Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 91


__ADS_3

Sedari mulai bekerja, Kiran merasakan tak nyaman


pada tubuhnya. Perutnya terasa mual, sakit hingga ia mengeluarkan keringat


dingin. Namun sekuat tenaga Kiran menahan itu dan tetap melanjutkan


pekerjaannya.


Hari ini Kiran banyak membuat janji temu dengan para


pembeli yang akan datang ke shoowroom, pembeli yang Kiran peroleh dari


promosinya di media sosial.


Meski menbahan sakit seperti itu, namun Kiran tetap


bekerja dengan profesional. Ia hanya terus meminum air putih untuk membuah


kesadarannya kembali.


Hingga saat makan siang akhirnya ia tumbang, saat


Agung mengajaknya untuk makan siang bersama Widya pula, Kiran malah berlari


dengan cepat menghindari Agung, dengan tergesa, Kiran masuk kedalam kamar mandi


dan memuntahkan semua isi perutnya.


Agung yang merasa cemas lalu meminta Widya untuk


menemui sahabatnya itu di dalam kamar mandi wanita.


Dan benar saja seperti cerita Agung, di dalam sana


Widya melihat Kiran yang sedang kesakitan. Berulang kali Kiran muntah-muntah,


hingga terlihat lemas.


“Ran, apa yang terjadi?” tanya Widya cemas, ia


langsung saja memijat tengkuk Kiran dan membantu Kiran untuk menahan tubuhnya


agar tak ambruk.


“Tidak tahu Bu, perut saya mual sekali,” jawab Kiran


diantara sadar dan tidak sadar, bahkan ia merasa pandangannya mengabur dengan


kepala yang sedikit pusing.


“Apa sudah lebih baik?” tanya Widya lagi saat Kiran


tak lagi muntah-muntah.


“Ayo, aku kan membawamu ke rumah sakit,” ucap Widya


dengan suaranya yang tegas. Kiran hanya bisa menurut, saat ini ia memang butuh


penangannan. Butuh obat untuk meredakan rasa mual ini.


Akhirnya, bersama dengan Agung, Widya mengantar


Kiran di rumah sakit terdekat. Selama perjalanan itu, baik Widya ataupun Agung


sama cemasnya, karena Kiran mendadak terlihat pucat.


“Aku telepon Aslan ya?”


“Tidak usah,” jawab Kiran cepat dengan suaranya yang


lirih, Agung hanya bia menurut.


Hening.


Namun sesaat kemudian, Kiran meraba perutnya yang


masih rata. Menerka-nerka apakah ini gejala awal kehamilan atau bukan. Ia tersenyum


tipis ketika membayangkan akan hal itu, jujjur saja ia banyak berharap.


Hingga beberapa menit kemudian, mobil yang


dikemudikan Agung sampai di rumah sakit yang mereka tuju.


Widya segera membantu Kiran untuk turun.


“Maaf ya Bu, saya jadi merepotkan,” ucap Kiran yang


tidak enak hati, Widya sampai ikut mengantarnya kesini.


“Kalau begitu cepat sembuhlah, biar tidak merepotkan

__ADS_1


lagi.”


“Terima kasih Bu.”


“Hem,” jawab Widya singkat, lalu keduanya mengulum


senyum, dan mulai melangkah masuk. Sementara Agung yang mendengar pembicaraan


itu hanya menggelengkan kepalanya pelan.  Lalu mengikuti langkah keduanya dari belakang.


Kiran, masuk ke dokter umum. Belum cukup berani


untuk langsung mengajak Widya untuk membawanya ke dokter kandungan.


Widya ikut masuk, sementara Agung menunggu di kursi


tunggu yang ada disebelah ruangan itu.


“Ibu Kiran masuk angin, juga tekanan darahnya


rendah,” jelas dokter itu apa adanya, Widya bernapas lega sementara Kiran


langsung menunjukkan raut wajah kecewanya. Sesaat ia seperti gamang. Akhirnya


Kiran hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah. Harapan terlalu tinggi.


“Saya resepkan obat, ibu Kiran bisa langsung


menebusnya di apotik.”


Dokter itu menuliskan sesuatu didalam kertas, lalu


memberikannya kepada Widya.


“Terima kasih Dok,” ucap Widya saat menerima uluran


kertas itu. Dan Kiran hanya terus terdiam.


Keluar dari dalam ruangan itu, Kiran masih


termenung. Mulai banyak ketakutan-ketakutan yang menguasi hati dan pikirannya.


Ia takut, ia tak bisa hamil lagi, mengingat usianya yang sudah nyaris berkepala


4.


Ia takut Aslan juga merasakan rasa kecewa, seperti


yang dirasakannya kali ini.


mengucapkan istigfar berulang kali lalu disusul kata syukur di dalam hati.


Ia sudah memiliki Aydan, dan masih banyak orang


diluaran sana yang mungkin tidak seberuntung dirinya.


Dengan perlahan, Kiran mulai kembali tersenyum. Lalu


ia, Widya dan juga Agung bersama-sama menuju apotik untuk menebus obat itu.


“Sayang, aku ke toilet dulu ya, kamu tunggu disini


saja, biar aku tidak sulit lagi untuk menvcari,” pamit Agung pada sang kekasih.


Widya menurut, bahkan tak menghindar saat Agung


mengelus pucuk kepalanya dengan sayang.


Kiran yang melihat itu lalu meledek keduanya, tapi


yang diledeki tidak peduli.


Agung pergi dan meninggalkan Kiran dan juga Widya


disana, kedua wanita ini duduk di kursi tunggu, seraya menunggu nama Kiran


dipanggil untuk membayar obat yang ia tebus.


Pelan, Kiran merasa Widya mengelus punggungnya,


Widya, cukup tahu jika Kiran tengah kecewa, Widya tahu, jika Kiran berharap ia


tak masuk angin, melainkan hamil. Semua itu tergambar jelas di raut wajah Kiran


saat dokter  itu mengatakan tentang


keluhannya tadi. Juga setelah melalui pemeriksaaan.


Kiran menoleh dan membalas tatapan Widya.


“Sabar, berarti disuruh coba lagi,” ucap Widya

__ADS_1


ambigu, namun mendengar itu, Kiran langsung memeluk tubuh Widya erat.


Ia begitu bersyukur, ada orang yang mengetahui


kegundahan hatinya tanpa ia mengatakan sepatah katapun.


“Terima kasih Mbak,” jawab Kiran yang nyaris


menangis, karena haru.


Widya tersenyum, lalu membalas pelukan Kiran pula.


Karena sejujurnya, ia pun merasakan kegundahan yang sama.


“Mbak, besok kita belanja yuk, beli sayuran sama


susu program hamil,” ajak Kiran antusias, setelah mereka saling melepas


pelukan.


“Tapi kan aku belum menikah Ran, apa tidak pamali?


Bagaimana jika aku dan Agung gagal menikah?” jawab Widya, yang merasa minder.


Walau semuanya sudah terencana dengan matang, namun ia masih menyimpan banyak


ketakutan. Bahkan dulu, suaminya meninggal tak lama setelah mereka menikah.


“Apa yang kalian bicarakab? Kenapa kita harus gagal


menikah?” tanya Agung dengan nada tak suka, ia sudah kembali dan mendengar


ucapan kekasihnya itu.


Kiran terdiam, takut juga kalau Agung sedang marah


begini.


“Aku dan Kiran ingin pergi untuk membeli susu hamil,


tapi bagaimana? Kita kan belum menikah,” jawab Widya lirih, mendengar itu Agung


mulai memahami. Kemarin pun, ia dan Widya sudah membahs tentang ini, untuk


tidak menunda memiliki momongan ketika sudah menikah kelak.


Agung duduk disebelah Widya dan menggenggam erat


tangan kekasihnya itu, tak peduli meski ada Kiran disana.


“Pergilah, itu kan niat baik, tidak ada yang salah


dengan niatanmu itu. Allah bahkan sangat menyukai hambanya yang bersungguh-sungguh


dalam setiap usahanya,” jelas Agung.


Ia bicara seperti bukan Agung yang biasanya,


pembahasan tentang kesungguhan dalam berusaha dibahas dalam majelis ta’lim yang


mereka hadiri kemarin.


Tak hanya Widya, Kiran pun ikut tersenyum pula kala mendengar


itu.


Ya, Kiran dan Widya terlalu banyak berpikir, sampai


melupakan sesuatu yang paling penting, Menyerahkan semuanya kepada Allah dan


tetap berusaha sebaik mungkin.


“Calon suami siapa sih ini? Sholeh banget,” goda


Widya yang ingin mencairkan suasana.


“Calon suaminya Widya,” jawab Agung, lalu mengelus


pucuk kepala Widya dengan sayang.


Kiran yang melihat pemandangan itu, mendadak mual


lagi.


“Huwek!” muntah Kiran pura-pura.


Widya terkekeh, dan Agung malah menjulurkan


lidahnya, meledek. Jika tidak ada Widya, ingin sekali Kiran memukul wajah Agung


itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, nama Kiran dipanggil. Agung yang


mengambil obat itu, seraya membawa dompet Kiran bersamanya.


__ADS_2