
Tak hanya Altar yang mengatakan tentang rencana pernikahannya pada sang ibu dan ayah.
Alana pun mengatakan juga pada seluruh keluarganya.
Duduk bersama di ruang tengah setelah makan malam.
Alana mengatakan jika ia bersedia menikah diusia muda, mau menerima Altar sebagai suaminya.
Mendengar itu, Aslan dan Kiran menghembuskan napasnya lega, bercampur bahagia. Namun tidak dengan Aydan, ia sungguh terkejut.
Ia bahkan merasa tak terima jika sang adik harus segera menikah.
“Kenapa buru-buru sekali sih Yah, Bu, Alana kan masih sekolah, setidaknya tunggu dulu dia lulus,” ucap Aydan, memotong semua ucap syukur kedua orang tuanya.
Aslan, bisa mengerti tentang kekhawatiran anak sulungnya ini. Terlebih Aydan begitu menyayangi adiknya itu.
“Al, sebaiknya kamu masuk, biar ayah yang bicara dengan mas Aydan.” Aslan yang menjawab, merasa suasana mulai tegang, akhirnya Alana pun menurut.
Sementara Kiran pun ikut bangkit dari duduknya, mengantar anak gadisnya itu, memastikan Alana benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
Kiran juga tahu, jika kini suaminya itu pasti ingin memberi tahu Aydan tentang sakit yang diderita oleh ibu Wid dan juga tentang keinginan terakhir ibu Widya.
“Tidurlah, tadi siang kamu kehujanan, malam ini jangan tidur larut.”
“Iya Bu,” jawab Alana patuh, ia bahkan langsung naik ke atas ranjang dan membiarkan sang ibu menarik kan selimut untuknya.
Dilihatnya Alana sudah terbaring, Kiran pun memutuskan untuk keluar, kembali menemui sang suami dan anak laki-lakinya di ruang tengah.
Sayup-sayup terdengar, Aslan mulai bicara tentang ibu Widya.
Dilihatnya Aydan yang mendengarkan dengan serius.
Bahkan nampak jelas jika Aydan sangat terkejut dengan kabar itu.
“Jadi ibu Wid sakit?” tanya Aydan setelah ayahnya selesai bercerita,.
Kiran pun kembali duduk disebelah sang suami.
“Iya Nak, sudah lama, tapi ibu Wid menutupinya rapat-rapat, tidak ingin kalian bersedih dan terus menangisi ibu Wid,” jawab Aslan apa adanya.
Dan seketika itu juga kedua netra Aydan mengeluarkan air mata.
Widya dan Agung sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri. Sejak ia kecil, ibu Widya begitu menyayangi dirinya.
__ADS_1
Dan kini, Aydan baru tahu, jika ibu keduanya itu mengidap penyakit parah.
bahkan hanya tinggal menunggu waktu ibu Wid akan ambruk.
“Jadi hanya Alana yang belum tahu tentang sakit ibu Wid?”
Aslan mengangguki, ia juga kembali mengingatkan Aydan untuk tidak memberi tahu Alana.
Hanya mendengarkan pembicaraan ini saja, Kiran menangis dengan sendirinya.
Tiap kali teringat sang sahabat, entah kenapa air mata itu luruh begitu saja.
“Karena itulah, restui adikmu menikah dengan Altar. Ayah dan ibu juga sebenarnya masih takut untuk menikahkan Alana. Tapi insya Allah Nak, jika kita yakin, Allah pasti akan menunjukkan jalan yang terbaik,” timpal Aslan lagi, hingga membuat Aydan pun menganggukkan kepalanya, setuju.
Berserah diri kepada Allah adalah jalan yang terbaik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu.
keesokan harinya, kabar kota Jakarta terkena banjir memenuhi siaran televisi pagi ini.
Kemarin sehari semalam hujan turun dengan begitu derasnya, bahkan pagi ini masih menyisahkan gerimis yang turun.
Awalnya Alana menolak, karena ia ingin pergi bersama dengan Altar.
Namun saat melihat sang kakak yang menatapnya tajam, akhirnya Alana menurut. Meski dengan bibir yang mengerucut, ia akhirnya naik ke mobil sang kakak.
Setelah beberapa lalu ia menelpon Altar dan mengatakan jika ia kan pergi sekolah bersama kakaknya itu.
“Tumben cemberut-cemberut, biasanya merengek-rengek minta mas antar,” ucap Aydan, memecah keheningan.
Mobil mereka mulai keluar dari dalam halaman rumah, sudah bertemu beberapa kubangan air yang menggenang.
“Sekarang sudah cinta ya sama Altar sampai nggak mau lagi pisah.” Ledek Aydan,. Lengkap pula dengan seringai jenakanya.
Melihat itu, Alana jadi geram sendiri.
“Mas Aydan apa-apaan sih!” kesal Alana, berucap dengan ketus seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
Melihat itu,Aydan terkekeh.
“Setelah menikah nanti, jangan sok dewasa. Jika ada apa-apa, tetap beri tahu mas,” ucap Aydan serius. Hingga membuat suasana di dalam mobil mendadak sendu.
__ADS_1
Alana bahkan menurunkan kedua tangannya secara perlahan, dengan hati yang mulai merasa haru.
Alana hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
“Mas mengizinkan kamu menikah dengan Altar, maaf tentang semalam jika mas terlalu kasar.” Ucap Aydan lagi, mengambil alih kendali suasana di mobil ini.
“Mas hanya merasa terkejut, tidak menyangka jika adik kecil mas akan segera menikah.”
Hening.
Cukup lama, bahkan hingga mobil mereka berhenti di lampu merah.
“setelah menikah nanti, jangan merasa kamu berpisah dengan ayah dan ibu, juga Mas. Selamanya, kamu akan tetap jadi adik kesayangan mas Aydan, juga anak kesayangan ibu dan ayah.”
Diam-diam, Alana menunduk dan menangis.
Tangisan kecil yang lambat laun jadi terisak.
Aydan yang melihat itupun hanya mengelus pucuk kepala sang adik dengan sayang. Jujur saja, iapun sebenarnya ingin menangis. Namun sekuat tenaga ia tahan.
Hingga akhirnya, mereka sampai di sekolah Alana. Setelah menghapus air matanya hingga benar-benar habis, Alana turun dari dalam mobil sang kakak.
Aydan juga ikut turun, berdiri di gerbang sekolah sang adik dan memastikan adiknya itu masuk ke dalam sana, hingga tak terlihat lagi dari kedua netranya.
Tak langsung pergi, Aydan masih memilih untuk menunggu., bukan menunggu Alana kembali, melainkan menunggu Altar datang.
Dan tak berselang lama, yang ditunggu pun muncul. Menggunakan mobil juga, Altar masuk ke dalam sekolah.
Lalu kembali keluar dan menemui sang kakak. Mengira jika ada sesuatu milik Alana yang tertinggal, hingga Aydan belum pergi juga.
“Ada apa Mas? Apa ada barang Alana yang tertinggal?” tanya Altar langsung saat ia sudah berdiri dihadapan sang kaka.
Bukannya menjawab, Aydan malah menatap tajam pada adik laki-lakinya ini.
“Masuk!” titah Aydan dingin, lalu ia lebih dulu masuk kedalam mobilnya.
Seketika itu juga, bulu kuduk Altar merinding, baru kali ini ia melihat mas Aydan yang menyeramkan seperti itu.
Apa mas Aydan tahu jika kemarin aku mencium Alana? Ya ampun aku takut sekali. Batin Altar, ia bahkan sampai merinding.
Dengan sisa-sisa keberaniannya, Akhirnya Altar menyusul sang kakak, untuk masuk ke dalam mobil sana.
Duduk dengan hati yang berdegup.
__ADS_1