
Satu minggu berlalu setelah Widya meninggal dunia.
Tapi gurat kesedihan di wajah semua orang masih nampak begitu jelas. Terlebih Altar, yang merasa ia belum membuat ibunya itu bahagia.
“Mas, kenapa lama sekali duduknya, ayo bangun,” ajak Alana pada suaminya itu. Sedari tadi shalat subuh berjamaah, Altar tak menyudahi duduknya di atas sajadah.
Padahal Alana sudah dari dapur untuk mengambil air minum dan kembali lagi masuk ke dalam kamar ini.
Dan Altar masih tetap berada di tempat yang sama, bersimpuh.
“Al, aku ingin bicara sesuatu,” ucap Altar, Alana mendekat dan ikut duduk pula di samping sang suami. Setelah tadi ia meletakkan gelas berisi air hangat di atas nakas.
“Apa?” tanya Alana, setelah ia duduk, ia bahkan menyentuh salah satu kaki suaminya yang duduk bersila.
“Bagaimana dengan rencana kuliah kita?” tanya Altar, memang hal inilah yang ingin ia bicarakan dengan Alana. Tentang masa depan mereka dan rumah tangga mereka pula.
Setelah Widya pergi, Altar merasa seperti kapal yang terombang-ambing, tak tau harus melakukan apa dan bagaimana.
Rasanya pun ia tak ingin menunjukkan kelemahan hatinya itu pada sang ayah. Altar tahu betul ayahnya lah yang paling terpuruk atas meninggalnya sang ibu.
Alana masih terdiam, masih ragu untuk menjawab.
“Menurut Mas, bagiamana?” tanya Alana pula, ia menatap penuh harap pada suaminya itu. Ingin Altar tahu bahwa iapun tak bisa menentukan masa depannya seorang diri.
“Ayo kita kuliah,” ajak Altar langsung, dengan tatapannya yang dalam. Bukan tanpa sebab, kenapa Altar ingin ia dan Alana melanjutkan kuliah.
Altar ingin membanggakan sang ibu yang sudah tiada dengan pencapaiannya di pendidikan. Altar juga ingin mengajak Alana, agar Alana tak hanya berada di rumah saja. Altar tak ingin, Alana malah akan merasa canggung dengan ayah Agung. Apalagi saat ini ayah Agung jadi lebih pendiam daripada biasanya.
“Baiklah kalau itu keinginan Mas, aku akan ikuti,” jawab Alana menurut.
Sejak awal, ia memang ingin mengikuti apapun keputusan suaminya itu.
Jika Altar ingin mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka Alana akan mengikuti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai sarapan bersama.
Altar, langsung mengutarakan kepada sang ayah tentang niatannya dan Alana yang akan melanjutkan pendidikan.
Saat itu, Agung hanya menganggukkan kepalanya, menjawab seadanya.
Agung akan mendukung apapun keputusan kedua anaknya itu.
Melihat sang ayah yang masih begitu bersedih, Alana sungguh tak mampu. Ia pun bahkan sampai merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Kembali teringat ibu Widya dan membuat dadanya sesak.
Alana kembali meragu, benarkah keputusan ia dan Altar untuk melanjutkan kuliah ini. Dan membiarkan ayah Agung seorang diri di rumah ini.
Hanya berteman sepi dan semua kenangan tentang ibu Wid.
“Yah, habis ini aku dan Alana akan ke rumah ayah Aslan, kami juga akan mengatakan tentang ini kepada mereka,” ucap Altar dan lagi-lagi Agung menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya, Altar pun merasa tersayat pula kala melihat ayahnya yang bersedih itu. Namun ia tak ingin terlihat lemah, dihadapan ayahnya Altar akan selalu terlihat tegar.
Dan sesuai dengan rencana, tak lama setelah sarapan itu Altar dan Alana menuju rumah ayah Aslan. Keduanya berjalan beriringan, dengan saling diam.
Seolah tengah sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
“Al, kenapa kamu diam terus, mana istriku yang cerewet?” tanya Altar, ketika mereka sudah mulai keluar dari gerbang rumah.
Ditanya seperti itu, alana malah mencebik.
“Mas, berhenti dulu deh,” pinta Alana akhirnya,
Mendengar itupun, altar reflek menghentikan langkahnya.
Kini, mereka berdiri tepat didepan gerbang rumah ayah Aslan.
“Kenapa?”
“Kenapa?” tanya altar sekali lagi dengan suaranya yang lebih menuntut.
“Hih, jangan dipaksa gitu,” jawab Alana, dengan mencebikkan bibirnya.
Altar, jadi bingung sendiri.
“Jadi kenapa kita berhenti? Apa ada yang ingin kamu katakan sayaaang?” balas Altar, dengan suaranya yang sudah diubah jadi lebih lembut, bahkan mendayu-dayu kala mengucapkan kata sayang.
Kecil, Alana tersenyum. Lalu akhirnya mulai menjawab.
“Apa Mas yakin kita lanjut kuliah? Bagaimana dengan ayah Agung, nanti ayah Agung jadi sering sendirian di rumah. Aku tidak tega Mas,” jujur Alana, inilah yang kini mengganggu pikirannya.
Mendengar itu, Altar pun menghembuskan napasnya pelan.
Jadi bingung pula ingin menjawab apa.
“Kita tanya ayah Aslan dulu lah, bagaimana baiknya.” Putus Altar, dan Alana pun menganggukkan kepalanya, setuju.
Kedatangan Alana dan Altar itu langsung disambut oleh ibu Kiran.
__ADS_1
Kiran bahkan langsung memeluk kedua anaknya erat, seolah sudah lama sekali tidak bertemu.
Padahal baru kemarin sore, Kiran mendatangi rumah mereka untuk mengirimkan makanan.
Setelah melepas pelukan hangatnya, Kiran mengajak anak dan menantunya itu untuk duduk di ruang tengah.
Kemudian tak lama, Ayah Aslan ikut bergabung bersama mereka. Berbincang membicarakan banyak hal.
Salah satunya adalah tentang rencana kuliah mereka, Altar pun mengutarakannya kepada sang ayah mertua.
“kalau menurut ayah, tidak apa-apa kalian berdua sama-sama melanjutkan pendidikan. Jangan jadikan ayah Agung sebagai alasan untuk menunda itu. Jika ayah Agung tahu dia pasti sedih dan merasa bersalah,” jawab Aslan, setelah cukup memahami kegundahan kedua anaknya itu.
Altar dan Alana terdiam, membenarkan ucapan sang ayah.
“Lagipula masih ad ayah dan juga ibu Kiran yang akan menemani ayah Agung, kalian tidak perlu cemaskan itu.” Timpal Aslan lagi.
Dan berhasil membuat Alana dan Altar kembali yakin dengan keputusan mereka.
Tak sampai lama, setelah puas mendapatkan jawaban yang menenangkan kegundahan hati keduanya, Alana dan Altar pamit untuk pulang.
“Al, ayo kita beli ayam bakar pak kumis. Ayah Agung sangat menyukai ayam bakar itu,” ajak Altar pada sang istri, ketika mereka sudah kembali masuk ke dalam halaman rumah mereka.
Saat ini sudah jam 11 siang, sebentar lagi waktunya makan siang.
Memakan menu favorit ayah Agung adalah pilihan Altar.
“Oke deh, aku bawa uang kok,” jawab Alana pula seraya menunjukkan uang 500 ribu rupiah di kantung celananya. Tadi, Kiran memberikan uang itu kepada sang anak.
“Di kasih ibu Kiran ya?” tanya Altar dan Alana mengangguk.
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah, mengambil kunci mobil bersama-sama, lalu beriringan pula menuju garasi mobil.
Masuk ke dalam sana, kedua netra Alana langsung menemukan sesuatu yang tak biasa.
Sebuah kantong plastik yang jatuh di pijakan kakinya.
“Ini plastik apa Mas?” tanya Alana, dan Altar pun sungguh tak tahu apa itu.
“Nggak tahu, punya Ayah mungkin, coba buka.” Titah Altar.
Dan tanpa babibu, Alana langsung membuka plastik yang terikat itu.
Seraya mulai duduk di kursi mobil.
Seketika, kedua netra Alana membola saat ia sudah melihat isinya.
__ADS_1
“Apa?” tanya Altar, yang juga sudah duduk di kursi kemudi dan menutup pintu.
“Testpack,” jawab Alana lirih, namun Altar dapat mendengarnya dengan jelas.