Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 143 - Ini Adalah Kekasihku


__ADS_3

“Ayo naik!” titah Altar, seraya menarik lengan Alana untuk segera naik ke atas motornya.


Alana hanya bisa menurut, seperti kerbau yang


di cucuk hidungnya.


Di atas motor yang melaju dengan kecepatan sedang itu, Alana  dan Altar sama-sama terdiam. Seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing.  Altar menunjukkan wajah kesalnya sementara Alana hanya termenung.


Altar kesal, karena Alana malah mempersulit


semuanya. Altar tahu, Alana ingin membuat hubungan mereka jadi jelas, tapi bagi Altar jelas bukan berarti jadi lebih baik. Jika Alana ingin mereka menjadi kekasih, maka suatu saat nanti malah bisa putus. Altar, tak menginginkan hal itu. Ia hanya ingin menyakini satu hal, kelak ia akan menikah dengan Alana, titik.


Perempuan memang seperti itu, semuanya dibikin


rumit. Menyebalkan! Umpat Altar di dalam hati.


Meski kesal, Altar masih menarik satu tangan Alana yang menyentuh pinggangnya untuk berpegangan lebih kencang.


Alana yang sedang gamang pun tak peduli pada apa yang dilakukan Altar, ia hanya terus menuruti semuanya, semakin memeluk erat Altar dari belakang, saat ini ia duduk menyamping di atas motor itu.


Bagaimana ini? Batin Alana, bingung.


Kebingungan yang ia bawa sampai ke dalam kelasnya.


“Al!” panggil Sisil sedikit membentak, selama jam


pelajaran tadi, Alana selalu saja melamun dan tidak fokus. Hal itu, sangat mengganggu Sisil, karena ia jadi ikut-ikutan tak fokus pula.


“Apa rencananya gagal? Kenapa mukamu masam begitu,” tanya Sisil, yang wajahnya ikut-ikutan masam juga.


Alana tak menjawab apapun, hanya menghembuskan napasnya berat.


Melihat itu, Sisil sudah yakin 100 persen, jika


rencana mereka memang gagal.


“Bagaimana bisa? Altar bicara apa padamu?” tanya Sisil bertubi dan menggebu, karena sesungguhnya iapun tak setuju jika Alana harus menikah dengan Altar. Alana, harus mendapatkan pasangan yang sempurna, sama seperti kesempurnaan yang dimiliki Alana, cantik dan pintar. Berarti jodohnya harus tapan dan cerdas. Sementara Altar? Tampan iya. Tapi otaknya otak udang.


“Kata Altar, tidak penting saling mengenal.


Bagaimana pun aku dan bagaimana pun kamu, nanti kita akan tetap menikah,” jawab Alana, seraya berbicara menirukan gaya Altar saat bicara, namun sedikit ia ubah dengan sedikit mendayu-dayu.


Sisil, sampai terbahak dibuatnya.

__ADS_1


Kedua gadis ini lalu bersepakat untuk kembali


menemui Altar di jam istirahat. Tak repot-repot mencari seperti hari kemarin, kini Alana dan Sisil langsung naik ke atap sekolah.


Dan benar saja, Altar dan kelima temannya lagi-lagi berkumpul disini.


Entah apa yang mereka lakukan, hanya


membuang-buang waktu, pikir Alana dan Sisil kompak.


Suga, langsung menepuk bahu Altar saat melihat Alana dan Sisil datang ke sana.


“Enak banget Al, tiap hari disamperin cewek cantik,” seloroh Raffi dengan gayanya yang selengekan.


“Belum tentu Alana dan Sisil mencari Altar jangan-jangan mereka mencari mu,” timpal Ahmad lalu terkekeh, disusul dengan kekehan teman-temannya yang lain.


Tawa mereka semua mereda, saat Sisil memekik


memanggil nama Altar.


“ALTAR!! SINI!” pekik Sisil, seraya melambaikan


tangannya, memanggil.


Dengan malas, Altar pun menurut. Membawa  segelas cup minuman Boba, ia menghampiri Alana


dan Sisil.


“Ada apa  lagi sih? Ribet banget ya kalian berdua,” keluh Altar ketika sudah sampai dihadapan kedua gadis itu. Mereka memang sering bertengkar, namun sesungguhnya didalam hati ketiganya terselip kasih sayang yang tulus.


Belum sempat Alana dan Sisil menjawab, tiba-tiba ada seorang siswi pula yang datang ke atap sana.


“Kak Altar, ini makan siangnya,” ucap siswi itu,


menyela pembicaraan ketiga seniornya ini.


Sisil dan Alana merasa tak asing, siswi inilah yang


mereka yakini sebagai kekasih Altar saat ini. Tapi sungguh, baik Alana ataupun Sisil tidak tahu siapa namanya.


Melihat kedatangan Amora, Altar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menggaruk dengan kesal.


Sementara Alana, malah berdecih dengan kuat. Hingga membuat semua orang mampu mendengarnya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, jiwa barbar Alana muncul. Ia bahkan mengangkat tangan kanannya dan membuat gerakan memotong leher dihadapan Altar.


Lalu Sisil, ikut ikut pula.


“Dasar fucek boy! Enak saja mau menikah dengan Alana tapi mau juga dengan perempuan ini!” bisik Sisil sengit, tepat ditelinga Altar.


“Wajar sana kamu menolak saat Alana meminta hubungan kalian diperjelas, jadi ini alasannya? cih cih cih,” bisik Sisil lagi, geram.


“Ayo Al, kita pergi!” ajak Sisil pada Alana dengan suaranya yang lantang, tidak  berbisik-bisik lagi.


Amora yang mendengar jika Alana dan Sisil akan


segera pergi, ia lalu menyingkir, memberi jalan pada kedua seniornya untuk lewat.


Namun baru selangkah Alana berjalan, Altar langsung mencengkram kuat salah satu  pergelangan tangannya.


“Sakit Al!” keluh Alana, lengkap dengan tatapannya yang tajam.


Altar tak mempedulikan keluh kesah Alana, malah menatap kearah Amora dengan tatapan sengit.


“Amora, kamu tahu dia kan? Ini adalah kekasihku,


A-La-Na. Sekarang pergilah! Dan satu lagi, aku tidak pernah memintamu untuk membawakan ku bekal makan siang!” ketus Altar pada adik tingkatnya itu.


Sejak lama, Amora selalu mendekati Altar. Hingga


banyak yang mengira jika Amora adalah salah satu kekasih pria berandal itu.


Mendengar ucapan Altar, Amora langsung menangis saat itu juga, ia lalu buru-buru pergi dan menuruni anak tangga dengan tergesa.


Sementara Alana dan Sisil, kedua netra gadis-gadis ini membola dengan begitu lebarnya.


Namun tak lama kemudian, Alana dan Sisil kompak


tersenyum menyeringai. Jika seperti ini, mereka berdua bisa melanjutkan misi-misi yang sudah mereka buat. Misi, untuk membuat Altar membenci Alana dan akhirnya Altar lah yang menggagalkan perjodohan mereka.


Altar, langsung mengusap wajah Alana dan Sisil bergantian, saat ia melihat kedua gadis ini malah saling tatap dengan senyum menyeringai, seolah mereka tengah merencanakan sesuatu.


"Berhentilah membuat ulah! nih minum!" ucap Altar, lalu memberikan sisa minumannya kepada Alana, lalu segera berlalu meninggalkan kedua gadis ini. Kembali berkumpul dengan teman-temannya.


Sisil yang melihat minuman boba itu seketika meneguk ludahnya, naik ke atas sini memang membuatnya haus.


Dan ternyata, Alana juga haus.

__ADS_1


Jadilah kedua gadis ini turun ke lantai dasar dengan saling bergantian meminum boba itu.


__ADS_2