Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 65


__ADS_3

Sampai di kantor, Aslan tetap menggenggam erat tangan sang istri. Melewati beberapa karyawan yang menyapanya dengan hormat.


Kiran membalas sapaan itu tak kalah ramahnya. Meski ada beberapa wajah yang menatapnya dengan tatapan yang entah.


Pelan, Kiran menghembuskan napasnya pelan. Jika biasanya ia bisa merasa acuh. Entah kenapa, kini rasanya begitu sesak.


Otak Kiran menerima tatapan tak suka dari sebagian orang. Otaknya memahami jika wajar saja semua orang berpikir buruk tentang dirinya. Faktanya memang ialah yang menjadi orang kedua, lalu kini menjadi satu-satunya.


Otaknya bisa menerima itu semua, tapi tidak dengan hatinya. Kini, mendadak hatinya begitu rapuh. Kenapa? apa karena bawaan bayi? entahlah, Kiran bingung.


Hatinya tak terima tatapan seperti itu, andaikan mereka semua tahu apa yang sudah terjadi. Bagaimana ia bisa menjadi istri kedua, bagaimana ia bisa menjadi satu-satunya.


Lagi, Kiran menghembuskan napasnya pelan. Percuma saja menjelaskan semuanya. Berteriak menceritakan semuanyapun pasti mereka tidak akan peduli.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aslan saat keduanya sudah berada di dalam lift. Dari lobby mereka naik ke lantai 5.


Kiran tak langsung menjawab, ia tersenyum lalu mendekap erat lengan Aslan. Melihat wajah teduh sang suami, kegundahan Kiran hilang seketika.


Benar, untuk apa memperdulikan semua orang. Yang terpenting adalah kini Aslan masih berada disampingnya setelah semua yang terjadi, mencintai dan memahami dirinya.


"Tidak ada apa-apa Mas," jawab Kiran dengan senyum yang mulai mengembang. Ia bahkan bergelayut manja dilengan sang suami.


Melihat itu, Aslan tersenyum seraya mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.


"Jangan buat aku menciummu disini," ucap Aslan sambil menunjuk CCTV di atas mereka.


Arah pandang Kiran mengikuti gerak tangan sang suami, dan melihat CCTV itu. Pelan, Kiran memukul dada Aslan.


"Siapa juga yang minta dicium," cebik Kiran sambil memajukan bibirnya.


Karena gemas, Aslan mengecup sekilas bibir itu.


"Mas!" keluh Kiran dan Aslan malah terkekeh.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di lantai 5. Kedatangan Aslan dan sang istri itu langsung saja mencuri perhatian beberapa staff yang menempati lantai itu.


Di lantai ini terdiri dari beberapa manajer, semuanya memiliki hubungan yang baik dengan Aslan. Bisa dikatakan, jika mereka bukan hanya rekan kerja tapi juga sebagai teman.


Pras sang sekretaris langsung berjalan mendekat, dengan senyum ramah dan mengangguk hormat ia menghampiri atasannya beserta sang istri.


"Selamat datang Bu," ucap Pras sopan. Mendapati perlakuan seperti itu, Kiran tersenyum penuh syukur.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Ares dan Daniel datang mendekat.


"Wah ada nyonya nih," celetuk Ares sambil menepuk bahu Aslan.


"Iya, kenalkan, Nyonya Aslan," seloroh Aslan dengan bangganya.


Ares, Daniel dan Pras tahu betul bagaimana perjuangan Aslan selama Kiran pergi. Seperti kehilangan separuh nyawanya, selama Kiran pergi Aslan sama sekali tak bersemangat untuk hidup.


"Alhamdulilah, selamat datang Nyonya," ucap Daniel tak kalah ramahnya.


Setelah itu, Aslan mengenalkan mereka semua. Perkenalan yang cukup singkat, karena Aslan sudah buru-buru menarik sang istri untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Mereka yang membantuku saat aku sibuk mencarimu," terang Aslan saat keduanya sudah masuk dan menutup pintu ruangan itu, ruangan pimpinan cabang.


Mendengar itu, Kiran tersenyum lalu memeluk tubuh suaminya erat.


"Maafkan aku Mas," ucap Kiran lalu mendongak.


"Dimaafkan, tapi jangan diulangi lagi, meninggalkanku."


"Siap Bos!" jawab Kiran cepat dan lantang, bahkan tangannya diangkat memberikan hormat.


"Bagus," jawab Aslan dengan mimik serius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melaksanakan shalat jum'at, Aslan mengajak sang istri untuk memeriksakan kandunganya ke dokter.


Beberapa hari ini ia sudah terlalu sering menjeguk si jabang bayi. Jujur saja, mengingat itu Aslan sedikit merasa cemas.


"Insya Allah baik-baik saja Mas, kenapa wajah Mas Aslan tegang sekali," canda Kiran saat keduanya sudah turun dari dalam mobil, berjalan beriringan memasuki rumah sakit.


"Aku hanya takut, dokter Susan akan memarahiku," jujur Aslan dengan raut wajah takut-takut. Dokter Susan adalah dokter kandungan Kiran yang baru.


Mendengar itu, Kiran terkekeh.


"Iya juga ya Mas, pasti nanti Mas disuruh puasa dulu," goda Kiran lagi, ia begitu senang mengganggu sang suami.


"Hii," jawab Aslan sambil bergidik ngeri, cobaan berat jika ia harus berpuasa. Hanya bisa melihat tubuh seksi sang istri tanpa bisa menyetubuhi.


Tak berselang lama, keduanya sampai diruangan Dokter Susan.

__ADS_1


Kiran, langsung menjalani pemeriksaan. Sementara Aslan menunggu dengan ketar ketir.


"Bagus, semuanya bagus, anak ibu Kiran dan pak Aslan berkembang dengan baik," jelas Susan ketika serangkaian pemeriksaan sudah selesai ia lakukan.


Mendengar itu, Aslan menghembuskan napasnya lega.


Alhamdulilah. Batin Aslan penuh syukur.


Tak berlama-lama, setelah semuanya dinyatakan baik. Sepasang suami istri ini keluar dari dalam ruangan dokter Susan.


"Anak kita pasti menyukai kunjunganmu Mas," goda Kiran sesaat setelah keduanya keluar.


"Yang suka anaknya apa ibunya?" balas Aslan tak mau kalah menggoda.


Lagi, keduanya terkekeh bersamaan.


Disepanjang perjalanan menuju area parkir rumah sakit Aslan dan Kiran terus saling lempar candaan. Bahkan sesekali Kiran tertawa dengan keras.


Tanpa di sadari keduanya, disebelah sana ada Alfath dan Dinda yang memperhatikan dengan seksama.


Melihat Kiran ada disana, jujur saja keduanya terkejut. Apalagi saat melihat ada pula Aslan. Sudah begitu banyak cerita yang mereka lewatkan.


Tapi satu yang mencuri perhatian keduanya, kebahagiaan Kiran yang terpancar jelas.


Melihat senyum dan tawa Kiran itu, diam-diam Alfath tersenyum kecil. Sangat kecil hingga sang istripun tidak menyadarinya.


"Mas," panggil Dinda yang merasa sedikit cemas. Ini pertama kalinya sang suami melihat Kiran semenjak kecelakaan itu. Jujur saja, Dinda takut hal ini akan mempengaruhi keharmonisan keluarga mereka yang mulai terjalin.


"Kamu ingin menemui Kiran?" tanya Dinda lagi saat dilihatnya sang suami yang hanya terdiam.


Tak langsung menjawab, Alfath lebih dulu menatap lekat netra sang istri. Lalu mengambil Akbar didalam gendongan Dinda.


"Tidak, aku tidak ingin kehadiranku malah mengganggu Kiran," jawab Alfath saat sang anak sudah berada di dekapannya. Hari ini ia dan Dinda akan melakukan imunisasi untuk si jabang bayi.


Medengar jawaban Alfath, Dinda hanya tersenyum kecil. Entah kenapa ia malah merasa getir.


"Tapi sebaiknya Mas menemui Kiran dan suaminya, meminta maaf untuk semua yang sudah terjadi," jelas Dinda, setelah mengatakan itu ia sedikit memalingkan wajahnya, wajah sendu. Tak bisa dipungkiri, Dinda merasa cemburu.


Pelan, Alfath membawa wajah sang istri untuk kembali menghadap kearahnya.


"Baiklah, besok aku akan menemui mereka. Meminta maaf dan menyelesaikan semuanya. Untuk itu, bisakah kamu menemaniku?" tanya Alfath dan Dinda langsung mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


Dinda tersenyum, senyum yang sangat bahagia.


__ADS_2