
Selesai sarapan, Aslan dan Kiran memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Mereka kesana untuk menyelesaikan administrasi dan juga kepindahan Kiran kembali ke rumah sakit di Indobesia.
Dalam perjalanan itu, Kiran menghubungi sang kakak ipar, memberi tahu jika mereka akan pergi. Takut jika nanti saat Tika dan Fahmi pulang, mereka tidak menemui siapa-siapa.
"Iya Ran, ambilah waktu sebanyak mungkin dengan suamimu, malam ini kami juga tidak pulang. Mas Fahmi tidak ingin mengganggu kalian," bisik Tika diujung sana.
Bukannya senang, Kiran malah merasa bersalah, merepotkan, pikirnya.
Tapi Kiran tak bisa menjawab apa-apa, malah takut menyinggung Tika dan Fahmi.
"Terima kasih ya Mbak," balas Kiran, hanya ucapan terima kasih lah yang bisa ia ucapkan, sebanyak-banyaknya.
Lalu Kiran menoleh, saat Aslan mengeluh pucuk kepalanya dengan sayang. Meski tak begitu keras, namun Aslan pun bisa mendengar ucapan Tika itu.
"Pergilah, aku tutup teleponnya," ucap Tika, setelah mengucap salam keduanya memutuskan sambungan telepon itu.
Tanpa aba-aba, Aslan mencium bibir sang istri sejenak dan semburat kesedihan di wajah Kiran langsung menghilang seketika.
"Aku mencintaimu," ucap Aslan setelah ciuman itu dilepasnya.
Dengan tersenyum, Kiran pun menjawab ucapan sang suami, "Aku juga mencintaimu Mas," jawabnya sesuai isi hati.
"Ayo, pergi," ajak Aslan dan Kiran mengangguk kecil. Keduanya keluar dari dalam apartemen dengan Aslan yang mendorong kursi roda itu.
Jam 9 pagi tepat, keduanya sampai di rumah sakit.
Dengan hati-hati, Aslan membantu sang istri untuk turun, sebelumnya ia sudah mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi mobil terlebih dahulu.
"Apa mas Agung sering kesini?" tanya Aslan saat ia sedang menggengdong Kiran turun dari dalam mobil dan memindahkannya di kursi rida.
"Iya," jawab Kiran dengan mengangguk.
Setelah Kiran duduk, Aslan masih berjongkok dan menatap dalam mata sang istri, di parkiran rumah sakit itu.
"Apa mas Agung juga mengantarmu ke rumah sakit?" tanya Aslan lagi yang mulai diselimuti rasa cemburu.
__ADS_1
Apa mas Agung juga menggendong Kiran? pikirnya, tak terima.
"Iya, dia juga membantuku untuk turun. Memapahku saat hendak berdiri, mengambilkan apapun yang susah ku jangkau dan selalu berceloteh agar aku tidak merasa sepi," terang Kiran dengan tersenyum lebar, ia tahu bahwa sang suami ingin tahu segala hal itu.
Mendengar itu, Aslan malah bergeming. Rasa cemburu yang dirasakannya tadi kalah dengan rasa bersalah.
Agung ada disaat Kiran butuh, sementara dirinya? tidak ada.
"Aku harus banyak berterima kasih dengan mas Agung," jawab Aslan lalu bangkit dan mendorong kursi roda sang istri, sementara Kiran mengangguk setuju.
Dia dan Agung memang tak pantas untuk dicemburui, karena keduanya benar-benar peduli dan saling menyayangi satu sama lain sebagai seorang sahabat.
"Disana Mas," tunjuk Kiran pada ruangan dokter Johan.
Tak berselang lama mereka sampai, setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, keduanya masuk ke dalam ruangan itu.
Seketika, Johan terpaku, saat melihat Kiran datang bersama pria asing.
"Ini suami saya Dok, mas Aslan," terang Kiran yang mengetahui kebingungan Johan dan seketika itu juga Johan tersentak.
"Apa pak Agung sudah kembali ke indonesia?" tanya Johan dan Kiran mengangguk dengan tersenyum ramah.
Melihat interaksi keduanya, entah kenapa Aslan malah jadi cemburu. Apalagi saat dilihatnya dokter Johan yang masih muda. Menatap penuh cinta pada sang istri.
Aslan tidak terima, entahlah, kenapa kini ia jadi mudah merasa cemburu. Rasanya hanya ingin mengurung Kiran untuk dirinya seorang.
"Ehem!" Aslan berdehem memutuskan tatapan Johan, ia lalu mulai duduk dan mengatakan tentang maksud kedatangan mereka.
Jujur saja, mendengar itu Johan merasa kecewa. Padahal ia bersungguh-sungguh, ingin membantu Kiran untuk sembuh.
Membayangkan melihat senyum Kiran saat ia bisa kembali berjalan dan saat itu perutnya mulai membesar.
"Baiklah, akan aku katakan pada bagian administrasi," jawab Johan, terpaksa ia memendam keinginannya sendiri.
Pasien dan keluarganya memang memiliki hak penuh untuk tetap tinggal atau pergi dari rumah sakit ini.
__ADS_1
"Terima kasih Dok," jawab Kiran riang dan Johan tersenyum getir melihat senyum itu.
Senyum yang belum pernah ia lihat selama ini, ternyata benar, pria disampingnya itu adalah suaminya. Suami yang membuatnya bahagia, Batin Johan.
Melihat itu, Johan mencoba ikhlas.
Dan lagi-lagi Aslan berdehem, lalu buru-buru pamit dan meninggalkan ruangan Johan.
"Mas kenapa sih? kok sepertinya tidak menyukai dokter Johan, padahal dia itu baik lo," ucap Kiran, ia menoleh kebelakang dan melihat sang suami dengan wajah yang semakin kusut.
Mendengar Kiran memuji Johan baik, buat darahnya mendidih.
"Mas cemburu?" tebak Kiran dan Aslan tidak menjawab, ia semakin cepat mendorong kursi roda sang istri untuk sampai di mobil mereka.
Selesai meletakkan kursi roda di bagasi, Aslan langsung duduk di kursi kemudi.
Menatap tajam pada sang istri.
"Iya, aku cemburu," jawab Aslan begitu telat.
Kiran? ia malah mengulum senyumnya.
"Sini, ku redakan cemburu Mas," ucap Kiran lalu menarik lengan sang suami.
Mengambil inisiatif untuk memulai ciuman panas mereka di dalam mobil. Bahkan Kiran mengarahkan tangan sang suami untuk meraba semua tubuhnya.
"Sudah mereda?" tanya Kiran dengan napas yang terengah, terdengar mendesah ditelinga Aslan.
"Belum," jawab Aslan cepat, lalu menarik tengkuk sang istri, membenamkan ciuman yang begitu dalam dan menuntut.
"Mas," desis Kiran saat Aslan hendak membuka kancing bajunya dengan tidak sabaran, tergesa.
"Maaf," jawab Aslan dengan terkekeh, hampir saja ia lupa dimana kini mereka berada.
"Nanti," jawab Kiran dan membuat Aslan bersemangat untuk pulang.
__ADS_1