Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 127


__ADS_3

Sehabis shalat magrib berjamaah, Agung dan Widya


duduk bersama diatas sajadah itu. Berulang kali bahkan Agung mengelus perut


sang istri dan berbicara dengan sang jabang bayi.


Tingkah laku sang suami itu hingga membuat Widya


terkekeh, pasalnya, kehamilan Widya masih terbilang sangat muda, bahkan mungkin


janin itu masih sebesar biji kacang hijau.


Tapi Agung sudah memperlakukan sang janin seolah


bayi itu sudah tumbuh besar.


“Mas, bayi kita bahkan belum terbentuk, tapi kamu


sudah ajak dia bicara,” ucap Widya setelah kekehannya mereda.


Agung hanya tersenyum, tidak peduli, lalu mencium


perut sang istri dengan sayang.


“Mas, kata bude Yuli, nanti bude Asni akan bekerja


dulu di rumah kita sampai kita mendapatkan Asisten rumah tangga yang pas,” ucap


Widya, saat sang suami sudah mengangkat wajahnya dan menatap netranya dalam.


Mendengar  itu,


Agung benar-benar merasa lega, jujur saja, sebenarnya iapun merasa khawatir


ketika harus meninggalkan sang istri seorang diri di rumah sebesar ini. Agung


takut, jika ada hal buruk yang akan menimpa istrinya kelak.


“Alhamdulilah,” jawab Agung kemudian.


“Mulai besok bude Asni akan pindah kesini,” terang


Widya lagi dan Agung menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum.


Besok pagi, sebelum ia berangkat kerja Agung berniat


untuk menemui bude Yuli dan mengucapkan banyak kata terima kasih.


Selesai berbincang diatas sajadah itu, keduanya


memutuskan untuk pergi ke dapur. Memasak sayur tumis, yang hangat-hangat dan


sekali makan akan habis.  Agung dan


Widya, sama-sama tidak terlalu suka makanan yang harus dihangatkan, mereka


lebih suka makanan segar yang baru dimasak.


Kala itu, Widya tengah memotong-motong sayuran,


sementara Agung sudah mulai menggoreng telur mata sapi.


“Tapi kalau ada bude Asni, nanti kita tidak bisa


masak-masak berdua seperti ini lagi sayang,” ucap Agung, setelah baru saja ia


mematikan kompor. Lalu meniriskan telur hasil gorengannya.


Widya tak langsung menjawab, hanya tersenyum lalu


menoleh sekilas pada sang suami.


Sampai ia merasakan, Agung yang memeluknya erat dari


arah belakang. Kedua tangan suaminya itu melingkar penuh  diperutnya.


“Jangan macam-macam ya Mas, aku lagi pegang pisau,”


ucap Widya, yang tak ingin suaminya itu aneh-aneh, terlebih kini ia sudah cukup


lapar.


“Nggak macam-macam kok sayang, Cuma satu macam,” jawab


Agung, lalu mengecup tengkuk sang istri yang terbuka.

__ADS_1


Semenjak menikah, Agung baru tahu satu kebiasaan sang


istri. Widya suka menggunakan baju terbuka ketika berada di rumah. Celana pendek


dan juga tank top, sungguh menggoda di matanya.


Tak butuh waktu lama, semua masakan yang mereka buat


telah matang, bahkan sudah tersaji rapi di meja makan.


Kala itu Agung dan Widya makan sepiring berdua,


sesekali keduanya tertawa renyah ketika membiacarakan banyak hal.


****


Kiran, sehabis shalat magrib dan mengaji bersama


sang suami, ia mengambil ponselnya. Hendak menghubungi Dinda.


Seperti janjinya pada Widya pagi tadi, ia akan


menanyakan kabar sahabat mereka satu ini. Karena sudah 3 hari Dinda tak ada


kabar.


Kiran, mencoba menghubungi Dinda melalui sambungan


telepon. Manamun sayang, panggilannya tidak mendapatkan jawaban.


Saat itu, Dinda tengah berkumpul bersama keluarga


kecilnya. Duduk bersama menonton televisi di ruang tengah, Dinda, Alfath dan


juga anak mereka Akbar.


“Tidak diangkat?” tanya Aslan, seraya duduk disebelah


sang isri yang tengah duduk disisi ranjang.


Kiran menggeleng pelan, lalu menatap sang suami.


“Nanti, saat dia melihat panggilan tidak terjawab


“Semoga dia baik-baik saja ya Mas.”


Aslan mengangguk, lalu mengelus pucuk kepala sang


istri dengan sayang.


Dan benar saja seperti dugaan Aslan, tak lama


setelah panggilan Kiran tadi, kini Dinda balik menghubungi.


Kiran yang hendak  kelar untuk makan malam pun menghentikan langkahnya,


kembali menghampiri ponselnya yang ia letakkan diatas nakas disisi ranjang.


Dinda memanggil.


Tanpa menunda, Kiran langsung mengangkat panggilan


itu. Terdengar jelas olehnya, suara Dinda yang terdengar lebih riang dari


biasanya. Dari suara itu saja Kiran sudah bisa menebak jika kini Dinda pasti


dalam keadaan yang sangat baik.


Selesai saling mengucapkan salam, Dinda lalu meminta


maaf atas menghilangnya dia selama tiga hari ini. Setelah itupun Dinda juga menjelaskan


semuanya jika kini ia dan Alfath sudah berbaikan. Bahkan suaminya itu telah


kembali menetap di Indonesia.


Mendengar itu, Kiran tersenyum. Merasa lega.


Saat itu juga, Kiran memberi tahu  Dinda jika kini mbak Widya tengah hamil.


Keduanya terus saling bertukar cerita, berbagi


kebahagiaan.


Hingga Aslan harus kembali lagi naik ke lantai dua

__ADS_1


untuk memanggil istrinya itu makan malam, barulah Kiran memutus sambungan


teleponnya dengan Dinda.


Menutupnya dengan sebuah senyuman.


Tanpa perlu bertanya, melihat senyum  sang istri, Aslan cukup tahu, jika kini pasti


semuanya sudah baik-baik saja, perihal masalah Dinda dan suaminya itu pasti


sudah selesai, pikir Aslan.


Menuruni anak tangga, Aslan mengenggam erat tangan


sang istri.  Takut jika istrinya itu akan


terklilir dan berakhir jatuh.


“sayang, bagaimana kalau kita pindah ke kamar bawah,


biar kamu tidak naik turun tangga,” tawar Aslan, seraya berjalan hati-hati


mengimbangi sang istri.


Aslan begitu cemas, namun sebenarnya bagi Kiran ini


biasa saja. Bahkan ia masih sanggup untuk naik turun tangga dengan berlari.


“Aku baik-baik saja Mas, lagipula kalau kita pindah


ke bawah bagaimana dengan Aydan, masa dia diatas sendirian, Cuma sama mbak


Desi,” jawab Kiran, sekaligus mengeluh. Menatap sang suami dengan wajah murung.


“Aku hanya mencemaskan kamu sayang, apalagi nanti


saat kehamilanmu semakin besar, pasti akan repot untuk naik turun tangga,” terang


Aslan, dan sialnya di sudut hati Kiran ia membenarkan ucapan sang suami itu.


Kiran  terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


“Ya sudah, kita pindah kebawahnya kalau perutmu


sudah besar ya? Tapi mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati,” final Aslan,


dan Kiran menganggukkan kepalanya.


Keduanya terus berjalan beriringan hingga akhirnya


sampai di meja makan.


Makan malam, dengan masakan yang kiran masak tadi


sore bersama bude Idah.


“Umi sama Abi sudah selesai?” tanya Kiran,


dilihatnya piring kedua mertuanya telah kosong, bahkan kini mereka telah


memakan berberapa irisan buah.


“Sudah sayang, kamu lama sekali turunnya,” jawab


Yuli apa adanya, saat Kiran duduk dissna, Yuli langsung menyendokkan nasi untuk


menantunya itu.


“Makan itu jangan ditunda-tunda, apalagi sekarang


kamu tidak sedang sendiri,” jelas Yuli, ia memang sangat perhatian, namun masih


tetap saja mengomel.


“Iya Umi, maaf,” jawab Kiran, lebih baik langsung


meminta maaf daripada urusannya semakin panjang.


“Yang aku tidak Umi?” tanya Aslan, saat melihat


piringnya masih kosong dan Yuli sudah kembali duduk di kursinya sendiri.


“Kenapa? Memangnya diperutmu  ada isinya juga?” tanya Yuli,


Kiran dan Iwan sontak terkekeh keras.

__ADS_1


__ADS_2