
Semalam, Altar tak bisa tidur dengan nyenyak. Seluruh pikirannya ia habiskan untuk memikirkan sang ibu.
Bahkan sehabis shalat subuh pagi ini, ia masih saja merasa gundah.
Saat ini, ia benar-benar butuh seseorang untuk diajaknya bicara. Sebagai tempat meluapkan rasa sedih ini.
Alana, adalah satu-satunya orang yang terbayang di benak Altar. Yang mungkin bisa menjadi tempat untuknya berbagi cerita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini di meja makan, suasana nampak seperti biasa. Widya menyiapkan makanan untuk anak dan suaminya itu, dibantu oleh satu asisten rumah tangga.
Bahkan Altar masih bisa melihat dengan jelas, sang ibu yang terus tersenyum kala mendengar suaminya itu terus menggoda.
Melihat senyum ibunya, bukannya senang, Altar malah merasa hatinya teriris.
"Bu, aku berangkat ya, pagi ini ada ujian," ucap Altar, bohong, ia bahkan tak berani menatap mata sang ibu.
Dengan cepat ia salim pada kedua orang tuanya dan bergegas pergi dari dapur.
Berjalan cepat menuju keluar rumah.
Sampai di sana, Altar berulang kali menarik dan menghembuskan napasnya panjang, mencoba tenang dan tidak kembali menangis.
Buru-buru, Altar pun mulai menghidupkan motornya. Hendak menjemput Alana dan kelak ia akan menceritakan semua kegundahannya pada gadis itu.
Gadis yang kelak akan menjadi istrinya.
Memelajukan motornya, Altar lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Alana.
Namun betapa terkejutnya Altar, saat ia melihat di halaman rumah itu sudah terparkir satu mobil yang begitu ia kenal.
Mobil Akbar.
Seketika, dadanya terasa sesak. Sakit yang mendatanginya tiba-tiba.
Apalagi saat melihat Akbar turun dari dalam mobil itu dan menyambut Alana yang keluar dari dalam rumah dan berlari menghampirinya.
Sejenak, Alana pun menatap Altar didepan sana. Namun memilih tidak peduli dan segera masuk ke dalam mobil.
Dengan hatinya yang berdenyut nyeri itu, Altar pun segera memelajukan motornya dan pergi menjauh.
__ADS_1
Di dalam mobil Akbar, Alana dan Sisil langsung tertawa kala melihat Altar yang pergi begitu saja.
Mereka merasa, rencananya telah berhasil.
"Kalian ini, senang sekali mengganggu Altar. Kalau dia benar-benar marah padaku, bagaimana?" tanya Akbar, yang kini sudah duduk di kursi kemudi.
"Marah kenapa? kata mas Akbar kalian tidak punya masalah apapun, jadi untuk apa Altar marah dengan Mas? kami hanya berharap, Altar marah dengan Alana." Sisil yang menjawab, hingga membuat Akbar menggelengkan kepalanya.
Susah memang, bicara dengan anak labil.
"Menurut Mas, Altar benar-benar menyukai mu Al, karena itulah dia menerima perjodohan kalian," ucap Akbar, seraya menghidupkan mesin mobil.
"Tidak mungkin, seorang Altar tidak akan tahu artinya cinta, kemarin saja dia dengan mudahnya mencampakkan seorang wanita, adik kelas kita itu Sil," belas Alana, sekaligus meminta dukungan Sisil.
"Iya Al, kamu benar," timpal Sisil pula.
Hingga membuat Akbar terus menggelengkan kepalanya.
"Terserah kalian saja sih, tapi ingat satu hal Al. Kamu jangan pernah memainkan perasaan, karena nantinya kamu sendiri yang akan menyesal," ucap Akbar, saat mobil mereka mulai memasuki jalan raya.
Akbar tahu, jika Alana masihlah gadi belia yang belum tahu apa-apa tentang cinta.
Ia hanya bertindak sesuai keinginan dan desakan adiknya itu, Sisil.
Sepanjang perjalanan ke sekolahnya hari ini, Alana merasakan ada yang mengganjal dihatinya.
Ucapan Akbar itu, benar-benar menusuknya tepat di inti hati, tentang memainkan perasaan.
Sampai di sekolah, Alana mencoba membuang jauh kegundahannya tentang ucapan mas Akbar tadi.
Ia meyakinkan diri untuk fokus pada tujuan awalnya.
Membuat Altar benci.
Alana dan Sisil bahkan sengaja, pagi itu melewati rombongan Altar yang masih duduk-duduk di atas motor yang berjejer rapi di parkiran.
"Al, Sisil, sini dulu," panggil Raffi.
Sesuai yang diharapkan oleh Alana dan Sisil, ketika mereka lewat, salah satu teman Altar akan memanggil.
"Lagi ribut ya sama Altar, kok berangkatnya bareng Sisil," tanya Ahmad, saat kedua siswi cantik ini sampai dihadapan mereka.
__ADS_1
Alana tak menjawab apapun, hanya tersenyum kecil. Lalu melirik Altar, yang sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya dan Sisil.
Altar, malah asik sendiri dengan ponselnya. Menatap ponsel itu dengan wajah yang serius.
Hingga membuat Alana mencelos.
Mereka asik berbincang, namun fokus Alana terus menatap Altar yang tidak menatap kearahnya.
Hingga saat bell masuk berbunyi dan mereka semua menuju kelas masing-masing, Altar masih kukuh bersikap seolah Alana tidak ada.
Bukannya senang, Alana malah merasa nyeri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pulang sekolah.
Alana terus menelisik tiap sudut sekolahan. Namun ia tak menemukan batang hidung Altar.
Laki-laki itu seolah menghilang dari pandangannya hari ini.
Dan mendadak, Alana merasa hampa.
"Dimana Altar ya Sil?" tanya Alana, saat mereka sudah berada di parkiran dan tetap tak melihat Altar di sana.
Bahkan motor Altar pun sudah tidak ada.
Sedangkan teman-temannya pun masih lengkap berada di parkiran sana.
Memberanikan diri, Alana menarik tangan Sisil dan menghampiri para sahabat Altar itu.
"Suga, dimana Altar?" tanya Alana, setelah menghilangkan semua rasa malunya.
"Kamu tidak tahu? Altar kan sudah pulang," jawab Suga, apa adanya.
Hingga membuat Alana mengeryit bingung.
Merasa aneh, dengan sikap Altar yang selalu ingin pulang cepat.
Alana masih belum tahu, jika tante Widya tengah sakit. Alana juga tidak tahu, jika kini Altar memilih tidak peduli dengan semua yang dilakukannya.
Yang Altar pedulikan kini hanya satu, ibunya.
__ADS_1
Dan bukan perasaannya.