
Sehabis shalat magrib berjamaah, Agung dan Widya
duduk bersama diatas sajadah itu. Berulang kali bahkan Agung mengelus perut
sang istri dan berbicara dengan sang jabang bayi.
Tingkah laku sang suami itu hingga membuat Widya
terkekeh, pasalnya, kehamilan Widya masih terbilang sangat muda, bahkan mungkin
janin itu masih sebesar biji kacang hijau.
Tapi Agung sudah memperlakukan sang janin seolah
bayi itu sudah tumbuh besar.
“Mas, bayi kita bahkan belum terbentuk, tapi kamu
sudah ajak dia bicara,” ucap Widya setelah kekehannya mereda.
Agung hanya tersenyum, tidak peduli, lalu mencium
perut sang istri dengan sayang.
“Mas, kata bude Yuli, nanti bude Asni akan bekerja
dulu di rumah kita sampai kita mendapatkan Asisten rumah tangga yang pas,” ucap
Widya, saat sang suami sudah mengangkat wajahnya dan menatap netranya dalam.
Mendengar itu,
Agung benar-benar merasa lega, jujur saja, sebenarnya iapun merasa khawatir
ketika harus meninggalkan sang istri seorang diri di rumah sebesar ini. Agung
takut, jika ada hal buruk yang akan menimpa istrinya kelak.
“Alhamdulilah,” jawab Agung kemudian.
“Mulai besok bude Asni akan pindah kesini,” terang
Widya lagi dan Agung menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum.
Besok pagi, sebelum ia berangkat kerja Agung berniat
untuk menemui bude Yuli dan mengucapkan banyak kata terima kasih.
Selesai berbincang diatas sajadah itu, keduanya
memutuskan untuk pergi ke dapur. Memasak sayur tumis, yang hangat-hangat dan
sekali makan akan habis. Agung dan
Widya, sama-sama tidak terlalu suka makanan yang harus dihangatkan, mereka
lebih suka makanan segar yang baru dimasak.
Kala itu, Widya tengah memotong-motong sayuran,
sementara Agung sudah mulai menggoreng telur mata sapi.
“Tapi kalau ada bude Asni, nanti kita tidak bisa
masak-masak berdua seperti ini lagi sayang,” ucap Agung, setelah baru saja ia
mematikan kompor. Lalu meniriskan telur hasil gorengannya.
Widya tak langsung menjawab, hanya tersenyum lalu
menoleh sekilas pada sang suami.
Sampai ia merasakan, Agung yang memeluknya erat dari
arah belakang. Kedua tangan suaminya itu melingkar penuh diperutnya.
“Jangan macam-macam ya Mas, aku lagi pegang pisau,”
ucap Widya, yang tak ingin suaminya itu aneh-aneh, terlebih kini ia sudah cukup
lapar.
“Nggak macam-macam kok sayang, Cuma satu macam,” jawab
Agung, lalu mengecup tengkuk sang istri yang terbuka.
__ADS_1
Semenjak menikah, Agung baru tahu satu kebiasaan sang
istri. Widya suka menggunakan baju terbuka ketika berada di rumah. Celana pendek
dan juga tank top, sungguh menggoda di matanya.
Tak butuh waktu lama, semua masakan yang mereka buat
telah matang, bahkan sudah tersaji rapi di meja makan.
Kala itu Agung dan Widya makan sepiring berdua,
sesekali keduanya tertawa renyah ketika membiacarakan banyak hal.
****
Kiran, sehabis shalat magrib dan mengaji bersama
sang suami, ia mengambil ponselnya. Hendak menghubungi Dinda.
Seperti janjinya pada Widya pagi tadi, ia akan
menanyakan kabar sahabat mereka satu ini. Karena sudah 3 hari Dinda tak ada
kabar.
Kiran, mencoba menghubungi Dinda melalui sambungan
telepon. Manamun sayang, panggilannya tidak mendapatkan jawaban.
Saat itu, Dinda tengah berkumpul bersama keluarga
kecilnya. Duduk bersama menonton televisi di ruang tengah, Dinda, Alfath dan
juga anak mereka Akbar.
“Tidak diangkat?” tanya Aslan, seraya duduk disebelah
sang isri yang tengah duduk disisi ranjang.
Kiran menggeleng pelan, lalu menatap sang suami.
“Nanti, saat dia melihat panggilan tidak terjawab
“Semoga dia baik-baik saja ya Mas.”
Aslan mengangguk, lalu mengelus pucuk kepala sang
istri dengan sayang.
Dan benar saja seperti dugaan Aslan, tak lama
setelah panggilan Kiran tadi, kini Dinda balik menghubungi.
Kiran yang hendak kelar untuk makan malam pun menghentikan langkahnya,
kembali menghampiri ponselnya yang ia letakkan diatas nakas disisi ranjang.
Dinda memanggil.
Tanpa menunda, Kiran langsung mengangkat panggilan
itu. Terdengar jelas olehnya, suara Dinda yang terdengar lebih riang dari
biasanya. Dari suara itu saja Kiran sudah bisa menebak jika kini Dinda pasti
dalam keadaan yang sangat baik.
Selesai saling mengucapkan salam, Dinda lalu meminta
maaf atas menghilangnya dia selama tiga hari ini. Setelah itupun Dinda juga menjelaskan
semuanya jika kini ia dan Alfath sudah berbaikan. Bahkan suaminya itu telah
kembali menetap di Indonesia.
Mendengar itu, Kiran tersenyum. Merasa lega.
Saat itu juga, Kiran memberi tahu Dinda jika kini mbak Widya tengah hamil.
Keduanya terus saling bertukar cerita, berbagi
kebahagiaan.
Hingga Aslan harus kembali lagi naik ke lantai dua
__ADS_1
untuk memanggil istrinya itu makan malam, barulah Kiran memutus sambungan
teleponnya dengan Dinda.
Menutupnya dengan sebuah senyuman.
Tanpa perlu bertanya, melihat senyum sang istri, Aslan cukup tahu, jika kini pasti
semuanya sudah baik-baik saja, perihal masalah Dinda dan suaminya itu pasti
sudah selesai, pikir Aslan.
Menuruni anak tangga, Aslan mengenggam erat tangan
sang istri. Takut jika istrinya itu akan
terklilir dan berakhir jatuh.
“sayang, bagaimana kalau kita pindah ke kamar bawah,
biar kamu tidak naik turun tangga,” tawar Aslan, seraya berjalan hati-hati
mengimbangi sang istri.
Aslan begitu cemas, namun sebenarnya bagi Kiran ini
biasa saja. Bahkan ia masih sanggup untuk naik turun tangga dengan berlari.
“Aku baik-baik saja Mas, lagipula kalau kita pindah
ke bawah bagaimana dengan Aydan, masa dia diatas sendirian, Cuma sama mbak
Desi,” jawab Kiran, sekaligus mengeluh. Menatap sang suami dengan wajah murung.
“Aku hanya mencemaskan kamu sayang, apalagi nanti
saat kehamilanmu semakin besar, pasti akan repot untuk naik turun tangga,” terang
Aslan, dan sialnya di sudut hati Kiran ia membenarkan ucapan sang suami itu.
Kiran terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
“Ya sudah, kita pindah kebawahnya kalau perutmu
sudah besar ya? Tapi mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati,” final Aslan,
dan Kiran menganggukkan kepalanya.
Keduanya terus berjalan beriringan hingga akhirnya
sampai di meja makan.
Makan malam, dengan masakan yang kiran masak tadi
sore bersama bude Idah.
“Umi sama Abi sudah selesai?” tanya Kiran,
dilihatnya piring kedua mertuanya telah kosong, bahkan kini mereka telah
memakan berberapa irisan buah.
“Sudah sayang, kamu lama sekali turunnya,” jawab
Yuli apa adanya, saat Kiran duduk dissna, Yuli langsung menyendokkan nasi untuk
menantunya itu.
“Makan itu jangan ditunda-tunda, apalagi sekarang
kamu tidak sedang sendiri,” jelas Yuli, ia memang sangat perhatian, namun masih
tetap saja mengomel.
“Iya Umi, maaf,” jawab Kiran, lebih baik langsung
meminta maaf daripada urusannya semakin panjang.
“Yang aku tidak Umi?” tanya Aslan, saat melihat
piringnya masih kosong dan Yuli sudah kembali duduk di kursinya sendiri.
“Kenapa? Memangnya diperutmu ada isinya juga?” tanya Yuli,
Kiran dan Iwan sontak terkekeh keras.
__ADS_1