Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 124 - Detak Jantung


__ADS_3

Bibir Kiran makin mengerucut, lalu mencium sekilas pipi kanan sang suami.


Namun Aslan malah menoleh, hingga berakhir bibir keduanya yang saling mengecup sekilas.


“Hih!” kesal Kiran, lalu memukul lengan suaminya


keras, sementara Aslan malah tertawa terbahak. Tawa yang akhirnya diikuti oleh


Aydan, bayi yang mulai bisa berjalan itupun ikut tertawa, meski tidak tahu apa


yang sedang ditertawakan.


“Kalau kayak gini terus, Umi beneran bisa buat taman cucu-cucu,” goda Yuli, saat melihat kemesraan kedua anaknya itu. Aslan masih


setia tertawa, sementara Kiran masih setia mencebik.


Hingga terdengar suara bell rumah yang berbunyi, barulah tawa Aslan mereda. Mereka semua tahu, jika yang datang kali ini pasti


Agung dan juga Widya.


Hari itu, mereka berempat pergi ke rumah sakit


bersama-sama, menggunakan satu mobil, mobil Agung. Kali ini, Aydan tidak ikut bersama mereka, berpikir jika rumah sakit bukanlah tempat yang bagus untuk sang anak.


Kini, mobil Agung sudah melaju, membelah jalanan


kota jakarta. Pagi ini nampak cerah, setelah semalam turun hujan gerimis.


Sedari tadi di kursi belakang yang dihuni Kiran dan Widya terus saja terdengar berisik, kedua wanita ini tak pernah berhenti untuk


bicara. Aslan dan Agung sampai pusing mendengarkannya.


Kiran dan Widya bertukar cerita tentang kehamilan, Kiran pun mengucapkan selamat dan bersyukur pula atas kehamilan Widya itu.


Bahkan sesekali Kiran dan Widya terkekeh, kala


merasa lucu dengan pembicaraan mereka.


“Bagaimana kabar Dinda ya? Sudah tiga hari ini dia tidak ada kabar?” tanya Widya setelah sedari tadi mereka terus membahas tentang


mereka berdua, yang sedang di selimuti kebahagiaan. Widya dan Kiran merasa iba pada


sahabatnya itu, disaat mereka tengah berbahagia seperti ini, Dinda malah sedang terpuruk.


Mereka berdua  tidak tahu, jika tiga hari terakhir, Dinda sudah berbaikan dengan Alfath, sepasang suami istri itu layaknya pengantin baru


yang terus memadu kasih, hingga melupakan alam sekitar.


“Nanti setelah kita periksa, coba aku hubungi dia,”

__ADS_1


jawab Kiran kemudian dan Widya mengangguk setuju.


Tak lama setelah itu, mobil mereka sampai juga


diparkiran rumah sakit. Tanpa mengulur waktu, mereka semua segera turun dan


berjalan beriringan masuk kedalam. Kiran dan Widya berjalan didepan, sementara


Agung dan Aslan mengekor dibelakang.


“Kita mirip supir nggak sih Lan?” tanya Agung, yang merasa aneh akan situasi ini, situasi yang ia rasakan sejak dari rumah tadi. Sejak istrinya sendiri selalu mengabaikan dia dan selalu sibuk dengan Kiran. Kiran, Kiran, Kiran terus, kesal Agung di dalam hati.


Tak langsung menjawab, Aslan lebih dulu terkekeh.


“bukan hanya supir Mas, tapi bodyguard juga,” jelas Aslan, apalagi saat ini mereka terus mengekori langkah-langkah sang istri.


Keduanya lalu terkekeh, merasa lucu sendiri.


Hingga akhirnya, mereka semua sampai di kursi tunggu di depan ruangan dokter susan. Agung lalu dengan cepat mengambil nomor antrian,


ia dapat nomor 29. Sementara Aslan dan Kiran hanya tinggal menunggu, hingga


waktu sampai pukul 9.


Saat itu kursi penuh, Aslan dan Agung berdiri, dan membiarkan para perempuan untuk duduk di sana.


“Jadi gini ya Lan, rasanya nganterin istri periksa?” tanya Agung, yang masih awam. Bukan hanya mereka, namun banyak pula pasangan


“Iya Mas, kasihan kan kalau mereka pergi sendiri?” jawab Aslan dengan balik bertanya, dan Agung menganggukkan kepalanya setuju.


20 menit menunggu, akhirnya Kiran dan Aslan dipanggil. Saat Kiran pergi, barulah Agung bisa duduk di samping sang istri, lalu


menggenggam erat tangan Widya. Saling pandang, lalu sama-sama mengukir senyum.


Sementara didalam ruangan dokter Susan, Kiran


langsung menjalani pemeriksaan. Ia berbaring dan Susan mulai memeriksa keadaan


sang bayi, mengoleskan gel di atas perut Kiran dan mulai menekan-nekannya menggunakan sebuah alat, hingga ruangan yang sunyi itu mendadak dipenuhi suara detak.


Deg deg deg deg!


Deg deg deg deg!


Tersentak, Aslan dibuatnya kala mendengar detak itu. Ada geleyar aneh didalam hatinya, ia haru bukan main.


Dulu, saat Kiran hamil Aydan, ia tak  memilki kesempatan untuk melakukan ini.


“Ini bunyi detak jantungnya ya Pak, normal, bagus,” ucap Susan setelah ia melakukan pemeriksaan itu.

__ADS_1


Sementara Aslan, masih terpaku dengan kedua netra yang mulai berembun.


Kiran yang melihat suaminya hanya mampu tersenyum, ia pun terus bersyukur tanpa henti.


Saat itu, usia kehamilan Kiran mulai memasuki usia 3bulan. Mereka juga melalukan USG, melihat perkembangan sang bayi.


Aslan dan Kiran terus tersenyum, penuh syukur. Bahkan setelah semua pemeriksaan rampung, Aslan pun langsung mencium pucuk kepala sang


istri dengan sayang, tak peduli meski dokter Susan memperhatikan dengan


tersenyum pula.


“Ran, berat badanmu juga naik 5 kilo,” jelas Susan


hingga membuat Kedua netra Kiran membola.


“Masa sih Dok?” tanya Kiran tidak percaya, ia merasa tubuhnya masih sama saja.


Padahal bagi semua orang, Kiran memang nampak lebih berisi. Namun Aslan begitu menyukai perubahan tubuh sang istri itu, lebih enak


ketika dipeluk, lebih terasa ketika diremas.


“Iya, tapi kamu tidak perlu diet-diet, bahkan naik


sampai 15 kilo pun tidak masalah, karena sebelumnya tubuh kamu memang kecil,”


terang Susan lagi.


“Nikmati saja masa kehamilan kamu saat ini, tentang berat badan, nanti akan turun sendiri ketika kamu mulai menyusui,” jelas Susan,


ia tak ingin Kiran jadi cemas atas kenaikan berat badan yang ia alami, lalu


memutuskan untuk membatasi diri.


Mendengar itu, Kiran hanya menganggukkan kepala. Sumpah demi apapun ia memang kini tidak memperdulikan berat badan, jika ia lapar maka ia


akan langsung makan.


Semua yang Kiran lakukan sekarang seluruhnya hanya demi sang anak.


Selesai melakukan pemeriksaan dan konsultasi, Kiran dan Aslan keluar dari dalam ruangan dokter Susan.


Keduanya tersenyum, keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega.


"Mas tidak apa-apa kan kalau aku gendut?" tanya Kiran, meskipun ia merasa baik-baik saja, namun ia sedikit cemas perihal sang suami.


"Aku tidak masalah sayang, kalau bisa atas bawahnya dibuat tambah besar," jawab Aslan ambigu.


Hingga membuat senyum di wajah Kiran berubah jadi wajah kesal.

__ADS_1


"Mesum!" bisik Kiran, karena kini ia dan Aslan susah berdiri tepat disebelah Agung dan Widya.


__ADS_2