
“Kamu tidak kedinginan?” tanya Aslan, sekaligus
cemas.
“Tidak.”
Cukup lama mereka berada di dalam kamar mandi dan
memadu kasih disana. Tapi Kiran, nampak tak ada keluhan sedikitpun, menggunakan
handuk yang memilit tubuh basahnya, keluar dari dalam kamar mandi dengan
wajahnya yang riang.
Sampai-sampai.Aslan mengeryit heran.
“Langsung pakai
baju sayang,” Titah Aslan, saat melihat Kiran malah lebih dulu mengambil hairdryer.
“Tidak usah
pakai ini, anginnya terlalu kencang, nanti aku akan mengeringkan rambutmu
menggunakan handuk, sekarang pakai baju dulu,” ucap Aslan lagi, seraya
mengambil hairdryer ditangan Kiran dan kembali memasukkan ke laci meja rias
sang istri.
Kiran mengangguk
patuh, lalu menuju lemari pakaian dan memakai baju lebih dulu.
Lalu duduk di
kursi meja rias dan membiarkan sang suami mengeringkan rambutnya yang basah.
“Malam ini tidur
disini ya? Kalau kamu mau tidur bersama Aydan, kita bawa juga Aydan kesini,”
tawar Aslan, seraya terus menggerakkan kedua tangannya, mengeringkan rambut
sang istri secara perlahan.
Sudah beberapa
hari ini, Kiran memang selalu tidur di kamar Aydan. Meninggalkan Aslan tidur
seorang diri di kamar ini, saat Aslan ingin tidur pula di kamar sang anak,
Kiran malah menangis. Katanya, tidak diberi kesempatan untuk berdua saja
bersama sang anak.
“tidak mau,
pokoknya aku mau tidur di kamar Aydan terus, hanya berdua, Mas tidak boleh
ikut,” sanggah Kiran cepat, ia bahkan menatap sang suami melalui cermin
dihadapannya.
“Kenapa? Aku kan
ingin tidur sambil memelukmu Ran,” rengak Aslan dengan wajah memelas.
“Kan tadi sudah
lebih dari peluk,” balas Kiran, lalu terkekeh. Sekilas terbayang, percintaan
panas mereka di dalam kamar mandi.
“Sampai kapan
kamu mau tidur di kamar Aydan dan meninggalkan aku sendiri?”
“Tidak tau, aku
juga tidak tahu kenapa aku tidak mau tidur dengan Mas Aslan,” jawab Kiran
sambil berpikir, ia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Padahal ia begitu
menyukai semua snetuhan suaminya itu, tapi ia begitu enggan jika harus menghabiskan
malam bersama.
“Bagaimana jika
nanti malam aku mau lagi?” Tanya Aslan, seraya memeluk tubuh istrinya erat.
“Ketuk saja pintu
kamar Aydan, nanti aku akan keluar,” jawab Kiran, lalu terkekeh. “Tapi setelah
melakukan itu, aku akan kembali lagi ke kamar Aydan,” timpal Kiran lagi hingga
membuat Aslan mencebik.
__ADS_1
Sedangkan Kiran,
makin tertawa lepas.
Mungkin raut
wajah Aslan memang menunjukkan kekecewaan, namun di dalam hatinya, ia begitu
bahagia melihat tawa sang istri. Apapun akan Aslan lakukan, untuk membuat Kiran
selalu bahagia seperti ini.
Tawa Kiran
mereda, saat Aslan mencium sekilas pipinya. Kiran menoleh, lalu Aslan mencium
bibir ranum Kiran, hingga keduanya kembali saling membelit.
Dan percintaan
kedua mereka, tak bisa terelakkan lagi.
****
Hari ini adalah
hari terakhir Kiran bekerja di showroom.
Mulai besok ia
akan fokus untuk mengurus toko baju milik keluarga.
Kiran menolak
saat Aslan memintanya untuk beristirahat dan diam dirumah selama masa
kehamilan, Kiran malah merasa jika ia sangat bersemangat dalam bekerja. Dan
Aslan tak bisa menolak keinginan istrinya itu.
Karena jika
Kiran dilarang, ia akan menangis seharian.
Akhirnya Aslan setuju
saja Kiran masih bekerja meski dalam kondisi hamil begini, namun dengan catatan,
Kiran tak memaksakan diri, jika sudah merasa lelah, maka berhentilah, itulah
yang diucapkan Aslan subuh tadi.
Kiran sedang berpamitan pada semua rekan kerjanya, pada Agung, Widya dan sesama
sales marketing yang lainnya.
Selesai dengan
itu, Kiran segera pamit untuk kembali pulang, karena semua pekerjaannya pun
sudah ia serahkan pada karyawan pengganti dirinya.
Agung dan Widya,
mengantarkan Kiran hingga sampai di samping mobil.
“Duh Ran, aku
pengen peluk, tapi takut Widya cemburu,” ucap Agung, yang merasa sedikit tak
rela Kiran kembali keluar dari showroom ini.
Mungkin, Agung
memang membenci Kiran, tapi rasa sayangnya lebih banyak.
Mendengar itu
Widya mencebik, dan Kiran pun mencebik pula. Kiran, begitu enggan dipeluk oleh Agung,
hanya membayangkannya saja, membuat ia mual.
“Jaga
kandunganmu ya Ran, walaupun kamu sudah tidak bekerja disini lagi, tapi kita
masih bisa sering bertemu, saat makan siang contohnya,” ucap Widya, yang tak
ingin perpisahan ini terasa haru.
Dan Kiran,
mengangguk setuju. Lokasi toko Kiran dan showroom ini juga tidak terlalu jauh,
karena sama-sama berada di daerah yang strategis untuk berbisnis.
“Aku pamit ya
Mbak.” Pamit KIran, ia lalu merentangkan tangannya, ingin memeluk widya. Dan
__ADS_1
Widya pun menyambut itu, hingga kedua wnaita iani saling memeluk erat.
“Aku boleh
ikutan peluk nggak sih?” tawar Agung, ia hanya bercanda, namun ada sedikit pula
keseriusan.
“Banyak omong,”
sahut widya cepatr, lalu menarik kekasihnya itu untuk sama-sama memeluk Kiran
pula.
“Bahagianya,
punya istri dua,” kelakar Agung, hingga membuat pelukan ketiganya terlepas.
Kiran dan Widya
kompak memukul Agung dengan keras, sedangkan yang dipukul hanya terkekeh,
bahkan sampai terbahak.
“Kesedak ludah
sendiri, mampus! Baru tahu rasa,” kesal Kiran.
“Jangan Ran, dia
belum nikahin aku,” sahut Widya.
“Oh iya, maaf
Mbak,” jawab Kiran cepat, lalu ia dan Widya sama-sama terkekeh.
****
Berada di dalam
mobilnya, Kiran mengemudi dengan sangat hati-hati. Ia sudah berpamitan pada
Aslan, bahwa siang ini akan singgah sebentar di toko baju milik mereka.
Mengetahui sang
istri hendak kesana, Aslan pun langsung memerintah Hana untuk menyambut
kedatangan Kiran. Memastikan, bahwa semua karyawan disana mengenal Kiran dengan
baik. Bahkan Aslan pun mengatakan, jika saat ini istri tercintanya itu sedang
hamil muda, jadi jangan buat sesuatu hal yang membuat istrinya itu jadi murung.
Hana menyanggupi
dengan patuh, meski hatinya sedikit rapuh.
Medengar
bagaimana Aslan sangat perhatian pada Kiran, membuat Hana tersenyum getir.
Padahal beberapa
hari teakhir, Hana sudah terlanjur banyak berharap.
Melihat Aslan
yang rela pulang malam, ia yakin jika atasanya ini sudah tak beristri lagi.
Tapi nyatanya?
Ternyata istrinya kini malah sedang hamil muda.
Hana, tak ingin
larut dalam perasaannya yang tak terbalas, ia kembali menata hati dan hanya focus bekerja, bersikap
seprofesional mungkin yang ia bisa. Bagaimanapun, saat ini Kiran adalah
atasannya yang baru, maka ia harus hormat dan patuh, sama seperti saat ia masih
bekerja bersama Iwan dan juga Aslan.
Dengan setia,
Hana menunggu kedatangan Kiran, memperhatikan dari jendela kaca yang mengarah
kearah parkiran toko. Hingga dilihatnya, mobil pajero berwarna putih yang mulai
terparkir disana, lalu tak lama, turunlah seorang wanita cantik yang nampak
modis meski menggunakan hijab dikepalanya, Hana masih ingat dengan jelas, jika
wanita itu adalah Kiran.
Dengan suaranya
yang lantang, Hana memberi tahu semua karyawan, jika yang datang ini adalah Ibu
__ADS_1
Kiran, istri pak Aslan sekaligus bos baru mereka.