
Altar, menatap lekat penampilan sang istri malam ini.
Tak seperti yang ia kira, ia pikir Alana akan tampil cantik dengan baju yang sedikit terbuka.
Memperlihatkan bahu dan juga kakinya yang jenjang.
Tapi ternyata, dia salah.
sepersekian detik, Altar sampai dibuatnya terpana. Hana mampu terus menatap lekat Alana dan tak mampu berkata-kata.
"Masya Allah Alana, Sisil, kalian cantik sekali sayang," puji Widya pada kedua gadis dihadapannya ini. Alana dan Sisil yang sudah ia anggap seperti anak gadisnya sendiri.
Saking bahagianya melihat Alana dan Sisil yang mulai berhijab, widya sampai memeluk keduanya erat.
Dan dengan tersenyum lebar, Alana dan Sisil pun membalas tak kalah erat pelukan ibu Widya itu.
"Ayah bangga pada kalian berdua, malam ini kalian mengambil keputusan yang tepat," ucap Agung pula, saat semua wanita itu sudah melerai pelukan mereka.
"ehem!" Sisil berdehem, saat ia melihat Altar yang masih saja terpana.
Seolah belum tersadar dari angan-angan indahnya.
Ia menatap Alana lekat, dengan tatapan kagum.
Dan Alana yang ditatap, makin malu dibuatnya.
"Hoi! sadar!" kaget Sisil, diantara kekehannya.
Semua orang tertawa hingga membuat Altar terkisap. lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Pergilah, nikmati malam ini," ucap widya pada semua anaknya.
Alana dan Sisil mengangguk antusias, juga diikuti oleh Altar yang juga mengangguk kecil.
Setelah berpamitan, mereka semua pergi.
"Naiklah mobil Suga, dia sudah menunggu kita didepan," ucap Altar, pada Sisil.
"Kenapa aku pergi dengan Suga, aku kan ingin pergi dengan kalian," rengak Sisil, tak terima. Apalagi Suga begitu nakal padanya.
Selalu mengejek dan berakhir menarik hidungnya gemas.
"Jangan ganggu kami, kami juga butuh privasi," jawab Altar lantang , tak segan sedikitpun.
Membuat Sisil mencebik dan Alana hanya terkekeh pelan.
Alana sih, selalu mengikuti keputusan suaminya saja. Lagipula, Suga adalah teman mereka.
Dan benar saja, keluar dari dalam rumah, Suga sudah menunggu sana.
Sesaat, Suga pun terkejut saat melihat Sisil dan Alana yang memutuskan untuk menggunakan hijab.
__ADS_1
Bukannya aneh, kedua gadis ini malah semakin terlihat cantik dan anggun.
"Jika penampilanmu seperti ini, aku tidak akan berani lagi mengganggumu," ucap Suga.
Sisil mencebik lalu segera masuk ke dalam mobil laki-laki menyebalkan ini.
Setelah Sisil dan Suga pergi, barulah Alana dan Altar menyusul.
"Kamu cantik," puji Altar, saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Alana menoleh, menatap suaminya itu yang ternyata sedang menatapnya lekat.
"Jangan cium dulu, nanti riasan ku rusak," pinta Alana dengan mengulum senyumnya.
Dari tatapan Altar, ia tahu. Jika suaminya itu ingin mencium dan memeluknya erat. Tatapan mendamba.
"Berarti, setelah acara prom nigth selesai aku boleh melakukan apapun?" tanya Altar, dengan banyak rencana licik di kepalanya.
Dan Alana si gadis polos ini hanya menganggukkan kepalanya, setuju. Meski tak tau apa maksud dari pertanyaan suaminya itu, tentang melakukan apapun.
Alana pikir, hanya sebatas ciuman.
Melihat Alana yang mengangguk, Altar pun langsung tersenyum lebar. Lalu tanpa mengulur waktu lagi, ia memelajukan mobilnya menuju sekolah.
Acara prom nigth ini, diadakan di sekolah mereka, menggunakan aula sebagai ruangannya dan lapangan basket sebagai tempat berkumpul diluar.
Lapangan yang sudah dihias dengan banyak lampu-lampu cantik, serta beberapa kursi dan meja yang disusun melingkar untuk semua siswa-siswi kelas 3.
Mulai dari saat mereka melakukan kegiatan MOS ( Masa orientasi siswa), kegiatan belajar mengajar, juga ada beberapa foto saat salah satu siswa dan siswi ketahuan mencotek.
Semuanya tertawa, mengenang masa sekolah mereka.
Alana lalu ditarik suaminya, untuk menjauh dari semua teman-teman yang sedang menikmati acara itu.
Alana hanya menurut, tak tahu kemana Altar akan membawanya pergi.
Ternyata, Altar membawa Alana keatap sekolah gedung ini.
Di sana tidak gelap, remang-remang karena dapat sisa-sisa pencahayaan dari lampu sorot.
lampu sorot yang menerangi tulisan nama sekolah mereka.
"Mas, kenapa kita kesini?" tanya Alana dengan napasnya yang terengah.
Menaiki tangga, membuat ia merasa lelah.
Altar tak menjawab apapun, ia malah mendorong tubuh istrinya itu, hingga masuk ke dalam sebuah gudang.
Gudang yang selama ini menjadi tempat persembunyian Altar dan semua teman-temannya.
Gudang yang terdapat sofa panjang dan meja.
__ADS_1
Selebihnya, gudang itu di isi oleh beberapa tumpukan buku.
Sesaat, Alana terkejut. Tak menyangka jika di atas sini ada ruangan seperti ini.
Ruangan yang cukup nyaman untuk mereka gunakan.
"Mas..." ucap Alana, menggantung.
Ingin bertanya, tentang gudang ini.
"Aku dan teman-teman yang membuatnya. Kami bahkan sering bermalam disini ketika ada salah satu diantara kami yang punya masalah," terang Altar, apa adanya.
Meski gerbang sekolah ditutup saat malam hari, mereka akan tetap memanjatnya dan naik kesini.
"Lalu kenapa kita kesini? memangnya kita punya masalah?" tanya Alana, sedikit meledek.
Ia bahkan terkekeh pelan kala mengucapkan itu.
Altar pun ikut tersenyum pula.
Ia lebih dulu mengunci pintu dan kembali menghampiri sang istri.
"Ya, kita punya satu masalah yang harus segera diselesaikan."
"Apa?" tanya Alana cepat, sedikit curiga saat melihat sang suami yang menatapnya lekat.
Dan tak menjawab.
Altar langsung mengikis jarak.
Menyatukan bibir mereka dan melumaatnya dalam. Alana tak menolak, ia pun menginginkan sentuhan ini.
Ciuman yang semakin lama semakin menuntut.
Darah keduanya mendidih dan terasa begitu panas. Alana bahkan sampai tak sadar, jika Altar terus mendorongnya hingga ia terbaring di atas sofa itu.
Terbaring dengan Altar yang menindih tubuhnya. Merasakan inti dibawah sana yang mulai bertemu.
"Mas, apa kita akan melakukannya disini?" tanya Alana diantara suara lenguhnya.
Entah bagaimana caranya, kini tubuh Alana sudah polos. Bahkan tanda merah sudah begitu banyak tercetak diatas tubuhnya.
"Iya sayang," balas Altar, lalu kembali mengecupi bibir ranum itu. Tangannya tak tinggal diam, berkelana meremas kedua gundukan yang sudah menegang.
Dan Alana sedikit menjerit, saat akhirnya kedua tubuh inti mereka akhirnya menyatu.
Menyatu hingga membuat inti tubuh Altar tenggelam. Mulut Alana ternganga, merasakan benda keras itu mulai bergerak keluar masuk.
"Sakit?" tanya Altar, dan Alana menggeleng.
"Enak," jawab Alana, singkat.
__ADS_1
Keduanya terkekeh, lalu kembali berpacu untuk menikmati malam pertama mereka.