altar kembali pergi ke sekolah


bersama. Tapi ada yang berbeda dari keduanya, seolah canggung menguasai


mereka.


Baik Alana ataupun Altar,  mereka sudah sama-sama tahu tentang perjodohan itu.


“Pakai helm mu,” titah Altar, biasanya Altar akan


membantu Alana untuk menggunakan dan melepas helm itu, namun pagi ini, Altar


hanya mengulurkannya dengan tatapan yang berpaling entah kemana.


Melihat perubahan itu, Alana hanya mencebik. Bukannya senang melihat penolakan dirinya, Alana malah merasa kesal. Seolah Altar begitu tak suka dengan perjodohan ini, dan ternyata, itu sedikit melukai harga dirinya


sebagai seorang wanita tercantik di sekolah.


Tanpa banyak berdebat, Alana segera memaki helm itu dan menguncinya dengan kasar. Lalu naik di atas motor itu dan diam seribu bahasa


hingga mereka berdua sampai di persimpangan akhir sekolah mereka. Berhenti tepat


ditempat biasa Alana meminta turun.


Namun hari ini, entah kenapa rasanya Alana enggan sekali untuk beranjak dari atas motor itu. Tapi demi harga dirinya yang selangit, akhirnya dengan terpaksa, Alana mulai turun juga. Membuka helm itu sendiri dan memberikannya kepada Altar.


Berulang kali Alana menarik dan menghembuskan


napasnya pelan, saat melihat Altar yang sudah kembali berjalan menjauhi dirinya.


“Dasar!” umpat alana geram. Dengan langkah kaki yang di hentak-hentakkan  kasar, Alana mulai berjalan, menuju sekolahnya yang sudah nampak di pelupuk mata.


Saat jam istirahat tiba, Alana dan Sisil


mencari-cari keberadaan Altar. Alana ingin memperjelas hubungan diantara


mereka, dan Sisil menemani sahabatnya itu.


Mulai dari lapangan basket, lapangan bola hingga ke kantin, mereka tak juga menemukan Altar. Untunglah, saat itu mereka bertemu dengan Suga, salah satu sahabat Altar yang diketahui oleh Alana dan Sisil.


Sedikit berlari dengan berteriak, Alana


memanggil-manggil nama Suga.


Yang dipanggil langsung menoleh dan berbalik, membawa satu paket minuman ditangannya, berisi 6 gelas cup.


Suga, melihat ada dua gadis cantik yang memanggil langsung tersenyum lebar.


“Ada apa?” tanya Suga langsung saat Alana dan Sisil sudah sampai dihadapannya, lengkap dengan napas yang ngos-ngosan.


“Dimana Altar?” tanya Alana langsung hingga membuat senyum Suga hilang seketika, ternyata Alana dan Sisil bukan mencarinya, melainkan sang sahabat Altar.


“Ada di atas, ayo kesana aku juga mau kesana,” jawab Suga sekaligus mengajak kedua gadis ini untuk naik ke atap gedung sekolah yang


paling tinggi.


Di sana, memang menjadi tempat yang sering digunakan untuk anak-anak nakal berkumpul.


Dengan bergandengan tangan, Alana dan Sisil mulai mengikuti langkah Suga, mengekor dengan tertib.


Hingga akhirnya mereka semua sampai di atap sekolah itu, tak hanya ada Altar di sana, namun juga keempat temannya, Rizky, Billar, Rafi dan Ahmad.


Altar yang melihat kedatangan Alana di sana langsung mengentikan tawanya, seolah adanya Alana dan Sisil di sana mengganggu kebersamaan mereka.


“Ada apa?” tanya Altar saat kedua gadis unyu-unyu ini ada disini, pakaian rapi dengan wajah polos. Sangat tidak cocok bergabung dengan mereka.

__ADS_1


“Aku mau bicara, penting.” Jawab Alana tak kalah


ketus.


“Ya Sudah, bicara saja.”


Mendengar itu, Alana mengeram kesal. Mana bisa


membicarakan hal pribadi disini, disaat semua mata dan telinga teman-temannya


itu bisa melihat dan mendengar. Alana, butuh privasi.


Sisil pun, ikut merasa geram juga.


“Ku bilangin  tante Wid kamu,” ancam Sisil dengan menunjuk nunjuk Altar. Entah hal apa yang akan diadukan Sisil, namun kata-kata itu benar-benar mengganggu Altar.


Geram, Altar pun akhirnya menarik tangan Alana dan membawanya jauh dari teman-teman, dan Sisil masih setia mengekori Alana dan Altar.


Mereka berhenti di pintu atap itu, pintu yang


langsung terhubung dengan tangga turun.


“Kenapa kamu ikut kesini? Bukannya Alana hanya ingin bicara berdua denganku?” tanya Altar pada Sisil, bertanya dengan kesal.


Sisil mencebik, tak peduli. Toh mereka bertiga


memang sering berdebat seperti itu, pokoknya hanya kaur jika sedang berkumpul


dengan para orang tua.


“Kalau aku pengecualian,” jawab Sisil lalu


menjulurkan lidahnya.


Melihat itu, Altar sampai mengelus dadanya, agar


“Ada apa?” tanya Altar ketus, kini ia bertanya pada Alana, dengan tangan yang masih menggenggam erat pergelangan tangan kanan


Alana.


“Kamu sudah tahu kan tentang perjodohan kita?”


“Sudah,” jawab Altar cepat, tidak butuh waktu untuk berpikir.


“Kamu juga tahu kan, jika kita diberi kesempatan


untuk lebih dekat sampai kelulusan nanti?”


“Tahu, lalu apa mau mu?” tanya Altar sengit.


Entah kenapa, melihat Altar yang marah-marah seperti itu, nyali Alana jadi menciut.


“Aku mau kita sama-sama menolak perjodohan itu, jadi kita tidak perlu repot untuk saling mengenal hingga kelulusan tiba,” jawab Alana dengan suara yang lirih, Sisil yang mendengar kecilnya suara Alana itupun langsung memukul lengan kiri Alana, lalu membisikan sesuatu.


“Yang tegas, sangar, mengerikan, biar Altar nurut,” bisik Sisil, menggebu.


Dan mendengar itu, Alana langsung mengembalikan keberaniannya.


“Denger nggak?” tanya Alana sedikit berteriak,


dengan tatapan tajamnya bak mata elang.


Altar, lagi-lagi menarik dan menghembuskan napasnya pelan.


“Al, perjodohan itu permintaan ayah dan ibuku, Juga ayah dan ibumu. Aku tidak bisa menolak keinginan mereka. “ balas Altar setelah cukup lama terdiam.

__ADS_1


Mendengar itu, kedua netra Alana dan Sisil membola.


“Eh eh eh, mana bisa seperti itu, bukannya kamu


sudah punya kekasih? Itu yang anak kelas satu itu, iya kan?” Sisil Protes, dengan raut wajah tidak terima, enak saja Altar tetap menerima perjodohan ini namun tetap berhubungan dengan siswi lain pula.


Bajigur! Batagor! Bakso setan! Umpat Sisil di dalam hati.


“Kata siapa aku punya kekasih?” tanya Altar


pula,  tak terima.


“kataku!” balas Sisil sengit.


Alana yang melihat kedua sahabatnya ini jadi bingung sendiri, kenapa malah mereka yang berdebat, sementara ia malah dikacangin.


“Ya sudah, kalau begitu aku akan memutuskan dia,


puas?” Setelah mengatakan itu, Altar segera melepas genggamannya pada tangan


Alana dan berlalu meninggalkan kedua gadis ini.


Alana dan sisil lalu saling pandang, dengan kedua


mata yang sama-sama terbelalak.


“Fucek Boy!” teriak Sisil dan masih didengar jelas


oleh Altar.


Namun Altar tak merasa kesal sedikitpun, ia malah mengulum senyumnya.


Geram, akhirnya Alana dan Sisil pun segera pergi dari sana, menuruni anak tangga dengan mulut  yang sama-sama mengumpat, hingga membuat telinga Altar berdengung hebat.


“Begitulah Altar, mana bisa dia diajak bicara


baik-baik,” kesal Alana, nyatanya negosiasi ini tak berjalan dengan baik.


Hancur sudah harapan yang sudah ia bayangkan sejak semalam.


“Ku pikir tidak seperti ini Al, aku tidak menyangka,


ternyata Altar memang sangat menyebalkan, menyebalkan level maksimal,” jawab Sisil pula, sama kesalnya.


“Lalu aku harus bagaimana Sil?” rengek Alana lagi, hanya kepada Sisi lah ia bisa meminta pertolongan.


“Adukan saja pada ibumu dan tante Wid, jika Altar sudah memiliki pacar.”


“Jangan begitu, kita sudah sepakat untuk tidak


saling mengadu pada orang tua.”


“Iya ya.” Sisil, ikut putus asa.


Sejenak, hanya ada keheningan diantara keduanya hingga mereka sampai dilantai dasar.


Namun seketika Sisil menghentikan langkahnya dan menahan lengan Alana, mendadak Sisil menemukan ide cemerlang.


Dengan tersenyum menyeringai, ia mulai membisikkan rencananya.


“Kita buat, Altar  sendiri yang membatalkan perjodohan ini, kamu harus berubah jadi gadis


yang paling dibenci Altar,” bisik Sisil.


Mendengar itu, senyum Alana kembali terbit.

__ADS_1


Seolah udara segar baru saja menerpa wajahnya. Sisil dan Alana tahu betul, Altar sangat tidak suka dengan gadis yang keganjenan, dandan menor dan menggunakan pakaian seksi.


“Okelah!” balas Alana antusias.


__ADS_2