Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 82


__ADS_3

“Ran, lipstikmu kok berantakan? Abis makan gorengan ya?” tanya Agung cengo. Kiran lalu mengangkat ponsel Agung tadi hingga sampai dibibirnya, menggunakannya sebagai kaca.


“Oh ini, ini sih buatannya mas Aslan,” jawab Kiran


dengan nada serius, lalu merapikan bekas lipstik itu menggunakan jari telunjuknya.


Sementara Agung yang mendengar jawaban itu langsung ingin muntah, ia bergidik ngeri, karena langsung terbayang.


“Nggak mungkin Aslan, aku yakin kamu yang nyosor duluan.”


"Dih, nggak percaya, mas Aslan mah gitu, tiba-tiba Arrww,” jawab Kiran dengan terkekeh, ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa kram karena tertawa.


“Sial!” umpat Agung.


Tak lama setelah itu, mereka sampai di ruangan ibu Widya. Widya duduk dikursi kerjanya dan menatap tajam pada Agung, ya Hanya pada Agung. Hingga membuat Agung menelan salivanya dengan susah payah.


“Ada apa ya bu? Kenapa saya dan Kiran dipanggil?” tanya Agung kemudian dengan suara yang terdengar cemas.


Kiran duduk dengan tenang, siap mendengarkan.


“Tadi ada karyawan yang laporan ke saya, katanya kalian selingkuh.” Jawab Widya jujur, hingga membuat Agung dan Kiran mendelik tidak percaya.


Amit amit amit amit, batin Kiran dan Agung kompak.


“Tidak Bu, saya tidak mungkin selingkuh dengan


Agung. Ibu tahu sendirikan, suami saya bahkan jauuuh lebih tampan daripada Agung,” bela Kiran dengan sekuat tenaga, ia tak peduli dengan nasib Agung, yang penting dia selamat.


“Ibu tahu Ran, kamu tidak salah, ini semua gara-gara Agung tidak menikah juga sampai sekarang, padahal umurnya sudah hampir 37 tahun.”


“Iya Bu, bener, sip! Memang itu alasannya," jawab Kiran setuju.


Sedangkan Agung, ia terperangah, tidak percaya nasibnya akan sehina ini, terpojokkan.


“Ibu minta Gung, kamu segera menikah, jadi


gosip-gosip seperti ini tidak akan muncul lagi, jujur saja, kalau disuruh pilih untuk mempertahankan antara kamu dan Kiran, ibu akan pilih Kiran, dia selalu banyak menjual mobil di showroom ini,” jelas Widya dengan tatapan yang serius.


Kiran menganggukkan kepalanya dan Agung bergeming, tak punya pembelaan.


Hingga mulutnya yang terkunci rapat tadi, tiba-tiba terbuka dan mengucapkan kata-kata yng begitu mencengangkan.


“Kalau begitu, Ibu saja yang menikah dengan saya,” ucap Agung spontan.


Kiran terperangah, ia bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga lebar  menggunakan kedua tangan.


Sedangan Widya, ia seperti tersengat listrik.

__ADS_1


Jantungnya seolah berhenti seketika.


Widya adalah seorang janda, usianya kini 39 tahun. Janda tanpa anak, suaminya meninggal setelah seminggu mereka menikah.


Plak!


Sebuah pukulan keras, Kiran layangkan pada bahu


sahabatnya itu. Hingga membuat kesadaran semua orang kembali.


“Jangan asal ngomong, pecat aja nih Bu! Ngga sopan!” marah Kiran, ia bahkan bangkit dan melenggangkan kedua tangannya dipinggang,


seolah menantang Agung.


“Saya serius Bu, ayo kita menikah. Bukankan kita sudah lama saling mengenal, ibu tahu saya, saya juga tahu ibu. Kiran saksinya,” jawab Agung serius dan mantap.


Rasanya ia tak butuh lagi ta’aruf  ta’arufan, kenapa susah-susah mencari jodoh, sementara dihadapannya ini ada seorang wanita cantik.


Sebagai manajer di showroom ini, Widya tak pernah semena-mena, ia bahkan mengayomi semua bawahanya, sebenarnya sifat lemah lembut itu menggelitik hati Agung. Namun selama ini, Agung hanya merasa rasa itu hanya sebatas mengangumi.


Tapi saat mendengar Widya mendesaknya untuk menikah, entah kenapa hatinya tak suka, ia tak mau menikah jika Widya yang meminta.


Seolah, Widya meminta dirinya untuk menjauh.


Kiran makin terperangah, sementara Widya mendadak sesak. Bahkan Widya sampai memegangi dadanya, merasakan jantung yang berdetak lebih cepat.


“Kamu mau saya pecat?” tanya Widya pada Agung, akhirnya Widya buka suara juga.


“It's oke, tidak masalah, pecat aku sebagai sales


penjualan, lalu kita menikah,” jawab Agung tak main-main.


Bugh!


Kini gantian Widya yang melempar tubuh Agung menggunakan buku tebal diatas mejanya, buku laporan penjualan tahuanan, bayangkan betapa tebalnya buku itu.


“Keluar! Kamu saya pecat!” final Widya.


“Mampus kamu Gung,” desis Kiran, namun terdengar jelas oleh semua orang.


“Keluar!” pinta Widya lagi, akhirnya mau tidak mau Agung dan Kiran pun keluar juga dari ruangan tu. Keluar dengan wajah yang pucat dan


tegang.


Seketika semua karyawan yang meihat itu mengulum senyumnya, mereka yakin, jika Kiran sudah dipecat dari showroom ini. Apalagi


tadi mereka mendengar saat Widya berteriak KELUAR!

__ADS_1


Makanya jangan jadi tukang selingkuh.


Kebanyakan Zina ya gitu.


Dan masih banyak lagi umpatan mereka, membicarakan orang lain dari belakang.


Agung terduduk dikursi kerjanya, gamang. Sementara Kiran, lagi-lagi melayangkan sebuah pukulan keras dibahu sahabatnya itu. Tapi Agung tetap bergeming, masih setia dengan tatapan kosongnya.


“Gila,” ketus Kiran, sumpah demi apapun ia tak


menyangka Agung akan senekad itu. Tanpa ada angin dan hujan apalagi api dan asap, tiba-tiba ia melamar ibu Widya.


Wajar saja, jika saat ini Widya jadi marah. Menikah bukanlah perkara mudah, bukan sebuah candaan yang bisa dengan gampangnya diucapkan, terlebih sebelumnya Widya sudah menikah pula.


Status jandanya tentu menjadi sebuah pertimbangan. Dengan lancangnya Agung melamar wanita itu, seolah merendahkan Widya sebagai seorang jada. Seolah untuk menikahi janda, Agung bisa memintanya dengan semudah itu.


Tanpa perlu menggunakan cara yang lebih layak.


Dan Widya didalam ruangannya sana, mendadak


meneteskan air mata. Entah kenapa, semua ucapan Agung itu malah terdengar menyakitkan baginya. Seolah ia hanyalah sebuah mainan dimata laki-laki itu.


Hingga terdengar pintunya yang terbuka, Widya


buru-buru menghapus air mata dan menatap kearah pintu.


Ternyata, Agung berdiri disana, diambang pintu ruang kerjanya. Agung masuk, bahkan mengunci pintu itu rapat-rapat.


“Maafkan saya Bu,” ucap Agung saat ia sudah berdiri tepat didepan meja kerja sang manajer.


Widya bergeming, hubungan mereka jadi secanggung ini, padahal biasanya, mereka saling tertawa lepas ketika membicarakan tentang pekerjaan.


“Tapi saya tidak main-main dengan ucapan saya tadi,” ucap Agung lagi, hingga membuat Widya menatap kedua matanya dengan lekat, dengan tatatapn yang tajam.


“Saya tidak pernah sekalipun berniat untuk


menyinggung status Ibu sebagai janda, saya spontan mengatakan itu, karena saya


tidak mau ibu meminta saya untuk menikah, saya merasa ibu meminta saya untuk menjauh, dan saya tidak bisa,” jelas Agung.


“Hanya membayangkan saya menikah dengan wanita lain dan memiliki jarak dengan Ibu, hati saya jadi sakit. Itulah yang saya rasakan bu, apa itu artinya cinta?” tanya Agung dan Widya bergeming.


“Saya akan menikah, tapi hanya dengan Ibu. Dan jika Ibu tidak mau, saya akan memaksa,” final Agung. Ia bahkan langsung berjalan dengan cepat menuju kursi Widya, memutar kursi kerja itu dan mengunci tubuh Widya dengan kedua tangannya yang memegang kedua sisi kursi erat-erat.


Dengan tatapanya yang dalam, tanpa izin Agung menjangkau bibir sang manajer, melumaatnya dengan begitu lembut.


Sesaat Widya terkejut, kedua matanya membola. Namun saat merasakan kelembutan dari sentuhan Agung itu, perlahan ia mulai menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2