
Tepat jam 9 malam, Aslan dan Kiran sampai di rumah. Baby Alana sudah tertidur pulas di gendongan sang ibu. Selama perjalanan pulang tadi, baby Alana terus menyusu.
Sampai di ruang tengah, Aslan dan Kiran hanya bertemu dengan bude idah. Bude idah tengah menonton TV seorang diri.
Saat Kiran menanyakan dimana Umi Yuli dan juga Aydan, Bude Idah mengatakan jika ibu Yuli sudah tidur bersama Aydan di kamarnya.
Mendengar penjelasan bude Idah, Kiran pun mengintip sekilas kamar sang ibu mertua. Dan benar saja, dilihatnya Yuli dan Aydan tidur saling memeluk.
Kiran tersenyum, hatinya begitu menghangat ketika melihat pemandangan itu. Ia lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, merapikan selimut yang sedikit tersingkap dari tubuh sang ibu mertua.
Dalam hati Kiran ia terus berdoa, agar Umi selalu diberi kesehatan, juga kebahagiaan yang banyak.
"Ayo sayang, kita kembali ke kamar," desis Kiran pada baby Alana yang masih berada di gendongannya.
Berbisik, seolah ia dan Alana sedang mengendap-ngendap masuk ke kamar ini.
Keluar dari dalam kamar Yuli, Kiran langsung disambut sang suami yang sudah membawa seteko air putih.
Saat Kiran ke kamar sang ibu, Aslan ke dapur untuk mengambil air itu.
Keduanya lalu kembali berjalan beriringan menuju kamar mereka di lantai 2. Sampai di sana, Kiran segera menidurkan sang anak. Mengganti pampers Alana dengan pampers yang baru, setelah membasuhnya hingga bersih.
Jika sudah tidur seperti ini, Alana tidak akan terbangun meski tubuhnya di otak atik oleh sang ibu.
Selesai dengan baby Alana, Kiran membersihkan dirinya sendiri. Ia dan Aslan tadi belum melaksanakan shalat isya, hingga sebelum mereka tidur. Aslan dan Kiran lebih dulu shalat isya berjamaah.
Di malam yang sunyi ini, keduanya khusuk menghadap sang Khalik. Selesai shalat pun mereka masih berzikir.
Mensyukuri atas semua nikmat yang mereka peroleh.
"Sayang, sebelum tidur minum air putih mu," ucap Aslan mengingatkan, saat mereka sedang membereskan alat-alat shalat mereka.
"Iya Mas," jawab Kiran patuh.
Selesai meminum segelas penuh air putih. Kiran ikut berbaring suaminya di atas ranjang. Lalu mendekat dan memeluk suaminya erat.
"Mas, besok saja yaa? aku lelah," pinta Kiran setelah memeluk suaminya erat.
__ADS_1
Pertanyaan yang ambigu, namun Aslan tahu pasti apa maksud istrinya itu.
"Iya sayang," balas Aslan tulus, ia bahkan menciumi pucuk kepala sang istri dengan sayang.
Tak sampai di sana, Aslan pun mengelus punggung istrinya, memberikan ketenangan.
Setelah menikah dengan Kiran, Aslan merasakan hidupnya jadi lebih sempurna. Meski pada awal mereka menikah itu bukanlah sesuatu hal yang mudah.
Namun dengan ketulusan dan keihklasan, kini mereka berdua bisa hidup dengan bahagia, membina rumah tangga yang penuh dengan cinta.
Lagi, Aslan mencium pucuk kepala sang istri dengan sayang.
"Aku mencintaimu Ran," lirih Aslan, dan Kiran tak menanggapi apapun.
Kiran sudah terlelap dengan begitu nyenyak. Seolah lengan Aslan adalah tempat ternyaman nya untuk tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Kiran membuka mata dan tak menemukan siapapun selain dirinya sendiri di dalam kamar ini.
Seingatnya, setelah shalat subuh tadi ia kembali tidur. Namun tidak menyangka, jika akhirnya ia ditinggal sendirian seperti ini.
Kiran kembali menguap, seraya menurunkan kedua kakinya di atas lantai. Malam ini sepertinya Kiran terbangun selama 5 kali untuk menyusui baby Alana.
karena itulah, hingga subuh datang pun ia kembali mengantuk.
Tanpa babibu, Kiran segera bergegas mandi, ia ingin segera menghampiri semua keluarganya di lantai 1.
Dan 10 menit kemudian, Kiran menyelesaikan ritual kebersihannya. Keluar dari sana menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan Kiran langsung melihat siapa yang datang. Ternyata itu sang suami, masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu itu rapat-rapat.
melihat kelakuan sang suami, Kiran terkekeh. Tanpa ada kata-kata, Kiran sudah tahu betul apa keinginan suaminya itu.
Aslan mendekat, dan menghampiri Kiran yang sedang senyum-senyum sendiri dengan tubuhnya yang menggoda.
__ADS_1
Sesaat keduanya saling tatap, hingga Aslan lebih dulu bergerak untuk mengikis jarak. Penyatuan pagi itu tak berlangsung lama.
Karena tadi, Aslan hanya pamit untuk membangunkan Kiran.
Percintaan singkat, namun mampu meleburkan semua hasrat. Dan dihentakkan Aslan yang terakhir, ia semakin mendorong masuk inti tubuhnya, hingga membuat keduanya melenguh panjang.
Aslan dan Kiran saling tatap dengan bibir yang saling mengukir senyum.
"Buruan, nanti Umi manggil, mikir aku kenapa-kenapa." Kiran mengingatkan, karena suaminya masih belum mencabut diri.
Namun saat mendengar nama sang ibu dibawa-bawa, Aslan lalu dengan cepat menarik inti tubuhnya, hingga membuat Kiran mendesis. Getaran yang masih tersisa itu seolah kembali diberi serangan.
"Tidak usah mandi lagi sayang, bersihkan saja ininya," pinta Aslan dan Kiran mengangguk.
Seperti pasangan yang belum menikah, mereka buru-buru bersiap untuk turun. Takut ketahuan oleh umi Yuli.
Setelah semuanya bersih, Kiran dan Aslan segera turun ke lantai 1. Berjalan beriringan dengan saling lempar tawa. Membayangkan percintaan mereka pagi ini yang terasa sangat singkat. Namun membuat keduanya ingin mengulang dan mengulanginya lagi.
Terlebih Aslan.
"Mas Ih!" didenger Umi kapo!" kesal Kiran, pasalanya suaminya itu terus membisikkan kata-kata nakal di telinga nya.
Tawa Aslan mereda saat mereka mulai masuk ke dapur. Melihat Alana yang digendong oleh Yuli, sementara Aydan berlari-lari dan diawasi oleh Desi.
"Ran, makan sayur yang banyak Nak, biar kamu sehat, kuat, kata Aslan semalam kamu merasa lelah. Karena itulah pagi ini bangun terlambat," ucap Yuli, sesuai cerita Aslan tadi. Mengatakan jika Kiran pasti akan sulit untuk dibangunkan karena saat ini istrinya itu tengah tidak enak badan.
Sejak semalam, Kiran merasa sangat lelah. Kata Aslan.
Yuli percaya-percaya saja, tidak berpikir jauh jika itu hanyalah alasan Aslan untuk kembali naik ke lantai 2 dan menemui sang istri. Melakukan penyatuan yang sudah beberapa hari ini begitu ia inginkan.
Tak ingin mengulur waktu, setelah memberikan baby Alana pada sang ibu. Aslan mulai menjalankan rencananya.
"Iya sayang, makanlah sayur-sayuran yang banyak," timpal Aslan, seraya mendelik menatap sang istri. Memberi kode, untuk mengiyakan saja ucapan uminya itu.
Dan dengan tersenyum kikuk, Kiran pun mengangguk.
"Iya Umi," jawab Kira patuh.
__ADS_1
Dan Aslan bernapas lega.