
Saat itu Kiran pulang lebih dulu, karena ia harus menyusui Alana. Sementara Widya masih harus dirawat di rumah sakit.
Paling cepat, semalam saja ia dirawat.
Jika besok pagi Widya tak menunjukkan gejala-gejala yang aneh, ia diperbolehkan pulang. Itu karena, Widya mendapatkan beberapa jahitan di jalan lahir baby Altar tadi.
Jam 2 siang, Kiran baru sampai di rumah. Untunglah, ia punya persediaan Asi untuk Alana yang disimpan di lemari pendingin.
Tadi, Kiran juga sudah menghubungi sang mertua jika ia menemani Widya untuk melahirkan.
Yuli, yang merasa iba pada nasib tetangganya itupun mengizinkan Kiran untuk menunggu, karena kini Widya sudah tak memiliki ibu lagi yang bisa menemaninya.
"Umi!" panggil Kiran, ketika sampai di ruang tengah. Memanggil dengan suara yang sedikit meninggi.
Dari arah kamarnya, Yuli datang. Ia juga membuat isyarat Kiran untuk diam, Jangan berteriak-teriak.
"Maaf Umi," pinta Kiran sungguh-sungguh. Jika mertuanya meminta diam seperti itu pasti Alana dan Aydan tidur di kamar bawah, kamar Yuli tepatnya.
"Alana dan Aydan tidur?" tanya Kiran memastikan dan Yuli menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana Widya? semuanya baik-baik saja kan?" tanya Yuli pula, kini mereka berdua duduk di sofa ruangan itu.
"Alhamdulilah Umi, Mbak Wid dan bayinya baik-baik saja," jelas Kiran kemudian.
Kiran juga menceritakan, jika malam ini Widya diharuskan menginap dulu di rumah sakit, melewati masa observasi. Besok, saat dinyatakan rak ada gejala apapun, Widya sudah diperbolehkan pulang.
Yuli mengangguk. Dalam hatinya, ia mendoakan untuk kesehatan Widya dan juga anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari setelah suaminya pulang kerja.
Kiran kembali pergi ke rumah sakit, Aslan juga ingin menjenguk sahabatnya itu, melihat sang jabang bayi yang baru lahir ke dunia.
Aslan dan Kiran pergi bersama Alana, sementara Aydan tinggal di rumah.
Saat diajak Aydan tak mau ikut, mengatakan jika ia akan berada di rumah saja, bersama sang nenek.
__ADS_1
Seperti biasa, sebelum benar-benar pergi, Kiran pasti akan menceramahi anaknya itu. Jangan buat rumah berantakan, ucapnya berulang kali.
Dan kini, Kiran dan Aslan sudah berada di dalam mobil, mobil yang melaju di tengah-tengah Jalanan kota Jakarta, menuju rumah sakit dimana Widya di rawat.
Drt drt drt
Ponsel Kiran bergetar.
Mendengar itupun, Kiran langsung bergegas merogoh ponselnya di dalam tas. Lalu melihat ada satu panggilan dari sang sahabat, Dinda.
"Assalamualaikum Din," jawab Dinda, salah satu tangannya memegang ponsel yang ditempelkannya di telinga.
Satu tangannya yang lain sedang menggendong Alana.
"Walaikumsalam Ran, kamu sudah pergi? aku baru mau ke keluar rumah," ucap Dinda diujung sana.
Mereka memang sudah membuat janji, untuk bersama-sama menjenguk Widya sore ini.
"Sudah Din, mungkin 15 menit lagi sampai," jawab Kiran, seraya menatap jalanan dan menerka-nerka mereka sudah sampai dimana.
Tak lama kemudian panggilan itu terputus dan Kiran segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Iya sayang," jawab Kiran kemudian.
Sesaat, suasana hening, hingga akhirnya Aslan kembali buka suara.
"Aku tidak menyangka, jika akhirnya di masa tua kita, kita semua bersahabat," ucap Aslan, tersenyum dan menoleh ke arah istrinya sejenak. Lalu kembali menatap lurus, memperhatikan jalanan.
Mendengar Kiran tersenyum pula, membenarkan ucapan sang suami. Jika dilihat dari masa lalu, rasanya tidak mungkin jika kini mereka semua bisa berteman dengan baik.
Kiran, sejak awal tak menyukai Dinda. Seorang wanita yang dianggapnya menjadi orang ketiga antara hubungannya dengan Alfath dulu.
Dan Aslan, dengan Agung pun tidak memiliki hubungan yang baik di masa lalu.
Aslan dan Alfath pun pernah berselisih mengenai kiran.
Namun keihklasan, meleburkan semua kebencian itu. Hingga saat ini mereka bisa bersahabat dengan baik.
__ADS_1
"Iya Mas, aku bahkan masih tidak menyangka jika saat ini aku menjadi istrimu. Kalau tahu mas adalah jodohku, aku sudah minta dinikahi sejak lulus kuliah dulu," jawab Kiran kemudian lengkap pula dengan kekehannya.
Aslan pun ikut terkekeh, kembali menatap istrinya saat mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Kamu tidak menyangka akan jadi istriku?" tanya Aslan dan Kiran mengangguk.
"Aku akan membuatmu menyangka akan hal itu," balas Aslan kemudian, lalu mengikis jarak dan menciumi bibir sang istri.
Kiran membuka mulutnya dan membalas ciuman itu. Ciuman yang membuat kedua napas mereka tersenggal ketika melepasnya.
"Kamu adalah istriku," ucap Aslan setelag ciuman itu ia lepas.
Kiran terkekeh dan mendorong dada suaminya untuk menjauh.
"Mas kebiasaan ih! di mobil cium-cium terus, kalau di rumah diam-diam saja," jawab Kiran seolah mengeluh, padahal ia hanya ingin menormalkan debaran hatinya.
"Kalau di rumah aku takut tidak bisa mengendalikan diri, apalagi sekarang Alana tidur bersama kita. Aku takut mengganggu tidurnya," jawab Aslan jujur.
Selesai masa nifas Kiran, mereka memang sering melakukan hubungan itu di dalam kamar mandi. Saat Alana mereka titipkan pada mbak Desi ataupun Umi.
Jika malam-malam mereka melakukan itu, Alana pasti bangun dan berakhir Aslan yang menanggung semuanya, sendirian.
Mendengar itu Kiran terkekeh.
"Makanya pelan-pelan," saran Kiran.
"Di awal mungkin aku bisa pelan, tapi lama-lama mana bisa aku pelan," rengek Aslan.
Suami istri ini terus membicarakan hal-hal ambigu. Selama perjalanan mereka menuju rumah sakit, obrolan itu tak pernah putus-putus.
Seolah mereka sedang membuat kesepakatan penting untuk kelancaran rumah tangga mereka.
Hingga tanpa sadar, kini mobil mereka sudah terpakir di area parkir rumah sakit.
"Aku tunggu nanti malam," final Aslan mengakhiri pembicaraannya dengan sang istri.
Kata Aslan, jika ingin hubungan mereka bisa berjalan pelan, maka Kiranlah yang mengambil alih kendali. Namun entah kenapa, Kiran merasa di bodoh-bodohi oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Mendengar itupun Kiran mencebik, lalu segera turun dari dalam mobil. Dengan berharap, semoga suaminya itu melupakan pembicaraan mereka tadi.