Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 176 - Kelemahan Wanita


__ADS_3

 “Aw! Sakit Al!” teriak Sisil, seraya memegangi telinganya yang dijewer oleh Altar.


Saat ini Sisil dan Altar berada didepan ruang guru , menemani Alana yang sedang dipanggil kesana oleh salah satu guru.


“Apasih jewer-jewer! Sakit tau!” kesal Sisil, dengan wajahnya yang nampak kesal.


“Yang seharusnya marah itu aku, bukan kamu!” balas Altar tak kalah sengit, ia bahkan tak segan untuk menatap tajam pada gadis dihadapannya ini, hingga membuat Sisil makin mencebikkan bibirnya.


“Memangnya apa salahku?” balas Sisil, masih dengan nada bicaranya yang tinggi, seolah tak ingin kalah ketika sedang berdebat dengan suami sahabatnya ini.


Dan dengan suara yang lirih, Altar mulai menjawab pertanyaan Sisil itu. Mengatakan, jika Sisil sudah memberi ajaran yang tidak jelas kepada Alana.


Tentang keluar di luar dan hubungan suami istri yang harus dilakukan ketika sudah menikah.


Selesai menjawab pertanyaan itu, Altar kembali menarik telinga Sisil dengan kuat. Hingga gadis cantik ini kembali gaduh kesakitan.


“hii! Kok dijewer lagi sih!” Sisil, sungguh kesal.


Bahkan ayah dan bundanya pun tidak pernah menjewer telinganya seperti ini.


“Darimana kamu tahu itu semua hah? Memangnya kamu sudah pernah melakukannya? Hah?” tanya Altar, menggebu dan ia langsung mendapatkan pukulan keras dari Sisil.


Lengan Altar yang dipukul itu sampai terasa panas dan kebas.


“Sembarangan, aku belum menikah mana mungkin melakukan itu!” balas Sisil, sengit. Sumpah demi apapun ia sangat marah kala mendengar Altar menuduhnya seperti itu.


“Lalu darimana kamu bisa tahu banyak tentang hubungan itu hah?” Altar masih belum menyerah.


Perdebatan sengit keduanya terus saja berlangsung, tak peduli meski kini mereka berada didepan ruang guru. Yang kapan saja bisa di sergap oleh guru.


“Aku membacanya di internet!” jawab Sisil jujur, ia bahkan langsung menyerahkan ponselnya pada sang sahabat.


Altar menerima uluran ponsel itu dan segera memeriksanya. Ia langsung menuju mesin pencari google crome dan mulai membaca history bacaan Sisil.


Dan ternyata benar, semuanya isinya adalah hal begituan.


Lagi, Altar menjewer telinga Sisil itu.


“Untuk apa kamu membaca ini semua? Hal seperti ini mana boleh dibaca anak dibawah umur sepertimu!”


Sisil tak langsung menjawab, rasa-rasanya ia ingin menangis selalu di marahi Altar seperti ini. Belum lagi telinganya terasa begitu pedih.


Altar benar-benar menarik telinganya dengan kuat.


“berhentilah membaca artikel tentang itu, jika tidak aku akan adukan pada om Alfath!”

__ADS_1


“Mana boleh main adu-aduan! Lagipula aku baca itu semua demi Alana. Demi kalian!”


Altar hendak kembali menjawab, namun urung saat melihat sang istri yang mulai keluar dari ruang sana.


Seketika itu juga, perdebatan diantara Altar dan Sisil  terhenti. Dan malah terlihat canggung dimata Alana.


“Kenapa?” tanya Alana, heran.


Wajah Altar dan Sisil sama-sama masam, bahkan keduanya seolah enggan untuk saling tatap.


“Tidak ada apa-apa, ayo ke kantin.” Ajak Altar, ia bahkan langsung menarik salah satu tangan Alana.


Namun bukannya melangkah, Alana malah menahan tangannya sendiri. Hingga sang suami pun tak bisa melangkah.


Altar, kembali berbalik dan menatap Alana lekat.


“kenapa?” tanya Altar, heran.


“Aku mau pergi dengan Sisil saja, Mas tahu kan, aku tidak bisa melihat wajah mas sering-sering, otakku jadi kotor,” bisik Alana, jujur dan apa adanya.


Mendengar itu, Altar menarik dan menghembuskan napasnya pelan.


Ini semu gara-gara Sisil. Batinnya penuh amarah.


Melihat keduanya, Sisil hanya mengulum senyum. Jika seperti ini jadinya wajar saja jika Altar sampai marah.


Asalkan jauh dari kedua wanita itu.


Alana mencebik. Ia memang meminta Altar untuk menjauh, tapi akhirnya malah dia sendiri yang merasa tidak nyaman.


“Al, jangan seperti itu pada suamimu, kalau Altar jadi nyaman dengan wanita lain bagaimana?” tanya Sisil, saat keduanya sudah mulai berjalan menuju kantin.


Dan mendengar itu, Alana makin mencebik dibuatnya.


Di satu sisi ia memang sungguh tak ingin berada dekat dengan suaminya itu. Bukan apa-apa. Ketakutannya pada hubungan suami istri membuat Alana ingin membuat jarak.


Tapi di satu sisi, ia juga tak ingin jika Altar benar-benar menjauh. Hingga lama-kelamaan, mereka akan nampak seperti orang asing.


“Lalu aku harus bagaimana, ini semua kan gara-gara kamu!” kesal Alana pula.


Sisil terkekeh, tadi ia dimarah-marahi Altar dan kini ia dimarah-marahi oleh Sisil.


Benar kata kakaknya, jangan campuri rumah tangga orang lain jika tidak ingin disalahkan.


“Iya, aku minta maaf. Ku pikir setelah itu kamu dan Altar jadi semakin dekat. Mana aku tau kalau akhirnya kalian malah jadi seperti ini,” balas Sisil, cari pembelaan.

__ADS_1


Alana tak menjawab apapun. Hanya menarik sahabatnya itu untuk mengikuti langkahnya, menuju kantin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke kelas.


Alana dan Sisil berjalan beriringan melewati lapangan basket sekolah.


Altar dan kelima temannya sedang bermain bersama teman-temannya yang lain. Disisi lapangan itu, sudah banyak dikelilingi banyak siswi-siswi.


Para siswi yang tergila-gila pada ketampanan Altar dan yang lainnya.


“Kak Altar! Semangat!” teriak amora, paling keras.


Bahkan teriakan itu sampai terdengar ditelinga Alana yang jaraknya cukup jauh.


Sisil yang ikut mendengar pun langsung menyenggol lengan sahabatnya itu. Memberi isyarat jika saingannya muncul.


“Amora beraksi,” bisik Sisil, menggoda.


Jika sudah seperti ini bisa Sisil pastikan jika sahabatnya itu akan terbakar api cemburu.


Alana tak menanggapi apapun, hanya terus melangkah dengan wajahnya yang nampak datar.


Tak ada ekspresi apapun, mencoba tidak peduli. Lagipula ia yakin jika Altar tidak mungkin menanggapi teriakan Amora itu.


Hingga tiba-tiba terdengar suara sorak sorai di lapangan sana, Alana langsung menoleh dan melihat ada apa.


Ternyata, Suga mengambil botol minum yang diberikan oleh Amora. Lalu diminum secara bergantian oleh semua siswa di dalam lapangan itu, termasuk Altar.


Seketika itu juga, kepala Alana mendidih.


Kalau haus harusnya keluar dari sana, bukannya minum dari minuman yang diberikan Amora. Kesal Alana didalam hati. bahkan tanpa sadar pun, ia menghentakkan kakinya, geram.


Tak ingin amarahnya semakin menguasai, Alana langsung bergegas menuju kelasnya sendiri. Tak sudi lagi melihat kearah lapangan sana.


Sementara itu, di dalam lapangan itu, Altar terus melihat istrinya yang nampak kesal.


Billar, langsung menepuk pundak Altar.


“Sehabis pulang nanti, aku yakin Alana tidak akan menjaga jarak denganmu. Kamu tahu, wanita itu paling lemah dengan cemburunya,” ucap Billar, dan semua temannya terkekeh seraya mengangguk setuju.


“Awas saja jika Alana semakin menjauhiku! Jika itu sampai terjadi, aku akan menghukum kalian sampai kehausan!” Ancam Altar.


Dan bukannya takut, semua teman-temannya malah tergelak.

__ADS_1


Ya, Raffi yang punya ide untuk mengambil botol minuman Amora itu, berniat untuk membuat Alana cemburu.


Lalu Suga yang menjalankan ide Raffi dan Altar yang terakhir meminum air itu hingga tandas.


__ADS_2