
Agung dan Widya keluar dari dalam kamar, Agung mengambil pesanan makanan mereka sedangkan Widya langsung menuju dapur.
Sampai di dapur., Widya dibuat tercengang. Pasalnya saat ia membuka lemari pendingin, disana sudah banyak berbagai macam jenis sayuran, bahkan ada pula daging merah.
Widya tersenyum, serentak dengan perasaan yang merasa berhutang budi pada sahabatnya itu, Kiran.
Dari dalam lemari pendingin, Widya mengambil beberapa buah-buahan. Mencucinya di wastafel dan membawanya ke meja makan.
“Hem, ada buah? Kulkas ada isinya?” tanya Agung yang juga heran, ia lalu meletakkan makanan yang ia bawa diatas meja, dan Widyalangsung membukanya.
“Iya Mas, sama Kiran diisi, penuh lagi,” jawab Widyaapa adanya, seraya memindahkan 2 porsi makanan mereka ke dalam piring.
“Bagus itu!” jawab Agung, berbangga hati.
“Tapi Mas, aku merasa tidak enak hati, Kiran banyak sekali membantu kita,” terang Widya, karena memang seperti itulah yang dia rasa.
“Tidak apa-apa sayang, terima saja, kalau
dikembalikan dia juga pasti tidak mau, ya kan?” tanya Agung dan Widya
bergeming. Bukan seperti maksudnya, tapi idya pun ingin membalas semua kebaikan
ini.
“Bukan gitu lo Mas, maksudku, kita harus balas kebaikan Kiran dan Aslan,” jelas Widya lagi, dan Agung tersenyum kala mendengar
itu. Lalu mendekati istrinya dan memeluknya erat dari arah belakang, mencium pucuk kepala sang istri sekilas, lalu mendaratkan dagunya diatas pundak sang
istri.
“Asal kamu tahu, masalah hutang budi, kiran dan Aslan lebih banyak berhutang budi padaku,” jawab Agung sombong.
“Kalau bukan karena aku, mungkin Kiran dan Aslan tidak akan kembali bersama, mungkin Kiran akan menikah lagi dengan dokter
spesialisnya yang di Malaysia, doter Johan,” timpal Agung lagi, lalu terkekeh. Masa
lalu yang dulu terlihat suram itu, kini terasa menyenangkan untuk di kenang.
Namun mendengar itu, tetap saja Widya merasa tak puas. Ia tetap ingin membalas semua kebaikan Kiran.
Melihat wajah sang istri yang masih cemberut, Agung memiliki ide usil. Disaat istrinya itu tengah sibuk dengan makanan, Agung menelusupkan kedua tangannya masuk ke dalam baju sang istri.
Hingga membuat Widya menjerit, terkejut.
“Mas!” pekik Widya, karena dengan cepat kedua tangan
sang suami sudah bersarang diatas sana, membelai lembut meski masih tertutup.
“Katanya nanti,” ucap Widya dengan tubuhnya yang
tidak tenang, merasa geli saat Agung terus memberinya serangan.
“Iya sayang, nanti, ini Cuma pemanasan,” jawab Agung, sebenarnya ia sudah sangat menginginkan ini, sebenarnya pun ia sudah tidak sanggup untuk menahan.
Namun tak ingin sang istri kelelahan ditengah jalan,
Agung kembali mengeluarkan tangannya, lalu mendudukkan sang istri di salah satu
kursi.
“Makan dulu, minum susunya nanti,” terang Agung ambigu,
__ADS_1
dan Widya hanya mampu mencebik.
Lalu keduanya memutuskan untuk makan lebih dulu.
Hingga tak berselang lama, keduanya sama-sama
selesai.
Selesai meneguk air putih, Agung langsung menyerang sang istri, membabi buta.
Mencium bibir sang istri dengan begitu kasar, namun terasa sangat candu bagi Widya.
Tak peduli dimanapu mereka berada, kini keduanya sama-sama menginginkian penyatuan itu. Hingga Widya terus menurut, apapun yang akan suaminya lakukan, bahkan menjadikan meja
makan itu sebagai lahan penyatuan.
Widya meringis, kala tubuh polosnya kini nyaris
dibelah oleh Aju.
Melihat sang istri yang seperti kesakitan, Agung mulai bergerak perlahan, mencari celah agar ia masuk tanpa membuat sang istri merasa kesakitan. Hingga tak berselang lama, ia benar-benar masuk kedalam sana
dengan sempurna.
Widya melenguh, terasa penuh namun begitu nyaman.
“Sakit?”
“Tidak,” jawab Widya dengan menggeleng.
Agung tersenyum, dengan posisi ia berdiri, ia terus menyentak sang istri.
Hari berlalu. Bahkan Agung dan Widya pun sudah menggelar acar pernikahannya sesuai jadwal, kembali ijab kabul sesuai dengan
tanggal pernikahan mereka.
Semenjak pindah ke rumah Fahmi, Kiran dan Widya semakin dekat, keduanya sering sekali bertemu. Terlebih Widya, selalu
menjadikan Aydan sebagai pancingan, agar ia bisa segera hamil pula.
Seperti saat ini, Widya tengah berkunjung ke rumah Kiran.
Kiran pun sudah pulang dari toko bajunya.
Mereka berdua duduk di taman belakang, dengan Widya
yang memangku Aydan, memberikan bayi ini berbagai jenis snack untuk bayi.
“Berapa lama ya Ran, kita tahu kalau kita sedang hamil?” tanya Widya penasaran. Pasalnya, sudah hampir dua minggu ia dan Agung menikah, dan setiap hari mereka selalu melakukan penyatuan, bahkan seperti
seorang maniac, Agung bahkan sesekali mengajaknya menyatu 3 kali sehari.
Kiran mengulum senyumnya kala mendengar pertanyaan
pengatin baru ini.
“Sering-sering aja gitu gituan mbak, nanti juga jadi sendiri,” jawab Kiran, sambil mengulum senyum.
Widya mencebik, tahu jika Kiran sedang menggodanya.
“Apa ada gaya khusus biar cepat hamil?” tanya Widya lagi, kepalang basah menahan malu, hari ini ia akan tanyakan semuanya pada Kiran.
__ADS_1
Dan tawa Kiran tak bisa lagi ditahan, pecah
seketika. Tawa itu terhenti, saat Widya menepuk lengannya cukup keras.
“hih! Aku serius!” keal widya, lengkap dengan tatapannya yang tajam
“Maaf mbak,” ucap Kiran, dengan kekehan yang mulai mereda.
“Ada tidak?” tanya Widya sekali lagi.
“Aku tidak tahu, tapi aku sering main diatas,” jawab Kiran jujur, seraya membayangkan masa-masa indah itu.
Widya hanya beroh ria, seraya menganggukkan kepalanya berulang. Seolah sudah mempelajari sesuatu dari Kiran. Karena selama
inipun ia selalu berada di bawah.
“Jadi nanti malam mbak mau coba diatas?” goda Kiran lagi lalu terkekeh.
Widya tak peduli dengan kekehan itu, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Dan Kiran makin tergelak.
Bahkan hingga Widya pulang, Kiran masih
senyum-senyum sendiri, meraa lucu.
Terbayang akan Widya dan Agung malam ini.
Terkekeh lagi dan terkekeh lagi.
“Ibu kenapa sih? Dari tadi senyum terus?” tanya Desi penasaran, dan dengan mengulum senyumnya Kiran menggeleng.
“Tidak ada apa-apa Mbak,” jawab Kiran pelan. Kembali memasangkan baju sang anak yang baru selesai mandi.
“Mbak, kasih Aydan susu dulu ya, aku mau turun,” ucap Kiran setelah Aydan terlihat rapi, lengkap pula dengan bedak bayi yang
belepotan diwajahnya.
“Iya Bu,” jawab Desi patuh, dan segera mengambil alih Aydan untuk kini bersama dengan dirinya.
Sementara Kiran turun, menyambut kedatangan sang
suami yang sebentar lagi memasuki jam pulang kerja.
Kiran menunggu di dapur, sekaligus membantu bude
Idah menyiapkan makan malam. Ada Yuli juga disana.
“Kamu belum mandi? Umi pikir sekalian mandi bareng Aydan,” tanya Yuli saat melihat sang menantu yang kembali turun masih
menggunakan baju yang sama.
“Nanti saja Umi, sekarang aku gampang gerah,” jawab
Kiran jujur.
Hingga tak berselang lama, Aslan yang ditunggu-tunggupun datang. Dengan tergesa, Kiran langsung meninggalkan dapur itu, lalubergelayut manja dilengan sang suami.
“Ulat bulu,” ucap Yuli, ketika melihat kelakukan sang menantu, Idah yang mendengar ucapan itupun mengulum senyumnya.
Ia tahu, sang majikan hanya bercanda saja.
__ADS_1