
Alana adalah yang paling terpuruk atas kondisi ibu Widya saat ini. Alana masih berpikir jika selama ini ibu Widya baik-baik saja.
Dan seperti tersambar petir, suatu hari ibu Widya tiba-tiba jatuh dan mendadak koma.
Masih terus menangis, Alana duduk disisi ranjang dan menggenggam erat tangan sang ibu mertua.
Berulang kali seluruh keluarganya meminta Alana untuk istirahat, namun gadis ini menolak. Ia ingin disini, ingin membuat ibu Wid bangun, jawabnya diantara isak tangis.
Hingga Altar, bahkan Kiran, Aslan dan Aydan pun tak ada yang bisa membujuk Alana.
“Sebaiknya kalian pulang, aku Altar dan Alana akan tinggal disini,” ucap Agung, pada kedua sahabatnya itu.
Aydan dan Altar masih berdiri disebelah Alana, terus memperhatikan ibu Widya yang tak sadarkan diri, dengan hidung, mulut dan tangannya yang diberi selang.
“Iya, aku akan pulang, nanti aku akan kembali lagi membawa semua keperluan kalian.” Kiran yang menjawab, wajah Kiran sudah basah, namun air mata itu sudah tak lagi mengalir. Aslan selalu mengatakan, jika Widya malah akan merasa bersedih jika terus ditangisi seperti ini.
Kiran mengangguk, semenjak mendengar ucapan suaminya itu, ia berusaha keras agar tak meneteskan air mata. Meskipun rasanya, tenggorokannya tercekak.
Agung tak menjawab lagi, hanya menganggukkan kepalanya.
Sore itu, Aslan dan semua keluarganya pulang.
Selepas mereka pergi, Agung pun menghampiri anak dan menantunya itu. Melihat Alana yang masih saja sesenggukan.
“Alana, kamu dan Altar keluar dulu sana, cari udara segar, beli makan atau beli minum.” Ucap Agung pada sang menantu, dari tadi hingga kini, Alana terus berada di samping Widya, entah sudah berapa jam lamanya.
“Tidak mau Yah, aku yakin sebentar lagi ibu Wid akan bangun. Aku akan ada disini saat ibu Wid membuka matanya,” jawab Alana dengan suaranya yang nyaris habis.
Agung hanya bergeming, seraya menelan salivanya dengan susah payah. Kemungkinan istrinya itu untuk bangun hanya 25 persen.
Dan 75 persennya, sang istri akan meninggal. Itulah yang diucapkan dokter yang menangani Widya.
“Kalau begitu biar Altar saja yang keluar Yah, Aku akan belikan minuman untuk Ayah dan Alana,” ucap Altar dan Agung hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Altar kembali menatap istrinya yang terus menatap ibu mereka, tak sedikitpun menoleh ke arah dirinya.
Mereka bahkan sampai melupakan, testpack yang mereka beli siang tadi. Yang kini tertinggal di dalam mobil.
Akhirnya Altar keluar, tinggalkan Agung dan Alana di sana.
Hingga tak berselang lama kemudian, adzan magrib berkumandang. Agung pun pamit pada menantunya itu untuk melaksanakan shalat magrib di masjid rumah sakit.
Alana mengangguk, ia pun mengatakan jika mungkin saja Altar juga ada di sana.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa ayah tinggal sendirian.” Tanya Agung, memastikan.
“Aku baik-baik saja Yah, sebaiknya ayah segera turun,” jawab Alana, seraya menghapus air matanya sendiri.
“Kalau ada apa-apa langsung panggil perawat ya?”
Alana, mengangguk.
Dan akhirnya, Agung pun pergi dari sana. Meninggalkan Alana seorang diri di kamar ini.
Kembali, Alana menatap lekat wajah sang ibu yang nampak semakin pucat.
Alana bahkan kembali menggenggam tangan ibunya itu erat-erat, tangan yang masih terasa hangat saat ia genggam.
“Ibu Wid, bangun dong, kenapa tidurnya lama sekali?” tanya Alana, namun Widya tetap terdiam, tak memberikan respon apapun.
Alana pun membaringkan kepalanya disisi ranjang itu, seraya terus menggenggam erat tangan sang ibu.
Hingga lambat laun, tiba-tiba Alana terlelap. Dan sampai di alam mimpi.
Di sana, Alana nampak cantik dengan menggunakan baju pengantinnya. Duduk disisi ranjang, lalu Widya datang menghampiri.
Alana dan Widya sama-sama menggunakan baju senada, putih hingga membuat tubuh keduanya nampak berkilauan.
“Alana sayang, ibu bahagia sekali hari ini,” ucap Widya kala itu, seraya mengelus pucuk kepala Alana dengan sayang.
“Al, ibu titip Altar dan ayah Agung ya?” pinta Widya pada menantunya itu. Dan Alana didalam mimpi langsung menggeleng dengan cepat.
“Tidak mau Bu, pasti repot sekali jika harus menjaga Altar dan Ayah Agung sekaligus,” jawab Alana, lantang. Ia bahkan memasang wajah serius, tanpa ada senyumnya lagi.
Tapi melihat tingkah menantunya itu, Widya malah mengukirkan senyum.
“Ya sudah, nanti titipkan saja mereka pada ibu Kiran.”
“Setuju!” balas Alana cepat.
Keduanya terkekeh, lalu saling memeluk erat.
“Ibu akan keluar dulu ya, kamu hati-hati, jaga kandungan mu.” Ucap Widya, seraya melepaskan pelukan mereka.
Alana mengeryit bingung atas ucapan ibu Widya itu. Ia belum menikah dengan Altar, lalu bagaimana bisa ia mengandung.
“Aku kan belum menikah Bu, nanti jam 9 baru ijab kabulnya,” jawab Alana.
__ADS_1
Tapi Widya tak mau dengar, ia terus berjalan meninggalkan Alana sendiri didalam kamar itu.
“Ibu Wiyda?” panggil Alana, ingin ibunya itu tinggal.
“Ibu!” pekik Alana lagi, karena Widya tak mau berhenti melangkah hingga lambat laun perlahan menghilang dari pandangannya.
“Ibu Wid!” teriak Alana sekali lagi, ia hendak bangkit dan segera menyusul ibu Wiyda, namun ia malah menjatuhkan sebuah gelas.
Pyar!
Bunyi pecahan itu berdengung di telinganya, memekikkan hingga membuat telinganya sakit.
“Ibu!” pekik Alana, saat tersadar dari mimpinya. Ia hanya langsung mendengar bunyi piiipp, yang sangat panjang di ruangan itu.
“Ibu, itu bunyi apa?” tanya Alana, cemas bercampur takut.
Ia hendak bangkit dan memanggil suster, namun pergerakkan nya terhenti saat merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Tangan sang ibu sudah tak terasa hangat seperti tadi, kini tangan itu terasa begitu dingin.
Deg!
Seketika, Alana mendapatkan semua ingatannya. Tentang bunyi ini, tentang rasa dingin ini.
Alana akhirnya sadar satu hal, jika ibu Widya sudah tak ada lagi. Ibu mertuanya itu sudah meninggal.
Pelan-pelan, air mata itu kembali jatuh dari kedua netra Alana. Turun dengan begitu derasnya hingga terjatuh di atas pangkuannya sendiri.
Alana terus menggeleng, tak mau menerima semua ini.
Namun kenyataan yang sudah terjadi tak bisa ia tolak.
Ramai-ramai, para perawat datang dan masuk ke dalam sana, lengkap pula dengan satu dokter diantara mereka.
Dengan menangis, Alana hanya terus memperhatikan semua orang-orang itu terus bergerak memeriksa ibunya.
“Dek, dimana pak Agung?” tanya dokter itu. Bukannya menjawab, Alana malah berjalan mundur, menjauhi semua orang. Hingga akhirnya langkah pelan-pelannya itu terhenti saat ia menabrak dada bidang seseorang, dada suaminya sendiri yang datang bersama sang ayah.
“Apa yang terjadi dok? Kenapa semua selang di tubuh istri saya dicopot?” tanya Agung, dengan cemas.
Alana langsung berbalik, menyembunyikan wajahnya di dada Altar seraya menutup telinganya rapat-rapat. Alana sungguh tak ingin mendengar jawaban yang akan berikan oleh dokter itu.
Namun serapat apapun Alana menutup telinganya, nyatanya iapun masih mampu mendengar.
__ADS_1
“Maaf Pak. Ibu Widya sudah meninggal.”
Altar, Alana dan Agung langsung memejamkan matanya, hingga jatuhlah air mata.