Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 50


__ADS_3

"Katakan Ran, katakan jika kamu masih mencintaiku," desis Aslan disela-sela napasnya yang terengah.


Setelah ciuman itu terlepas, kini dahi keduanya yang menyatu, seolah tak ingin kembali berpisah.


Aslan, begitu ingin mendengar sang istri mengatakan kata cinta, ingin meyakinkan hatinya sendiri bahwa cinta itu bersambut. Bahwa cinta itu tak hanya dia yang rasakan.


"Ran?"


"Aku mencintaimu Mas, sangat," jawab Kiran akhirnya, mengakui perasaannya sendiri.


Mendengar itu, dengan bibir yang tersenyum Aslan kembali mendekat, menyesap bibir sang istri dengan lembut.


Namun kali ini Kiran tak hanya tinggal diam, kedua tangannya bergerak menahan bahu sang suami, memintanya untuk melepas pagutan itu.


"Kenapa?" tanya Aslan gamang, mendapati penolakan ia mendadak cemas.


Kiran tak langsung menjawab, ia menatap manik hitam milik sang suami dengan lekat. Kembali teringat, semua kenangan yang sudah ia lewati selama ini.


Rasa sakit yang begitu mendominasi, apalagi kalau bukan tentang Maya.


"Dulu, aku mau menikah karena aku tidak mencintai mu," lirih Kiran dan Aslan hanya terdiam, hatinya merasa mulai was-was, takut mendengar ucapan sang istri selanjutnya.


"Kemarin, saat aku menyadari aku mencintaimu, aku mencoba menerima semuanya, perasaan yang harus di bagi ..."


Hening, hanya mata Kiran yang berubah jadi berembun.


"Tapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya lagi Mas. Baik aku ataupun Maya, kami sama-sama egois ..."


"Jadi_"


"Jadi apa?" potong Aslan cepat, ia tak ingin mendengar kata perpisahan dari sang istri. Karena kini hanya Kiranlah istri satu-satunya, tidak ada Maya ataupun yang lain.


"Jadi lebih baik kita_"


"Tidak Ran! jangan katakan tentang perpisahan," jawab Aslan dengan cepat dan menekan.


Diraihnya kedua tangan Kiran dan digenggamnya erat.


"Aku dan Maya sudah berpisah, umi dan abi ingin sekali bertemu dan meminta maaf padamu. Maya keguguran, setelah sidang perceraian kami selesai, aku mengantarnya kembali ke rumah orang tuanya. Sekarang, besok dan selamanya, hanya kamu istriku seorang, tidak ada yang lain," jelas Aslan tanpa henti, buru-buru ia bercerita, tak ingin Kiran memotong.


"Aku hanya ingin kamu Ran, tidak ada yang lain. Bahkan jika Allah tidak kembali memberikan anak padaku melalui kamu, aku tidak akan kecewa ataupun bersedih hati ..."

__ADS_1


"Cukup kemarin aku kehilangan kamu dan anak kita, aku tidak mau itu terulang lagi ..."


"Jadi aku mohon, jangan tinggalkan aku," lirih Aslan, ia bahkan mengecup kedua tangan Kiran, memohon.


Dilihatnya, sang istri yang malah menangis, Kiran bahkan menggigit bibirnya berulang, menahan agar tangisnya itu tidak pecah.


Antara bahagia dan sedih, keduanya bercampur jadi satu. Disisi lain Kiran begitu bahagia mengetahui kini ialah istri satu-satunya Aslan. Namun disisi lain, iapun ikut bersedih atas Maya, juga merasa bersalah.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kamu berpikir bahwa aku berpisah dengan Maya karena kamu? iya kan?" tebak Aslan, satu tangannya terulur menghapus air mata sang istri.


"Tapi tidak seperti itu, aku berpisah dengannya karena aku memiliki kesalahan dan diapun seperti itu, kami terus berselisih, jika tetap bersama hanya akan menyakiti satu sama lain. Sebelum Maya pergi, ia juga menitip salam untukmu, maaf katanya," jelas Aslan lagi, sedikit berbohong.


Ia tahu, meski Kiran terlihat begitu kasar, namun hatinya begitu lembut.


Jika ia bercerita tentang hubungannya dengan Maya yang sudah tidak baik, justru akan membuat Kiran makin merasa bersalah. Namun jika seperti ini, ia yakin Kiran akan terima.


"Bernarkah?" tanya Kiran dengan sesenggukan dan Aslan mengangguk.


Tersenyum, Aslan lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.


"Aku mencintaimu," disisnya lalu kembali mencium bibir sang istri, bibir yang begitu ia rindukan bagaimana rasanya, ternyata begitu manis, sama seperti dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maaf ya Mas, kamu pasti lelah sedari tadi selalu berjongkok," ucap Kiran dengan suara yang sumbang, sisa tangisnya tadi.


Ia menoleh kebelakang, melihat Aslan yang tersenyum sambil mendorong kursi rodanya masuk.


"Dimana kamarmu?" tanya Aslan, dan Kiran langsung menunjuk arahnya.


Sudah lama mereka tidak tidur bersama, rasanya begitu canggung. Seolah sekarang mereka ini belum menikah, takut-takut akan ada orang yang memergoki.


Tak sampai lama, kini keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Kenapa lampunya kamu matikan?" tanya Aslan, lalu menghidupkan lampu utama kamar itu.


Kiran tidak menjawab, hanya tersenyum kecut.


"Aku akan telepon mas Fahmi dulu, bilang kalau Mas disini," jelas Kiran saat sang suami sudah duduk disisi ranjang dan dia masih di kursi roda.


"Tidak usah," jawab Aslan, menghentikan tangan Kiran yang hendak mengambil ponselnya diatas nakas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya cepat.


"Aku tadi sudah bertemu mas Fahmi dan mbak Tika di lobby," jelas Aslan dengan tersenyum lebar.


Ya, sebelum menemui Kiran, untungnya ia sudah bertemu dengan Fahmi. Ia bahkan bersujud dihadapan kakak iparnya itu untuk mendapatkan maaf.


Tak peduli saat sebagian penghuni apartemen yang lain menjadikannya sebagai bahan tontonan.


Untunglah ada Tika, yang kala itu mendukung Aslan dengan penuh.


Mendengar jawaban sang suami, mata Kiran langsung terbelalak. Ha? ucapnya tanpa sadar.


"Lalu apa kata mas Fahmi?" tanya Kiran penasaran.


"Tidak ada, mas Fahmi memintaku untuk menemuimu, katanya malam ini mereka juga tidak akan pulang. Menginap di hotel tempat makan malam itu diadakan," jelas Aslan dengan bangganya.


Seolah memamerkan restu yang sudah ia dapat.


Seperti tidak percaya, Kiran hanya terdiam. Rasanya tidak mungkin, sang kakak begitu bermurah hati. Apalagi selama ini, kebencian Fahmi pada Aslan dan keluarganya begitu ketara.


Ia dan Tika bahkan dilarang menyebut nama Aslan di rumah ini.


"Benar seperti itu?" tanya Kiran lagi, memastikan dan Aslan mengangguk dengan yakin.


"Semuanya hanya salah paham, aku sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Kini mas Fahmi sudah memaafkan aku," terang Aslan dengan sungguh-sungguh.


Mendengar itu, Kiran mulai percaya, meski sedikit ragu kakaknya tidak sampai membuat keributan.


"Mas pasti lelah, mandilah air hangat, aku akan menyiapkan makan malam," ucap Kiran, ia hanya tinggal menghangatkan beberapa makanan yang sudah dimasak oleh Tika tadi sore.


Pelan, Aslan menggeleng.


"Aku memang lelah, tapi lelah karena merindukan kamu. Jadi tetaplah disini, berada didekatku," jawabnya jujur, hanya Kiranlah semua obat dari sakit yang selama ini ia rasakan.


"Tunggu aku disini, aku akan mandi sebentar," jelas Aslan lagi seraya bangkit.


Ia menggendong Kiran dengan perlahan dan memindahkannya diatas ranjang.


Sebentar, ia kembali menciumi bibir sang istri, meyesapnya dalam dan penuh cinta.


"Aku sangat merindukanmu," desisnya tepat dihadapan wajah Kiran yang sudah bersemu merah.

__ADS_1


Kiran tak mampu menjawab, tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan untuk menggambarkan kebahagiaannya saat ini.


__ADS_2