Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 161 - Membayangkan Yang Tidak-Tidak


__ADS_3

Ucapan sang ayah semalam terus terngiang diingatan Alana hingga pagi ini.


Bahkan sampai ia duduk didalam mobil Altar, ucapan ayahnya itu terus berputar-putar di kepalanya.


Alana tersentak, saat melihat wajah Altar yang tiba-tiba berada persis di depan mata.


Altar, memasangkan sabuk pengaman.


“Loh, kita pakai mobil?” tanya Alana, seperti orang yang baru saja mendapatkan kembali ingatannya yang telah hilang.


“Makanya jangan melamun terus, kamu sampai tidak sadar jika aku menjemputmu menggunakan mobil,” jawab Altar, dengan terkekeh.


“Apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Altar, sesaat setelah mobil mereka melaju, baru saja mobil itu keluar dari halaman rumah Alana.


Alana bergeming, bingung harus menjawab apa.


“Apa tentang ajakan ku semalam?” tebak Altar lagi, ia bahkan melirik sekilas pada Alana yang masih setia menatap jalanan  yang padat merayap itu.


“Al?” panggil Altar sekali lagi hingga membuat Alana tersentak dan langsung menatap kearahnya.


“kamu tidak ingin bicara denganku?”


“Bukan seperti itu Al, aku hanya bingung bagaimana cara bilangnya,” jawab Alana akhirnya, lengkap dengan wajahnya yang memelas.


“Apa kamu tidak ingin menikah denganku?”


“Bukan seperti itu Al,”


“Lalu?” desak Altar, hingga membuat Alana kebingungan. Ia terpojok tidak tahu harus menjawab apa.


Bukannya Alana tidak ingin menikah dengan Altar, hanya saja ia belum siap. Sekarang bukanlah waktu yang tepat, mereka masih sekolah, bahkan masih kelas 2 SMA.


Alana hanya diam, bingung harus menjawab apalagi.


Keheningan itu terus berlanjut hingga mereka sampai di sekolah.

__ADS_1


Saat jam istirahat pun mereka kembali bertemu, namun hanya sebentar saja. Alana mengatakan jika ia dan Sisil akan ke perpustakaan, sedangkan Altar berpamitan ke kantin bersama teman-temannya.


Setelah itu, mereka kembali berpisah dengan hati yang sama-sama terasa sesak, seperti ada beban.


“Ada apa Al?” tanya Sisil, ia tahu jika kini sang sahabat tidak dalam keadaan yang baik-baik saja,


Sejak pagi tadi hingga kini, Alana banyak sekali termenung.


Dan dengan Sisil, Alana tidak pernah bisa berbohong. Duduk di atas lantai disela-sela rak buku perpustakaan itu, Alana menceritakan semuanya pada sang sahabat.


Sisil terperangah, ia bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga.


“menikah?” tanya Sisil, memastikan sekali lagi, takut-takut jika ia jadi tuli dan salah dengar.


“Iya Sil, menikah, sekarang, jika aku bilang iya maka ayah Aslan akan langsung mengurus semuanya. Kata Ayah, saat umurku dan Altar tepat 17 tahun nanti, kami sudah bisa langsung menikah. Bagaimana kepalaku tidak pecah,” jawab Alana, lirih, ia bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan begitu kasar, hingga rambutnya jadi acak-acakkan.


“Wah, itukan tinggal beberapa bulan lagi, aku tidak menyangka, ternyata semudah ini hidupmu di bolak balik,” jawab Sisil, masih dengan keterkejutannya.


“Lalu bagaimana? Apa kamu mau? Katamu kamu sudah menyukai Altar, kenapa kamu ragu?” tanya Sisil lagi, bertubi.


Beberapa hari lalu, Akbar sudah menceramahi Sisil habis-habisan, meminta adiknya itu untuk tidak meracuni otak Alana dengan pikiran-pikiran buruk.


Dan kini, Sisil mencoba menerapkannya. Tak ingin membela Alana secara berlebihan, dan mulai berpikir dari cara pandang orang lain.


“Memangnya kamu setuju jika aku dan Altar menikah sekarang? Bagaimana dengan sekolah kita Sil?” Alana malah balas bertanya.


Sejenak, Sisil pun berpikir dengan otak cerdasnya itu.


“Pertama,. Tidak ada salahnya kalian menikah, karena kedua orang tua kalian juga mendukung itu. Kedua, menikah itu bukan berarti menghentikan karir dan masa depan kita Al, banyak orang yang menikah saat mereka masih sekolah. Dan banyak wanita yang menikah dan masih bekerja. Seperti ibu Kiran, iya kan?” jawab Sisil, seraya menerka-nerka.


Mendengar itu, Alana menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Tak ingin menerimanya, namun disudut hati kecilnya pun membenarkan. Sang ibu memang dulu sempat bekerja meski ia sudah menikah dengan ayah Aslan.


“Bagaimana jika teman-teman kita tahu kalau aku dan Altar sudah menikah? Bagaimana jika sekolah juga tahu?” tanya Alana, mulai cemas. Jujur saja, ini adalah salah satu hal yang membuatnya ragu.


“tentang sekolah, ku rasa ayah Aslan dan om Agung akan mencari solusinya. Dan tentang teman-teman, jika kita tidak buka mulut ku rasa mereka juga tidak akan tahu,” jawab Sisil lagi,  mencoba tenang diantara rasa cemas yang sedang dirasa oleh sang sahabat.

__ADS_1


Lagi-lagi Alana terdiam, memikirkan semuanya dengan sangat matang. Ia tak ingin salah langkah dan akhirnya akan menyesal.


“Apa lagi yang membuatmu ragu?” tanya Sisil.


“Apa kamu meragukan perasaanmu pada Altar?” tanya Sisil sekali lagi, karena Alana masih setia bergeming.


“Bagaimana jika Altar menikah denganku? Apa kamu akan rela?”


Mendengar itu, Alana langsung mendelik, ia bahkan memukul lengan Sisil dengan sangat kuat.


Membuat Sisil gaduh kesakitan dan mengelus-ngelus lengannya yang terasa panas dan perih.


“Sakit Al,” keluh Sisil dengan wajahnya yang memelas, seolah ingin menangis.


“Makanya jangan asal bicara,” kesal Alana dengan wajahnya yang ditekuk-tekuk.


Hanya membayangkan Sisil dan Altar bersama aja, ia sudah merasa begitu tak terima. Apalagi jika hal itu menjadi kenyataan, Alana yakin, ia akan sangat sakit hati.


“Sudah jelas kan? Berarti kamu memang menyukai Altar, kamu tidak ingin melihat Altar bersama orang lain. Jadi jangan ragu lagi, menikah saja, apa susahnya,” balas Sisil, gampang.


“Aku belum siap jika harus itu-itu,” jawab Alana lirih dan ambigu, namun berhasil membuat Sisil tertawa terbahak, bahkan mereka sampai mendapatkan teguran dari petugas perpustakaan yang keliling.


Sisil berulang kali meminta maaf, hingga akhirnya pengawas itu pergi.


“Jangan membahas itu, aku tidak tahu harus menjawab apa,” jawab Sisil akhirnya, setelah tawanya mereda dan pengawas itu menghilang entah kemana.


“Kalau menikah, berarti aku dan Altar akan seperti itu kan? Hii, aku takut,” keluh Alana lagi, ia bahkan langsung memeluk tubuh Sisil erat, takut diapa-apakan oleh Altar, .


“Berhentilah menjijikkan seperti ini, jangan membuatku kembali ditegur,” jawab Sisil, susah payah ia menahan agar tawanya tidak pecah.


Alana beringsut menjauh dari tubuh sahabatnya itu, dan kembali membayangkan yang tidak-tidak.


Mereka terus di sana hingga jam istirahat usai.


Saat keluar dari perpustakaan, ternyata Altar sudah menunggu mereka di depan sana.Melihat itu, bibir Alana tersenyum. Setelah berbicara dengan Sisil, ia mulai menyadari satu hal, jika ia memang tak ingin kehilangan Altar, apalagi sampai melihat Altar bersama orang lain.

__ADS_1


Menyadari itu, Alana mulai memberanikan dirinya untuk menerima ajakan Altar, menikah diusia muda.


Jangan cemas Al, ada ayah dan ibu, juga ada ayah Agung dan ibu Wid. Batin Alana, yakin.


__ADS_2