Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 157 - Naluri Ibu


__ADS_3

Pulang sekolah.


Suga, mengajak semua teman-teman untuk berkunjung ke rumahnya, mengatakan jika saat ini ia hanya sendirian saja di rumah, sementara kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota.


Semua temannya pun antusias mengangguki, menyetujui ajakan Suga itu.


Sementara Sisil ikut Alana, jika Alana ikut maka ia akan ikut juga, Tapi jika Alana tidak ikut maka ia juga tidak akan ikut.


“Aku tidak ikut, aku harus segera pulang.” Altar menjawab, dan mendengar itu, berarti Alana pun tidak akan pergi ke rumah Suga.


Kelima temannya pun tidak bisa memaksa Altar.


Akhirnya Sisil pulang lebih dulu, sementara alana dan Altar masih melihat semua teman-temannya yang lain mulai keluar dari area parkiran. Setelah semuanya pergi, barulah mereka menuju mobil mereka sendiri dan segera bergegas pulang.


“Al, kamu belum menceritakan padaku, alasan kenapa kamu selalu ingin pulang cepat,” ucap Alana, sesaat setelah Altar memasangkan sabuk pengaman untuknya.


Mendengar itu, Altar langsung mengelus sekilas pucuk kepala Alana dengan sayang. Awalnya Altar memang ingin menceritakan semuanya kepada Alana, namun kini ia urungkan.


Altar tidak ingin, Alana jadi bersedih. Altar tahu, jika Alana pun menyayangi ibunya seperti ibu kandung Alana sendiri.


Karena itulah, Altar memilih untuk menyimpannya sendiri dan membiarkan Alana untuk tidak tahu apa-apa.


“Tidak ada sesuatu yang penting Al, sebenarnya aku pulang cepat juga untuk belajar di rumah. Kalau nilai ku tetap saja jelek, ayah akan menjual motor ku itu,” jawab Altar, bohong.


Dan mendengar itu, Alana menganggukkan kepalanya. Percaya. Nilai Altar selama ini memang selalu buruk, wajar saja jika ayah Agung sampai marah.


“Nanti sore aku akan ke rumahmu, kita belajar sama-sama,” ucap Alana, dengan senyumnya yang terkembang. Hanya membayangkan mereka akan menghabiskan waktu bersama sudah bisa membuat Alana senang.


Kini mobil mereka sudah melaju dan mulai memasuki jalan raya. Berderet diantara mobil-mobil yang lainnya.


“jangan terlalu sore, sebaiknya setelah kamu makan siang langsung saja ke rumahku,” tawar Altar dan Alana pun menganggukkan kepalanya, setuju.


Baik Alana ataupun  Altar, mereka sama-sama ingin segera bertemu, tidak ingin lama-lama berpisah.


Dan seperti kesepakan yang sudah mereka buat, jika sebelum berpisah mereka harus saling memeluk. Sebelum turun dari dalam mobil pun, Alana memeluk tubuh Altar sejenak, menghirup aroma tubuh sang calon suami agar ia bisa menghapalnya dengan baik.


“Aku turun.”

__ADS_1


“Iya Al,” balas Altar, seraya tersenyum  pula, senyum yang sama seperti yang diukir oleh Alana.


Setelah memastikan Alana masuk ke dalam rumahnya, Altar kembali melaju menuju rumahnya sendiri.  Dari dalam  mobilnya, Altar melihat sang ayah yang baru datang juga, menggunakan motor matic miliknya. Entah darimana, sepertinya ayahnya itu baru saja membeli makanan.


Nampak jelas jika sang ayah tengah membawa beberapa kantong plastik, berisi beberapa kotak makanan berwarna putih.


Altar turun dari dalam mobilnya dan menghampiri sang ayah yang sedang menunggu kedatangannya pula.


“Ayah beli makanan?” tanya Altar, seraya mengambil kantong plastik itu dari tangan ayahnya, Altar ingin dia saja yang membawa.


“Iya Al, hari ini ibu tidak masak, jadi kita makan ini saja ya?” jawab Agung, ia sudah membeli beberapa makanan kesukaan anaknya itu, ada ayam bakar lengkap dengan pete bakar pula.


Altar tersenyum sumringah,  seolah baru saja mendengar kabar yang membahagiakan. namun hatinya begitu perih teriris.


Altar tahu, kondisi sang ibu sudah tidak memungkinkan baginya untuk banyak beraktifitas.


Altar juga tahu, jika ibunya hanya  ingin terlihat baik-baik saja di matanya.


Tenggorokan Altar terasa tercekak, namu sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak sampai tumpah.


Altar makin dibuat terperangah, saat melihat sang ibu yang menggunakan hijab, sama seperti ibu Kiran. Padahal selama ini, ibunya itu masih setia mengurai rambutnya jika sedang berada di rumah seperti ini.


“Ibu pakai hijab?” tanya Altar, kembali menunjukkan wajah antusias dan bahagianya.


Dan Widya pun menganggukkan kepalanya, membenarkan. Mulai sekarang, ia memang sudah memutuskan untuk mulai menggunakan hijab. Bukan hanya tentang penyakitnya, namun juga kedamaian hatinya sendiri.


“Altar senang melihatnya,” jawab Altar, ia bahkan langsung memeluk tubuh ibunya, memeluk dengan sangat erat. Matanya terasa begitu panas, namun ia tak bisa menumpahkan air mata itu disini.


“Aku ganti baju dulu ya Bu,” ucap Altar kemudian, lalu tanpa menunggu jawaban sang ibu dan tak lagi melihat ibunya itu, Altar segera menuju dapur dan meletakkan semua makanan, Lalu ia sendiri segera bergegas menuju kamar.


Menutup pintu rapat-rapat dan mulai menangis dalam diam.


Altar mengigit bibir bawahnya kuat, agar tangis itu tidak pecah dan hanya menyisahkan sesenggukan.


“Ya, Allah,” lirih Altar, sungguh pilu. Andaikan bisa, ia ingin sekali menggantikan sakit ibunya itu.


Sumpah demi apapun, Altar tak bisa melihat ibunya menderita menahan sakit.

__ADS_1


“Aku harus bagaimana ya Allah, aku harus bagaimana,” gumam Altar lagi, ia mencoba menghapus air matanya, namun kembali mengalir dengan sendirinya.


Altar, ingin mengatakan kepada ayah dan ibunya jika ia sudah mengetahui semuanya. Altar tidak ingin sang ibu menyembunyikan rasa sakit itu.


Namun ia masih ragu, benarkah keputusannya itu akan tepat.


Tok tok tok!


“Al, kenapa lama sekali, ayo makan Nak,” panggil Widya seraya mengetuk pintu kamar sang anak.


Altar tersentak, dan seketika itu juga tangisnya mereda.


Buru-buru Altar menghapus air mata dan mencoba menetralkan suaranya.


“Iya Bu, tunggu, sebentar lagi,” sahut Altar dari dalam kamar.


Widya yang mendengar sahutan itupun segera meninggalkan kamar sang anak, kembali menemui suaminya yang sudah menunggu di meja makan.


“Mana Altar?” tanya Agung saat melihat sang istri yang datang seorang diri.


“Sebentar lagi kesini Mas,” jawab widya, lalu duduk di kursi sebelah suaminya itu. Duduk dengan wajahnya yang nampak sedang memikirkan sesuatu.


“Kamu kenapa?”tanya Agung, ia bahkan menghadap istrinya dan menatap Widya lekat.


Widya tak langsung menjawab, masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Tadi, sepertinya aku mendengar Altar menangis. Bener nggak ya Mas?” tanya Widya, setelah cukup lama mengambil jeda.


Mendengar itu, kedua netra Agung membola. Anak brandal seperti Altar, mana mungkin menangis, pikirnya dengan yakin.


“kamu pasti salah dengar, tidak mungkin Altar menangis. Kamu tahu dia kan, dia itu anaknya barbar,” jawab Agung kemudian, dan widya sedikit membenarkan.


Namun nalurinya sungguh yakin, jika anak laki-lakinya itu baru saja menangis di dalam kamar.


Meski tidak terdengar jelas, namun isakan tangis sang anak mampu membuatnya berdesir.


“Iya Mas, semoga saja seperti itu. Semoga saja Altar baik-baik saja,” balas Widya kemudian. Ia bahkan menarik dan menghembuskan napasnya pelan, mencoba tenang dan tidak berpikir yang macam-macam.

__ADS_1


__ADS_2