Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 175 - Mimpi


__ADS_3

“Keluar di luar?” ulang Alana, bingung.


Ia masih belum paham apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Sisil. Alana bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dan melihat reaksi Alana, Sisil malah bingung sendiri. Bagaimana cara menjelaskan pada sahabatnya ini.


“Iya Al, keluar di luar, itunya lo,” jawab Sisil, coba menjelaskan, bukannya paham, Alana malah makin bingung dibuatnya.


“Nggak ngerti ah Sil.” Alana putus asa, dan akhirnya Sisil benar benar menjelaskan secara gamblang pada sahabatnya itu.


Hingga membuat mulut Alana menganga, dengan pikirannya yang sudah membayangkan yang tidak-tidak.


“Hii, memangnya bisa seperti itu? Memangnya Altar tahu kapan itu akan keluar?” tanya Alana bertubi, setelah Sisil selesai bercerita.


Dan ditanya seperti itu, Sisil pun langsung tersenyum menyeringai.


“Bisa, tanyalah pada Altar langsung.” Jawab Sisil dengan yakin.


Ajaran Sisil itu terus saja teringat oleh Alana, bahkan saat jam pulang sekolah tiba, Alana masih saja memikirkannya.


Sisil juga mengatakan, jika ia akan menyiksa Altar jika sampai tidak memenuhi keinginan suaminya itu.


“Kenapa dari tadi kamu diam terus?” tanya Altar pada istrinya itu.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil, mobil yang melaju pulang menuju rumah mereka.


Ditanya, Alana pun menoleh pada sang suami. Lalu menelan salivanya sendiri dengan susah payah.


Gara-gara perbincangannya dengan Sisil tadi, kini pikirannya jadi sangat kotor. Ia terus saja membayangkan jika ia dan Altar sampai melakukan itu. Menyatu dan saling menghentak,.


“hii!” Alana, bergidik negri. Hanya membayangkannya saja, ia sudah merasa merinding.


“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Altar lagi, bingung. Semakin bingung saat melihat istrinya itu malah bergidik.


Altar bahkan sampai menurunkan suhu AC mobilnya, agar Alana tidak merasa kedinginan.


“Aku tidak apa-apa Mas, sepertinya hanya lapar,” jawab Alana, berkilah, mencoba membuat Altar tak terlalu peduli pada apa yang sebenarnya ia rasa.


Alana bahkan langsung menatap lurus ke depan sana, menghindari tatapan Altar yang begitu menghanyutkan.


Sampai di rumah, Alana masih saja menunjukkan gelagat aneh. Ia begitu enggan saling tatap dengan sang suami, dan seolah menghindari kontak fisik diantara keduanya.

__ADS_1


Altar tidak tahu, tiap kali Alana melihat kearahnya, ia merasa meremang.


“Bu, Alana sudah kenyang, sehabis  ganti baju aku tidur saja ya?” pamit Alana pada sang ibu mertua. Mereka bertemu di ruang tengah.


Mendengar ucapan sang menantu itu pun, Widya menganggukkan kepalanya. Namun Altar yang ikut mendengar malah mengeryit bingung.


Tadi, Alana bilang dia lapar. Tapi sekarang dia bilang sama ibu kalau dia kenyang. Batin Altar, benar-benar merasa aneh dan curiga sekaligus pada istrinya itu.


“Aku ke kamar juga ya Bu, sepertinya aku juga ingin langsung tidur,” pamit Altar pula. Dan Widya pun lagi –lagi menganggukkan kepalanya.


Lain dengan Agung yang menatap aneh pada kedua anaknya itu.


“itu si Altar sama Alana kenapa?” tanya Agung pada sang istri saat Altar sudah menjauh dari mereka.


“Udah masuknya sendiri-sendiri, sekarang pada mau tidur semua,” ucap Agung lagi saat istrinya itu sudah kembali duduk disebelahnya.


Widya tak langsung menjawab, Widya lebih dulu memeluk lengan suaminya itu dengan sayang.


“Mungkin mereka capek Mas, ini kan hari pertama mereka sekolah. Jadi biarkan saja mereka tidur, nanti kalau lapar juga makan sendiri,” jawab Widya akhirnya, seraya menyandarkan kepalanya di lengan sang suami.


“Kamu ingin tidur?” tanya Agung dan Widya mengangguk.


Agung menatapi wajah sendu istrinya itu, ia belai lembut wajah Widya dengan sayang. Berharap, istrinya ini selalu bahagia dalam menjalani tiap hari-harinya.


Di dalam kamar.


Altar, menahan lengan sang istri yang hendak masuk ke dalam kamar mandi. Altar sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu. Kenapa pulang sekolah ini, Alana nampak berubah.


“Al, jangan buat aku bertanya-tanya, kenapa kamu tidak ingin menatapku?” tanya Altar langsung, Altar sungguh tak suka basa basi tidak penting.


Ditanya dengan tatapan dingin seperti itu, Alana malah mencebik.


“Tidak ada apa-apa Mas, aku hanya ingin tidur,” balas Alana. Yang tak ingin mereka berdebat. Sementara otaknya hingga kini masih saja dipenuhi pikiran-pikiran kotor.


“Benar?” tanya Altar sekali lagi dan Alana menganggukkan kepalanya.


Setelah Alana membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, iapun segera merebahkan dirinya di atas ranjang. Alana ingin tidur, berharap setelah bangun nanti pikirannya akan semakin jernih.


Tak lagi memikirkan hentakan yang diceritakan Sisil di sekolah tadi.


“cepet Al tidur,” gumam Alana pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat Altar masih berada didalam kamar mandi sana, Alana sudah memejamkan matanya.


Namun seolah sedang sial, dalam mimpi itu ia malah kembali bertemu dengan sang suami.


Namun dalam bayangannya, ini semua terasa begitu nyata. Apalagi saat Altar menindih tubuhnya, iapun merasakan sesak pula.


Lalu suaminya itu merengkuh bibirnya lalu menyatukan diri. Tak ada rasa sakit seperti yang diceritakan sisil tadi, semuanya hanya seperti getaran yang begitu memabukkan.


Merasa tak kuat menahan gejolak itu, Alana hendak membuka matanya. Namun sekuat tenaga ia coba, matanya tetap aja tak terbuka. Bahkan tubuhnya makin terasa terhimpit dengan denyutan dibawah sana yang begitu dahsyat.


Takut Altar mengeluarkannya didalam rahim.


Alana pun berteriak sekuat tenaga, dan mencoba mengusir Altar yang sedang menindihnya.


“AA!!” teriak Alana begitu kuat.


Hingga membuat Altar yang tertidur di sebelahnya langsung ikut terbangun.


Dan mendapati sang istri yang menatapnya dengan begitu tajam.


“Jahat! Jahat! Jahat! Mas udah apain aku?” tanya Alana bertubi, ia bahkan memukul tubuh Altar bertubi pula.


Alana masih belum sadar, jika tadi itu adalah mimpi basahnya. Namun ia malah menyalahkan Altar akan itu semua.


“Kalau aku hamil bagaimana? Mas tadi keluar di dalam kan? Huhuhu, pantesan iniku basah,” ucap Alana lagi, ia kini merengek, nyaris menangis.


“Padahal Sisil udah kasih tahu aku, supaya bilang ke Mas kalau keluarnya diluar saja, tapi belum sempat aku bilang, Mas malah udah keluarin di dalam.” Kini, Alana menangis.


Sepersekian detik Altar tak mengerti arah pembicaraan istrinya itu.


Namun lambat laun akhirnya ia mulai paham, ketika mendengar ada nama Sisil diantara celotehan sang istri


Di sekolah tadi, pasti Sisil sudah meracuni otak istri polosnya ini.


“Sayang, aku tidak melakukan apapun. Lihatlah, bajuku masih lengkap, bajumu juga masih lengkap. Lalu bagaimana bisa kita menyatu?’ tanya Altar, ingin istrinya ini sadar.


Perlahan, Alana memperhatikan Altar, lalu memperhatikan dirinya sendiri. Dan benar saja, mereka masih berpakaian lengkap. Sementara dalam bayangannya tadi, mereka berdua sudah sama-sama polos.


“Terus kok iniku basah, apa aku tadi mimpi, terus pipis?” tanya Alana, diantara kebingungannya.


“Sayang mimpi, tapi itu bukan pipis,” jawab Altar, dengan mengulum senyumnya. Menjelaskan pada Alana pun akan percuma, mana mengerti anak ini dengan mimpi basah.

__ADS_1


__ADS_2