Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 153 - Jangan Mempersulit


__ADS_3

Alana, turun di depan gerbang rumahnya dari dalam mobil


Sisil dan Akbar.


Ia masih berdiri di sana melihat mobil sahabatnya itu mulai menjauh. Dan ketika sudah tak nampak lagi, Alana pun masih setia berdiri di sana.


Tak langsung masuk ke dalam rumah, Alana malah melongok, menatap kearah rumah Altar.


Berharap jika ia bisa sebentar saja melihat wajah menyebalkan Altar itu.


Jika seperti ini, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan itu sungguh tidak nyaman.


Cukup lama berdiri di sana, dan tak ada tanda jika Altar akan keluar.


Dengan langkahnya yang lemah, Alana pun terpaksa masuk ke dalam rumahnya sendiri.


Dengan wajahnya yang ditekuk, ia menghampiri ayah dan ibunya yang tengah duduk di ruang tengah.


Duduk dengan sang ibu yang bersandar didada sang ayah, menonton siaran televisi.


Alana duduk disalah satu sofa dengan tatapannya yang kosong.


"Kamu kenapa?" tanya Kiran, heran.


Biasanya, anak satunya ini sangat berisik. Satu mulut Alana, sama seperti satu pasar.


Alana tak menjawab apapun, ia malah menghembuskan napasnya berat.


Hingga membuat ayah dan ibunya saling pandang.


"Al, kamu kenapa Nak?" tanya Aslan pula, yang mulai buka suara.


Mendengar sang ayah bicara, Alana pun mengangkat wajahnya yang tertunduk dan mulai menatap sang ayah.


"Tidak tahu Yah, aku sedih, tapi tidak tahu apa penyebabnya," jawab Alana, jujur. Dan Kiran langsung tertawa keras.


Suaminya sampai harus mencubit perut istrinya itu agar tawanya mereda.


Namun tawa Kiran tak benar-benar surut, diganti dengan kekehan yang tertahan.


"Puber," bisik Kiran pada sang suami, dan Aslan hanya menganggukkan kepalanya kecil.


"Hari ini nilai mu buruk?" tanya Aslan, mulai menyelidik.


Pelan, Alana menggeleng. Hari ini nilainya 98, bukan nilai yang buruk.


"Apa kamu bertengkar dengan Sisil?" tebak Kiran, dan lagi-lagi Alana menggelengkan kepalanya, pelan.

__ADS_1


"Kamu bertengkar dengan Altar?" Kini Aslan yang menebak.


Aslan dan Kiran lalu menatap lekat anaknya itu yang tidak menggeleng juga tidak mengangguk, hanya napasnya yang terdengar berat.


Melihat itu, Aslan dan Kiran lalu saling pandang, lalu sama-sama mengulum senyum.


"Al, cepat ganti bajumu dan makan, setelah itu antar makanan untuk ibu Wid, tadi ibu sudah buatkan bubur untuk ibu Wid, tapi belum sempat diantar," ucap Kiran, sedikit bohong.


Sebenarnya, tadi pagi Kiran juga sudah mengantar bubur itu. Ia hanya mencari-cari alasan agar anaknya itu bisa pergi ke rumah sebelah.


Dan mendengar tawaran sang ibu, wajah Alana langsung berubah antusias.


Murung yang tadi, menghilang entah kemana.


"Iya Bu," jawab Alana, patuh.


Ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan segera naik ke lantai 2, menuju kamarnya, mengganti baju dan makan siang.


"Mana Bu, buburnya?" tanya Alana, yang langsung bergegas menemui sang ibu di ruang tengah. Masih juga bercengkrama dengan sang suami si ruang keluarga itu.


"Kami siapkan sendiri ya, buburnya masih di atas kompor, hangatkan sebentar lalu masukkan ke dalam tuperwaer."


Tanpa banyak berdebat dan mengeluh seperti biasanya, Alana langsung bergegas menuruti titah sang ibu.


Hingga membuat Kiran dan Aslan kembali saling pandang dan terkekeh pelan.


"Iya Mas, alhamdulilah," sambung Kiran kemudian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Membawa sekotak tuperwear di tangannya, Alana berjalan tergesa menuju rumah Altar.


Ia begitu antusias untuk segera sampai di rumah sahabatnya itu.


Berulang kali menekan bell rumah itu dan akhirnya terbuka.


Altar, yang membukanya.


"Ada apa?" tanya Altar, dingin.


Hingga senyum Alana yang terkembang, surut seketika. Namin hatinya merasa lega, ketika mendengar suara dingin Altar itu.


"Ibu memintaku untuk mengantar ini," jawab Alana, seraya mengangkat satu tangannya yang membawa tuperwear.


Dan saat Altar ingin mengambil itu, Alana menariknya menjauh.


"Ibu memintaku untuk menyajikannya langsung untuk ibu Wid," ucap Kiran bohong.

__ADS_1


Hingga membuat Altar menghela napasnya, berat.


Tanpa menawarkan Alana untuk masuk, Altar segera berlalu dari sana dan membiarkan pintu terbuka.


Tanpa menunda, Alana pun segera masuk ke dalam rumah itu. Mencari keberadaan ibu Widya. Hingga dilihatnya sang ibu dan ayah kedua sedang berada di ruang tengah.


Altar, juga duduk di sana.


"Ibu Wid," sapa Alana antusias, dengan senyumnya yang terkembang lebar.


"Sayang, kamu kesini Nak?" jawab Widya, ia pun merentangkan satu tangannya meminta alana untuk mendekat.


Gadis yang dipanggil pun segera duduk disampingnya.


"Ibu memintaku untuk memberikan bubur ini pada ibu Wid," ucap alana, apa adanya.


"Ibu tunggu disini, aku akan menyiapkannya di mangkuk," timpal Alana pula.


Ia pun langsung bangkit dari duduknya dan menarik paksa Altar untuk mengikuti dirinya.


Altar yang tidak ingin ada keributan pun hanya bisa menurut, mengikuti langkah Alana itu.


Widya dan Agung yang melihat keduanya hanya tersenyum penuh syukur.


Mereka sangat bahagia, ketika mengetahui Altar dan Alana sudah semakin dekat. Bisa dipastikan, tak akan sulit bagi mereka untuk kelak menikah.


Sampai di dapur, Altar langsung menarik tangannya hingga terlepas dari tangan Alana.


"Apa mau mu?" hardik Altar, langsung.


Hingga membuat Alana kembali mencebik.


"Kenapa hari ini kamu menghindari aku, bukannya kita sudah sepakat untuk tidak saling mendiami?" tanya Alana pula, menuntut.


Dan Altar pun, lagi-lagi menghembuskan napasnya berat. Ia sungguh bingung, sebenarnya apa mau Alana.


Sehari dia bilang ingin mereka membatalkan perjodohan ini. Sehari kemudian Alana memintanya untuk menjadi lebih dekat, memiliki hubungan. Keesokan harinya, ia malah menunjukkan kedekatannya dengan akbar.


Altar, sungguh tak memiliki banyak waktu untuk mengerti itu semua.


"Sebenarnya apa mau mu? kamu ingin aku membatalkan perjodohan kita?" tebak Altar, hingga membuat Alana tersentak.


Tebakan yang begitu tepat mengenai inti.


Namun Alana justru sangat tak suka mendengarnya, mendadak hatinya sesak, terasa terhimpit.


"Jangan mempersulit keadaan, jika kamu ingin aku membatalkannya, katakan saja, aku akan membatalkan perjodohan itu sekarang juga. Aku akan mengatakan pada ayah dan ibuku juga pada ibu Kiran dan ayah Aslan," lantang Altar, tak ragu-ragu.

__ADS_1


__ADS_2