
Akhirnya setelah hari itu, Anja dan Jani sepakat untuk membuat jadwal les privat mereka secara terpisah.
Sesuai saran dari sang kakak, Zayn. Lelaki itu mengatakan, bahwa keduanya membutuhkan privasi, jika memang sama-sama ingin mengejar Aydan.
Dan Anja serta Jani membenarkan hal itu. Malam hari setelah pulang les dengan si tampan yang pintar, Aydan. Mereka langsung membuat jadwal, seminggu sekali secara bergantian.
Minggu ini, bagian Anja yang akan berguru pada suhunya ilmu manajemen. Dan Minggu berikutnya baru Jani. Begitu seterusnya.
"Awas lho Anja, kamu harus sportif, nggak boleh jelek-jelekin aku di depan Aydan." Cetus Jani mengingatkan, setelah mereka merapikan kertas yang sempat mereka pakai untuk menulis jadwal.
Di kamar Anja, mereka mengerjakan itu semua.
"Emang kamu udah jelek, apalagi yang mau aku jelek-jelekin?" Cibir Anja meledek seraya menjulurkan lidah, dan di balas lemparan bantal oleh Jani.
Tapi bukannya marah, Anja justru terkekeh. Kekehan keras yang membuat Jani merasa geram.
Lagi pula, mereka kan sudah sepakat untuk mendapatkan Aydan secara sehat, mana mungkin ia menjelek-jelekkan Jani di depan Aydan.
Bahkan Anja tidak bisa melupakan kalau Jani itu adiknya. Saudara kembarnya.
Dan kekehan itu berhenti, begitu Jani menutup pintu kamar Anja dengan keras, tanda kesal.
"Dih baperan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, Anja benar-benar datang sendiri. Duduk di depan perpustakaan kampus menunggu kedatangan Aydan.
Entah ada urusan apa, lelaki itu bilang akan datang sedikit terlambat. Hingga menunggu sekitar 10 menit, tubuh tegap dengan wajah tampan itu dapat Anja lihat.
Melangkah ke arahnya dengan seutas senyum yang terlihat sangat mempesona.
Jantung gadis itu memompa lebih cepat, getaran itu semakin dahsyat begitu Aydan sudah sukses berdiri di depannya.
Merasa jika saat ini ia bukannya ingin les privat, melainkan kencan romantis dengan pria idaman.
"Kok sendiri? Kembaran kamu kemana?" Tanya Aydan sambil celingukan, lelaki itu tak menyebutkan nama Anja, karena dia memang belum terlalu hafal yang mana Anja dan mana Jani.
__ADS_1
Jadilah, dia hanya menyebutnya kembaran. Karena mereka benar-benar tak bisa dibedakan.
Takut salah jika sampai menyebutkan nama.
"Nanti aku jelasin." Ucap Anja seraya mengajak lelaki itu masuk.
Aydan menghela nafas, kemudian mengangguk, melangkah mengekor di belakang Anja.
Seperti biasa, lelaki itu mengeluarkan buku-buku pelajaran yang ia bawa dari dalam tas. Lalu matanya tak sengaja menangkap Anja yang tengah menatapnya semakin lekat.
Lebih-lebih dari kemarin, sungguh mengerikan.
"Aydan." Panggil Anja lembut, Membuat Aydan menghentikan aktivitasnya. Semakin mengernyit kebingungan.
"Aku sama dia sepakat buat les privat sendiri-sendiri, semalem aku sama dia juga udah bikin jadwal. Kamu nggak apa-apa kan?" Jelas Anja menjawab kernyitan di dahi Aydan.
Padahal lelaki itu mengernyit karena bingung, dengan arti tatapan mata gadis di depannya.
Pelan, lelaki itu mengangguk. "Mungkin kalian bisa lebih fokus dengan strategi seperti itu." Aydan menebak tujuan mereka.
Senyum Anja mengembang. "Betul, supaya kita bisa lebih fokus untuk_"
Anja langsung mengatupkan bibirnya, lalu menepuk-nepuk pelan, hampir saja ia akan mengatakan supaya fokus mendekati Aydan. Bersyukur, ia langsung sadar.
"Fokus belajar maksud aku." Anja buru-buru menjelaskan lalu tersenyum kikuk.
Aydan kembali manggut-manggut, meski ia masih merasa aneh dengan tingkah Anja.
Gelagat, seperti orang yang tengah kasmaran.
Lalu, tanpa apapun lagi. Mereka memulai pelajaran. Seperti biasa, lelaki itu selalu menjelaskan lebih rinci dan lebih mudah dipahami.
Hingga otak Anja yang sedikit bebal, mampu menyerap apa yang tengah ia pelajari. Mereka tidak salah memilih Aydan sebagai guru privat, dia benar-benar luar biasa.
Aydan memberikan gadis itu beberapa soal. Sambil menulis jawaban, Anja menyempatkan diri untuk mengobrol secara pribadi dengan Aydan.
Ia ingin tahu keseharian Aydan di rumah, ia ingin tahu apa saja kesukaan lelaki itu, dalam masakan, hobby, dan apapun itu.
__ADS_1
Anja ingin mengenal Aydan lebih jauh. Jauh hingga ke dasar hati lelaki itu.
"Aydan, makanan kesukaan kamu apa?" Tanya Anja, sesekali melirik guru privatnya itu, ingin melihat reaksi wajah Aydan.
Sedangkan tangannya sibuk mencoret-coret buku. Menulis jawaban yang menurutnya paling gampang.
"Semuanya aku makan, dan semuanya aku suka." Balas Aydan cepat, karena itu adalah yang di ajarkan keluarganya. Meski sang ibu kerap pilih-pilih makanan, tetapi Kiran selalu mengajarkan, untuk tidak menghina makanan yang kita makan.
Apalagi sampai membuang-buang. Mubazir, masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan.
"Kalau begitu, nanti sekali-kali aku bawain masakan ibu aku yah. Masakan ibu aku enak lho." Tawar Anja dengan riang, ia juga akan membujuk sang ibu untuk mulai mengajarinya memasak.
Supaya bisa ia persembahkan untuk lelaki yang ia suka.
"Oh ya, kamu tahu nggak bedanya aku sama Jani itu apa?" Tanya Anja, gadis itu berharap Aydan mengangguk. Dan mengenali dirinya.
Namun, apa mau di kata. Saat sesuatu itu tak sesuai dengan harapan kita. Dengan jujur Aydan menggelengkan kepala.
"Jujur, aku nggak tahu." Balas lelaki itu sedikit kikuk. Ia memang benar-benar tidak bisa membedakan keduanya. Karena wajah Anja dan Jani memang sangat identik.
Orang-orang juga pasti berpikir begitu, batin Aydan.
Mengetahui fakta itu, Anja menghela nafasnya kecewa. Ia pikir selama ini Aydan bisa membedakan antara dirinya dan sang adik. Ternyata ia salah.
"Aku malah ngiranya kamu Jani." Sambung Aydan. Dan makin kecewalah hati Anja.
"Aku Anja, Aydan." Merasa tak terima dirinya dikira Jani. Akhirnya supaya Aydan bisa membedakan antara dirinya dengan sang adik.
Anja menjelaskan kalau tahi lalat di bawah bibirnya adalah salah satu tanda pembeda mereka.
"Nih, kamu lihatkan ada tahi lalat di bawah bibir aku." Anja menunjuk bulatan kecil itu agar Aydan memperhatikan.
Lelaki itu menurut, melihat ke arah bibir gadis itu. Memang benar ada tahi lalat kecil disana.
"Ini cuma aku yang punya. Kalo Jani nggak ada. Jadi, untuk membedakan aku sama dia kamu harus liat tahi lalat ini." Jelas Anja dengan senyum yang mengembang.
Mendengar itu, Aydan justru garuk-garuk kepala.
__ADS_1
Berarti buat bedain mereka, aku harus liatin bibir mereka dulu gitu?
Aish, hanya membayangkannya saja, Aydan sudah merasa jadi laki-laki mesuum.