
Drt drt drt.
Ponsel Kiran diatas nakas bergetar, wanita yang sedang mengulum senyumnya ini lalu menoleh ke arah ponselnya.
Tanpa mengulur waktu, Kiran langsung melihat panggilan itu.
"Mas Fahmi?" gumamnya saat melihat siapa yang menelpon.
Dengan ragu, ia menggeser tanda hijau pada panggilan sang kakak.
"Assalamualaikum, Mas," jawab Kiran.
Namun tak langsung menjawab, Fahmi malah hanya terdiam.
Sesaat, panggilan itu hening, tanpa ada suara orang yang bicara.
"Mas?" panggil Kiran lagi, untuk yang kedua kali.
"Ran," jawab Fahmi lirih, tak biasanya ia bicara selemah ini.
Mendengar itu, berbagai macam pertanyaan mulai muncul di benak Kiran.
"Iya Mas, ada apa? semuanya baik-baik saja kan?" tanya Kiran beruntun, tidak sabaran.
Lagi, Fahmi mengambil jeda.
"Maafkan aku Ran," ucapnya sendu.
Sedangkan Kiran tercenung.
"Maaf, karena aku selalu memaksamu menuruti semua keinginanku, termasuk tentang Aslan, suamimu," timpal Fahmi melanjutkan.
Terdiam, Kiran meremat satu tangannya yang bebas.
Pelan, ia menggeleng kecil.
"Tidak Mas, aku tahu mas Fahmi melakukan itu semua demi kebaikanku," jawab Kiran dengan suara yang bergetar, menahan tangis.
Entahlah, hubungan seperti apa yang terjalin diantara kakak beradik ini. Keduanya saling menyayangi, namun tidak pernah bisa saling menunjukkan.
Diujung sana, Tika terus mengelus punggung suaminya dengan lembut, mencoba memberi kekuatan dan ketenangan.
"Aku membohongimu tentang gugatan cerai itu," jujur Fahmi, ia ingin membuka semua yang ia tutupi selama ini.
Mengakui kesalahannya sendiri.
Kiran hanya mampu terdiam, sejenak, ia memang menyesalkan akan kebohongan sang kakak. Fahmi tidak tahu, betapa hancurnya Kiran saat ia mendengar sang suami mengabulkam gugatan cerainya.
Fahmi tidak tahu, betapa menderitanya Kiran saat sang kakak menyatakan jika mereka sudah sah berpisah, cerai.
Tapi, Kiran tak bisa marah. Sadar, jika selama ini sang kakaklah yang selalu melindunginya, menyayanginya tanpa batas. Fahmi, bukan hanya berperan sebagai seorang kakak, tapi juga sebagai ayah dan ibu sekaligus.
__ADS_1
Mengingat bagaimana perjuangan sang kakak dulu hingga kini mereka memiliki kehidupan yang layak, Kiran tak bisa membantah.
Karena Kiran tahu, apa yang dilakukan Fahmi adalah yang terbaik untuknya, meski itu terasa sakit.
"Maafkan aku Ran, maaf karena aku tidak pernah bertanya apa maumu, maaf karena aku salalu merasa benar, bahkan diatas perasaanmu sendiri pun aku mencoba memgambil kendali_"
"Tidak Mas, aku yang seharusnya meminta maaf. Maaf, karena aku selalu menjadi beban mas Fahmi. Dari dulu hingga sekarang aku selalu membebani Mas, dengan semua masalahku, dengan semua ketidakmampuanku," jelas Kiran dengan terisak, tidak mampu lagi ia menahan tangis.
Biarlah tangis itu pecah, agar sang kakak berhenti merasa bersalah.
Karena disini, ia yang merasa bersalah.
Perlahan, air mata Fahmi pun mengalir tanpa permisi. Kasih sayangnya yang begitu dalam, membuat ia selalu berpikir bahwa Kiran adalah adik kecilnya, adik yang selalu kecil dan tidak akan pernah dewasa.
Itulah kesalahannya, hingga ia selalu mengira bahwa Kiran tidak akan pernah mampu menghadapi semua masalah, tanpa campur tangan dirinya.
"Maafkan aku Mas," lirih Kiran lagi, meski begitu pelan, tapi ia mendengar isakan tangis sang kakak.
"Maafkan aku juga Ran," balas Fahmi dengan suara yang parau.
Mendengar itu, Tika tersenyum.
Bersyukur, kedua orang yang begitu disayanginya ini bisa saling memaafkan. Menerima semua yang sudah terjadi dengan hati yang terbuka.
Memahami satu sama lain.
"Apa Aslan sedang bersamamu?" tanya Fahmi, berulang kali ia berdehem, menormalkan suaranya kembali.
"Beri tahulah Aslan tentang kehamilanmu, aku yakin dia akan begitu bahagia," jelas Fahmi yang sudah mulai mencoba menghilangkan kesedihan.
Kiran pun sama, kini diujung sana ia sedang tersenyum dengan begitu lebar.
"Iya Mas," jawabnya patuh.
"Ran, malam ini aku dan mas Fahmi tidak pulang ya, besok mungkin siang kami baru pulang, Raka dan Rian ingin jalan-jalan," teriak Tika diujung sana.
Mendengar itu, senyum Kiran makin melebar saja.
Saking asiknya bertelepon, ia sampai tidak menyadari, jika Aslan sudah keluar dari dalam kamar mandi.
Melihat sang istri yang tersenyum, Aslan pun jadi ikut mengukir senyum pula.
Masih menggunakan handuk yang melilit setengah tubuhnya, Aslan menghampiri Kiran.
Merasa ada yang datang, Kiran pun menoleh. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat sang suami yang datang dengan dada terbuka, lengkap dengan beberapa tetes air yang jatuh dari rambut basahnya.
Semburat kemerahan di wajah Kiran muncul tanpa bisa dicegah.
Buru-buru ia mengalihkan perhatian.
"Iya Mbak," jawab Kiran gugup pada telepon yang masih terhubung itu.
__ADS_1
"Iya," jawabnya lagi makin gugup, sampai-sampai tidak bisa menjawab yang lain lagi selain kata iya.
"Iya Mbak, walaikumsalam," akhirnya, panggilan itu terputus.
Serentak dengan Aslan yang duduk disisi ranjang.
"Mbak Tika?" tebak Aslan dan Kiran mengangguk sambil menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya sendiri.
Melihat itu, Aslan malah merasa lucu. Dari wajah sang istri, nampak jelas jika ia sedang malu.
"Uhuk!" batuk Aslan berpura-pura dan Kiran langsung mengangkat wajahnya khawatir.
"Mas kenapa?" tanyanya cemas.
"Sepertinya aku masuk angin, kamu ada minyak kayu putih tidak?" tanya Aslan.
"Ada, dilaci meja riasku," jawab Kiran dan Aslan mengangguk, lalu bangkit dan mengambil minyak itu. Kemudian kembali menghampiri sang istri diatas ranjang.
"Tolong oles punggungku," pinta Aslan dan Kiran patuh.
Gugup yang tadi ia rasakan mendadak hilang entah kemana, diganti dengan rasa cemas yang bertubi, bercampur iba karena sang suami jadi sakit.
Tanpa malu-malu, Kiran langsung mengoles semua punggung sang suami dengan minyak kayu putih.
"Perutnya," titah Kiran dan Aslan menurut, ia memutar tubuhnya hingga menghadap sang istri.
Menikmati semua sentuhan tangan kecil Kiran, menikmati semua perhatian yang diberikan oleh sang istri.
"Sudah, cepat pakai baju, aku akan menghangatkan sup," ucap Kiran lalu hendak turun dengan sendiri.
Namun dengan cepat, Aslan menahan.
Membungkam mulut Kiran dengan sebuah ciuman.
"Aku baik-baik saja," jujur Aslan setelah ia melepas bibir ranum itu.
Terengah, Kiran membalas tatapan sang suami.
"Aku hanya butuh kamu, hanya kamu dan bukan yang lain," desis Aslan pelan.
"Jangan merayu, aku tidak mau Mas sampai sakit," balas Kiran cepat.
"Aku masih bisa mengurus Mas, meski kakiku lumpuh," terang Kiran lagi dan Aslan langsung kembali menyesap bibir itu, bahkan sedikit menggigitnya.
"Aku tahu, tapi malam ini jangan lakukan apapun, hanya tetap diam disisiku. Aku takut kamu kembali pergi meninggalkan aku sendirian," jawab Aslan sendu.
Mendengar itu, Kiran tersentak.
"Maafkan aku Mas," lirihnya merasa bersalah, seperti orang egois, dulu ia pergi begitu saja tanpa kata.
"Aku tidak akan kemana-mana, tanpa seizinmu," jelas Kiran lagi, ia lalu menarik sang suami dan memeluknya erat.
__ADS_1
Menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan hangat sang suami.