
Pagi menyapa, sehabis shalat subuh berjamaah tadi, kini Aslan membantu sang istri untuk melepaskan mukenahnya.
Kiran, shalat menggunakan kursi roda itu.
Keduanya terus tersenyum, meski tanpa ada pembicaraan apapun. Kamar yang biasanya terasa dingin, kini begitu hangat.
Bahkan sesakali keduanya terkekeh, saat pandangan mereka bertemu. Persis seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Bagaimana Mas tahu, kalau aku ada disini?" tanya Kiran saat dilihatnya sang suami sudah meletakkan alat shalat di atas meja kecil di sudut kamar.
Yang ditanya malah tersenyum, lalu mendorong kursi roda sang istri mendekati sisi ranjang dan ia duduk disana.
"Mas Agung," jawab Aslan singkat, lalu tangannya bergerak menyelipkan sebagian rambut sang istri di belakang telinga.
Mendengar nama itu, Kiran mengerutkan dahi.
"Agung?" tanya Kiran sekali lagi dan Aslan mengangguk.
"Kenapa dia memberitahu Mas?"
Aslan mengedikkan bahu, tanda tidak tahu. Tapi melihat senyum suaminya itu, Kiran malah jadi curiga.
Matanya menyipit, menatap tajam pada sang suami.
"Kenapa?" tanya Kiran mendesak dan Aslan terkekeh.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba mas Agung memberitahuku tentang keberadaanmu_"
"Memangnga Mas mencariku?" tanya Kiran cepat, bertanya bahkan sebelum sang suami menyelesaikan ucapannya.
Satu pertanyaan yang selalu menghantuinya di tiap malam, pernahkah sekali saja sang suami mencari keberadaannya, setelah kepergian Kiran kala itu.
Karena selama ini, jujur saja, ia selalu menunggu.
__ADS_1
Tak langsung menjawab, Aslan lalu menatap lekat mata sang istri.
"Sejak hari pertama kamu pergi sampai kemarin, aku. terus mencarimu," jawab Aslan dan memang begitulah adanya.
Meski kecil, namun Kiran tersenyum ketika mendengar jawaban sang suami.
Lalu menarik kerah baju Aslan dan menyesap bibirnya sekilas.
Diperlakukan seperti itu, Aslan begitu bahagia.Tak ada bosan-bosannya ia mengukir senyum, penuh syukur.
"Tunggu," ucap Aslan lalu bangkit. Mendekati meja rias sang istri dan mengambil dompetnya yang tergeletak disana.
"Bukalah," titah Aslan dan dengan bingung Kiran menerima uluran dompet itu, lalu membukanya dengan perlahan.
Nampak jelas, 1 foto hitam putih yang mencuri perhatiannya.
"Foto USG anak kita?" tanya Kiran tanpa mengalihkan tatapannya pada foto itu.
"Setiap hari, aku selalu membicarakanmu dengannya."
Tersentuh, Kiran lalu mengangkat wajahnya, membalas tatapan sang suami dengan senyum bahagia.
"Bagaimana dengan umi Ran? apa kamu bisa memaafkan umi?" tanya Aslan hati-hati. Takut, jika sang istri belum bisa memaafkan sang ibu atas apa yang terjadi di masa lalu.
Mendengar pertanyaan itu, Kiran menyelami hatinya sendiri dan mencari jawaban.
Umi dan Maya, batinnya menyebut dua nama. Namun, ternyata ia tak merasakan apa-apa, baik rasa benci ataupun rasa kecewa, kini ia sudah baik-baik saja. Rasa sedihnya di masa lalu benar-benar sudah menghilang sejak kedatangan Aslan.
"Umi tidak salah Mas, saat itu aku terlalu bersedih untuk menjelaskan semuanya, sampai membuat umi salah paham," terang Kiran.
"Lagipula semuanya sudah berlalu Mas, sekarang kita sudah kembali bersama. Aku sudah mengihklaskan yang sudah terjadi," timpal Kiran lagi saat dilihatnya sang suami yang hanya terdiam.
Bagi Kiran, memendam kebencian hanya akan merugikan dirinya sendiri. Bukannya menambah pahala, malah menumpuk dosa, juga membuat hatinya begitu lelah.
__ADS_1
Karena itulah, Kiran memutuskan melepas semua kesedihan. Ihklas adalah jalan pilihannya untuk bahagia.
"Aku sangat beruntung memiliki kamu Ran," ucapAslan lirih, wanita dewasa dengan pemikiran yang terbuka. Tak hanya cantik, namun Kiran juga memiliki hati yang begitu lembut.
"Memang," jawab Kiran bangga, lengkap dengan senyum yang memperlihatkan giginya.
Melihat tingkah sang istri, Aslan seperti menemukan Kirannya kembali. Kiran si gadis angkuh dan sombong sekomplek dan sesekolah. Tak ada yang bisa menandingi Kiran.
"Besok kita pulang ya?" ajak Aslan dan Kiran mengangguk antusias.
Sebelum keluar dan menyiapkan sarapan, pagi itu Aslan juga membantu sang istri untuk membersihkan tubuh.
Kiran kali ini mandi di bantu oleh Aslan, biasanya selalu Tika yang membantunya di kamar mandi.
Dengan tubuhnya yang polos, Kiran berdiri di dekat westafel dan berpegangan disana. Sementara Aslan terus menggosok dengan lembut semua bagian tubuh sang istri.
"Mas, geli," ucap Kiran sambil terkekeh.
Namun bukannya berhenti, Aslan malah ikut terkekeh pula. Tetap membersihkan bagian inti tubuh sang istri.
"Kapan gips nya dilepas?" tanya Aslan, ia berdiri tepat dihadapan Kiran dengan tangan yang terus bergerak.
"Kapan ya?" tanya Kiran pula sambil mengingat-ngingat.
"Sebulan lagi mungkin," terangnya diantara lupa dan ingat.
"Kenapa memangnya?" tanya Kiran selanjutnya.
"Pas," jawab Aslan dengan menyeringai dan sumpah demi apapun, Kiran tidak tahu apa maksudnya itu.
"Pas dengan usia anakku yang bisa dijenguk," timpal Aslan lalu terkekeh.
Sementara Kiran langsung memukul dada sang suami dengan pipi yang sudah berubah jadi merah merona.
__ADS_1