Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 193 - Memilih Salah Satu


__ADS_3

Sampai di akhir semester. Les privat itu berjalan dengan lancar. Aydan yang begitu konsisten, dan Anja serta Jani yang berusaha keras untuk bisa. Membuat kolaborasi itu menjadi sempurna.


Namun sayang, semenjak hari itu. Hubungan antara Aydan dan Jani terasa semakin canggung.


Berbeda dengan Anja yang tidak tahu apa-apa, dia hanya bersikap biasa saja.


Dia hanya tahu kalau Jani sudah mengatakan yang sesungguhnya pada Aydan. Bahwa mereka tengah berusaha mengejar cinta lelaki itu.


Hingga di semester akhir ini. Aydan sudah menuntaskan tugasnya.


Bahkan kedua gadis itu dapat menembus nilai A. Dan dengan nilai itu semua, membuat mereka dapat mengejar wisuda.


Ya, wisuda yang akan dilangsungkan tahun ini. Nilai mereka benar-benar sempurna. Aydan berucap bangga, dari awal dia memang sudah percaya, bahwa Anja dan Jani bisa melakukan ini semua .


Asal ada usaha dan kerja keras. Dan lihat, hasil dari mereka sangat memuaskan. Pastilah ibu dan ayah, serta Zayn sang Kakak bangga pada keduanya.


"Gila, aku nggak nyangka banget bakal ikut wisuda tahun ini." Ucap Anja pada kembarannya. Senyum sumringah selalu tampak dari kedua wajah gadis itu.


Selama mengerjakan skripsi, Anja dan Jani tak pernah mengeluh lelah sedikitpun. Yang ada hanya ungkapan rasa syukur, karena mereka bisa berada di posisi ini.


Posisi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Dan semua itu berkat lelaki bernama Aydan, ah tidak, melainkan Allah, dan perantara melalui lelaki itu.


"Iya Anja. Pasti nanti ibu, ayah sama Kak Zayn bakal bangga sama kita." Jani membenarkan ucapan saudara kembarnya itu.


Meski hubungan ia dan Aydan begitu hambar. Jani tidak terlalu ambil pusing. Toh, jodoh sudah ada di tangan Tuhan.


Kalau memang lelaki itu jodohnya. Mau seberat dan sebesar apapun rintangannya. Aydan pasti akan menjadi suaminya.


Namun sebaliknya, jika Aydan bukan jodohnya. Mau semudah apapun jalannya, takdir tidak akan pernah menyatukan mereka.


"Sebagai ucapan terimakasih, gimana kalo kita traktir Aydan makan?" Usul Anja dengan senyum mengembang.


Disamping rasa terimakasih mereka, dengan mengajak Aydan makan, tentu saja bisa membuat ia melihat wajah tampan lelaki itu lebih lama.


Ah iya, Anja memang selalu terlihat lebih antusias dari Jani, jika mengenai Aydan. Namun, rasa cinta dan suka tidak dapat diukur dari sana kan?


Belum sempat menjawab setuju. Jani sudah ditarik oleh tangan Anja. Melangkah dengan kaki lebar menuju Aydan yang baru saja datang.


Kini mereka berada di halaman kampus. Anja dengan sejuta watt senyum di bibirnya melepaskan tangan Jani begitu saja, saat keduanya sudah di hadapan lelaki itu.

__ADS_1


Jani mengerucutkan bibirnya merasa kesal. Sedangkan Anja mulai bergerak-gerak kecentilan.


Selalu deh, kalo udah ketemu doi begini. Kaya cacing kepanasan. Batin Jani merutuki kembarannya itu.


Dan tanpa sengaja, mata gadis itu bertemu dengan netra pekat milik Aydan. Seperti terkunci, Jani tak ingin menyudahi, pun dengan Aydan.


Sedikit lagi bibir lelaki itu akan melengkung. Namun kibasan tangan Anja di depan wajahnya, membuat ia batal melakukan niatnya itu.


Sementara Jani membuang pandangannya ke samping. Bertatapan langsung dengan Aydan, nyatanya mampu membuat darah dalam tubuhnya berdesir.


Gejolak aneh itu selalu datang. Apa senikmat ini rasanya jatuh cinta?


"Aydan, kita berdua kesini mau ajak kamu makan siang bareng di kantin. Mau yah." Ucap Anja dengan suara yang dibuat-buat manja. Telinga Jani sampai jengah mendengarnya.


"Memangnya ada acara apa?" Tanya Aydan. Memandang Anja dan Jani bergantian. Berharap gadis yang sedari tadi bergeming ikut bersuara.


"Ini lho, kita mau ngucapin terimakasih sama kamu. Karena kamu, kita bisa wisuda tahun ini." Jawab Anja, menarik kembali tangan Jani sesuka hati, hingga gadis itu selalu terseret-seret.


Aydan mengulum senyum. Senyum yang salah diartikan oleh Jani.


Pastilah, kalau Anja yang ajak pasti dia mau. Lain sama aku. Jani, jadi lebih suka membatin ketika dihadapkan oleh Aydan, lebih suka membenarkan pikirannya sendiri. Tanpa perlu bertanya pada orangnya.


Gadis itu memijat pelipisnya melihat kelakuan aneh kembarannya itu. Bisa tidak sih sehari jangan bersikap seperti ini? Jani terus berteriak di dalam hati.


"Anja!" Panggil Jani dengan suara yang lebih menekan.


Dan hal itu sukses membuat Anja berhenti, sadar kalau Jani sudah mulai terlihat kesal.


"Hehe, yaudah Aydan kita pergi dulu." Anja berpamitan, lalu kembali mengajak Jani melangkah dengan riang.


Sedangkan di tempatnya, Aydan hanya tersenyum kecil, merasa lucu.


Diamnya Jani, membuat ia sering memikirkan gadis ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang hari di kantin kampus sudah nampak lenggang. Aydan serta kedua gadis itu pun baru saja selesai makan.


"Alhamdulillah." Kompak ketiganya berucap.

__ADS_1


Lalu sibuk dengan minuman masing-masing. Jani melirik sekilas Aydan dari gelas yang ia pegang. Dan ternyata dia sedang melakukan hal yang sama.


Dan uhuk!


Jani langsung tersedak minumannya sendiri. Reflek Anja menepuk-nepuk punggung gadis itu. "Jani pelan-pelan dong minumnya, aku nggak mau minta kok." Ucap Anja bercanda.


Dan langsung dibalas picingan mata Jani yang menajam.


Melihat itu, Anja mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v sambil nyengir kuda.


Lalu Aydan menggeser botol minum yang ada dihadapannya ke arah Jani. "Minum air putih dulu." Ucapnya menepis canggung.


Namun, Jani tetaplah Jani, selamanya tidak akan pernah jadi Anja. Pun sebaliknya.


"Nggak perlu aku udah nggak apa-apa." Tolak Jani.


"Kamu beneran nggak apa-apa? Kalo gitu airnya buat aku aja." Anja menyerobot botol air yang diberikan Aydan, lalu segera meminumnya.


Membuat Jani hanya bisa menghela nafas panjang.


"Oh iya Aydan, ada yang mau aku omongin juga sama kamu." Anja tiba-tiba bersuara. Jani yang duduk disampingnya menoleh.


Gadis itu sama sekali tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Anja. Karena sebelumnya, mereka tidak membahas apapun.


"Ada apa?" Tanya Aydan dengan satu alis yang terangkat.


"Jadi gini, kamu kan udah tahu soal kita." Tuing-tuing Anja memainkan kedua tangannya dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk dan jari tengah.


"Aku mau, sekarang kamu pilih salah satu diantara kita, kamu bisa pilih aku atau Jani." Jelas gadis itu. Membuat Jani terperangah tak percaya.


Padahal hari itu dia sudah mundur, hanya saja dia tidak bercerita pada Anja.


"Anja." Cegah Jani, dan langsung dihentikan oleh Aydan. "Aku akan jawab."


Dan hal itu sukses membuat mata Jani membola. Tidak, dia sudah menyerah, untuk apa Aydan menjawabnya. Apa lelaki itu ingin membuatnya sakit hati, dengan menjawab kalau dia memilih Anja?


"Aku akan menjawabnya, tapi nanti setelah aku wisuda. Aku akan datang ke rumah kalian, di depan Om Arick dan Tante Jihan, kalian akan tahu jawabanku," jawab Aydan yakin.


Ya, Aydan memang tidak ingin memiliki hubungan yang tak jelas arah dan tujuannya. Aydan akan langsung memilih untuk menikahi wanita pilihannya.

__ADS_1


Dan jawaban tegas Aydan itu, berhasil membuat gadis ini bergeming. Lalu lambat laun, Anja dan Jani mengukir senyumnya kecil.


__ADS_2