Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 108


__ADS_3

“Kamu tidak kedinginan?” tanya Aslan, sekaligus


cemas.


“Tidak.”


Cukup lama mereka berada di dalam kamar mandi dan


memadu kasih disana. Tapi Kiran, nampak tak ada keluhan sedikitpun, menggunakan


handuk yang memilit tubuh basahnya, keluar dari dalam kamar mandi dengan


wajahnya yang riang.


Sampai-sampai.Aslan mengeryit heran.


“Langsung pakai


baju sayang,” Titah Aslan, saat melihat Kiran malah lebih dulu  mengambil hairdryer.


“Tidak usah


pakai ini, anginnya terlalu kencang, nanti aku akan mengeringkan rambutmu


menggunakan handuk, sekarang pakai baju dulu,” ucap Aslan lagi, seraya


mengambil hairdryer ditangan Kiran dan kembali memasukkan ke laci meja rias


sang istri.


Kiran mengangguk


patuh, lalu menuju lemari pakaian dan memakai baju lebih dulu.


Lalu duduk di


kursi meja rias dan membiarkan sang suami mengeringkan rambutnya yang basah.


“Malam ini tidur


disini ya? Kalau kamu mau tidur bersama Aydan, kita bawa juga Aydan kesini,”


tawar Aslan, seraya terus menggerakkan kedua tangannya, mengeringkan rambut


sang istri secara perlahan.


Sudah beberapa


hari ini, Kiran memang selalu tidur di kamar Aydan. Meninggalkan Aslan tidur


seorang diri di kamar ini, saat Aslan ingin tidur pula di kamar sang anak,


Kiran malah menangis. Katanya, tidak diberi kesempatan untuk berdua saja


bersama sang anak.


“tidak mau,


pokoknya aku mau tidur di kamar Aydan terus, hanya berdua, Mas tidak boleh


ikut,” sanggah Kiran cepat, ia bahkan menatap sang suami melalui cermin


dihadapannya.


“Kenapa? Aku kan


ingin tidur sambil memelukmu Ran,” rengak Aslan dengan wajah memelas.


“Kan tadi sudah


lebih dari peluk,” balas Kiran, lalu terkekeh. Sekilas terbayang, percintaan


panas mereka di dalam kamar mandi.


“Sampai kapan


kamu mau tidur di kamar Aydan dan meninggalkan aku sendiri?”


“Tidak tau, aku


juga tidak tahu kenapa aku tidak mau tidur dengan Mas Aslan,” jawab Kiran


sambil berpikir, ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Padahal ia begitu


menyukai semua snetuhan suaminya itu, tapi ia begitu enggan jika harus menghabiskan


malam bersama.


“Bagaimana jika


nanti malam aku mau lagi?” Tanya Aslan, seraya memeluk tubuh istrinya erat.


“Ketuk saja pintu


kamar Aydan, nanti aku akan keluar,” jawab Kiran, lalu terkekeh. “Tapi setelah


melakukan itu, aku akan kembali lagi ke kamar Aydan,” timpal Kiran lagi hingga


membuat Aslan mencebik.

__ADS_1


Sedangkan Kiran,


makin tertawa lepas.


Mungkin raut


wajah Aslan memang menunjukkan kekecewaan, namun di dalam hatinya, ia begitu


bahagia melihat tawa sang istri. Apapun akan Aslan lakukan, untuk membuat Kiran


selalu bahagia seperti ini.


Tawa Kiran


mereda, saat Aslan mencium sekilas pipinya. Kiran menoleh, lalu Aslan mencium


bibir ranum Kiran, hingga keduanya kembali saling membelit.


Dan percintaan


kedua mereka, tak bisa terelakkan lagi.


****


Hari ini adalah


hari terakhir Kiran bekerja di showroom.


Mulai besok ia


akan fokus untuk mengurus toko baju milik keluarga.


Kiran menolak


saat Aslan memintanya untuk beristirahat dan diam dirumah selama masa


kehamilan, Kiran malah merasa jika ia sangat bersemangat dalam bekerja. Dan


Aslan tak bisa menolak keinginan istrinya itu.


Karena jika


Kiran dilarang, ia akan menangis seharian.


Akhirnya Aslan setuju


saja Kiran masih bekerja meski dalam kondisi hamil begini, namun dengan catatan,


Kiran tak memaksakan diri, jika sudah merasa lelah, maka berhentilah, itulah


yang diucapkan Aslan subuh tadi.


Kiran sedang berpamitan pada semua rekan kerjanya, pada Agung, Widya dan sesama


sales marketing yang lainnya.


Selesai dengan


itu, Kiran segera pamit untuk kembali pulang, karena semua pekerjaannya pun


sudah ia serahkan pada karyawan pengganti dirinya.


Agung dan Widya,


mengantarkan Kiran hingga sampai di samping mobil.


“Duh Ran, aku


pengen peluk, tapi takut Widya cemburu,” ucap Agung, yang merasa sedikit tak


rela Kiran kembali keluar dari showroom ini.


Mungkin, Agung


memang membenci Kiran, tapi rasa sayangnya lebih banyak.


Mendengar itu


Widya mencebik, dan Kiran pun mencebik pula. Kiran, begitu enggan dipeluk oleh Agung,


hanya membayangkannya saja, membuat ia mual.


“Jaga


kandunganmu ya Ran, walaupun kamu sudah tidak bekerja disini lagi, tapi kita


masih bisa sering bertemu, saat makan siang contohnya,” ucap Widya, yang tak


ingin perpisahan ini terasa haru.


Dan Kiran,


mengangguk setuju. Lokasi toko Kiran dan showroom ini juga tidak terlalu jauh,


karena sama-sama berada di daerah yang strategis untuk berbisnis.


“Aku pamit ya


Mbak.” Pamit KIran, ia lalu merentangkan tangannya, ingin memeluk widya. Dan

__ADS_1


Widya pun menyambut itu, hingga kedua wnaita iani saling memeluk erat.


“Aku boleh


ikutan peluk nggak sih?” tawar Agung, ia hanya bercanda, namun ada sedikit pula


keseriusan.


“Banyak omong,”


sahut widya cepatr, lalu menarik kekasihnya itu untuk sama-sama memeluk Kiran


pula.


“Bahagianya,


punya istri dua,” kelakar Agung, hingga membuat pelukan ketiganya terlepas.


Kiran dan Widya


kompak memukul Agung dengan keras, sedangkan yang dipukul hanya terkekeh,


bahkan sampai terbahak.


“Kesedak ludah


sendiri, mampus! Baru tahu rasa,” kesal Kiran.


“Jangan Ran, dia


belum nikahin aku,” sahut Widya.


“Oh iya, maaf


Mbak,” jawab Kiran cepat, lalu ia dan Widya sama-sama terkekeh.


****


Berada di dalam


mobilnya, Kiran mengemudi dengan sangat hati-hati. Ia sudah berpamitan pada


Aslan, bahwa siang ini akan singgah sebentar di toko baju milik mereka.


Mengetahui sang


istri hendak kesana, Aslan pun langsung memerintah Hana untuk menyambut


kedatangan Kiran. Memastikan, bahwa semua karyawan disana mengenal Kiran dengan


baik. Bahkan Aslan pun mengatakan, jika saat ini istri tercintanya itu sedang


hamil muda, jadi jangan buat sesuatu hal yang membuat istrinya itu jadi murung.


Hana menyanggupi


dengan patuh, meski hatinya sedikit rapuh.


Medengar


bagaimana Aslan sangat perhatian pada Kiran, membuat Hana tersenyum getir.


Padahal beberapa


hari teakhir, Hana sudah terlanjur banyak berharap.


Melihat Aslan


yang rela pulang malam, ia yakin jika atasanya ini sudah tak beristri lagi.


Tapi nyatanya?


Ternyata istrinya kini malah sedang hamil muda.


Hana, tak ingin


larut dalam perasaannya yang tak  terbalas, ia kembali menata hati dan hanya focus bekerja, bersikap


seprofesional mungkin yang ia bisa. Bagaimanapun, saat ini Kiran adalah


atasannya yang baru, maka ia harus hormat dan patuh, sama seperti saat ia masih


bekerja bersama Iwan dan juga Aslan.


Dengan setia,


Hana menunggu kedatangan Kiran, memperhatikan dari jendela kaca yang mengarah


kearah parkiran toko. Hingga dilihatnya, mobil pajero berwarna putih yang mulai


terparkir disana, lalu tak lama, turunlah seorang wanita cantik yang nampak


modis meski menggunakan hijab dikepalanya, Hana masih ingat dengan jelas, jika


wanita itu adalah Kiran.


Dengan suaranya


yang lantang, Hana memberi tahu semua karyawan, jika yang datang ini adalah Ibu

__ADS_1


Kiran, istri pak Aslan sekaligus bos baru mereka.


__ADS_2