Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 131 - Alana Putri


__ADS_3

3 bulan berlalu.


Hingga tiba saatnya Kiran akan melahirkan sosok malaikat kecil yang selama ini berada di dalam rahimnya.


Aslan dan Kiran sengaja, tidak menanyakan tentang jenis kelamin sang jabang bayi pada dokter Susan. Meskipun berulang kali mereka telah melakukan pemeriksaan USG.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Aslan, cemas. Namun ia ingin sang istri tenang.


Kiran tak menjawab apapun, sibuk dengan rasa sakit yang ia rasakan sendiri.


Yuli menemani Aslan dan Kiran ke rumah sakit, sementara Iwan yang tengah tidak enak badan tinggal di rumah.


Terus mendoakan agar sang menantu dan cucu ketiganya itu lahir dengan selamat.


"Ran, istigfar sayang, jangan tutup matamu," ucap Yuli pula, seraya terus memegang sang menantu.


Deni, Sang supir pun makin gusar kala mendengar salah satu majikannya itu malah menutup mata.


"Pak Deni, bisa lebih cepat lagi tidak?" tanya Aslan, sekaligus memerintah pula agar jalannya lebih cepat.


"Saya usahakan Mas," jawab Deni, seraya mempertajam penglihatan dan menambah kecepatan mobil itu.


"Ran, kenapa kamu diam saja. Bicara sayang, katakan apapun padaku, marahlah padaku, luapkan semua rasa sakit mu padaku," ucap Aslan lagi.


Kiran hanya terus bergeming, bahkan ia tak berteriak kesakitan. Hanya wajahnya yang meringis menahan sakit itu.


Bukannya senang, Aslan malah semakin gusar.


Ini adalah kali kedua Kiran melahirkan, ia sudah memahami bagaimana siklus sakit ini.


Kiran memang hanya terdiam, namun dalam hatinya ia terus beristigfar. Mencoba berpikir, jika rasa sakit itu adalah bentuk perjuangan sang anak untuk menemui dirinya.


15 menit kemudian, mobil mereka sampai di rumah sakit.


Didepan lobby sana Agung dan Widya sudah menunggu dengan was-was pula. Tadi, mereka melakukan pemeriksaan bulanan calon anak mereka, dan tak sengaja mendengar saat Aslan menelpon dokter Susan, mengatakan jika Kiran akan segera melahirkan. Kontraksi sudah mulai rutin sejak subuh tadi.


"Ayo Lan, dokter Susan sudah menunggu," ajak Agung antusias.


Sumpah demi apapun, Agung tak tega melihat wajah Kiran yang pucat seperti itu. Menggunakan kursi roda, Aslan mendorong sang istri menuju ruangan persalinan. Di sana, dokter susan sudah menunggu.


Saat itu, Aslan dan Yuli ikut masuk ke dalam. Sementara Agung dan widya menunggu di depan, duduk di kursi tunggu untuk ruangan itu.


"Mas, kenapa wajahnya jadi ikutan pucat?" tanya Widya heran. Dilihatnya sang suami yang nampak lebih takut daripada Aslan.

__ADS_1


Widya tidak tahu, jika kini Agung tengah menghawatirkan dirinya. Membayangkan, saat istrinya itu kelak akan melahirkan.


"Tidak apa-apa sayang," jawab Agung bohong. Lalu sekuat tenaga untuk mengendalikan diri. Tak ingin kecemasannya itu membuat istrinya cemas pula.


Sementara itu, di ruang persalinan. Kiran mulai mengenjan, pembukaannya sudah sempurna, jalan bayi untuk keluar sudah terlihat.


"Ayo Ran, semangat, sekali lagi," aba-aba Susan, seraya bersiap mengambil sang jabang bayi.


Kiran terus berusaha mengenjan, meskipun rasanya ia sudah tak sanggup untuk bertahan diantara rasa sakit ini.


Namun kekuatannya kembali pulih, kala menyadari yang sedang berjuang kini bukan hanya dia saja, melainkan juga anaknya.


Anaknya juga tengah berjuang untuk bisa melihat dunia, melihat ayah dan ibunya.


"Em!!" erang Kiran dengan sekuat tenaga, sampai rasanya ia diambang batas.


Namun matanya langsung terbuka, saat terdengar suara tangisan bayi yang begitu jelas.


Lalu merasakan, wajahnya diciumi berulang kali oleh sang suami.


"Masya Allah Ran, terima kasih sayang," guman Aslan, dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh besar pengorbanan seorang istri, yang berjuang diantara hidup dan mati untuk memberikan keturunan.


Kiran tersenyum, seraya membalas tatapan dalam sang suami.


"Kamu hebat Ran, tidak perlu jahitan untuk mengeluarkan malaikat kecil ini," terang Susan lagi, dan membuat Kiran bernapas lega.


"Terima kasih Dok," jawab Kiran kemudian, setelah begitu lama ia terdiam.


"Dari tadi kamu tidak berbicara padaku, apa kamu tidak ingin mengatakan apapun padaku?" pinta Kiran dengan sungguh.


Ia takut, jika Kiran sedang marah padanya.


Mendengar itu Kiran tersenyum.


"Dari tadi Mas sama Umi berisik banget," jawab Kiran dengan terkekeh.


Yuli yang mendengar itu hanya tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala sang menantu dengan sayang.


Lalu beralih mengelus sayang cucu ketiganya yang sangat cantik.


"Masya Allah, dia cantik sekali Ran," ucap Yuli penuh syukur.


"Sama seperti Kiran ya Umi?" jelas Koran dan Yuli menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Apapun akan ia lakukan meskipun harus berbohong, karena lagi-lagi, anak Kiran begitu mirip dengan Aslan.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya Lan?" tanya Yuli antusias, ditanya seperti itu Aslan dan Kiran sontak saling pandang. Menatap dengan saling melempar senyum.


"Sudah Umi," jawab Aslan kemudian.


"Namanya Alana, dari nama ayah dan ibunya, Aslan dan Kirana," timpal Aslan lagi dengan mengulum senyumnya.


Ia dan Kiran memang susah bersepakat tentang nama itu, jika bayinya perempuan, mereka akan memberi nama Alana, sementara jika laki-laki, akan diberi nama Aska.


"Nama yang cantik, hai Alana, cucu Oma," ucap Yuli lagi, penuh syukur.


Hari itu, bukan hanya hari bahagia bagi keluarga Aslan. Tapi disudut relung hati Agung yang paling dalam, ia pun merasakan kebahagiaan yang sama.


Bahagia, menyambut kelahiran sang calon menantu. Pasalnya Agung dan Widya sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka, bayi laki-laki.


Malam itu juga, Kiran sudah diperbolehkan untuk pulang.


Iwan yang sedari tadi berbaring di atas ranjang lantas langsung terbangun, saat mendengar kabar dari sang istri jika mereka semua akan pulang.


Lengkap pula dengan cucu mereka yang ketiga, baby Alana, bayi berjenis kelamin perempuan.


Mendengar itu, berulang kali Iwan mengucapkan syukur, jujur saja, sebenarnya ia mengharapkan anak ketika Aslan dan Kiran adalah perempuan.


Dan ternyata, Allah mengabulkan harapannya itu.


Tepat jam 8 malam, Aslan dan semua anggota keluarganya tengah menunggu. Aydan bahkan langsung berlari kearah pintu utama menyambut mereka semua.


Lalu disusul dengan Iwan yang berjalan tertatih.


"Abi, kenapa kesini, harusnya abi tunggu saja didalam," ucap istrinya, Yuli. Seraya memapah sang suami yang masih nampak lelah.


Namun senyum bahagia Iwan langsung terpancar kala melihat bayi kecil dalam dekapan anaknya.


"Masya Allah, cucu opa," ucap Iwan, mengelus sayang cucu ketiganya itu.


Iwan bahkan langsung merasa lebih baik, seolah Alana adalah obat dari semua rasa sakitnya.


"Abi pasti sangat bahagiakan, dari dulu Abi ingin anak perempuan, dan Akhirnya allah mengabulkan melalui Kiran dan Aslan," ucap Yuli dan Iwan menganggukkan kepalanya, setuju.


"Umi benar, Abi sangat bahagia," jawab Iwan.


Hingga membuat semua orang di sana tersenyum penuh syukur.

__ADS_1


__ADS_2