
"Ada siapa di luar Mas?" tanya Kiran lagi untuk memastikan. Bahkan Yuli dan Iwan pun ikut terkejut ketika mendengar Aslan menyebutkan dua nama itu, Alfath dan Dinda.
"Alfath dan Dinda, sayang," terang Aslan dengan lembut, ia bahkan menggemgam tangan sang istri mencoba menenangkan.
"Untuk apa mereka kesini?" tanya Yuli dengan nada tak suka, ia bahkan hendak langsung keluar dan mengursir kedua orang itu, tapi Iwan menahannya.
"Mereka ingin meminta maaf pada Kiran Umi, hanya itu," jelas Aslan lagi memberikan pengertian, Aslan bisa merasakan ketulusan Alfath kali ini. Kebenciannya melunak ketika melihat wajah putus asa Alfath. Melihat Alfath, Aslan seperti melihat dirinya saat dulu mencari Kiran.
Mendengar Alfath dan Dinda ingin menemuinya dan meminta maaf, Kiran hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Ada desiran aneh yang mendatangi hatinya, bukan cemburu atau sesak sakit hati tapi kesedihan mengingat satu anaknya yang sudah tiada, dan semua itu karena Alfath.
Lagi, Kiran menghembuskan napasnya mencoba tenang.
Tiap orang, memang ada yang bisa memaafkan dan ada pula yang tidak bisa. Karena itulah surga lebih dekat bagi mereka yang bisa memaafkan.
Kiran mengangguk, saat sang suami kembali mengajaknya untuk ke depan dan menemui Alfath. Iwan dan Yuli pun ikut bersama mereka.
Di ruang tamu berukuran cukup besar itu, Alfath menatap nanar pada kedatangan Kiran. Wajah dingin wanita yang begitu dicintainya itu membuatnya merana.
Kini, bahkan Kiran sudah berhijab, terlihat begitu cantik dan menawan.
Alfath ingat betul saat kemarin ia melihat Kiran tertawa lepas dengan Aslan, namun kini sedikitpun tak Kiran tunjukkan padanya senyum itu.
Alfath sadar, Kiran memang sudah tidak mencintainya lagi. Hubungan mereka benar-benar kandas oleh takdir.
"Ran," panggil Alfath lirih, ia lalu menelan salivanya dengan susah payah mencoba meredam rasa. Menahan egonya agak tak lepas kendali.
"Ran, maafkan aku atas semua yang sudah terjadi, terutama tentang meninggalnya anakmu dan Aslan. Maafkan aku," ucap Alfath dengan suara yang bergetar.
Ingin sekali ia menarik Kiran dan memeluknya erat, namun sekuat tenaga Alfath menahan.
Aslan yang melihat sang istri hanya terdiam pun mengelus punggung Kiran dengan sayang. Menyadarkan Kiran bahwa kini semuanya sudah baik-baik saja.
Kiran, akhirnya membalas tatapan Alfath sejenak lalu melihat ke arah Dinda dengan seksama. Ada bayi kecil yang berada di gendongan Dinda, melihat itu luruh sudah semua rasa kecewa.
"Aku sudah memaafkanmu Mas, aku sudah mengihklaskan semua yang sudah terjadi," jawab Kiran akhirnya, mendengar Aslan dan Dinda pun tersenyum penuh syukur.
Tak hanya dengan Kiran, saat itu Alfath juga meminta maaf pada Yuli dan Iwan. Karena tindakannya itu, ia membuat Kiran berada diposisi yang sulit.
Tak lama, setelah ia mendapatkan maaf, Alfath dan Dinda memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
"Din," panggil Kiran saat mereka semua sudah berada di halaman rumah.
Dinda yang hendak masuk ke dalam mobil pun menoleh, menatap Kiran yang barusan memanggil.
Kiran mendekati Dinda, lalu memeluk wanita itu dengan erat.
"Maafkan aku Din," ucap Kiran, mendengar itu Dinda malah menangis. Air matanya jatuh tak bisa ditahan.
"Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu Ran," jelas Dinda dan Kiran menggeleng.
"Baiklah, kita tidak salah, yang salah mas Alfath," jawab Kiran dengan mencoba tersenyum diantara tangis yang mulai mengalir.
Kedua wanita ini tersenyum, lalu kembali saling memeluk. Memutus hubungan buruk diantara keduanya.
Kiran bahkan menciumi Akbar, memberikan kasih sayang.
"Hati-hati," ucap Kiran saat Dinda dan Alfath mulai memelajukan mobil mereka, Dinda mengangguk seraya melambaikan tangannya tanda perpisahan.
Selepas kepergian kedua orang itu, Aslan memeluk tubuh sang istri dari arah belakang. Iwan dan Yuli yang melihat pun lantas tersenyum, kemudian memutuskan untuk masuk dan meningggalkan keduanya di halaman rumah.
"Aku bangga padamu," ucap Aslan tepat ditelinga sang istri, hingga membuat Kiran merasa kegelian.
Kiran berbalik dan memeriksa apakah ada orang lain yang melihat kelakuan suaminya itu, dan ternyata tidak ada siapa-siapa.
"Tuh kan, tidak ada siapa-siapa, kenapa harus malu," goda Aslan lagi sambil menarik pinggang sang istri mendekat.
"Ya tapi tidak disini juga Mas," keluh Kiran dengan mencebik.
"Berarti kalau di kamar boleh ya? ayo kita mengenang masa lalu," ajak Aslan dengan senyum menggoda. Bermesraan di kamar pertama mereka, masa-masa Kiran masih malu-malu dengan semuanya.
"Hiih!" Kesal Kiran sambil mencubit perut sang suami.
"Hahaha aduh aduh, iya iya ampun sayang," keluh Aslan dan barulah Kiran melepaskan cubitannya itu.
Kiran mencebik, lalu masuk lebih dulu.
Aslan terkekeh, dan menyusul langkah sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sore harinya, Aslan dan Kiran memutuskan untuk pulang. Mereka tidak menginap di rumah utama.
Sebelum berpamitan, Kiran menemani sang suami membenahi beberapa barang yang akan di bawa pulang. Kini, keduanya sedang berada di ruang kerja Aslan.
"Alhamdulilah, sudah sayang," jawab Aslan ketika semua barang yang ia butuhkan sudah terkumpul.
Dilihatnya sang istri yang tersenyum dan mengangguk sambil duduk di kursi kerjanya.
"Kamu capek?" tanya Aslan lagi dan Kiran menggeleng.
Mendapati jawaban sang istri itu, seketika Aslan tersenyum menyeringai. Aslan lalu mengangkat tubuh sang istri dan mendudukkannya di atas meja kerja.
"Mas mau apa? jangan macem-macem," ancam Kiran dengan tatapan tajam, dilihatnya wajah sang suami yang telihat begitu mencurigakan.
"Tidak macam-macam sayang, hanya satu macam," terang Aslan.
Belum sempat Kiran menjawab, mulutnya sudah lebih dulu dibekap oleh ciuman sang suami. Awalnya Kiran memberontak, namun seketika menurut saat permainan Aslan membawanya hanyut ke nirwana.
Dengan sendirinya, Kiran menggantungkan kedua tangan dileher sang suami. Mendekatkan dekapannya agar sang suami lebih mudah menjangkau seuatu yang di bawah sana.
Entah dimenit keberapa, keduanya melakukan penyatuan. Aslan berdiri dan Kiran duduk diatas meja kerja.
Ruangan yang sedari tadi sepi, mendadak penuh dengan desahan Kiran, juga lenguhan Aslan yang menggema.
Setiap pergerakan yang dilakukan Aslan, tubuh Kiran pun ikut bergerak mengikuti. Melihat itu makin membuat Aslan bersemangat memainkan pinggulnya.
Kini, kedua tangan Kiran sudah tak menggantung dileher sang suami. Kedua tangannya menahan tubuhnya diatas meja, ia menggeliat merasakan hentakkan yang begitu terasa. Menusuk hingga sampai ke dalam rahimnya.
Bahkan sesekali kiran menggerakan pinggulnya, tak kuasa untuk tetap diam.
"Mas," rintih Kiran saat pelepasan itu nyaris datang.
Aslan tersenyum, lalu sedikit menunduk dan menyesapi kedua pucuk sang istri yang sedang menegang, menantang.
Di bawah sana terus beradu, hingga sepasang suami istri ini mendesah dengan begitu panjang. Keduanya saling tatap dengan napas yang memburu.
Kebahagian surga dunia yang mereka rasakan bersama-sama.
Lagi, Aslan menggigit pucuk sang istri hingga Kiran menjerit.
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ucap Aslan dan Kiran menjulurkan lidahnya.