Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 87


__ADS_3

Jam 9 malam, Kiran dan Aslan memutuskan untuk pulang lebih dulu, meski reuni itu masih terus berlanjut. Bahkan Agung pun masih tinggal disana.


Malam itu sedikit gerimis, Aslan lebih dulu pergi ke mobil untuk mengambil payung, sementara Kiran menunggu diteras Cafe, sambil menggendong Aydan yang sudah tertidur.


Setelah kembali, Aslan segera merangkul bahu Kiran agar istri dan anaknya ini tak kehujanan.


"Hati-hati sayang," ucap Aslan saat perlahan Kiran mulai menuruni anak tangga cafe itu, turun ke arah parkiran.


Beberapa orang didalam cafe masih sempat memperhatikan kepergian Aslan dan Kiran itu.


"Jadi siapa yang beruntung diantara mereka berdua, Kiran yang beruntung mendapatkan Aslan atau Aslan yang mendapatkan Kiran?" tanya seorang wanita, sambil terus menatap keluar.


Dimana Aslan dan Kiran berada.


"Kiranlah yang beruntung, dia dapat Aslan saat Aslan sudah kaya dan tampan seperti itu," jawab yang lainnya dengan nada tak suka.


Bagi mereka, sejak dulu Kiran selalu saja mendapatkan keberuntungan yang mereka tidak bisa mendapatkannya.


Hal itu, adalah kenyataan yang sangat menyebalkan.


"Lama-lama Aslan juga pasti akan menceraikan Kiran, mana betah dia hidup bersama wanita kasar seperti Kiran," timpal yang lainnya lagi, lalu 5 wanita itu mengangguk setuju.


Ya, setahu mereka, Kiran adalah wanita yang kasar, pemarah, dan suka memerintah. Bukan tipe istri idaman.


Kiran hanya memanfaatkan wajahnya yang cantik untuk merayu Aslan.


Sementara itu, Kini Kiran dan Aslan sudah masuk ke dalam mobil. Mobil yang mulai menyala, melaju keluar dari area parkiran Cafe. Lalu memasuki jalan raya.


"Sayang, kenapa berhenti?" tanya Kiran, saat mobil itu kembali menepi disalah satu toko.


"Kalian pakailah selimut, sepertinya akan hujan, aku tidak bisa mematikan AC," jawab Aslan, seraya mengambil selimut yang sudah tersedia di kursi penumpang belakang.


Kiran pun menurut, ia bahkan ikut membenahi selimut itu saat sang suami memasangkan di tubuhnya.

__ADS_1


Dan benar saja dugaan Aslan, setelah mobil itu kembali melaju, yang tadinya gerimis, kini berubah jadi hujan.


Jalanan mulai macet, karena terbatasnya pandangan.


"Sayang, kalau mengantuk tidurlah," ucap Aslan, seraya mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.


"Tidak Mas, aku akan menemani kamu, lagipula sebentar lagi kita sampai dirumah," jawab Kiran, lalu mengambil tangan suaminya itu untuk digengamnya erat.


Memberikan kehangatan juga ketenangan sekaligus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, adalah hari minggu.


Sesuai jadwal, hari ini Kiran dan Aslan akan mengikuti majelis ta'lim. Agung pun tetap menghadiri majelis itu meski ia sudah menemukan tambatan hati.


Tak tanggung-tanggung, Agung pun mengajak Widya untuk ikut bersamanya.


Hari ini Widya nampak lebih cantik, dengan hijap warna abu yang ia pakai.


"Sayang, jangan tegang begitu, kita hanya pergi bersama Aslan dan Kiran, tidak ada orang lain," jelas Agung, mobil mereka sudah terparkir dihalaman rumah Kiran.


Menunggu sang tuan rumah untuk turun.


Lalu pergi hanya menggunakan mobil Agung saja.


"Panggil namaku saja, jangan sayang," balas Widya dengan kedua pipi yang sudah merona.


Sumpah demi apapun, Agung ingin sekali segera menyergap wanita ini. Namun sekuat tenaga ia tahan.


Toh, sebentar lagi mereka akan menikah. Menunggu sampai halal akan menjadikan semuanya lebih indah.


Ya, sabar Gung. Batinnya sendiri.

__ADS_1


Hingga tak lama kemudian, dilihatnya Aslan dan Kiran beserta baby Aydan keluar dari dalam rumah itu. Berjalan menuju mobil Agung dengan saling melempar tawa.


Dalam hati kecil Widya dan Agung, mereka sama-sama mengharapkan bahwa pernikahan mereka kelak akan seperti pernikahan Kiran.


Meski banyak cobaan yang menerpa, keduanya tetap utuh dalam satu cinta.


Memilih untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing dibanding selalu mengungkit kelebihannya.


Aslan dan Kiran langsung masuk, duduk di kursi penumpang belakang.


"Mbak, maaf ya lama," ucap Kiran pada Widya, saat bukan jam kantor begini, Kiran akan memanggil Widya dengan panggilan Mbak. Bukan Ibu.


"Dimaafkan," jawab Widya, lalu ia dan Kiran sama-sama terkekeh.


"Ran, boleh aku yang pangku Aydan?" pinta Widya sungguh-sungguh. Diusianya yang matang ini, sungguh Widya pun ingin segera memiliki momongan. Tak ingin menunda.


"Boleh dong," jawab Kiran antusias, lalu memberikan Aydan pada Widya yang duduk di depan.


"Aydan sama mama Wid ya? liatin ayah nyetir," ucap Agung.


Aslan yang mendengar itu hanya mampu mengulum senyumnya, seraya menggeleng pelan.


"Pancingan ya Gung?" tanya Kiran dan Agung mengangguk mantap.


Aydan pun duduk dengan riang dipangkuan Widya itu. Hingga mobil akhirnya mulai melaju, keluar dari halaman rumah Kiran dan memasuki jalan raya.


Tak butuh waktu lama, hanya 20 menit perjalanan, mereka sampai juga disebuah masjid, masjid yang mereka tuju dan menajadi tempat diadakannya majelis tak'lim itu.


Disana sudah ramai, banyak pula orang-orang yang mulai berdatangan.


Saling sapa dan melempar senyum ramah.


Menunjukkan dengan jelas, jika mereka semua adalah sama, satu keluarga.

__ADS_1


__ADS_2