
Sedari mulai bekerja, Kiran merasakan tak nyaman
pada tubuhnya. Perutnya terasa mual, sakit hingga ia mengeluarkan keringat
dingin. Namun sekuat tenaga Kiran menahan itu dan tetap melanjutkan
pekerjaannya.
Hari ini Kiran banyak membuat janji temu dengan para
pembeli yang akan datang ke shoowroom, pembeli yang Kiran peroleh dari
promosinya di media sosial.
Meski menbahan sakit seperti itu, namun Kiran tetap
bekerja dengan profesional. Ia hanya terus meminum air putih untuk membuah
kesadarannya kembali.
Hingga saat makan siang akhirnya ia tumbang, saat
Agung mengajaknya untuk makan siang bersama Widya pula, Kiran malah berlari
dengan cepat menghindari Agung, dengan tergesa, Kiran masuk kedalam kamar mandi
dan memuntahkan semua isi perutnya.
Agung yang merasa cemas lalu meminta Widya untuk
menemui sahabatnya itu di dalam kamar mandi wanita.
Dan benar saja seperti cerita Agung, di dalam sana
Widya melihat Kiran yang sedang kesakitan. Berulang kali Kiran muntah-muntah,
hingga terlihat lemas.
“Ran, apa yang terjadi?” tanya Widya cemas, ia
langsung saja memijat tengkuk Kiran dan membantu Kiran untuk menahan tubuhnya
agar tak ambruk.
“Tidak tahu Bu, perut saya mual sekali,” jawab Kiran
diantara sadar dan tidak sadar, bahkan ia merasa pandangannya mengabur dengan
kepala yang sedikit pusing.
“Apa sudah lebih baik?” tanya Widya lagi saat Kiran
tak lagi muntah-muntah.
“Ayo, aku kan membawamu ke rumah sakit,” ucap Widya
dengan suaranya yang tegas. Kiran hanya bisa menurut, saat ini ia memang butuh
penangannan. Butuh obat untuk meredakan rasa mual ini.
Akhirnya, bersama dengan Agung, Widya mengantar
Kiran di rumah sakit terdekat. Selama perjalanan itu, baik Widya ataupun Agung
sama cemasnya, karena Kiran mendadak terlihat pucat.
“Aku telepon Aslan ya?”
“Tidak usah,” jawab Kiran cepat dengan suaranya yang
lirih, Agung hanya bia menurut.
Hening.
Namun sesaat kemudian, Kiran meraba perutnya yang
masih rata. Menerka-nerka apakah ini gejala awal kehamilan atau bukan. Ia tersenyum
tipis ketika membayangkan akan hal itu, jujjur saja ia banyak berharap.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil yang
dikemudikan Agung sampai di rumah sakit yang mereka tuju.
Widya segera membantu Kiran untuk turun.
“Maaf ya Bu, saya jadi merepotkan,” ucap Kiran yang
tidak enak hati, Widya sampai ikut mengantarnya kesini.
“Kalau begitu cepat sembuhlah, biar tidak merepotkan
__ADS_1
lagi.”
“Terima kasih Bu.”
“Hem,” jawab Widya singkat, lalu keduanya mengulum
senyum, dan mulai melangkah masuk. Sementara Agung yang mendengar pembicaraan
itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu mengikuti langkah keduanya dari belakang.
Kiran, masuk ke dokter umum. Belum cukup berani
untuk langsung mengajak Widya untuk membawanya ke dokter kandungan.
Widya ikut masuk, sementara Agung menunggu di kursi
tunggu yang ada disebelah ruangan itu.
“Ibu Kiran masuk angin, juga tekanan darahnya
rendah,” jelas dokter itu apa adanya, Widya bernapas lega sementara Kiran
langsung menunjukkan raut wajah kecewanya. Sesaat ia seperti gamang. Akhirnya
Kiran hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah. Harapan terlalu tinggi.
“Saya resepkan obat, ibu Kiran bisa langsung
menebusnya di apotik.”
Dokter itu menuliskan sesuatu didalam kertas, lalu
memberikannya kepada Widya.
“Terima kasih Dok,” ucap Widya saat menerima uluran
kertas itu. Dan Kiran hanya terus terdiam.
Keluar dari dalam ruangan itu, Kiran masih
termenung. Mulai banyak ketakutan-ketakutan yang menguasi hati dan pikirannya.
Ia takut, ia tak bisa hamil lagi, mengingat usianya yang sudah nyaris berkepala
4.
Ia takut Aslan juga merasakan rasa kecewa, seperti
yang dirasakannya kali ini.
mengucapkan istigfar berulang kali lalu disusul kata syukur di dalam hati.
Ia sudah memiliki Aydan, dan masih banyak orang
diluaran sana yang mungkin tidak seberuntung dirinya.
Dengan perlahan, Kiran mulai kembali tersenyum. Lalu
ia, Widya dan juga Agung bersama-sama menuju apotik untuk menebus obat itu.
“Sayang, aku ke toilet dulu ya, kamu tunggu disini
saja, biar aku tidak sulit lagi untuk menvcari,” pamit Agung pada sang kekasih.
Widya menurut, bahkan tak menghindar saat Agung
mengelus pucuk kepalanya dengan sayang.
Kiran yang melihat itu lalu meledek keduanya, tapi
yang diledeki tidak peduli.
Agung pergi dan meninggalkan Kiran dan juga Widya
disana, kedua wanita ini duduk di kursi tunggu, seraya menunggu nama Kiran
dipanggil untuk membayar obat yang ia tebus.
Pelan, Kiran merasa Widya mengelus punggungnya,
Widya, cukup tahu jika Kiran tengah kecewa, Widya tahu, jika Kiran berharap ia
tak masuk angin, melainkan hamil. Semua itu tergambar jelas di raut wajah Kiran
saat dokter itu mengatakan tentang
keluhannya tadi. Juga setelah melalui pemeriksaaan.
Kiran menoleh dan membalas tatapan Widya.
“Sabar, berarti disuruh coba lagi,” ucap Widya
__ADS_1
ambigu, namun mendengar itu, Kiran langsung memeluk tubuh Widya erat.
Ia begitu bersyukur, ada orang yang mengetahui
kegundahan hatinya tanpa ia mengatakan sepatah katapun.
“Terima kasih Mbak,” jawab Kiran yang nyaris
menangis, karena haru.
Widya tersenyum, lalu membalas pelukan Kiran pula.
Karena sejujurnya, ia pun merasakan kegundahan yang sama.
“Mbak, besok kita belanja yuk, beli sayuran sama
susu program hamil,” ajak Kiran antusias, setelah mereka saling melepas
pelukan.
“Tapi kan aku belum menikah Ran, apa tidak pamali?
Bagaimana jika aku dan Agung gagal menikah?” jawab Widya, yang merasa minder.
Walau semuanya sudah terencana dengan matang, namun ia masih menyimpan banyak
ketakutan. Bahkan dulu, suaminya meninggal tak lama setelah mereka menikah.
“Apa yang kalian bicarakab? Kenapa kita harus gagal
menikah?” tanya Agung dengan nada tak suka, ia sudah kembali dan mendengar
ucapan kekasihnya itu.
Kiran terdiam, takut juga kalau Agung sedang marah
begini.
“Aku dan Kiran ingin pergi untuk membeli susu hamil,
tapi bagaimana? Kita kan belum menikah,” jawab Widya lirih, mendengar itu Agung
mulai memahami. Kemarin pun, ia dan Widya sudah membahs tentang ini, untuk
tidak menunda memiliki momongan ketika sudah menikah kelak.
Agung duduk disebelah Widya dan menggenggam erat
tangan kekasihnya itu, tak peduli meski ada Kiran disana.
“Pergilah, itu kan niat baik, tidak ada yang salah
dengan niatanmu itu. Allah bahkan sangat menyukai hambanya yang bersungguh-sungguh
dalam setiap usahanya,” jelas Agung.
Ia bicara seperti bukan Agung yang biasanya,
pembahasan tentang kesungguhan dalam berusaha dibahas dalam majelis ta’lim yang
mereka hadiri kemarin.
Tak hanya Widya, Kiran pun ikut tersenyum pula kala mendengar
itu.
Ya, Kiran dan Widya terlalu banyak berpikir, sampai
melupakan sesuatu yang paling penting, Menyerahkan semuanya kepada Allah dan
tetap berusaha sebaik mungkin.
“Calon suami siapa sih ini? Sholeh banget,” goda
Widya yang ingin mencairkan suasana.
“Calon suaminya Widya,” jawab Agung, lalu mengelus
pucuk kepala Widya dengan sayang.
Kiran yang melihat pemandangan itu, mendadak mual
lagi.
“Huwek!” muntah Kiran pura-pura.
Widya terkekeh, dan Agung malah menjulurkan
lidahnya, meledek. Jika tidak ada Widya, ingin sekali Kiran memukul wajah Agung
itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, nama Kiran dipanggil. Agung yang
mengambil obat itu, seraya membawa dompet Kiran bersamanya.