
Drt drt drt
Ponsel Kiran yang berada digenggaman tangannnya
begetar, reflek Kiran pun langsung melihat panggilan itu. Ternyata sang suami
menelpon. Buru-buru Kiran mengangkatnya.
“Assalamualikum, Mas,” jawab Kiran, ia berjalan
mengikuti salah satu karyawan di toko itu, yang memberinya isyarat bahwa baju
yang Kiran pesan sudah tersedia di meja kasir.
“Walaikumsalam, Maaf sayang, kamu tadi telepon nomor
ku tidak aktif ya?” tanya Aslan langsung, dengan suara yang terdengar jelas
begitu cemas, takut Kiran akan marah. Karena mereka sudah sepakat, untuk selalu
mengaktifkan ponsel dan selalu tukar kabar saat jam kerja seperti ini.
Jadi mereka tak benar-benar berpisah saat sedang
sibuk bekerja.
“Iya Mas, tidak apa-apa. Batrenya habis ya?” tebak
Kiran dan Aslan menjawab iya, seharian ini ponselnya ia gunakan terus untuk
urusan bisnis, hingga dayanya begitu cepat terkuas habis.
Kiran lalu menceritakan tentang tujuannya menelpon
Aslan tadi, mengajak suaminya itu untuk menghadiri acara lamarannya Agung.
Sesaat Aslan tersentak, tak menyangka jika wanita yang akan dilamar oleh Agung
adalah ibu Widya, manajer di showroom itu.
Dengan terkekeh Kiran menjelaskan, bahwa Agung
kemakan omongannya sendiri. Dulu Agung selalu meledek Kiran, menikah dengan
pria yang lebih muda dan sudah beristri pula.
Lalu kini, Agung menikah dengan wanita yang lebih
tua dan seorang janda pula.
“Hus! Tidak boleh bicara seperti itu sayang, itulah
jodoh, tidak bisa kita duga siapa,” ucap Aslan saat istrinya itu sudah selesai
bercerita.
“Maaf sayang, aku bercanda,” jawab Kiran masih
dengan sedikit terkekeh, ia hanya merasa lucu dengan nasib yang dialaminya dan
juga Agung.
“Aku akan pulang sekarang,” kata Aslan kemudian dan
Kiran mengangguk.
“Iya Mas,” jawabnya, lalu setelah mengucapkan salam
ia menutup panggilan itu.
Membayar baju pada petugas kasir dan segera pulang
ke rumahnya.
***
Sampai di rumah, ternyata Aslan sampai lebih dulu.
Baju yang Kiran beli adalah baju dari butik ternama, baju disana sudah dicuci
dan begitu rapi, layaknya baju yang diambil dari loundry. Jadi ia beserta
keluarganya sudah bisa langsung mengenakan baju itu.
“Benar Desi tidak perlu ikut Ran?” tanya Umi
memastikan, karena Aslan dan Kiran sudah sepakat untuk pergi bertiga saja,
tanpa membawa sang babysister.
“Iya Umi, lagipula Aydan sudah besar. Terus kalau
__ADS_1
aku lelah bisa gantian sama mas Aslan, aku sama mas Aslan juga sama-sama bisa
nyetir, jadi bisa-bisa kami sajalah disana nanti,” jawab Kiran apa adanya.
“Habis isya juga acaranya selesai kok Mi, tidak
lama.” Kini Aslan yang ikut menjelakan.
Yuli sudah seperti penjaga Aydan, bahkan kedua orang
tuanya pun sedikit kesusahan untuk meminta izin membawa anaknya itu keluar.
Tapi Kiran dan Aslan tahu, Yuli seperti itu karena ia begitu menyayangi Aydan,
tak ingin sang cucu mengalami hal buruk.
“Ya sudah, hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung
kabari umi atau abi, nanti umi akan susul,” jawab Yuli yang terlalu over
protektif.
“Siap Umi,” jawab Kiran, ia bahkan mengangkat tangan
kanannya, hormat.
Yuli hanya menggelengkan kepalanya, heran melihat
menantunya yang satu ini. Kiran tak seperti Maya. Jika Maya, akan selalu bersikap
lemah lembut, bahkan tertawa pun begitu pelan. Sedangkan Kiran, sedikit barbar.
Tapi Yuli malah mensyukuri itu, meski sedikit terheran-heran, tapi berkat
Kiran rumahnya ini jadi nampak lebih
ceria, terasa begitu hangat.
Bahkan Yuli mengelus pucuk kepala Kiran saat
menantunya ini salim untuk pamit.
Kiran lebih pantas menjadi anak gadisnya daripada
menantu.
Dan kini, mobil Aslan sudah melaju membelah keramian
jalanan kota Jakarta. Sehabis shalat magrib tadi mereka langsung bergegas pergi
Jam 7 malam tepat, rombongan Agung sudah sampai di
halaman rumah Widya. Rumah yang nampak lebih ramai dari biasanya, keluarga
Widya beserta beberapa para tetangga sudah menunggu rombongan Agung itu.
Disambut dengan begitu ramah, akhirnya Agung dan
semua orang masuk ke dalam rumah Widya.
Ada seorang tetua yang memulai acara itu, menanyakan
perihal kedatangan keluarga Agung ke
rumah ini.
Dan Aslan sebagai juru bicara dari pihak Agung pun
langsung menjelaskan tujuan mereka, yaitu ingin melamar anak gadis keluarga pak
Hasan, yang bernama Widya Putri. Aslan
juga menjelaskan, jika Agung masih single, bekerja ditempat sang sama pula
ditempat Widya bekerja, bahkan tak segan, Aslan juga menjelaskan jika disana
Agung hanya sebagai sales marketing.
Namun Agung bersungguh-sungguh, ingin meminang
Widya, bukan kerena jabatan Widya yang seorang manajer, namun murni karena
ingin membina rumah tangga karena Allah SWT.
Selesai Aslan berbicara, kini tetua itu kembali
menanggapi. Dengan tangan terbuka, mereka menerima lamaran Agung itu, mereka juga menjelaskan jika Widya sudah tak
gadis lagi, melainkan seorang janda yang ditinggal mati suaminya.
Setelah kedua belah pihak keluarga merasa tak ada
__ADS_1
yang keberatan, akhirnya Agung memasangkan cincin berlian di jari manis
wanitanya, Widya.
Semua orang kompak mengucapkan kata syukur kala
melihat itu.
Alhamdulilah, yang menggema dari dalam rumah Widya.
Satu bulan lagi, tepatnya tanggal 02 Oktober 2021,
Agung dan Widya akan menggelar acara pernikahan. Pernikahan yang sederhana,
dengan ijab kabul yang diharapkan begitu khidmad.
***
Selesai acara lamaran itu, rombongan Agung langsung
memutuskan untuk pulang. Disana Agung dan Kiran langsung berpisah, menuju
rumahnya masing-masing.
Kiran menangis tersedu, dengan mengendong Aydan yang
tertidur didalam dekapannya.
Kiran benar-benar merasa haru akan lamaran
sahabatnya itu.
Tak menyangka, mereka akan ada dititik ini,.
Sama-sama menikah dan memiliki kehidupan masing-masing.
Jujur saja, Agung memiliki bagian penting dalam
hidupnya. Meski tak sepenting sang suami.
“Sudah dong sayang, lama-lama aku cemburu nanti,”
ucap Aslan, sumpah demi apapun ia hanya bercanda.
Dengan Agung, Aslan tak sedikitpun memiliki rasa
cemburu. Namun rasa terima kasih yang begitu banyak.
“Tidak apa-apa cemburu, aku malah senang,” balas
Kiran dengan sesenggukan. Air matanya terus mengalir tanpa permisi.
Sementara Aslan malah terkekeh.
“Ya sudah menangislah, hari ini kamu resmi putus
dengan pacarmu itu,” jelas Aslan lagi masih dengan kekehannya.
Dan Kiran mencebik.
“Ayo Mas, kita pulang nanti buat adek untuk Aydan,”
ucap Kiran ambigu, bahkan Aslan langsung menatapnya tak percaya, untunglah saat
ini mereka masih berhenti di lampu merah.
Dilihatnya Kiran yang mulai menghapus air matanya,
lalu menatapnya dengan tatapan menggoda.
Selama ini Kiran memang tak menggunakan KB, mereka
KB alami, membiarkan Aslan menyemburkan larvanya diatas perut sang istri.
Jadi kapanpun mereka siap untuk menambah momongan,
mereka bisa langsung membuatnya tanpa
harus menunggu mengembalikan kesuburan Kiran.
Aslan sendirilah yang melarang istrinya itu untuk
meminum pil KB. Tak ingin ambil resiko dengan kesehatan sang istri, terlebih
mereka bukanlah pasangan yang muda lagi.
“Kenapa?” Tanya Aslan sekaligus menatap curiga.
“Aku takut, umurku terlalu tua untuk melahirkan jika
terus menunda,” jelas Kiran dengan tatapannya yang berubah jadi serius. Hal
__ADS_1
yang juga ditakutkan oleh Widya tadi. Saat ia dan Widya berbincang saat acara
makan-makan setelah tukar cincin.