Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 84


__ADS_3

Drt drt drt


Ponsel Kiran yang berada digenggaman tangannnya


begetar, reflek Kiran pun langsung melihat panggilan itu. Ternyata sang suami


menelpon. Buru-buru Kiran mengangkatnya.


“Assalamualikum, Mas,” jawab Kiran, ia berjalan


mengikuti salah satu karyawan di toko itu, yang memberinya isyarat bahwa baju


yang Kiran pesan sudah tersedia di meja kasir.


“Walaikumsalam, Maaf sayang, kamu tadi telepon nomor


ku tidak aktif ya?” tanya Aslan langsung, dengan suara yang terdengar jelas


begitu cemas, takut Kiran akan marah. Karena mereka sudah sepakat, untuk selalu


mengaktifkan ponsel dan selalu tukar kabar saat jam kerja seperti ini.


Jadi mereka tak benar-benar berpisah saat sedang


sibuk bekerja.


“Iya Mas, tidak apa-apa. Batrenya habis ya?” tebak


Kiran dan Aslan menjawab iya, seharian ini ponselnya ia gunakan terus untuk


urusan bisnis, hingga dayanya begitu cepat terkuas habis.


Kiran lalu menceritakan tentang tujuannya menelpon


Aslan tadi, mengajak suaminya itu untuk menghadiri acara lamarannya Agung.


Sesaat Aslan tersentak, tak menyangka jika wanita yang akan dilamar oleh Agung


adalah ibu Widya, manajer di showroom itu.


Dengan terkekeh Kiran menjelaskan, bahwa Agung


kemakan omongannya sendiri. Dulu Agung selalu meledek Kiran, menikah dengan


pria yang lebih muda dan sudah beristri pula.


Lalu kini, Agung menikah dengan wanita yang lebih


tua dan seorang janda pula.


“Hus! Tidak boleh bicara seperti itu sayang, itulah


jodoh, tidak bisa kita duga siapa,” ucap Aslan saat istrinya itu sudah selesai


bercerita.


“Maaf sayang, aku bercanda,” jawab Kiran masih


dengan sedikit terkekeh, ia hanya merasa lucu dengan nasib yang dialaminya dan


juga Agung.


“Aku akan pulang sekarang,” kata Aslan kemudian dan


Kiran mengangguk.


“Iya Mas,” jawabnya, lalu setelah mengucapkan salam


ia menutup panggilan itu.


Membayar baju pada petugas kasir dan segera pulang


ke rumahnya.


***


Sampai di rumah, ternyata Aslan sampai lebih dulu.


Baju yang Kiran beli adalah baju dari butik ternama, baju disana sudah dicuci


dan begitu rapi, layaknya baju yang diambil dari loundry. Jadi ia beserta


keluarganya sudah bisa langsung mengenakan baju itu.


“Benar Desi tidak perlu ikut Ran?” tanya Umi


memastikan, karena Aslan dan Kiran sudah sepakat untuk pergi bertiga saja,


tanpa membawa sang babysister.


“Iya Umi, lagipula Aydan sudah besar. Terus kalau

__ADS_1


aku lelah bisa gantian sama mas Aslan, aku sama mas Aslan juga sama-sama bisa


nyetir, jadi bisa-bisa kami sajalah disana nanti,” jawab Kiran apa adanya.


“Habis isya juga acaranya selesai kok Mi, tidak


lama.” Kini Aslan yang ikut menjelakan.


Yuli sudah seperti penjaga Aydan, bahkan kedua orang


tuanya pun sedikit kesusahan untuk meminta izin membawa anaknya itu keluar.


Tapi Kiran dan Aslan tahu, Yuli seperti itu karena ia begitu menyayangi Aydan,


tak ingin sang cucu mengalami hal buruk.


“Ya sudah, hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung


kabari umi atau abi, nanti umi akan susul,” jawab Yuli yang terlalu over


protektif.


“Siap Umi,” jawab Kiran, ia bahkan mengangkat tangan


kanannya, hormat.


Yuli hanya menggelengkan kepalanya, heran melihat


menantunya yang satu ini. Kiran tak seperti Maya. Jika Maya, akan selalu bersikap


lemah lembut, bahkan tertawa pun begitu pelan. Sedangkan Kiran, sedikit barbar.


Tapi Yuli malah mensyukuri itu, meski sedikit terheran-heran, tapi berkat


Kiran  rumahnya ini jadi nampak lebih


ceria, terasa begitu hangat.


Bahkan Yuli mengelus pucuk kepala Kiran saat


menantunya ini salim untuk pamit.


Kiran lebih pantas menjadi anak gadisnya daripada


menantu.


Dan kini, mobil Aslan sudah melaju membelah keramian


jalanan kota Jakarta. Sehabis shalat magrib tadi mereka langsung bergegas pergi


Jam 7 malam tepat, rombongan Agung sudah sampai di


halaman rumah Widya. Rumah yang nampak lebih ramai dari biasanya, keluarga


Widya beserta beberapa para tetangga sudah menunggu rombongan Agung itu.


Disambut dengan begitu ramah, akhirnya Agung dan


semua orang masuk ke dalam rumah Widya.


Ada seorang tetua yang memulai acara itu, menanyakan


perihal kedatangan  keluarga Agung ke


rumah ini.


Dan Aslan sebagai juru bicara dari pihak Agung pun


langsung menjelaskan tujuan mereka, yaitu ingin melamar anak gadis keluarga pak


Hasan, yang bernama Widya Putri.  Aslan


juga menjelaskan, jika Agung masih single, bekerja ditempat sang sama pula


ditempat Widya bekerja, bahkan tak segan, Aslan juga menjelaskan jika disana


Agung hanya sebagai sales marketing.


Namun Agung bersungguh-sungguh, ingin meminang


Widya, bukan kerena jabatan Widya yang seorang manajer, namun murni karena


ingin membina rumah tangga karena Allah SWT.


Selesai Aslan berbicara, kini tetua itu kembali


menanggapi. Dengan tangan terbuka, mereka menerima lamaran Agung itu,  mereka juga menjelaskan jika Widya sudah tak


gadis lagi, melainkan seorang janda yang ditinggal mati suaminya.


Setelah kedua belah pihak keluarga merasa tak ada

__ADS_1


yang keberatan, akhirnya Agung memasangkan cincin berlian di jari manis


wanitanya, Widya.


Semua orang kompak mengucapkan kata syukur kala


melihat itu.


Alhamdulilah, yang menggema dari dalam rumah Widya.


Satu bulan lagi, tepatnya tanggal 02 Oktober 2021,


Agung dan Widya akan menggelar acara pernikahan. Pernikahan yang sederhana,


dengan ijab kabul yang diharapkan begitu khidmad.


***


Selesai acara lamaran itu, rombongan Agung langsung


memutuskan untuk pulang. Disana Agung dan Kiran langsung berpisah, menuju


rumahnya masing-masing.


Kiran menangis tersedu, dengan mengendong Aydan yang


tertidur didalam dekapannya.


Kiran benar-benar merasa haru akan lamaran


sahabatnya itu.


Tak menyangka, mereka akan ada dititik ini,.


Sama-sama menikah dan memiliki kehidupan masing-masing.


Jujur saja, Agung memiliki bagian penting dalam


hidupnya. Meski tak sepenting sang suami.


“Sudah dong sayang, lama-lama aku cemburu nanti,”


ucap Aslan, sumpah demi apapun ia hanya bercanda.


Dengan Agung, Aslan tak sedikitpun memiliki rasa


cemburu. Namun rasa terima kasih yang begitu banyak.


“Tidak apa-apa cemburu, aku malah senang,” balas


Kiran dengan sesenggukan. Air matanya terus mengalir tanpa permisi.


Sementara Aslan malah terkekeh.


“Ya sudah menangislah, hari ini kamu resmi putus


dengan pacarmu itu,” jelas Aslan lagi masih dengan kekehannya.


Dan Kiran mencebik.


“Ayo Mas, kita pulang nanti buat adek untuk Aydan,”


ucap Kiran ambigu, bahkan Aslan langsung menatapnya tak percaya, untunglah saat


ini mereka masih berhenti di lampu merah.


Dilihatnya Kiran yang mulai menghapus air matanya,


lalu menatapnya dengan tatapan menggoda.


Selama ini Kiran memang tak menggunakan KB, mereka


KB alami, membiarkan Aslan menyemburkan larvanya diatas perut sang istri.


Jadi kapanpun mereka siap untuk menambah momongan,


mereka bisa langsung membuatnya  tanpa


harus menunggu mengembalikan kesuburan Kiran.


Aslan sendirilah yang melarang istrinya itu untuk


meminum pil KB. Tak ingin ambil resiko dengan kesehatan sang istri, terlebih


mereka bukanlah pasangan yang muda lagi.


“Kenapa?” Tanya Aslan sekaligus menatap curiga.


“Aku takut, umurku terlalu tua untuk melahirkan jika


terus menunda,” jelas Kiran dengan tatapannya yang berubah jadi serius. Hal

__ADS_1


yang juga ditakutkan oleh Widya tadi. Saat ia dan Widya berbincang saat acara


makan-makan setelah tukar cincin.


__ADS_2