Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 144 - Dekat Seperti Ini?


__ADS_3

Pulang sekolah kali ini, Alana dan Sisil lagi-lagi menghampiri Altar lebih dulu.


Tak seperti biasanya, biasanya saat pulang sekolah Alana akan menunggunya di taman. Namun kali ini, Alana beserta Sisil malah terang-terangan mendatangi kelasnya. Lalu dengan lantang Alana berucap, “Sayang! Ayo pulang!


Hah! Altar terperangah.


Bahkan tak hanya Altar, tapi seisi kelas jadi heboh gara-gara kelakuan Alana itu. Kelas yang tadinya hanya berisik anak-anak yang mau pulang, kini berubah riuh suara ledekan.


Sumpah demi apapun, lama-lama Altar jadi kesal sendiri, kenapa dua cecurut ini selalu saja mengganggu dirinya.


“Al, apa benar kamu sekarang jadi kekasihnya Altar?” tanya Suga, pada Alana.


Mereka semua memang saling mengenal, kenal-kenal anjing kalau kata orang. Saling tahu tapi tidak terlalu dekat.


“Iya, kata Altar aku kekasihnya, iya kan sayang?” tanya Alana, ganjen. Bahkan Sisil yang melihatnya sampai memegangi perut yang terasa keram, susah payah ia menahan tawa. Melihat wajah kesal Altar sekaligus wajah tidak tahu malu Alana.


“Lepaskan tanganmu!” jawab Altar, saat Alana tiba-tiba langsung memeluk lengan kirinya erat.


Alana mencebik, namun ia tak melepaskan pelukannya itu, hanya sedikit melerainya agar tidak terlalu erat.  Kedelapan  anak SMA inipun berjalan beriringan menuju area parkiran sekolah, tak jauh dari gerbang utama sekolah itu.


Sisil lebih dulu keluar, karena supir yang menjemputnya sudah menunggu didepan gerbang sana.


Tinggallah Alana sendiri, berkumpul bersama


teman-teman Altar di parkiran kala itu.


“Al, pulang bareng Alana kok mukanya cemberut gitu sih, sini kalau nggak mau biar Alana pulang bareng aku,” ucap Bilar, ia bahkan langsung menarik tangan Alana untuk mendekat kepadanya.


Namun secepat kilat pula, Altar kembali menarik Alana untuk berdiri ditempat semula, disampingnya.


Kelima temannya sampai tergelak melihat tingkah Altar itu.


“Makanya jangan sok jual mahal, giliran diambil mencak-mencak,” kini Rizky ikut buka suara, Raffi, Ahmad dan Suga makin tertawa terbahak.


Tak ingin semakin jadi bahan tawa teman-temannya, Altar langsung memasangkan helm di kepala Alana, dan meminta gadis ini untuk segera naik ke atas motor.


Alana menurut, tak peduli pada raut wajah Altar yang kesal pada teman-temannya itu. Alana malah melambaikan tangan saat motor  Altar mulai melaju.


Dan teman-teman Altar pun ikut melambai pula, seraya terus berteriak  menggoda keduanya.


Alana, sampai dibuatnya terkekeh.


“Berhentilah tertawa!” ucap Altar, bengis, matanya menyipit, melirik tajam Alana yang berada dibelakangnya.


Alana tak peduli itu, ia masih asik dengan


kekehannya sendiri, lalu saat teringat akan semua rencana-rencananya, Alana


langsung memeluk pinggang Altar erat menggunakan tangan kanannya.

__ADS_1


“Sayang, jangan marah-marah” jawab Alana, sedikit berteriak.


Berulang kali mendengar kata sayang dari Alana, Altar terus bergidik ngeri.


“Jangan panggil aku sayang! Bersikaplah biasa saja, kenapa jadi berlebihan seperti ini!” balas Altar pula, sedikit membentak.


“Kenapa memangnya? Kamu kan sekarang kekasihku, wajar kan aku memanggilmu sayang? Alana tidak terima.


Sebelum menjawab, Altar menghembuskan napasnya berat.


“Al, aku mohon ya. Bersikaplah biasa saja, aku tidak suka melihatmu berlebihan seperti ini.” Jujur Altar, mencoba bicara dengan lembut agar Alana ini mengerti.


“Kita masih terlalu muda untuk sayang-sayangan! Lagipula aku tidak ingin menikahi mu dalam waktu dekat ini! Jadi aku mohon, jadilah Alana yang kemarin, sebelum kita sama-sama tahu tentang perjodohan kita!” Timpal Altar lagi, dengan suaranya yang langsung berubah jadi tegas.


Membuat Alana tak bisa membantah.


Perdebatan mereka terhenti seirama dengan motor Altar yang berhenti di lampu merah.


Alana mencebik, jika soal mata pelajaran, maka ia akan sangat pintar. Tapi dihadapkan tentang hubungan seperti ini, sungguh Alana tidak tahu apa-apa.


Kamu harus fokus Al? Ingat tujuanmu, membuat altar membencimu dan akhirnya dia yang akan mengatakan pada ayah dan ibu untuk membatalkan perjodohan ini. Batin Alana, kembali meyakinkan hatinya sendiri.


Tak ingin goyah, dengan semua yang diucapkan oleh Altar.


Mereka masih sama-sama terdiam, bahkan hingga motor itu kembali melaju dan kembali lagi berhenti di lampu merah.


“Sayang, jangan marah-marah,” ucap alana pelan, namun ia mendekatkan kepalanya ditelinga Altar.


“Hih! Pacar kok nggak ada romantis-romantisnya,” keluh Alana dan Altar tak peduli sedikitpun.


Bahkan Altar masih setia diam, enggan menanggapi semua yang diucapkan oleh Alana. Lebih enggan lagi ketika membahas kata sayang itu.


Hingga akhirnya, motor mereka berdua sampai di tengah-tengah antara rumah mereka berdua.


Alana langsung turun, dan Altar segera melepas helm wanitanya ini.


“Berhenti memanggilku sayang.”


“Sayang!” jawab Alana cepat, bandel.


“Jangan membuatku marah.”


“Sayang!”


“Alana!!” pekik Altar, kemarahannya benar-benar diuji oleh gadis satu ini, bahkan kemarahan itu sampai naik ke ubun-ubun.


“Sayang, jangan marah-marah begitu,” bujuk Alana lagi dengan wajahnya yang dibuat lugu, lengkap dengan kedua matanya yang semakin membulat.


Berulang kali, Altar menarik dan menghembuskan napasnya, mencoba tenang.

__ADS_1


‘Apa mau mu?” tanya Altar langsung, ketika dirasa amarahnya sedikit mereda.


“Kenapa sikapmu jadi berubah begini? Hah? Pasti kamu dan Sisil merencanakan sesuatu kan? Jujur padaku? Otak kalian berdua ini sudah bisa ku tebak!” timpal Altar dengan tatapannya yang tajam.


Alana langsung kehilangan senyumnya, diganti dengan wajah yang cemberut.


“Kenapa bawa-bawa Sisil, ini kan hubungan kita,” jawab Alana lirih, mencoba terlihat lemah dan membuat Altar tak tega untuk


memarahinya.


“Jangan banyak drama! Cepat katakan apa mau mu? Kenapa mendadak berubah! Hah!” Altar, tak terpengaruh dengan acting abal-abal Alana itu, ia masih kukuh pada pendiriannya sendiri. Altar yakin, jika Alana dan Sisil tengah merencanakan sesuatu.


Karena itulah, 2 hari ini Alana dan Sisil terus


mengganggunya, belum lagi dengan perubahan drastis yang Alana tunjukkan. Yang setiap kali melihatnya selalu memanggil, sayang sayang dan sayang!


Hih! Altar sungguh geram.


Alana mencebik, ia juga menatap Altar dengan tatapan tak suka.


Namun ketika teringat kembali akan rencananya, ia langsung memasang wajah memelas.


“Satu, aku dan Sisil tidak punya rencana apapun, Dua, kenapa aku berubah? Karena aku ingin lebih dekat denganmu. Aku mau saat ketika menikah nanti kita sudah saling mencintai Al. Bukan seperti sekarang, kamu


selalu membentak ku,” jawab Alana lirih, susah payah ia berusaha agar bisa


menangis, namun ternyata, air matanya tidak mau keluar.


“Al, dengar baik baik, buka telingamu ini


lebar-lebar,” ucap Altar, seraya menarik kedua telinga Alana sekaligus


menggunakan kedua tangannya.


“Kita belum mau menikah besok atau lusa, atau seminggu lagi atau satu bulan lagi. Masih lama al! Masih Lama!” timpal Altar,


sengit.


“Daripada sibuk mengganggu ku dengan sayang-sayangmu itu, lebih baik kamu belajar, sebentar lagi kan kita kenaikan kelas.”


“Yang seharusnya belajar itu kamu, bukan aku!” jawab Alana cepat, ia bahkan melipat kedua tangannya didepan dada , lalu memasang wajah yang ditekuk.


“Kalau begitu jangan ganggu aku, aku mau belajar.”


“Aku tidak pernah mengganggumu Al, aku hanya ingin kita semakin dekat.”


Mendengar itu, Altar menggaruk kepalanya dengan kasar.


“Dekat seperti ini?” tanya Altar kemudian, dengan satu tangannya yang menarik pinggang Alana, mendekapnya erat.

__ADS_1


Seketika, jantung keduanya tersengat.


Deg!


__ADS_2